
Malam harinya pukul 9.30 malam ...
Azzura dan Nanda akhirnya berpamitan pulang, karena besok keduanya akan kembali bekerja seperti biasa.
Setelah berpamitan pada ibu dan suster Naima yang berjaga, Azzura dan Nanda kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan kamar rawat ibunya.
"Zu, apa kamu baik-baik saja?"
"Insyaallah, aku baik-baik saja."
"Zu ... jujur saja aku lebih respect pada Yoga daripada si pria brengsek itu," geramnya dan tak segan-segan mengatai suami Azzura dengan menyebutnya pria brengsek.
Azzura hanya bergeming dan tetap melangkah sambil mendengar Nanda mengomel.
"Lihat saja tadi, Yoga dengan gentle langsung menggenggam tangan ibumu dan sangat menghormatinya. Nggak seperti si pria bajingan itu," gerutu Nanda sambil memaki.
Azzura hanya geleng-geleng kepala.
"Oh ya, Zu. Lucu juga ya, kok bisanya ibu langsung menganggap Yoga itu suamimu. Bahkan sampai menitipmu padanya. Kalau boleh jujur nih ya, aku akan berdoa kamu malah nikah beneran sama si Yoga," celetuk Nanda lalu terkekeh.
"Iishhh ... apaan sih, kamu?" balas Zu lalu ikut terkekeh.
Tanpa terasa langkah keduanya akhirnya sampai di depan motor Nanda.
"Ayo," ajak Nanda lalu mengenakan helmnya kemudian menyalakan mesin motornya.
Setelah memastikan Azzura naik ke atas motor, Nanda langsung menarik gas motornya, meninggalkan rumah sakit dan mengantar Azzura pulang.
Karena jalanan cukup senggang, tak butuh waktu yang lama akhirnya Azzura dan Nanda tiba di rumahnya.
"Nanda, nggak mampir dulu," tawar Zu lalu meraih termos dan wadah tempat brownies.
"Lain kali saja Zu," tolak Nanda.
"Baiklah, kamu hati-hati ya. Salam buat tante dan om," pesan Zu lalu melambaikan tangannya.
Sepeninggal Nanda, Azzura kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu rumah. Lagi-lagi ia menghela nafasnya dengan kasar karena melihat mobil Close sudah terparkir di halaman rumah.
Ia menekan password lalu memberi salam.
"Assalamu'alaikum ..." ucap Azzura namun salamnya tak berbalas melainkan rumah itu terlihat sepi.
Azzura hanya bisa menghela nafas lalu akan melanjutkan langkahnya ke arah kamarnya. Baru saja ia melewati ruang tamu, suara bentakkan Close menghentikan langkahnya.
"Dari mana saja kamu, hah?!! Jam segini baru pulang!!"
Azzura mengarahkan pandangannya ke arah Close yang sedang menuruni anak tangga lalu menghampirinya.
Lagi-lagi Close langsung menarik rambutnya dan menyeretnya ke arah sofa lalu mendorongnya dengan keras.
"Akh ... Close," desisnya lalu memegang tangan Close.
__ADS_1
Seketika termos dan wadah box brownies yang di pegangnya jatuh hingga membuat sisa soto yang ada di dalam termos itu tumpah.
Close tersenyum sinis, menatap sisa makanan itu. "Apa kamu kekurangan makanan hingga harus mengemis makanan ini?" hina Close lalu kembali mendorongnya.
Azzura hanya bergeming dan tak menghiraukan ucapan Close melainkan memungut termos dan wadah box browniesnya.
Melihat Azzura hanya bergeming, Close semakin emosi lalu merebut termos yang sedang dipegang Azzura lalu membantingnya hingga wadah itu pecah.
Merasa belum puas, ia kembali mencengkeram lengan Azzura, menyeretnya ke arah kolam renang lalu mendorongnya hingga tercebur ke kolam itu.
Dinginnya angin malam yang berhembus membuat Azzura sedikit kedinginan dan menggigil. Ia Lalu berenang ke pinggir kolam dan akan naik ke permukaan.
Namun dengan cepat Close kembali membenamkan kepala Azzura ke kolam sambil menahan kepalanya beberapa menit di dalam air untuk membuatnya jera.
Namun Azzura yang sudah terlatih dengan teknik menahan nafas di dalam air hanya menganggap itu hal biasa saja. Hingga akhirnya Close kembali melepas kepala Azzura lalu tersenyum mengejek.
"Rasakan itu, dasar gadis barista nggak tahu diri. Kamu memang pantas di hukum seperti ini," ucap Close lalu meninggalkan Azzura yang masih berada di dalam kolam renang itu.
Azzura hanya diam dan kembali naik ke pinggir kolam. "Bagaimana caranya aku masuk ke dalam jika basah begini," gumam Zu dengan bibir bergetar menahan dingin.
Sedangkan Close yang kini berada di kamarnya kembali tersenyum puas setelah menyakiti Azzura.
"Sejak awal, aku sudah katakan, akan aku buat pernikahan ini seperti berada di dalam neraka. Aku nggak akan berhenti menyakiti dirimu sehingga kamu menyerah dengan sendirinya, lalu menandatangani surat perjanjian perceraian itu dan pergi dari hidupku," geram Close.
Sedangkan Azzura yang masih berada di pinggir kolam, terpaksa masuk ke dalam rumah dalam keadaan basah dan segera masuk ke kamarnya.
Setelah membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya, ia kembali ke ruang tamu lalu membersihkan tumpahan air soto, memungut bekas pecahan termos dan kembali mengepel lantai hingga bersih.
"Astaghfirullah ... malang banget nasibmu Azzura," ucapnya pada dirinya sendiri.
Karena merasa lelah, akhirnya ia malah ketiduran di sofa itu.
Sedangkan Close yang berada di kamarnya terlihat sedang sibuk dengan laptopnya dan sesekali membalas pesan dari Laura.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia meraih rokok dan pemantiknya lalu menyalakannya.Setelah itu, ia pun keluar ke balkon kamarnya sambil menyesap benda berasap itu.
Sambil menyesap rokok, pikirannya kembali melayang memikirkan ke mana sebenarnya Azzura yang baru pulang di jam selarut ini. Bahkan saat ia pulang sore tadi motornya tidak terparkir di halaman.
Yang membuatnya kembali bertanya-tanya adalah, ketika mendapati gadis itu pulang dengan membawa termos makanan dan wadah box kue.
"Lalu? Siapa yang mengantarnya pulang tadi?" desisnya dan merasa penasaran.
Satu jam berlalu ...
Ia keluar dari kamarnya dan kembali menuruni anak tangga karena ingin ke dapur mengambil air minum.
Namun langkahnya terhenti saat ekor matanya tertuju ke arah Azzura yang sedang tertidur di sofa dengan nyenyaknya.
Ia perlahan menghampiri Azzura lalu menatap lekat wajah gadis itu yang terlihat tenang dan teduh.
Melihat memar di dahinya, tangannya terulur ingin menyentuh namun tertahan saat Azzura menggerakkan tubuhnya lalu memanggil ibunya.
__ADS_1
"Ibu ... bertahanlah, jangan tinggalkan aku," racaunya.
Close menautkan alisnya dan memilih meninggalkannya lalu lanjut ke dapur.
Ketika membuka kulkas, lagi-lagi ia kaget, saat mendapati kulkas itu sudah terisi.
"Apa tadi pagi, dia pergi berbelanja? Apa sisa makanan di termos dan wadah box itu masakannya sendiri?" Close kembali bertanya-tanya.
Namun seketika ia langsung merasa jengkel lalu membanting pintu kulkas dan kembali menghampiri Azzura yang masih tertidur di sofa.
Tanpa aba-aba ia langsung menarik tangannya hingga membuatnya jatuh dari atas sofa.
"Awww ..." ia mengusap belakangnya karena terkena benturan meja sofa lalu mendongak.
"Close," lirihnya lalu memperbaiki bergonya.
Close berjongkok lalu mencengkeram pipi Azzura.
"Apa kamu mengira aku nggak bisa membeli semua makanan yang terisi di dalam kulkas itu hah! Apa kamu pikir aku kekurangan uang?!" geram Close lalu melepas cengkeramannya.
"Maaf, aku tidak bermak ...."
Pakkkk ...
Belum sempat Azzura menyelesaikan ucapannya satu tamparan keras langsung melayang ke wajahnya.
"Apa kamu pikir, aku akan memakan makanan yang kamu masak untukku?! Jangan mimpi kamu! Bahkan aku tidak sudi menyentuh apapun hasil dari olahan tangan mu ini," sinisnya lalu menginjak jemari lentik Azzura.
"Aww ... ssssttt ..." ringis Azzura menahan sakit.
Setelah itu, Close kembali ke kamar lalu membanting pintu kamarnya hingga membuat Azzura tersentak kaget.
Sambil menahan sakit, perlahan ia bangkit berdiri lalu mengusap pipinya yang terasa perih dan panas.
Dengan langkah gontai ia meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu.
Azzura langsung menangis terisak meratapi nasibnya yang menjadi bulan-bulanan suaminya sendiri.
Belum hilang rasa sakit di tubuhnya yang lain, kini ia harus merasakan sakit di jarinya dan belakangnya.
"Azzura, kamu harus kuat, jangan pernah meneteskan air matamu walau hanya setetes di hadapannya," lirihnya menguatkan dirinya sendiri sembari menghapus air matanya.
.
.
.
πΏ πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΏ
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π. Like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ
__ADS_1