
Betapa geramnya Close saat mendapati mobil Yoga terpakir di halaman rumah istrinya. Namun ia tak ingin gegabah.
Sebelum keluar dari mobilnya, ia lebih dulu menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembusnya perlahan demi menetralkan perasaannya.
"Come on Close, calm down," peringatnya pada dirinya sendiri. Setelah itu ia membuka pintu mobil lalu menghampiri pintu rumah.
Sebelum membuka pintu, terlebih dulu ia mengetuknya kemudian membuka benda persegi panjang itu lalu melangkah masuk.
Tak lama berselang, Azzura yang baru saja keluar dari kamarnya mengerutkan keningnya menatap Close.
Kok dia sudah pulang?
Azzura membatin lalu menuruni anak tangga. Sedangkan Yoga yang baru saja selesai menyantap makanannya tampak menghampiri Azzura.
Namun ia cukup terkejut saat mendapati Close yang sedang berdiri di bingkai pintu lalu menatapnya dan Azzura bergantian.
"Close," tegur Zu.
"Tumben," ketus Yoga.
Close hanya bergeming dengan rahang mengetat.
"Sebaiknya kalian duduk dulu, biar aku membuat kopi sebagai teman ngobrol kalian berdua. Itupun jika kamu berkenan," kata Zu sambil menatap Close.
"Aku nggak keberatan, Zu. Aku malah sangat menyukai kopi buatanmu," sahut Yoga sambil menatap Close dengan senyum sinis.
Karena memang Azzura sering membuatkannya kopi jika ia mampir ke cafe momy ex boss-nya itu. Bahkan jika ia sedang berada di rumah sakit saat menjenguk almarhum bu Isma.
"Nggak apa-apa, sebaiknya kamu buat saja kopinya untukku sekalian untuk tamu kita ini," tekan Close lalu melangkah ke arah ruang tamu lalu mendaratkan bokongnya di sofa dengan perasaan geram dan cemburu.
Setelah itu, ia melepas jas-nya dan meraih rokoknya dari dalam saku celananya kemudian membakarnya lalu mulai menyesapnya.
"Rokok?" tawar Close lalu menyodorkan benda itu beserta pemantiknya sekaligus. Namun Yoga menolak karena ia bukanlah seorang perokok aktif.
"No thanks, because i'm not a smoker," aku Yoga.
Setelah itu, keduanya tampak bergeming dan larut dengan pikirannya masing-masing. Selang beberapa menit kemudian Azzura pun tampak membawa dua gelas kopi.
Setelah meletakkan masing-masing gelas itu di hadapan Yoga dan Close, ia pun kembali berpamitan ke kamar.
"Yoga, Close, silakan. Aku sekalian pamit mau ke kamar dulu."
Setelah itu, Azzura kembali ke kamarnya sekaligus membersihkan dirinya. Karena ia berencana akan ke rumah sakit menemui bunda Fahira.
Sepeninggal Azzura, Close memberikan tatapan tajam pada ex asisstennya itu.
"Ada urusan apa kamu kemari?" cecar Close dengan nada ketus.
__ADS_1
"Nggak ada urusan apa-apa. Hanya ingin memastikan Azzura dalam keadaan baik-baik saja dari pria brengsek sepertimu," jawab Yoga tak kalah sinis lalu menyeruput kopinya.
"Kamu?!!" geram Close lalu menghembus asap rokoknya dengan kasar.
"Kenapa?! Apa kamu nggak terima dibilang brengsek? Pada kenyataannya itu memang benar kan?" lanjut Yoga dengan santainya. "Dengarkan aku baik-baik Close. Bersiaplah jika sewaktu-waktu Azzura akan menggugat cerai dirimu. Dan akan aku pastikan bahkan aku sangat yakin jika Azzura akan melakukannya," pungkas Yoga.
Mendengar ucapan Yoga yang tampak tidak ada keraguan sedikitpun, membuat Close begitu dongkol sekaligus takut.
Sesungguhnya dalam relung hatinya, ia begitu kalut dan gundah. Bahkan ia pun seakan tidak rela jika itu benar terjadi. Entah dengan cara apa ia akan membujuk Azzura supaya istrinya itu akan merubah keputusannya dan berharap gadis berhijab itu mau memberinya satu kesempatan.
"Sebelum itu terjadi akan aku pastikan jika Azzura akan menjadi milikku seutuhnya," balas Close dengan percaya diri.
"Oh ya?!! Kita lihat saja nanti," sahut Yoga seolah mengejek dan kembali menyeruput kopinya.
Close kembali bergeming dan tampak berpikir mencerna ucapan Yoga barusan. Ruangan itu kembali hening sebelum akhirnya suara Azzura menyapa keduanya.
"Close, Yoga," tegur Zu.
Kedua pria tampan itu langsung menoleh ke arahnya lalu menatapnya yang sudah terlihat rapi.
"Kalian lanjut saja ngobrolnya. Aku ingin ke rumah sakit. Soalnya aku ingin bertemu dokter Fahira," kata Zu.
Dokter Fahira? Itu kan mamanya Yoga sekaligus dokter kandungan?
Close membatin dan benaknya kembali bertanya-tanya ada urusan apa Azzura dengan dokter Fahira. Jika ia bertemu dengan dokter Fahira tidak menutup kemungkinan ia sekaligus akan bertemu dengan pak Prasetya.
"Bareng aku saja, Zu. Kebetulan aku juga akan ke sana," tawar Yoga.
Azzura hanya mengangguk. Setelah itu, ia berlalu meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah katapun. Begitu langkah kakinya berada di luar rumah, ia menghampiri mobil Yoga.
Sesaat setelah mendudukkan dirinya di kursi mobil, ia kembali menyandarkan kepalanya lalu memejamkan matanya.
Sssttt ... kepalaku kenapa sih sakit begini? Apa aku gegar otak ya?
Azzura hanya bisa membatin dan sesekali meringis sembari memijat keningnya. Bayangan akan kekerasan fisik yang sering di alaminya kembali memenuhi benaknya.
Membayangkannya saja, keringat Azzura mulai bermunculan di keningnya dan membuat tubuhnya bergetar.
Hasbunallah wani'mal wakil, La haula wala quwwata illa Billah. Azzura mengucap doa itu dalam hatinya.
Sementara Close dan Yoga yang masih berada di ruang tamu tampak kembali bersitegang. Setelah menghabiskan sisa kopinya, dengan santainya Yoga membawa wadah bekasnya ke dalam dapur lalu meletakkannya ke wastafel.
Setelah itu, ia kembali melanjutkan langkahnya menyusul Azzura yang sudah menunggunya di dalam mobil.
Sepeninggal Yoga, Close mengepalkan kedua tangannya lalu mengetatkan rahangnya sekaligus merasa cemburu yang amat sangat.
"Damn!!!" umpatnya lalu meninju udara.
__ADS_1
Sementara Yoga yang kini sudah duduk di kursi kemudi, mengerutkan keningnya menatap Azzura yang tampak gelisah.
"Zu, kamu berkeringat," desisnya. "Sepertinya kamu nggak baik-baik saja," sambungnya dan mulai mengkhawatirkan gadis itu.
Melihat Azzura yang tampak gelisah, Yoga menggenggam jemarinya sembari menenangkannya. Ia tahu apa yang sedang Azzura rasakan.
Ini semua gara-gara pria brengsek itu.
Yoga membatin geram. "Zu, tenanglah aku bersamamu," kata Yoga.
Azzura hanya mengangguk namun tetap saja tubuhnya masih bergetar.
"Sebaiknya malam ini, kamu menginap saja di rumah ayah dan bunda," saran Yoga. "Aku nggak akan membiarkan Close menyakitimu lagi."
Azzura hanya bergeming, sedetik kemudian ia melirik Yoga lalu menggelengkan kepalanya sekaligus mengisyaratkan jika ia menolak.
"Tapi Zu ...."
"Dia nggak akan berani lagi berbuat macam-macam padaku," sahut Zu lalu menyeka air matanya dan juga keringatnya. "Ayo kita ke rumah sakit sekarang," pintanya dan dijawab dengan anggukan kepala oleh yoga.
*
*
*
Setibanya di rumah sakit keduanya langsung menuju ke ruangan bunda Fahira. Setelah mengetuk pintu lalu membukanya keduanya pun masuk ke ruangan itu.
Bunda Fahira langsung tersenyum saat melihat keduanya menghampirinya. Saat Azzura menghampirinya, bunda Fahira langsung memeluknya sembari mengelus punggungnya dengan sayang.
Karena tak ingin menganggu kedua wanita berbeda usia itu, ia memutuskan ke ruangan Dirut. Sesaat setelah membuka pintu ruangan itu, alisnya bertaut ketika mendapati sang ayah terlihat termenung.
Dengan langkah pelan ia menghampiri sang ayah lalu berdiri tepat di sampingnya.
"Ayah."
Seketika pak Prasetya menoleh sekaligus membuyarkan lamunannya.
"Yoga," sahut pak Prasetya lalu merangkul bahu sang putra bungsu.
Yoga langsung memeluk ayahnya lalu berbisik, "Bisakah waktu diputar kembali, Yah. Aku ingin kembali ke masa saat Ayah ingin menjodohkan aku dengan Azzura."
Pak Prasetya bergeming sambil mengelus punggungnya.
"Aku menyesal menolak saat itu," lirih Yoga dengan suara bergetar. "Aku nggak bisa membohongi hatiku jika aku mencintai Azzura, meski dia masih berstatus istri orang," aku Yoga dalam pelukan sang ayah.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ