Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 70 : Apa itu sebuah janji ...?


__ADS_3

Tiga tahun kemudian ...


Tanpa terasa sudah tiga tahun Azzura menetap di kota M dan tetap menjalani aktifitasnya sebagai guru sekaligus berperan sebagai ibu dari putra Nina.


Setelah wanita cantik itu melahirkan dan harus menjalani cuci darah, takdir lagi-lagi berkata lain. Nina menghembuskan nafas terakhirnya dan menitipkan putra semata wayang itu kepada Azzura.


Lagi-lagi Azzura kembali harus merasakan kehilangan yang mendalam saat itu karena harus kehilangan Nina untuk selamanya.


Namun kehadiran bayi mungil yang di amanahkan padanya sudah cukup membuatnya merasa sangat bahagia. Bayi yang ia beri nama Devanka Mumtaz Darmawangsa membuat hidupnya semakin berwarna dan berarti.


Sedangkan Close, setelah menjalani perawatan di rumah sakit jiwa selama enam bulan lamanya, akhirnya dinyatakan sembuh.


Namun masalah baru kembali harus ia hadapi karena harus menjalani perawatan rutin setelah terinfeksi penyakit kelamin.


Butuh waktu yang lama ia menjalani perawatan dan harus rutin mengkonsumsi obat serta harus mengontrol kesehatannya.


Ancaman sang momy waktu itu benar-benar semakin membuatnya terpuruk. Namun karena ancaman itu pulalah Close termotivasi untuk segera sembuh.


Karena merasakan kekecewaan yang mendalam, momy Lio memutuskan pulang ke kampungnya di Australia dan enggan bertemu dengan putranya itu.


Apalagi sampai detik ini Close masih belum menemukan Azzura.


Beda nasib dengan Azzura, Laura malah dicampakkan oleh Close dan selingkuhannya yang tak lain adalah ayah dari bayi yang dikandungnya. Dengan kejinya ia memutuskan menggugurkan janin yang tak berdosa itu.


Namun setiap tindakan yang dilakukan, tidak peduli seberapa tidak signifikannya, pada akhirnya akan kembali kepada pelaku dengan dampak yang sama yaitu karma buruk.


Pasca abor*si, tiga bulan kemudian ia sering mengeluh sakit di **** ***** dan sering mengalami pendarahan. Setelah memeriksakan kesehatannya ia harus menerima kenyataan pahit jika ia mengidap kanker serviks.


Shock ....


Tentu saja ... namun itulah karma yang harus ia terima dari hasil perbuatannya sendiri.


Sedangkan Yoga, perlahan ia sudah mulai bisa melupakan Azzura setelah tak pernah mendapat kabar dari gadis itu. Apalagi ia juga tak pernah bisa menggapainya.


Radit dan Nanda malah memutuskan menikah setelah setahun menjalani hubungan serius, dan kini telah dikaruniai seorang anak perempuan.


*********


Nina Cookies ....

__ADS_1


Tampak toko kue itu riuh dengan suara anak-anak yang sedang bersholawat. Karena hari ini adalah hari ulang tahun ke tiga Devan sang putra semata wayang Azzura.


Walaupun tak terlahir dari rahimnya ia sangat menyayangi dan mencintainya batita itu setulus hatinya.


Seperti tahun sebelumnya, Azzura hanya mengundang anak-anak dari panti asuhan untuk merayakan ulang tahun putranya sekaligus berbagi sedikit rezeki untuk mereka.


Dari arah pintu toko tampak Genta dan Ayya juga kedua orang tuanya sedang menghampirinya dengan senyum bahagia.


"Zura."


"Bunda."


Sapa Genta, Ayya, bu Nadirah dan pak Dirga.


"Mas, Ayya, Ibu, Pak," sapanya balik lalu mengulas senyum.


Ia pun mengajak orang tua dari Genta itu duduk dan meminta salah satu karyawan toko untuk membawa makanan.


"Maaf ya, Bu, Pak, sudah menyita waktu kalian berdua," sesalnya.


"Nggak apa-apa, Nak. Kami malah senang hadir di sini untuk yang ke tiga kalinya," kata bu Nadirah.


Aku rasa Genta memang nggak salah memilih calon istri. Haah ... anak itu ... bahkan ini sudah tiga tahun tapi sampai sekarang dia masih saja belum bisa menaklukkan hati Azzura. Payah.


Gumam pak Dirga dalam hatinya sekaligus mengerutu kesal pada putra sulungnya itu.


Ia pun beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Genta yang sedang menggendong Devan.


"Genta," panggil pak Dirga.


"Ayah," sahutnya dan langsung memutar bola matanya dengan malas. Ia pasti sudah tahu jika sang ayah pasti ingin meledeknya lagi. Ia berdecak lalu berkata, "Jika ayah ingin meledekku mending ayah gabung saja sama mama."


Pak Dirga terkekeh lalu mengambil Devan dari dekapannya. Ia langsung mengecup batita tampan itu dengan sayang lalu mengelus kepalanya.


"Devanka Mumtaz Darmawangsa," sebut pak Dirga. "See ... bahkan nama yang Azzura berikan pada cucu ayah ini, tersirat arti yang sangat mendalam, penuh makna dan doa," kata pak Dirga.


"Devanka yang berarti saleh dan taat pada agama, Mumtaz berarti sempurna dan Darmawangsa yang berarti berbagi kebaikan. Masya Allah ... Genta ... Azzura ingin menjadikan cucu ayah ini menjadi anak yang saleh senang berbagi kebaikan dan istimewa," sambung pak Dirga dan kembali mengecup Devan serta mendoakannya.


Genta mengulas senyum mendengar kata pujian dari sang ayah. Sesekali ia melirik Azzura dan mamanya.

__ADS_1


"Bahkan kebaikan itu sering ia ajarkan pada Ayya dan turun pada Devan pula, Yah," kata Genta lalu mencubit pipi gembul Devan.


Genta dan pak Dirga kembali memperhatikan anak-anak yatim itu. Bahkan Ayya tampak tak segan berbaur dengan anak-anak kurang beruntung itu.


Beberapa jam berlalu setelah acara itu selesai, tak lupa Azzura dan Ayya berbagi rezeki dengan memberikan amplop dan hadiah untuk anak-anak panti itu.


Kini mereka tampak sedang duduk melantai, walaupun tampak lelah namun ada kebahagiaan tersendiri yang Azzura rasakan.


Ia menatap wajah tampan putranya itu yang tampak sedang tertidur pulas di pangkuannya. Matanya tiba-tiba saja berkaca-kaca.


"Sayang, sebentar sore kita ziarah makan bunda Nina ya," lirih Zu lalu mengecup lama kening putranya itu.


Sejak batita itu berusia enam bulan, Azzura sering memperlihatkan wajah Nina walau itu hanya sebuah foto. ia selalu mengatakan pada Devan jika yang ada di foto itu adalah bunda Devan juga.


"Zu," tegur Genta karena melihat wajah Azzura terlihat sedih.


"Bunda, jangan sedih. Ada Ayah dan Ayya yang selalu menyayangi Bunda dan dedek Devan," kata Ayya lalu memeluknya.


"Terima kasih, Sayang," ucapnya dengan suara tercekat pada gadis cilik itu yang kini sudah berusia sembilan tahun.


Ia mendongak lalu menatap Genta dengan lekat. Pria yang sudah tiga tahun terakhir selalu bersamanya.


Memperlakukan dirinya dengan lembut bahkan terkesan sangat melindungi dirinya dan selalu membuatnya nyaman ketika berada di dekatnya.


"Mas ... terima kasih untuk segalanya. Entah dengan cara apa aku akan membalas semua kebaikan Mas padaku," ucap Zu. "Insya Allah ... jika suatu saat ada yang Mas inginkan maka aku akan berusaha mengabulkan," ucap Zu lagi dengan sungguh-sungguh.


"Apa itu sebuah janji?" tanya Genta dengan seulas senyum.


"Insya Allah ... iya Mas," jawab Zu.


"Bagaimana jika aku menginginkan kamu menjadi kekasih halalku, sekaligus ibu bagi Ayya dan Devan," balas Genta to the poin.


Ucapan Genta seketika membuat Azzura melirik Ayya lalu kembali menatapnya. Alih-alih menganggap serius ucapan Genta, Azzura langsung tertawa lalu mencubit perut liat pria itu dengan gemas.


"Permintaan macam apa itu, Mas," kata Azzura masih sambil tertawa.


"Haah ... gadis ini ... dikiranya aku bercanda apa? Sebaiknya aku memikirkan cara untuk melamarnya saja. Aku rasa ayah bisa di andalkan," gumamnya dalam hati dan kembali melirik Azzura dan Ayya lalu mengelus kepala Devan.


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜


__ADS_2