Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
87. Memohon ...


__ADS_3

Keesokan harinya ...


Pagi sekali setelah selesai sarapan, Galuh dan Nella terlebih dulu meninggalkan kediaman sang kakak bersama Ayya, Novia dan Ganendra.


Kemudian disusul Genta dan Azzura bersama bi Titin dan Devan. Sedangkan bu Nadirah dan pak Dirgantara memutuskan masih ingin tinggal beberapa hari lagi.


Setelah mengendarai mobil hampir satu jam setengah, akhirnya mereka tiba juga di sekolah.


"Sayang, Dev sama ayah dan bi Titin dulu ya, Nak," pamit Zu lalu mengecup kepalanya. "Mas, Bi," aku masuk dulu ya. Jangan lupa jemput Ayya nanti," pesannya.


"Baiklah," balas Genta dengan seulas senyum.


Setelah memastikan Azzura masuk ke halaman sekolah, barulah ia melajukan mobilnya menuju rumah.


Sesaat setelah berada di ambang pintu kelas, Azzura langsung memberi salam pada anak didiknya sekaligus meminta maaf karena datang terlambat.


Setelah itu, ia pun memulai aktifitasnya seperti biasanya hingga jam istirahat. Biasanya ia akan menemani dan memantau anak didiknya tapi kali ini ia memilih tetap berada di dalam kelas.


Satu jam kemudian setelah jam pulang sekolah, ia memilih memesan taksi online untuk mengantarnya ke toko kue.


Setelah taksi pesanannya tiba, ia pun langsung meminta diantar ke alamat tujuan. Saat dalam perjalanan tiba-tiba ponselnya bergetar.


"Mas Genta?" Ia menatap layar ponselnya lalu segera menjawab panggilan darinya.


"Assalamu'alaikum, Mas? Apa Dev rewel?"


"Waa'laikumsalam, nggak. Dia lagi tidur. Apa kamu sudah pulang?"


"Iya Mas, tapi aku langsung ke toko kue dulu. Nanti aku hubungi Mas jika akan pulang," jawab Zu.


"Baiklah. Kamu hati-hati ya. Kalau begitu aku tutup telfonnya," kata Genta.


Begitu sambungan terputus, Azzura memasukkan kembali benda pipihnya itu ke dalam tas.


Tak lama berselang, mobil pun berhenti tepat didepan toko kue mendiang Nina.


"Makasih ya, Bang. Ongkosnya sudah aku bayar lewat aplikasi," kata Zu dan dijawab dengan anggukan kepala oleh bang supir.


Ia pun turun dari mobil lalu melangkah menghampiri pintu toko.

__ADS_1


"Mbak?!" sapa Lulu. "Dedek Devan nggak dibawa?"


Azzura mengulas senyum sambil menggeleng. Ia pun melanjutkan langkahnya ke ruang kerja. Sesaat setelah duduk di kursi kerjanya ia menghela nafas.


Ia menatap jemarinya yang kini telah terpasang cincin tunangan.


"Rasanya aku seperti bermimpi saja," gumamnya. "Mas Genta, maaf jika aku sempat membuatmu kecewa kemarin." Azzura kembali mengingat moment kemarin.


Azzura memejamkan matanya sejenak. Entah mengapa ia merasa sedikit penasaran dengan ucapan Genta kemarin.


Tok ... tok ... tok ...


Ketukkan pintu itu seketika membuyarkan lamunannya. Ia pun menoleh.


"Lulu, ada apa?" tanyanya.


"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Mbak," jawab Lulu.


Azzura menautkan alisnya lalu perlahan beranjak dari tempat duduknya. "Siapa ya? Apa Close? Mau apa lagi dia?" tanyanya dalam hatinya dengan perasaan bimbang.


"Baiklah, aku akan menemuinya," balas Zu.


"Bismillah."


Ia pun melangkah keluar lalu menuju ke arah yang di maksud. Langkahnya terhenti saat pandangannya terarah ke salah satu meja.


Matanya langsung berkaca-kaca saat menatap dua sosok yang begitu dikenalnya.


"Momy ... Daddy ..." Dengan suara lirih ia menyebut dua nama itu. Ia langsung menghampiri keduanya lalu menyapa.


"Momy ... Daddy?"


Keduanya langsung berdiri menyambutnya. Tanpa basa basi momy Lio langsung memeluknya dengan erat sambil menangis.


"Sayang ... anak momy. Kenapa kamu nggak pernah memberitahu kami jika kamu tinggal di kota ini, Nak?" bisik momy dengan suara lirih. "Momy benar-benar merindukanmu," sambungnya sambil mengelus punggung Azzura.


Azzura hanya bergeming namun tak kuasa menahan air matanya. Lidahnya keluh tak bisa berkata-kata.


"Mom, Dad, sebaiknya kita ke ruangan kerjaku saja," ajaknya lalu merangkul keduanya. Setelah itu ia memberi isyarat pada Lulu untuk menyiapkan minuman dan cemilan.

__ADS_1


Sesaat setelah berada di ruangan itu, ia pun mengajak keduanya duduk di kursi tamu.


"Mom, Dad, bagaimana kalian tahu jika aku tinggal di kota ini. Terus tahu alamat toko ini dari siapa? Apa Close yang memberitahu?" selidiknya dengan hela nafas.


Keduanya hanya mengangguk. Momy Lio terus menatapnya sambil menggenggam jemarinya.


"Sayang, momy mohon maafkanlah segala kesalahan dan perbuatan Close padamu. Baik yang disengaja maupun tidak. Semua ini salah momy karena memaksamu menikah dengannya kala itu," mohon momy Lio dengan linangan air mata. "Kenapa kamu menyembunyikan semua perbuatan bejatnya dari kami? Kenapa kamu hanya diam saja?"


Momy Lio terus menggenggam jemarinya dan tampak sangat menyesal.


Ia pun menceritakan keadaan putranya pasca ia meninggalkan kota J dan memilih bercerai. Termasuk jika selama ini momy Lio memilih tinggal di Australia sebagai bentuk kekecewaannya pada Close.


Ia pun mencoba membujuk menantunya itu untuk rujuk kembali dengan putranya, walau ia tahu jawaban apa yang akan Azzura berikan.


Untuk sejenak Azzura cukup terkejut mendengar penjelasan dari ex mertuanya itu. Namun tetap saja, pintu hatinya sudah tertutup rapat untuk pria itu.


"Mom, Daddy." Ia berkata lirih bahkan tak kuasa menahan air matanya yang jatuh tiba-tiba. Ia memandangi keduanya menggenggam erat jemari Daddy dan momy Lio.


"Tiga tahun yang lalu aku sudah memaafkan semua kesalahan Close termasuk KDRT yang ia lakukan padaku. Aku masih bisa menahan sakit akibat dari KDRT yang dilakukan padaku, tapi nggak akibat perbuatannya yang telah melukai batinku hingga membuat psikisku sakit. Sampai detik ini aku masih berusaha melawan rasa trauma itu, Mom, Dad."


Azzura menjeda kalimatnya sejenak lalu menarik nafasnya dalam-dalam. Bahkan air matanya seolah tak bisa berhenti mengalir.


"Perzinaan yang sering ia lakukan secara sadar dan terang-terangan di rumah kami saat itu, benar-benar membuat batinku sakit walaupun aku nggak mencintainya. Tapi tetap saja, sebagai istri sah, nggak ada seorang wanita pun yang rela diperlakukan sedemikian rupa," pungkas Zu sambil tertunduk.


"Sayang, maafkan kami, Nak," ucap momy Lio dan daddy Kheil dengan suara tercekat.


"Momy tahu apa yang membuatku lebih sakit? Close menuduhku mandul dan pernah menuduhku hamil diluar nikah bahkan dengan kejinya dia ingin membunuh bayi itu jika aku benar-benar hamil."


Tangisan Azzura seketika itu juga langsung pecah kemudian memeluk momy Lio.


Tanpa ketiganya sadari Close yang sejak tadi berada di balik pintu mendengar semua pembicaraan mereka.


"Azzura ... maafkan aku ..." Ia menangis menyesali semua perbuatannya.


Dengan tangan bergetar ia memutar handle pintu lalu menyapa ketiganya.


Sontak saja kehadirannya yang tiba-tiba itu membuat mereka terkejut. Ia langsung berlutut lalu memeluk kedua kaki Azzura sambil menangis.


"Azzura ... maafkan aku ... aku mohon beri aku kesempatan untuk memulai hubungan kita lagi. Aku sudah berubah, aku menyesal, aku sudah mendapat karmanya. Please beri aku kesempatan terakhir ... aku mohon, Zu."

__ADS_1


Ia tetap berlutut sambil memeluk kaki Azzura, memohon sambil menangis. Berharap jika mantan istrinya itu mau memberikan kesempatan.


__ADS_2