
Setelah menghubungi Close, Genta dan Azzura menyusulnya ke resort satu jam setelah selesai melaksanan shalat ashar.
Tak lupa keduanya menghubungi Yoga sekaligus menawarinya untuk bergabung bersama untuk saling share nantinya.
Tiga puluh menit sudah Genta, Azzura dan Close berada di pantai itu sejak keduanya tiba di resort itu yang tak lain adalah milik Close.
"Sayang, mas nggak menyangka jika mantan suamimu ini ternyata tajir melintir. Apa kamu nggak menyesal meninggalkannya?" tanya Genta dengan nada bercanda.
Seketika suara tawa Azzura langsung terdengar memenuhi gendang telinga sang suami dan Close.
Ia kemudian melirik Close yang sejak tadi terus menatapnya.
"Karena aku nggak pantas bersanding dengannya. Masih ada wanita yang jauh lebih baik untuknya. Buktinya kami nggak bisa mempertahankan keutuhan rumah tangga kami. Karena aku yakin Allah pasti punya rencana lain untuk Close," pungkas Zu.
Close langsung mengarahkan pandangannya ke arah Fattah Faatih yang sedang bermain pasir dengan girangnya.
Mendengar ucapan Azzura, hatinya tiba-tiba mencelos. "Andai saja kamu memberiku kesempatan, maka kamu adalah wanita yang akan paling aku bahagiakan sampai akhir hayatku. Rasa cinta ini masih bersemi dan belum padam, Zu."
Lamunannya seketika membuyar saat Genta merangkul erat punggungnya seraya berbisik, "Kamu harus semangat, yakinlah jika suatu saat Allah akan mengirimkan seseorang untuk mengisi ruang yang kosong di hatimu."
Close tertunduk dengan mata berkaca-kaca. Entah ia harus berkata apa. Yang jelas hatinya kini diselimuti dengan perasaan hampa.
Melihat gelagat tak biasa Close, Genta melirik Azzura lalu menggenggam jemarinya seolah memberi isyarat padanya.
"Fattah ... Faatih ..." panggil Genta pada kedua putranya itu. "Mau es krim nggak?" tanyanya seraya menghampiri kedua putranya yang masih asik bermain.
"Mau, Yah," jawab keduanya lalu melepas alat mainan yang dipegangnya.
"Yuk ..." ajak Genta lalu berjongkok kemudian membersihkan pasir yang melengket di tubuh mungil kedua putranya.
"Sayang, mas temani anak-anak dulu ya," izinnya seraya mengedipkan kedua matanya disertai anggukan.
Baru saja beberapa langkah Genta mengayunkan langkahnya, Yoga baru tiba dengan melambaikan tangan ke arahnya.
Namun dengan cepat Genta memberi isyarat supaya ia tetap di tempat sembari mempercepat langkahnya.
"Waah Bang, aku langsung jealous melihat Azzura dan Close di sana," kelakar Yoga lalu terkekeh. "Hai jagoan paman," sapanya lalu menggendong Fattah Faatih bersamaan.
Kedua bocah cilik itu langsung cekikikan karena dikecup dengan gemas oleh Yoga.
"Yuk kita cari yang segar- segar dulu," ajak Genta.
"Jangan bilang, Abang ingin melirik ga ...."
Tak ...!!
Jidatnya langsung disentil oleh Genta sambil terkekeh. "Nggak bakal melirik gadis lain. Azzura sudah melebihi dari segalanya," sela Genta dan disambut gelak tawa Yoga.
"I'm speechless, Bang. Abang memang pria sejati dambaan setiap wanita," puji Yoga.
Genta hanya mengulas senyum lalu kembali mengajaknya meninggalkan tempat itu. Sekaligus ingin memberi kesempatan pada Close dan Azzura untuk saling mengobrol.
Suara deru ombak terus menyapa Close dan Azzura. Suara pelan angin semilir ikut menjadi satu di tempat itu. Angin yang berhembus pelan terus menerpa tubuh keduanya sekaligus menciptakan suasana damai dalam hati.
Suasana syahdu yang begitu Azzura sukai sejak dari dulu. Sejenak ia memejamkan mata merasakan setiap hembusan angin dan suara deru ombak yang menyapa.
Dalam keheningan yang tercipta di antara keduanya, Close terus memandangi wajah teduh nan ayu mantan istrinya itu.
"Azzura Zahra," ucapnya dengan suara pelan nyaris tak terdengar.
__ADS_1
"Close," sebut Zu dengan lirih memanggil nama lalu menggenggam jemarinya "Cobalah pejamkan matamu, rasakan setiap hembusan angin dan suara deru ombak lebih dalam," seru Zu masih dengan posisi yang sama.
Close langsung menoleh lalu menunduk menatap jemarinya yang kini sedang digenggam erat oleh Azzura.
Kedua matanya kini menggenang dan akhirnya menjatuhkan dua kristal bening dari kelopak matanya.
Ingin rasanya detik itu juga ia ingin memeluk erat tubuh ex istrinya, namun urung ia lakukan karena ragu dan takut.
Ia pun menarik nafasnya dalam-dalam lalu perlahan menghembusnya. Mengikuti instruksi dari Azzura.
Kembali hening ...
Yang terdengar hanya suara deru ombak serta suara hembusan angin semilir yang menerpa tubuh keduanya.
Satu menit ...
Lima menit ...
Sepuluh menit ...
Ketenangan dalam sanubari serta merta mengisi relung hati keduanya. Perlahan Azzura membuka matanya lalu melirik Close.
Ia mengulas senyum saat masih mendapati pria blasteran itu memejamkan matanya. Tangannya yang sejak tadi menggenggam jemari tak ia lepaskan.
"Apa sekarang kamu merasa jauh lebih tenang?" tanya Zu masih menatapnya.
Dalam diam Close mengangguk pelan. Ada sebuah senyum yang terukir di sudut bibirnya. Tak lama berselang ia membuka matanya.
"Terima kasih, Zu," ucapnya lirih lalu menoleh ke arah Azzura.
Azzura hanya mengulas senyum lalu memeluknya sembari mengelusnya punggungnya.
"Zu," sebutnya dengan suara bergetar.
"Nggak apa-apa, biarkan seperti ini sebentar. Menangis lah jika kamu ingin menangis dalam pelukanku, nggak mengapa. Aku juga pernah berada di posisi seperti ini. Memang terasa berat dan sulit untuk kita ungkapkan dengan kata-kata. Namun air mata sudah cukup mewakili semuanya," bisik Zu sambil terus mengelus punggung ex suaminya itu.
Mendengar ucapan dengan nada lembut itu, tangisan Close langsung pecah tak terbendung. Pelukan erat Azzura seakan menguatkan dirinya.
Dari kejauhan Yoga dan Genta hanya bisa menatap nanar keduanya sekaligus terenyuh. Punggung Close yang sejak tadi naik turun sudah cukup bagi keduanya menebak.
"Bang." Yoga memegang pundak Genta.
"Nggak apa-apa, biarkan mereka seperti itu. Aku merasa Close memang membutuhkan Azzura saat ini," kata Genta lalu meliriknya. "Aku yakin setelah ini Close pasti akan menemukan jati dirinya.
"Ya, aku rasa memang Azzura lah yang bisa membuatnya kembali seperti semula," sahut Yoga.
Ia pun menceritakan perihal kondisi Close yang sebenarnya tanpa ada yang ia sembunyikan termasuk saat ia berkonsultasi padanya kemarin.
"Sepertinya ini lah kehidupan, Yoga. Penyesalan dan rasa bersalah itu seakan menjadi momok bagi kita sendiri. Setelah seseorang yang pernah disia-siakan nggak lagi bersama kita."
"Seperti yang dialami oleh Close. Di satu sisi ia harusnya bersyukur karena nggak kehilangan Azzura, dalam arti meninggal. Coba bayangkan jika Azzura sudah tiada? Apa yang akan terjadi? Dia bisa saja menjadi gila karena rasa penyesalan dan rasa bersalah itu terus menghantuinya dirinya bertubi-tubi," jelas Genta dengan hela nafas.
"Iya, Abang benar," timpal Yoga.
Keduanya masih tetap di tempat. Pandangan keduanya terus mengarah ke arah Azzura dan Close.
Kembali ke Azzura dan Close yang saat ini sudah jauh merasa lebih baik. Setelah beberapa menit lamanya menumpahkan air matanya dalam pelukan Azzura, ia pun melepas pelukannya.
"Maaf jika aku seperti mengambil kesempatan atas dirimu," ucap close dengan lirih.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Aku juga tahu mana yang mengambil kesempatan dan tidak," balas Zu lalu tersenyum.
Sebelum melanjutkan ucapannya, Azzura menghela nafas panjang seraya mengarahkan pandangannya ke arah ufuk barat.
"Close ... yang berlalu biarkanlah berlalu. Lupakanlah semuanya yang pernah terjadi diantara kita. Sampai kapan kamu akan terjebak dengan rasa penyesalan dan rasa bersalah mu padaku?"
"Semua manusia pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya termasuk diriku. Nggak memberimu kesempatan untuk menebus semua kesalahanmu, bukan berarti kamu pria yang buruk di mataku tapi sebaliknya."
Azzura menjeda kalimatnya sejenak sembari manarik nafasnya dalam-dalam. Ia lalu menatap lekat wajah ex suaminya itu dengan lekat.
Ia kembali mengulas senyum lalu menggenggam tangannya.
"Close, kita gagal mempertahankan pernikahan kita, bukan karena kita yang menginginkan. Melainkan itu sudah garis takdir dari Allah."
"Karena aku yakin akan ada pengganti diriku yang jauh lebih baik dariku untukmu. Percayalah serta yakinlah," kata Zu tanpa melepas genggaman tangannya.
"Zu," ucap Close dengan wajah senduh.
"Close, yang kamu butuhkan saat ini adalah ketenangan hati, jiwa dan pikiran. Dekatkanlah dirimu pada Allah SWT. Insyaallah ... Allah akan mendengar setiap keluh kesah mu di dalam setiap untaian kata-kata dan doamu."
"Salah satunya ikhlaskan hatimu, ikhlaskan semua yang telah terjadi. Jangan pernah memikirkan hal-hal yang bisa menganggu pikiranmu dengan masa lalu kita."
"Close jika aku boleh sarankan sebaiknya kamu umroh," saran Zu. "Aku yakin tempat itu akan membuatmu bisa keluar dari bayang-bayang masa lalu. Mintalah doa terbaik di sana karena berdoa di sana lebih mustajab dan cepat dikabulkan oleh Allah, Insyaallah," pungkas Zu lalu tersenyum.
Mendengar saran dari Azzura, Close mengangguk pelan. Ia tak menyangka jika Azzura sampai memikirkan hal itu demi dirinya.
Pikirnya saran dari Azzura ada benarnya dan masuk di akalnya. Sedetik kemudian ia mengulas senyum.
.
.
.
Beberapa jam berlalu ...
Setelah selesai melaksanakan shalat magrib, Genta dan Azzura tampak sudah bersiap-siap akan kembali ke hotel.
Tapi sebelumnya mereka akan makan malam bersama di salah satu restoran yang telah Close siapkan untuk mereka.
"Sayang," panggil Genta.
"Iya Mas," sahut Zu setelah memberi dot susu pada putranya.
"Bagaimana dengan keadaan Close? Mas terenyuh banget saat melihatnya menangis dalam pelukanmu tadi."
"Alhamdulillah ... sepertinya dia sudah jauh lebih baik, Mas. Aku menyarankan supaya dia umroh. Insyaallah ... aku yakin setelah umroh dia pasti bisa menjalani hari-harinya seperti sebelumnya."
Azzura menghela nafas lalu memeluk suaminya.
"Maafkan aku, Mas karena tanpa izinmu aku memeluknya," ucap Zu merasa bersalah. "Semuanya aku lakukan demi membuatnya merasa sedikit tenang."
"Nggak apa-apa, Sayang. Mas mengerti jadi jangan merasa bersalah begitu." Genta mengecup keningnya lalu mengelus perutnya.
Sambil menunggu kedua putranya menghabiskan susu, Genta dan Azzura kembali merapikan perlengkapan shalatnya.
Setelah itu Azzura memilih ke balkon. Menengadahkan wajahnya menatap langit yang kini dipenuhi ribuan bintang.
"Dalam sebuah hubungan pasti pernah merasakan rasa bahagia, sedih, dan kecewa. Namun semua itu merupakan sebuah cobaan. Close, semoga setelah pulang umroh, kabar bahagia akan segera kamu kabarkan padaku dan mas Genta."
__ADS_1
...----------------...