Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 58 : Meninggalkan kota J ...


__ADS_3

"Dit ... pulanglah ... thanks karena sudah membantuku," kata Yoga.


Radit bergeming namun tampak jelas di raut wajahnya jika ia sedikit khawatir. Apalagi nada bicara sahabatnya itu terdengar dingin.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Radit.


"Hmm." Yoga hanya berdehem. Setelah itu ia membuka pintu mobil lalu duduk di kursi kemudi.


Tanpa memperdulikan tatapan penuh selidik dari Radit, ia menyalakan mesin mobilnya dan perlahan mulai melajukan kendaraannya itu.


Sedangkan Radit yang masih berdiri ditempat hanya memandangi mobil atasannya itu yang sudah menjauh.


*******


Close yang baru saja tiba dirumah sang istri, tampak mengerutkan keningnya karena tak mendapati motor gadis itu di halaman parkir.


Seketika membuatnya langsung khawatir.


"Kemana dia?" desis Close lalu melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ini bahkan sudah jam setengah sebelas," cemasnya.


Ia pun keluar dari mobil lalu menghampiri pintu rumah kemudian memutar handlenya.


"Terkunci?" lirihnya. Ia pun bersandar di pintu rumah lalu menghubungi nomor Azzura. Lagi-lagi keningnya mengerut karena ponsel Azzura di luar jangkauan. "Azzura," lirihnya lagi sambil tertunduk lesu.


Tak lama berselang sorot lampu sebuah mobil terarah kepadanya. Karena silau, ia tak bisa melihat dengan jelas siapa pemiliknya.


Sedetik kemudian setelah lampu mobil itu mati, barulah ia bisa melihat jelas siapa sang empunya mobil.


"Yoga?! Mau apa dia kemari?" desisnya.


Sedangkan Yoga yang masih berada di dalam mobilnya, terlihat begitu geram menatap ex boss-nya itu. Ia sudah bisa menebak jika pria blasteran itu pasti akan ke rumah Azzura.


Dari kejauhan, Radit yang sejak tadi membuntuti Yoga hanya mengamati. Ia hanya mengantisipasi jika Yoga sampai tidak bisa mengontrol dirinya.


Bukan tanpa alasan, dari sorot matanya dan nada bicaranya yang terdengar dingin, Radit sudah bisa memastikan jika Yoga bakal menghajar ex boss-nya itu. Apalagi setelah mendengar ungkapan Azzura barusan.


Kembali ke Yoga dan Close. Yoga yang sudah turun dari mobilnya melangkah pelan menghampiri Close dengan tatapan menghunus tajam.


Setelah ia berada di hadapan Close, tanpa sepatah katapun ia langsung mencengkeram jaketnya lalu mendaratkan satu bogem mentah ke wajah dan perut pria blasteran itu dengan cukup keras hingga membuat Close terbatuk dan hidung mancungnya mengeluarkan darah.


"What the fu*ck!!!" umpatnya lalu ingin membalas namun dengan cepat Yoga menahan tangannya dan kembali menghajar Close tanpa ampun hingga membuatnya tersungkur.


Merasa belum puas ia kembali ingin menghajarnya namun tangannya langsung di tahan oleh Radit.


"Enough!!! Yoga ... kamu bisa masuk penjara jika sampai dia kenapa-napa," cegah Radit lalu menariknya dan sedikit menjauh.


Yoga hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Radit. "Sekalipun aku masuk penjara demi Azzura, aku nggak masalah. Daripada batin, fisik dan psikisnya terus disakiti oleh pria brengsek seperti dia ini," geram Yoga tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Close.


Setelah menyelesaikan kalimatnya, ia sedikit mendorong Radit dan kembali menghampiri Close kemudian berjongkok lalu menarik kaosnya.


"Rasa sakit akibat pukulan dariku belum ada apa-apanya dengan rasa sakit yang Azzura dapatkan darimu selama enam bulan terakhir. Selain menyakiti fisik, dan batinnya kamu juga menyakiti psikisnya hingga menimbulkan trauma," geram Yoga. "Dia hampir mengalami depresi berat karena perbuatan kejimu itu. Dasar pria brengsek, pecundang, menjijikkan!!" pungkas Yoga dengan begitu geramnya lalu mendorong dada Close.

__ADS_1


Setelah itu, ia berdiri lalu meninggalkannya begitu saja kemudian di susul sahabatnya. Setelah berada di dekat mobilnya, ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu memegang pundak sahabatnya.


"Yoga," lirih Radit. "Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.


Yoga tertunduk sambil menggelengkan kepalanya lalu memeluk Radit. Ia tak bisa lagi menahan air matanya karena membayangkan wajah Azzura.


"Radit .... rasanya aku ingin membunuhnya saja," bisiknya dengan suara lirih.


Radit hanya bergeming sembari menepuk-nepuk punggungnya. Setelah merasa cukup tenang, Yoga mengajaknya meninggalkan tempat itu.


Sedangkan Close yang kini sudah mendudukkan dirinya, hanya bisa tertunduk lesu menahan sakit. Memegang dada dan perutnya. Tubuhnya seperti ingin remuk akibat pukulan bertubi-tubi tanpa ampun dari Yoga.


Ucapan penuh emosi dari Yoga barusan, semakin menambah penyesalan dan rasa bersalah yang begitu besar dan dalam pada dirinya.


Sambil menahan rasa sakit, ia perlahan berdiri lalu menghampiri mobilnya dengan tertatih. Begitu ia berada di dalam mobil ia kembali termenung mengingat ucapan Azzura dua minggu yang lalu.


"Apa kamu pernah melihat retaknya sebuah kaca lalu pecah? Kaca itu memang masih bisa di satukan lagi. Tapi tetap saja sudah tidak sempurna bahkan masih terlihat goresan retaknya."


"Andai saja aku bisa memperlihatkan hatiku, kamu akan melihat begitu banyak goresan luka yang membekas, bahkan nyaris semuanya."


Mengingat ucapan Azzura itu, Close merasa nasib pernikahannya kini berada di ujung tanduk.


Seketika ia menangis lalu memukul setir mobilnya merasakan penyesalan mendalam karena berkali-kali menyakiti Azzura.


Setelah puas menangis dan merenungi nasib pernikahannya, akhirnya ia memutuskan pulang ke mansion daripada pulang ke kediamannya.


*


*


*


Ketika Azzura membuka matanya, Nanda sudah tidak berada di kamar itu melainkan meninggalkan secarik kertas di meja nakas dan segelas air putih untuknya.


"Astaghfirullah ... bahkan ini sudah jam delapan. Aku sudah melewatkan satu waktu," lirihnya lalu beranjak dari tempat tidur kemudian ke kamar mandi mencuci mukanya.


Setelah itu, ia kembali lagi ke kamar dan mendapati segelas air putih dan secarik kertas di atas meja nakas. Ia meraih kertas itu lalu membacanya.


Zu ... maaf, aku pulang lebih dulu. Hari ini aku masuk shif pagi. Jangan lupa minum air putihnya. Oh ya motormu ada di parkiran kuncinya ada di dalam tasmu. Lupakan kejadian semalam dan jangan mengingatnya lagi.


"Terima kasih, Nanda," lirihnya lalu meraih gelas itu lalu meneguk airnya.


Sebelum meninggalkan kamar Yoga, ia membuka laci nakas lalu meraih selembar kertas. Ia kemudian menulis sesuatu di atas kertas putih itu sebagai surat perpisahan.


Karena sebentar sore ia akan meninggalkan kota J dan memilih kota M sebagai tempat yang baru untuk memulai kehidupannya di kota itu.


Setelah selesai menulis surat, ia melipat kertas itu dengan rapi lalu meletakkan di atas meja nakas.


"Yoga, Al ... terima kasih untuk segalanya. Aku akan sangat merindukan kalian berdua nantinya," lirih Zu lalu meninggalkan kamar Yoga.


Sesaat setelah berada di lantai satu, ia meraih tasnya di atas meja sofa lalu mempercepat langkahnya. Tujuannya kini adalah, kantor mertuanya.

__ADS_1


Sebelum benar-benar menuju ke kantor sang mertua, Azzura terlebih dulu memesan tiket penerbangan sore ke Kota M. Setelah memesan tiket ia pun melanjutkan perjalanannya menuju kantor daddy Kheil.


Setelah beberapa kali mengalami drama macet, akhirnya ia tiba juga di kantor daddy Kheil. Begitu ia selesai memarkir dan meletakkan helmnya, ia mempercepat langkahnya menuju lift.


Lagi-lagi ketika pintu kotak besi hampir tertutup seseorang menahannya dengan tangan panjangnya. Seolah tak ingin ambil pusing, Azzura hanya bergeming.


Saat tahu sang empunya tangan adalah Jimmy, Azzura hanya mengulas senyum tipis sambil mengangguk pelan.


Keduanya hanya diam tanpa ada yang membuka suara. Sedangkan Jimmy, sesekali ia melirik Azzura yang tampak melamun.


Tak lama berselang, pintu lift terbuka. Azzura langsung mempercepat langkahnya menuju ruangan mertuanya.


"Bismillah ... maafkan aku daddy, momy," ucapnya pelan sesaat setelah berada di ambang pintu ruangan daddy Kheil.


Ia pun mengetuk lalu membuka pintu kemudian menyapa daddy Kheil yang tampak sedang duduk di kursi kerjanya.


"Daddy, aku ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting dengan daddy," kata Zu sesaat setelah duduk di kursi.


Seolah sudah tahu apa yang ingin di bicarakan oleh menantunya, daddy Kheil berpindah duduk di samping kursi Azzura lalu menggenggam tangannya.


"Daddy sudah siap mendengar apa yang ingin kamu bicarakan," lirih daddy Kheil dengan perasaan sedih.


"Daddy, aku ingin meminta bantuan dari daddy. Tolong siapkan pengacara untuk mengurus perceraianku dengan Close secepatnya," pinta Zu dengan suara tercekat. "Aku mohon dan aku percayakan semuanya pada daddy dan pengacara daddy," sambung Zu. "Selama proses gugatan itu berlangsung aku nggak bisa hadir, Dad. Aku sudah memutuskan meninggalkan kota ini sore nanti," pungkas Zu lalu menatap lekat wajah sang mertua.


Daddy Kheil hanya mengangguk di sertai dengan lolosnya air matanya mendengar permintaan terakhir Azzura. Ia juga tak bisa berbuat banyak. Satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk Azzura hanyalah membantunya.


Hening sejenak ...


Sebelum akhirnya Azzura beranjak dari tempat duduknya kemudian diikuti Daddy Kheil. Ia memeluk mertuanya itu sambil menangis lalu berbisik,


"Maafkan aku, Dad. Terima kasih atas segala bantuan dan kasih sayang yang telah Daddy dan momy berikan padaku, tanpa membeda-bedakan antara anak dan menantu," lirih Zu. "Sampaikan maafku pada momy dan Gisel karena nggak bisa bertemu untuk terakhir kalinya," sambung Zu lalu mengurai dekapannya dari mertuanya itu.


Daddy Kheil hanya mengangguk pelan dengan perasaan sedih. Setelah itu Azzura berpamitan lalu meninggalkan ruangan.


********


Beberapa jam berlalu tepatnya pukul 10.30 pagi ...


Kini Azzura sudah berada di kediaman Close. Setelah menekan password ia pun mengucap salam lalu membuka pintu.


Alisnya langsung bertaut saat masih mendapati pecahan guci masih berserakan di atas lantai. Perlahan ia melangkah menapaki anak tangga menuju kamar sang suami.


Walaupun merasa jijik memasuki kamar itu, namun ia terpaksa demi menandatangani surat perjanjian perceraian itu.


Setelah membuka laci nakas, ia segera meraih surat perjanjian itu lalu menanda tanganinya tanpa beban.


Sebelum meninggalkan kamar itu, ia menulis sepucuk surat untuk Close, lalu meletakkannya di atas meja nakas beserta surat perjanjian perceraian dan cincin kawinnya yang sudah melingkar di jari manisnya selama enam bulan terakhir.


Karena mengejar waktu, Azzura semakin mempercepat langkahnya tanpa mengambil barang-barang miliknya.


Tepat di jam 16.30 sore .... akhirnya Azzura benar-benar meninggalkan kota J tanpa ada satupun yang tahu kecuali daddy Kheil.

__ADS_1


Waktu akan terus berlalu meski duniamu tak mengizinkan itu, tapi Tuhan punya rencananya sendiri. Jangan terlalu meratapi sebuah kata pisah karena sebabnya akan ada sapaan yang datang dan akan lebih indah.


...****************...


__ADS_2