
Satu minggu kemudian ...
Azzura meminta izin untuk ke kota J sekaligus ingin nyekar makam orang tuanya.
Tadinya ia ingin mengajak Genta dan Ayya, namun karena tugas yang menuntut sang calon suami, akhirnya ia terpaksa berangkat berdua saja dengan sang putra.
Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih satu jam setengah, akhirnya ia tiba juga di bandara kota J.
Sambil menggendong Devan yang sedang tertidur pulas, ia mendorong mini kopernya menuju ke salah satu mobil yang telah tersedia di bandara.
Ia pun meminta bang supir untuk mengantarnya ke alamat rumahnya.
Di sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Azzura sesekali menatap keluar jendela mobil lalu mengulas senyum.
Ia menunduk memandangi wajah putranya lalu mengelus kepalanya dengan sayang. Untuk pertama kalinya ia harus berpisah dari sang ayah.
"Sabar ya, Sayang, ayah akan menyusul bersama kak Ayya nantinya."
Tak lama berselang, mobil yang ditumpanginya itu pun berhenti tepat di depan rumahnya. Setelah membayar ongkos, ia pun membuka mobil.
"Bu, biar saya bantu bawa kopernya sampai di depan rumah," tawar bang supir.
Azzura hanya mengangguk. Ia menghela nafas menatap nanar rumah minimalis berlantai dua itu.
Mobil pemberian dari mantan suaminya itu masih terparkir di tempat lengkap dengan covernya beserta motor maticnya.
"Bu, saya permisi ya."
"Iya. Terima kasih ya, Bang," ucap Zu. Setelah itu ia pun melangkah menghampiri pintu utama.
Saat akan merogoh tasnya ingin mengambil kunci rumah, seseorang menegurnya.
"Zura?"
Azzura perlahan membalikkan badannya. "Mbak Nanik," sahutnya dengan seulas senyum.
Mbak Nanik menghampirinya lalu menawari diri untuk menggendong putranya yang masih terlelap. Mungkin efek obat anti mabuk yang diminumnya.
Sesaat setelah membuka pintu, ia mengucap salam lalu mengajak Mbak Nanik masuk ke dalam rumah.
Alisnya langsung bertaut saat mendapati ruangan itu tetap bersih bahkan terdapat mainan anak-anak.
Sesaat setelah mendaratkan bokongnya di sofa, ia melirik Mbak Nanik dengan penuh tanda tanya.
"Zura, apa dia ini putramu?"
Mendapat pertanyaan tiba-tiba dari tetangganya itu ia langsung terkekeh.
__ADS_1
"Iya, Mbak."
"Ganteng banget," puji Mbak Nanik sambil terus memandangi wajah Devan.
Setelah mengobrol sejenak akhirnya Mbak Nanik pun berpamitan. Sepeninggal Mbak Nanik, Azzura membawa Devan ke kamar ibunya lalu membaringkannya.
Setelah itu, ia menghubungi Genta hanya untuk mengabari jika ia sudah tiba di kota J. Begitu selesai mengobrol singkat lewat benda pilihnya, ia pun meletakkan ponselnya begitu saja lalu ikut memejamkan matanya.
.
.
.
Ba'da asar, ia dan Devan sudah tampak rapi karena akan menyekar makam.
"Sayang, kita nyekar makam nenek dan kakek ya." Azzura berjongkok lalu memakaikan Devan topi dan masker. Bocah tampan itu hanya mengangguk pelan.
Ia pun naik ke atas motor lalu mendudukkan Devan di depannya. Setelah itu ia mulai memacu motornya itu ke tempat tujuan.
Di sepanjang perjalanan menuju TPU, Devan tanpa henti terus berceloteh karena merasa asing dengan kota itu.
Tentu saja dengan banyaknya pertanyaan dari sang putra membuat Azzura sesekali tertawa. Namun dengan sabar ia tetap menjawab pertanyaan putranya apa adanya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka tiba juga di tempat itu. Sesaat setelah berada di makam itu, lagi-lagi alisnya saling bertaut karena makam itu tampak bersih bahkan terawat.
Air matanya mulai mengalir menatap nanar pusara itu. "Ibu, ayah, dalam waktu dekat aku akan menikah. Semoga dilancarkan. Andai saja kalian masih ada, betapa bahagianya putrimu ini karena ada yang mendampingi."
"Sayang, yuk kita taburi bunga bunga pusara nenek dan kakek. Abis itu kita kirim doa," ujarnya.
Setelah hampir tiga puluh menit berada di pusara itu, ia pun menggendong Devan lalu meninggalkan TPU itu.
Tujuan selanjutnya adalah ke Prasetya Hospital 2. Berharap ia akan bertemu dengan Bunda Fahira dan Yoga.
Ia terus memacu motornya ke arah rumah sakit hingga tiba di tempat tujuannya itu.
"Sayang, yuk kita bertemu dengan Oma, dan paman dokter." Ia melepas masker Devan lalu menggenggam jemari mungilnya, melangkah bersama menuju ruangan bunda Fahira.
Sesaat setelah berada di depan pintu ruangan praktek itu, ia pun mengetuk pintu lalu memberi salam.
"Assalamu'alaikum ..." ucapnya lalu diikuti oleh Devan.
"Waa'laikumsalam ..." jawab bunda Fahira dari dalam ruangannya.
Perlahan Azzura memutar handle pintu lalu membuka benda itu.
Sontak saja kehadirannya bersama bocah tampan yang sedang memegang jemarinya itu membuat orang-orang yang ada di ruangan itu terpaku di tempat.
__ADS_1
Hening ....
Mereka seolah tak percaya dengan kehadirannya yang tiba-tiba bahkan merasa seperti bermimpi.
"Azzura?!! Apa itu kamu?!! Kamu Azzura kan?!" suara itu sekaligus memecah keheningan.
Ia langsung menghampiri Azzura lalu memeluknya erat sambil menangis.
"Azzura, ke mana saja kamu selama ini?" bisik Nanda dengan suara bergetar disertai tangisannya.
Betapa ia sangat merindukan sahabatnya itu. Selama tiga tahun tanpa kabar.
Sedangkan bunda Fahira, Aida, Farhan dan Radit tampak masih terpaku di tempat.
"Bundaaaa ..." Devan menggoyangkan tangannya mulai merengek karena tempat itu sangat asing baginya.
Nanda langsung melepas pelukannya lalu menatap Azzura penuh selidik kemudian beralih menunduk memandangi Devan.
Ia pun berjongkok lalu menangkup pipi bocah tampan itu lalu mengulas senyum.
Merasa jika Devan tak terlalu nyaman, Azzura menggendongnya lalu menghampiri bunda Fahira, Farhan Aida dan Radit.
"Bunda." Dengan suara lirih ia memanggil bunda Fahira.
Tak bisa menahan bunda Fahira dan Aida langsung memeluknya bersama Devan.
"Sayang, kenapa kamu baru muncul sekarang. Selama ini kami sudah berusaha mencarimu namun kami sulit menemukan keberadaanmu," ucap bunda dengan suara tercekat menahan tangis.
Untuk beberapa menit mereka larut dalam suasana haru biru. Karena merasa penasaran mereka pun bertanya siapa bocah yang saat ini bersamanya.
Ia pun mulai menjelaskan siapa Devan sebenarnya termasuk selama ini ia tinggal di mana. Ia juga menceritakan kejadian yang terjadi baru-baru ini.
Hanya saja ia belum memberitahu jika ia akan segera menikah dalam waktu dekat. Rencananya ia kan memberitahu kabar bahagia itu saat akan kembali ke kota M.
Saat menatap Nanda, ia baru menyadari jika sahabatnya itu sedang berbadan dua. Tahu jika Azzura ingin bertanya, ia pun menjelaskan jika ia sudah menikah dengan Radit.
Ia juga menjelaskan jika ia dan Radit setiap minggunya ke rumahnya untuk membersihkan rumah itu sekaligus mengajak anaknya dan Aida bermain di sana.
"Pantasan saja, ada mainan anak-anak ternyata kalian pelakunya," ledek Zu sambil terkekeh. "Tapi bagaimana bisa, Nanda?"
"Bisalah, soalnya aku punya duplikat kuncinya, apa kamu lupa jika kamu sendiri yang memberinya saat ibu masih dirawat?" jelasnya Nanda.
Azzura hanya mengangguk. Setelah itu ia pun memindai ruangan praktek itu.
"Bunda, kak Farhan, sejak tadi aku nggak melihat paman dan Yoga. Apa mereka berdua ada di ruangan kerjanya?"
Pertanyaan yang terlontar dari gadis berhijab itu, sontak saja membuat ruangan itu hening seketika.
__ADS_1
...----------------...