
Setelah menghabiskan waktu selama beberapa jam lamanya di apartemen Yoga, Azzura dan Genta kembali berpamitan.
"Yoga, kami pamit ya," kata Zu dengan seulas senyum.
"Baiklah ... tapi biar aku yang mengantar kalian hingga sampai ke hotel," tawar Yoga. "Aku ganti pakaian dulu.
"Boleh deh, mumpung gratis," timpal Genta lalu terkekeh.
Setelah menunggu selama beberapa menit, mereka pun meninggalkan unit apartemen Yoga.
.
.
.
Setibanya di hotel, Azzura dan Genta pun berterima kasih pada Yoga.
"Yoga, jika ada waktu main-mainlah ke kota M. Yang sangat kami harapkan adalah, ketika kamu ke kota M, kamu sekalian mengantarkan undangan," kata Genta.
"Insyaallah, Bang, doain saja ya," bisik yoga dengan seulas senyum. Ia lalu berjongkok kemudian mengelus kepala Fattah Faatih bergantian lalu memeluk kedua bocah itu sekaligus. "Paman pamit ya."
"Iya, Paman," jawab keduanya dengan gaya bicara khas anak seusia mereka.
Terasa berat ingin meninggalkan mereka. Yoga kembali berdiri lalu memeluk Genta sekaligus meminta izinnya untuk memeluk Azzura.
"Bang, bolehkah aku memeluk Azzura sebentar saja?" bisiknya.
"Baiklah ..." balas Genta menyetujui.
Tanpa pikir panjang, Yoga perlahan mendekap tubuh Azzura seraya berbisik, "Zu ... doain aku supaya hatiku menetap pada satu wanita. Aku nggak ingin salah pilih."
Azzura mengulas senyum sembari mengelus punggung tegapnya.
"Yoga, siapa pun gadis pilihanmu jika kamu nggak ingin salah pilih maka shalat istikharah lah. Kamu akan mendapat petunjuk lewat shalat itu. Aku selalu mendoakanmu dan mendukungmu," bisik Zu lalu melepas dekapan Yoga.
"Terima kasih, Zu, Bang," ucap Yoga. "Aku pamit ya."
Genta dan Azzura hanya mengangguk lalu tersenyum. Setelah memastikan Yoga meninggalkan mereka, Azzura dan Genta lanjut masuk ke dalam hotel.
Sesaat setelah berada di dalam kamarnya, Azzura langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Bundaaaa ... napa?" tanya Faatih.
__ADS_1
"Kepala bunda pusing, sayang," jawab Zu dengan seulas senyum seraya mengelus pipinya.
Genta menghampirinya lalu duduk di sisi ranjang.
"Sayang, sudah seminggu ini kamu sering mengeluh kepalamu sakit. Mas perhatikan wajahmu juga pucat. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Genta sekaligus mencemaskan istrinya sambil menggenggam jemarinya.
"Aku baik-baik saja, Mas," ucapnya lirih.
"Ya sudah, istirahatlah. Fattah Faatih biar Mas yang urus," kata Genta lalu mengajak kedua putranya itu mengikutinya ke kamar mandi.
Beberapa jam berlalu menjelang magrib, Azzura masih tertidur. Merasa istrinya itu tak baik-baik saja, Genta kembali menghampirinya lalu duduk di sisinya.
"Sayang, ayo bangun, ini sudah masuk waktu magrib. Sebaiknya kamu mandi dulu," bisik Genta seraya mengelus wajah sang istri.
"Iya, Mas," sahut Zu sesaat setelah membuka matanya. "Fattah Faatih mana Mas?"
Genta mengarahkan telunjuknya ke arah sofa. Kedua putranya itu sedang berbaring di sofa sambil mengedot.
"Maaf, sudah merepotkan Mas," sesal Zu.
"Nggak apa-apa, Sayang," bisik Genta.
.
.
.
.
"Ucapan bernada lembut saat ia mendekap Azzura kembali terngiang-ngiang di telinganya.
"Zu, apakah kamu menerima bang Genta, setelah kamu melaksanakan shalat istikharah? Sepertinya ucapanmu ada benarnya. Sekarang kalian benar-benar terlihat sangat bahagia."
"Insyaallah ....aku akan mencobanya," gumamnya.
Di tempat yang berbeda tepatnya di kediaman Clarissa, gadis itu tampak masih disibukkan dengan pekerjaannya.
Selang beberapa menit kemudian, akhirnya ia kembali menutup laptopnya lalu merebahkan tubuhnya.
Benaknya kembali terbayang akan sosok Yoga. Pria yang dianggapnya seperti malaikat tak bersayap.
"Dia pria yang baik. Sikapnya dan tutur katanya selalu membuatku mengagumi akan sosoknya. Apa lagi dia sepertinya pria humoris. Aku merasa saat bersamanya hari-hari ku terasa semakin hidup," gumam Rissa dengan senyum tipis.
__ADS_1
Setelah puas memikirkan Yoga, akhirnya ia segera beranjak dari tempat tidurnya lalu ke kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan dirinya lalu mengenakan pakaian, ia langsung turun ke lantai satu.
"Mom, Dad," tegur Rissa lalu ikut bergabung di ruang tamu.
"Sayang, bagaimana harimu di kampus tadi siang?" tanya daddy.
"Semuanya berjalan lancar, Dad. Hanya saja aku sedikit kesal," jawab Rissa sambil memijat keningnya.
"Kenapa?" kini giliran sang momy yang bertanya.
"Tugas yang ku berikan masih banyak kesalahan. Entahlah anak-anak itu. Kek nggak niat kuliah aja. Aku akan meminta mereka revisi ulang," gerutu Rissa.
.
.
.
Ba'da isya ...
Setelah makan malam, Azzura mengajak kedua putranya naik ke atas ranjang.
"Sayang, kalian bobok ya. Soalnya besok pagi kita akan menemani ayah berkunjung ke salah satu daerah di sini," kata Zu.
Dengan patuh, Fattah Faatih hanya menurut lalu berbaring di samping sang bunda. Sama seperti Devan saat masih seumuran dengan sang adik, Azzura menyanyikan lagu sholawat untuk menidurkan keduanya.
Tak butuh waktu yang lama, kedua putranya itu akhirnya terlelap. Setelah itu, Azzura memilih ke balkon kamar hotel di mana suaminya itu sedang berdiri di sana.
"Mas," bisiknya seraya melingkarkan kedua tangannya ke perut liat suaminya lalu mengecup punggung telanjang sang suami.
Genta tersenyum lalu memegang kedua tangan istrinya. "Apa Fattah Faatih sudah tidur?"
"Hmm ..."
"Ada apa?" tanya Genta lagi lalu memutar tubuhnya berhadapan dengan Azzura.
"Kepalaku masih pusing, Mas," aku Zu.
Sejenak Genta bergeming menatapnya lekat lalu membenamkan kepala sang istri di dadanya. Genta kembali merasa curiga jika istrinya itu mungkin saja sedang berbadan dua.
Memikirkannya saja hati seorang Genta begitu girang. Ia kembali membayangkan jika ia akan memiliki momongan lagi.
__ADS_1
"Mudah-mudahan saja tebakanku ini benar. Jika harapan ku sesuai ekspektasi ... MasyaAllah ... Alhamdulillah ... setelah dua tahun menunggu istriku hamil lagi," batin Genta dengan senyum tipis merasa bahagia.
...----------------...