Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 16 : Gadis bermata indah ...


__ADS_3

"Eeugh ..." Azzura melenguh lalu mengusap kedua matanya.


"Sudah bangun?" tanya ibu.


Azzura hanya tersenyum dan kembali memeluk ibunya sejenak lalu kembali melepas dekapannya. Ia pun terlihat akan turun dari bed pasien ibunya.


"Bu, apa ada yang datang menjenguk ibu tadi?" tanya Azzura sambil menatap parcel buah.


"Iya, suamimu Nak," jawab ibu.


Azzura tampak menautkan alisnya lalu melipat bibirnya menahan tawa.


"Yoga? Yang ibu tahu saat ini dialah suamiku. Biarin saja, lagian Close nggak bakal peduli. Jangankan ibu, aku saja dia perlakukan seenaknya. Aku hanya takut jika dia tahu lalu menghentikan pengobatan ibu. Jangan sampai."


Azzura menatap ibunya sekilas lalu tersenyum tipis.


"Maafkan aku, Bu. Aku mau jujur jika Yoga bukan suamiku tapi kami sudah terlanjur berbohong. Apalagi ibu tahunya Yogalah suamiku. Hehehe."


Azzura hanya bisa berkata dalam batinnya sambil terkekeh merasa lucu.


"Lalu ke mana dia, Bu? Apa sudah pulang?" tanya Zu.


"Dia ke rooftop, Nak," jawab ibu.


"Ya sudah aku temui dia dulu. Oh ya, Bu. Aku sudah membawa makanan untuk ibu dan suster Tiara. Nanti jika suster Tiara kemari, Ibu dan suster makan duluan saja ya," pesan Zu.


Bu Isma hanya mengangguk lalu tersenyum. Setelah itu, Azzura meninggalkan kamar rawat ibunya lalu melangkahkan kakinya ke arah rooftop.


Sesaat setelah berada di tempat itu, keningnya mengerut menatap dua punggung pria yang sedang asik mengobrol, bahkan terlihat sangat akrab karena saling melempar candaan.


Saking asiknya mengobrol dan bercanda, keduanya tidak menyadari kehadirannya. Sebelum akhirnya Azzura menyapa.


"Yoga ..."


Keduanya bergeming sejenak lalu berbalik menatapnya.


Lagi-lagi Azzura mengerutkan keningnya menatap kedua pria itu yang sedang menatapnya.


"Ah ... Zu, kamu sudah bangun?" tanya Yoga dengan seulas senyum. "Kemari lah, aku akan memperkenalkanmu dengan kakak ku," pintanya.


Azzura hanya menurut lalu mengulas senyum menatap keduanya.


"Zu, ini Kakak ku, Farhan. Lebih tepatnya dokter Farhan spesialis bedah di rumah sakit ini," jelas Yoga lalu menoleh ke arah sang kakak.


Farhan tersenyum ke arahnya lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat.


"Farhan," ucapnya.


"Azzura," balas Zu lalu menyambut tangan Farhan.


"Nama yang indah seindah sang pemilik nama," ucapnya pelan lalu melepas tautan tangannya. "Jadi ... gadis pelamun yang sering menabrakku ini, bernama Azzura ya," ucapnya lalu terkekeh.


Azzura mengatupkan bibirnya menahan tawa lalu mengangguk.


"Kalian sudah kenal?" cecar Yoga.


"Hmm ... tapi aku baru tahu namanya hari ini," aku Farhan.


Yoga terkekeh lalu meninju kecil lengan sang kakak.


"Yoga, terima kasih sudah menjenguk ibu dan membawa parcel buah untuknya," ucap Zu lalu menatap Farhan. "Maaf, apa pak dok ...." ucapannya terjeda.

__ADS_1


"Jangan panggil Pak Dokter, Farhan atau kakak saja," kata Farhan sekaligus memotong kalimat Azzura.


Azzura mengangguk. "Apa Kak Farhan yang menangani ibu saat operasi itu?" tanya Zu.


Farhan hanya mengangguk lalu mengulas senyum namun terlihat getir. Bukan tanpa alasan ia tahu benar separah apa kanker yang sudah menyebar di tubuh ibunya.


"Kak, apa kanker ibu sudah diangkat semua?" cecar Zu. "Apa ibu masih ada harapan untuk sembuh," cecar Azzura dengan raut wajah yang kini tampak sendu.


"Azzura ..." ucapan Farhan tertahan lalu melirik Yoga saat sang adik menahan pundaknya lalu memberinya kode.


Tahu maksud sang adik, Farhan terpaksa mengangguk namun merasa bersalah. "Yang perlu kita lakukan sekarang adalah, banyak berdoa untuk kesembuhan ibumu," pesan Farhan.


"Terima kasih, Kak Farhan, Yoga," ucap Zu lalu mengarahkan pandangannya ke depan bersisian di antara Yoga dan Farhan.


Hening sejenak dan mereka larut dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang ada di benak ketiga-nya, hanya mereka yang tahu.


Tak lama berselang, azan magrib terdengar dan menyapa gendang telinga mereka. Begitu azan magrib selesai berkumandang, Azzura mengulas senyum lalu berpamitan.


"Yoga, Kak Farhan, aku duluan ya," izin Zu.


Yoga dan Farhan hanya mengangguk. Setelah itu Azzura mempercepat langkahnya menuju kamar rawat ibunya. Sedangkan Farhan dan Yoga masih betah berada di tempat itu.


"Yoga."


"Hmm."


"Apa hubunganmu dengan gadis bermata indah itu?"


"Aku mengira hanya aku saja yang mengagumi mata indahnya, ternyata kakak juga." Yoga tersenyum dan tak langsung menjawab pertanyaan dari sang kakak bahkan terkesan menggantung.


"Kamu belum menjawabku," cecarnya lagi. "Kenapa sih, setiap kali aku bertanya, kamu pasti nggak langsung menjawab tapi selalu mengambang," kesal Farhan.


"Ck ... kamu ini," decak Farhan sambil menggelengkan kepalanya.


"Dia istrinya Pak Close Navarro Kheil, Kak," jelas Yoga.


"Maksudmu boss mu itu?"


"Hmm ... tapi entah mengapa aku merasa mereka menikah karena terpaksa," sambung Yoga.


Farhan melirik adiknya. "Ah ... sayang sekali," celetuk Farhan namun tak menjelaskan secara gamblang.


Yoga kembali terkekeh. "Jangan bilang, Kakak naksir padanya," goda Yoga.


Farhan hanya bergeming dan tersenyum tipis. "Yaaa ... begitulah ..." kata Farhan. "Sudahlah, ayo kita pulang," ajaknya.


"Hmm ... kita mampir dulu ke kamar rawat ibunya Azzura," cetus Yoga.


"Baiklah."


*******


Beberapa menit kemudian ...


Kini keduanya berada di kamar rawat bu Isma. kebetulan dokter Aida dan suster Tiara baru saja selesai memeriksa bu Isma. Sedangkan Azzura belum kembali dari mushalla.


"Kak Aida, suster Tiara," sapa Yoga.


"Aida, apa kamu yang menangani ibu ini?" tanya Farhan sambil berbisik.


"Iya. Tapi ngomong-ngomong kenapa kalian bisa ada di sini?" selidik Aida.

__ADS_1


"Yoga yang mengajakku, kebetulan Yoga bekerja di perusahaan suami Azzura," jelas Farhan seadanya.


"Oh." Aida hanya membulatkan mulutnya.


Ceklek ...


Pintu di buka dan tampak Azzura dari balik pintu.


"Zu, dari mana?" tanya Yoga.


"Aku dari mushalla," jawabnya lalu meletakkan paper bag mukenahnya.


Mereka tertegun sekaligus merasa minder.


"Ah ... istri idaman banget," gumam Farhan dalam hatinya. Ekor matanya terus mengikuti Azzura.


"Terima kasih, sudah mau menjenguk ibu."


Setelah itu, Azzura menjelaskan kepada ibunya jika Farhan dan Yoga adalah saudara sekaligus dokter yang membedah ibunya.


Farhan, Aida dan suster Tiara, cukup kaget saat bu Isma memuji sang adik sebagai suami yang baik dan bertanggung jawab pada Azzura.


Farhan hanya geleng-geleng kepala menatap Yoga dengan tatapan penuh selidik. Farhan terlihat menuntut jawaban pada adiknya itu.


Setelah berpamitan, Farhan mengajak Yoga dan Aida ke ruangannya.


Sesaat setelah berada di ruangan kerja Farhan ia langsung mengomeli Yoga.


"Yoga, apa-apaan sih kamu!" kesal Farhan menatap tajam sang adik.


"Coba jelaskan pada kami berdua, sebenarnya apa yang terjadi?!" Aida ikut mencecarnya.


"Kak, ini nggak seperti yang kalian pikirkan dan kalian bayangkan," kata Yoga. "Sebenarnya kemarin saat aku ke sini, aku nggak sengaja melihat Azzura menangis di taman."


"Lantas!!"


"Aku menghampirinya dan mengajaknya mengobrol. Setelah itu, aku sekalian ingin menjenguk ibunya. Ketika aku masuk ke kamar rawat itu, ibunya Azzura langsung mengira jika aku suaminya Azzura," jelas Yoga sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa kamu nggak menjelaskan jika ...."


"Aku nggak mungkin menjelaskan pada ibu, apalagi melihat kondisinya seperti itu. Sebenarnya Azzura ingin menjelaskan tapi aku yang melarang," aku-nya sambil cengengesan.


"Dasar!! Kamu ini benar-benar ya. Ini namanya menukar identitas," gerutu Farhan lalu menjitak kepala sang adik karena merasa kesal.


"Apa kamu kamu mau di cap pebinor?! omel Farhan sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa pak Close tahu?" tanya Aida.


"Sepertinya sejak mereka menikah, pak Close belum pernah bertemu dengan ibunya Azzura," jelas Yoga.


Aida tampak mangut-mangut dan membenarkan ucapan Yoga.


"Benar juga, selama menangani bu Isma, belum pernah sekalipun pak Close datang menjenguk. Pantasan saja saat kamu menjenguknya, bu Isma langsung menyangka jika kamu suaminya Azzura," celetuk Aida lalu memukul pelan lengan Yoga.


"Lalu ... bagaimana jika pak Close tahu?" tanya Farhan.


Yoga menaikkan bahunya dan tampak acuh. Ulahnya itu sontak saja semakin membuat Farhan geram.


...🌿................🌿...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™. Bantu like, vote dan komen, setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2