Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 73: Sebuah janji ...


__ADS_3

Setibanya di kediaman orang tua Genta, tanpa menunggu Azzura dan Genta, Ayya dan Devan lebih dulu turun dari kendaraan itu.


Keduanya langsung berlari kecil menghampiri pintu utama lalu memberi salam.


Sedangkan Azzura dan Genta, keduanya hanya tertawa lucu dengan tingkah kedua bocah itu.


"Yuk," ajak Genta pada Zu dan bi Titin.


"Bi, duluan saja," kata Zu pada bi Titin. "Tasnya biar aku saja yang bawa," lanjut Zu dengan seulas senyum.


Bi Titin mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya. Sedangkan Azzura masih ke belakang bagasi mobil dibantu Genta.


"Biar aku saja," tawar Genta lalu meraih tas yang akan Azzura ambil kemudian menutup pintu bagasi mobil.


"Makasih ya, Mas," ucap Zu dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Genta.


Keduanya pun kembali sama-sama melangkah menuju pintu utama. Tampak bu Nadirah dan pak Dirga sedang berdiri menanti keduanya.


"Assalamu'alaikum ... Bu, Pak," ucap Zu lalu menyalami keduanya.


"Waa'laikumsalam ... Nak," jawab keduanya. "Sudah berapa kali mama bilang padamu ... panggil mama dan ayah saja seperti Genta," protes bu Nadirah.


Azzura terkekeh menatap wanita paruh baya itu lalu pak Dirga.


"Maaf ... kadang aku suka lupa, Ma," aku Zu.


"Makanya biasakan," sahut pak Dirga dengan seulas senyum lalu menaikkan alisnya menatap Genta.


Ck ... ayah pasti ingin meledekku lagi. Genta berdecak dalam batinnya


Setelah itu mereka pun masuk ke dalam rumah dan langsung ke ruang santai.


"Bi, tolong bawa tas ini ke kamar Devan ya," pinta Genta pada ART mamanya.


"Baik, Den," sahut bi Sinta.


"Zu, Mah, kalian lanjut saja ke ruang santai. Aku ingin bicara dengan ayah sebentar di ruang kerjanya," kata Genta.


.


.


Sesaat setelah berada di ruang kerja sang ayah, Genta pun mengutarakan keinginannya.


"Well ... dari raut wajahmu, ayah sudah bisa menebak jika ada hal serius yang ingin kamu bahas dengan ayah," tebak pak Dirga.


"Hmm ..."


"Katakan saja, ayah pasti akan membantumu," lanjut pak Dirga.


Genta pun mulai mengutarakan keinginannya supaya Azzura tinggal di kompleks itu. Tepatnya rumahnya yang tak terlalu jauh dari rumah sang mama.


Ia juga menjelaskan semua yang ia lakukan untuk melindungi Azzura dan Devan dari Johan yang bisa sewaktu-waktu mengambil Devan darinya.


Setelah mengutarakan semuanya, pak Dirga hanya manggut-manggut. Sedetik kemudian ia merangkul bahu sang putra.


"Apa hanya itu? Nggak ada yang lain?" selidik pak Dirga sekaligus menggodanya dengan senyum penuh arti.


Genta langsung tersenyum lalu melirik sang ayah.


"I think i wanted more than that," desisnya dengan senyum mengembang sempurna.

__ADS_1


"Really?"


"Yes ... aku ingin melamarnya minggu depan dengan cara tak biasa," tutur Genta.


"Ini baru putra ayah," kata pak Dirga semakin merangkul erat bahu sang putra. "Ayah dan mama akan membantumu," kata pak Dirga lagi sekaligus mendukung dan menyetujui keputusan Genta.


Genta kembali tersenyum dan kini sudah memikirkan cara tak biasa untuk melamar gadis berhijab itu.


Sementara di ruang santai, Azzura dan bu Nadirah tampak sedang memperhatikan Ayya dan Devan yang sedang bersama bi Titin menonton animasi kesukaan mereka yaitu Nussa dan Rara.


"Nak Zu," sebut bu Nadirah lalu menggenggam jemarinya.


"Iya, Mah," sahutnya lalu menatap bu Nadirah.


"Maaf, jika permintaan mama ini sedikit berlebihan," balas bu Nadirah.


"Permintaan?" tanya Zu dan sedikit bingung. "Katakan saja, Mah. Insya Allah sebisa mungkin aku akan memenuhi permintaan Mama," ucap Zu dengan tulus lalu mengulas senyum.


Hening sejenak, bahkan bu Nadirah tampak ragu ingin mengutarakan permintaannya. Ragu kalau-kalau gadis berhijab itu menolak keinginannya.


"Mah," tegur Zu.


"Nak Zu ... jika mama memintamu menjadi istri sekaligus ibu bagi Ayya, apa kamu nggak keberatan?" kata bu Nadirah dengan tulus.


Tak pelak permintaan tulus yang diutarakan bu Nadirah barusan seketika membuatnya terkejut.


"Mah," lirihnya lalu tertunduk dengan mata berkaca-kaca. Ia bingung harus menjawab apa.


Melihat Azzura yang kini tertunduk, bu Nadirah mengelus lengannya.


"Nak, mama nggak akan memaksa jika kamu nggak menginginkannya. Hanya saja, mama sangat menginginkan dirimu menjadi menantu mama. Menjadi pendamping hidup untuk Genta, menjadi ibu bagi Ayya dan Devan. Lagian kalian juga sudah saling mendalami karakter masing-masing dan sama-sama mengalami hal yang sama yaitu pernah gagal dalam mempertahankan pernikahan kalian," tutur bu Nadirah.


"Mah, aku nggak bisa menjawab sekarang. Insya Allah ... aku akan menjawab setelah shalat Istikharah," lirihnya lalu memeluk bu Nadirah.


"Nggak apa-apa, Nak. Apapun keputusanmu mama akan tetap menghargainya. Mama paham, sesuatu yang dipaksakan pasti nggak akan baik," desisnya seraya mengelus punggungnya.


"Terima kasih, Mah."


Bu Nadirah mengangguk lalu melonggarkan pelukannya. Namun ia sangat berharap jika Azzura akan memberikan jawaban yang membuatnya bahagia.


.


.


Ba'da isya, pukul 21:15 ....


Setelah memastikan Ayya dan Devan tidur, Azzura memilih ke area kolam renang dan duduk di kursi santai sambil menatap air di kolam renang itu.


Namun entah mengapa tiba-tiba saja ia langsung teringat saat Close dengan teganya menyeretnya ke kolam renang lalu mendorongnya bahkan tega menahan kepalanya untuk memberikan efek jera.


Satu ingatan itu seketika tersambung dengan rentetan kekerasan fisik yang sering didapatkan setiap malam dari ex suaminya itu.


Rasa trauma yang masih belum sepenuhnya hilang, kembali membuat tubuhnya bergetar, keringat mulai bercucuran di wajahnya.


Azzura langsung memeluk kakinya dan meletakkan keningnya di atas lututnya lalu menangis. KDRT yang dilakukan Close padanya kembali memenuhi memory ingatannya dan membuatnya ketakutan.


Azzura terus memeluk kakinya membenamkan keningnya di lutut.


"Zu," panggil Genta, setelah mendapati sumber suara yang dicarinya ternyata berasal dari gadis itu. "Zu ..." panggil Genta lagi.


"Pergi ... menjauhlah dariku!" usirnya dengan suara bergetar.

__ADS_1


Genta kebingungan menatap Azzura yang terlihat kacau bahkan terkesan seperti orang depresi. Ia pun kembali memanggil gadis itu.


"Jangan mendekat, pergilah, jangan sakiti aku lagi," lirihnya sambil menangis sesenggukan dengan posisi yang sama.


"Zu!"


"Menjauhlah dariku!!!" pekik Zu sambil menangis dengan tubuh bergetar


"Zu! ini aku, Mas Genta!" tekannya lalu menggoncang pelan tubuh gadis itu.


"Mas Genta?!" lirihnya lalu perlahan mendongak.


Sedangkan Genta merasa khawatir menatapnya. Bahkan tubuh gadis itu masih bergetar, wajahnya pucat dan keringat masih tampak bercucuran di wajahnya. Ingin rasanya ia merengkuh tubuh gadis itu, namun tak berani ia lakukan karena Azzura selalu menjaga jarak.


"Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?" cecar Genta dengan perasaan iba, khawatir sekaligus penasaran.


Tak langsung menjawab melainkan ia menatap Genta yang kini sedang berjongkok di depannya.


"Mas, bisa tolong ambilkan aku segelas air?" pintanya dengan suara bergetar lalu menyeka air matanya.


Genta mengangguk lalu berdiri dan langsung menuju dapur. Sepeninggal Genta, Azzura tampak melamun dengan pandangan mata yang kosong.


Tak lama berselang, Genta menghampirinya dengan membawa segelas air. Melihat Azzura yang tampak melamun, ia pun menegurnya.


"Zu ... ini airnya. Minumlah setelah itu kita bisa lanjut mengobrol," tawar Genta.


Azzura perlahan menoleh lalu meraih gelas itu dengan tangan bergetar kemudian meneguk airnya hingga tandas.


"Terima kasih, Mas," ucapnya lalu meletakkan gelas itu di atas meja.


Hening sejenak ....


"Mas ... maaf jika aku terlihat seperti orang yang nggak waras," lirihnya disertai buliran bening yang ikut lolos dari bola mata indahnya. "Jika Mas tahu yang sebenarnya tentang diriku, Mas pasti shock," sambung Zu.


"Ceritakan lah semuanya padaku," pinta Genta.


"Aku mengalami gangguan psikis sekaligus sedikit gangguan kejiwaan, Mas," aku Zu dan kembali menyala air matanya yang seolah enggan berhenti mengalir. "Aku memang terlihat baik-baik saja di luar, tapi jiwa dan psikisku nggak Mas. Semuanya karena trauma akibat KDRT," jelas Zu.


Azzura kembali menceritakan semuanya kejadian tiga tahun yang lalu itu pada Genta tanpa ada yang ia sembunyikan.


Shock ...


Marah ...


Sedih ...


Semuanya bercampur menjadi satu. Ia tak menyangka jika gadis selembut dan penyayang seperti Azzura mendapat perlakuan keji dari ex suaminya.


Tanpa terasa air mata Genta menetes mendengar semua ungkapan luka hati gadis itu. Lagi-lagi ia ingin mendekap erat tubuhnya namun ia tetap tak berani melakukannya.


Tiga puluh menit berlalu ...


"Zu, ini sudah larut. Sebaiknya kamu tidur soalnya besok kamu akan mengajar. Please ... lupakan semua memory buruk itu," pesan Genta.


Azzura hanya mengangguk. Setelah merasa jauh lebih baik, ia pun beranjak dari tempat duduknya. Ia pun meninggalkan Genta yang masih betah berada di tempat duduknya.


Genta tampak berpikir dan berencana akan membawa Azzura bertemu dengan Psikolog terbaik di kota M.


"Aku akan mengganti semua rasa sakitmu dengan sebuah kebahagian."


Seperti itulah sebuah janji dari Genta untuk Azzura.

__ADS_1


__ADS_2