
Setibanya Azzura di mansion sang mertua, ia mengucapkan salam lalu masuk ke dalam dan langsung di sambut oleh bibi.
Ia pun langsung menapaki anak tangga hingga tiba di depan pintu kamar momy Lio. Dengan perasaan khawatir ia perlahan memutar handle pintu.
Sadar jika seseorang sedang membuka pintu, momy Lio langsung menoleh dan langsung tersenyum menatap Azzura.
"Sayang ..." lirih momy memanggilnya seraya menepuk kasur di sampingnya. Dengan patuh Azzura menurut lalu mendudukkan dirinya di samping mertuanya.
"Momy, bagaimana dengan kondisi Momy? Apa sudah merasa lebih baik?" tanya Azzura seraya menggenggam jemari momy Lio.
"Momy masih merasa sedikit lemas, Nak," aku momy. Azzura hanya mengangguk lalu mengulas senyum. Setelah itu, ia kembali berpamitan karena ingin ke dapur.
Sesaat setelah berada di dapur, ia menyapa bibi dan berinisiatif membantu dan ingin membuatkan sesuatu untuk mertuanya.
Walaupun bibi sudah melarang namun Azzura tetap membantu. Sambil memasak tak jarang ia mengajak bibi mengobrol dan bercanda. Semua ia lakukan semata-mata untuk melupakan kesedihannya sejenak.
*
*
*
Siang harinya di kantor Close ...
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu seketika membuyarkan lamunan Close. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.
"Indra," desisnya.
Close langsung mempersilahkan pria itu duduk di sofa ruangannya. Setelah itu ia juga ikut duduk di single sofa.
"Pak, ini data dan informasi yang Anda minta. Semuanya complit tanpa ada yang saya lewatkan," kata Indra membuka suara lalu meletakkan amplop besar itu di atas meja.
"Thanks ya," ucap Close dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Indra. "Oh ya, Ndra ... mulai besok kamu akan menjadi asistenku," tegas Close.
Indra menautkan alisnya merasa bingung. "Tapi Pak, bukankah Yoga itu asisten Anda?" tanya Indra.
"Yoga sudah resign," jawab Close. "Ya sudah kembalilah, jangan lupa besok kamu sudah harus bekerja di kantor ini," pesan Close.
Lagi-lagi Indra hanya mengangguk. Setelah itu ia pun meninggalkan ruangan itu. Sepeninggal Indra, Close meraih amplop yang masih berada di atas meja lalu menuju kursi kebesarannya.
Setelah mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya, ia pun membuka amplop itu lalu membaca semua data dan informasi tentang pak Prasetya.
__ADS_1
Alangkah terkejutnya ia saat mengetahui siapa sebenarnya pria tampan paruh baya itu.
Seorang Perwira Angkatan Laut berpangkat Laksdya sekaligus berprofesi sebagai dokter. Yang membuatnya lebih terkejut adalah, ia juga merupakan ayah dari Farhan dan Yoga serta bersahabat baik dengan almarhum kedua mertuanya.
Close langsung memijat keningnya. Ia juga tak menyangka jika pria itu adalah pemilik rumah sakit tempat almarhum mertuanya dirawat.
Yang lebih membuatnya terperangah adalah pak Prasetya sudah berusia 52 tahun dan sebentar lagi akan pensiun. Namun tetap saja ia masih tampak tampan, bugar dan awet muda.
"Damn!!!" umpat Close lalu meraih rokoknya yang ada di atas meja lalu membakarnya. Setelah itu ia menghampiri kaca besar ruangannya sembari menyesap rokoknya dalam-dalam.
Ia kembali teringat pertemuan Azzura dan pak Prasetya di taman kota dekat cafe sang momy. Benaknya masih bertanya-tanya kenapa Azzura tidak membalas pesannya waktu itu
"Berarti ayahnya Azzura seumuran dengan pria itu. Itu artinya ... Azzura menganggapnya sebagai paman," desis Close. "Tapi entah mengapa, aku merasa jika pria itu menyukai Azzura," desisnya lagi.
Tak ingin larut dengan pikirannya yang mulai kacau, ia kembali menyesap rokoknya lalu mematikan sisanya. Setelah itu ia merogoh kantong celananya lalu menghubungi istrinya.
Close mengerutkan keningnya karena ponsel Azzura tak di jawab. Tak patah arang, ia kembali mencoba menghubungi nomor istrinya hingga beberapa kali namun tetap sama, benda pipih itu tetap tak di jawab.
Bagaimana tidak, ponsel Azzura tetap berada di tempat, yaitu di kamar sang ibu.
"Ck ... apa dia belum pulang?" desis Close. "Jika dia belum pulang, lalu ke mana dia? Apa pulang ke rumah?" Close hanya bisa menebak.
Tak lama berselang pintu ruangannya kembali dibuka. Tampak Laura sedang membawa paper bag makanan dan sedang menghampirinya.
Close langsung mengarahkan pandangannya ke depan. "Laura," lirihnya lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Kamu ke mana saja semalam? Aku menunggumu tapi kamu nggak pulang-pulang," tajuknya lalu memeluk Close.
"Aku di rumah istriku," tekannya dan merasa risih karena pelukan sang kekasih. Entah mengapa ia mulai merasa ilfil dengan Laura.
Raut wajah Laura seketika berubah dan tampak kesal. "Istri?! Sejak kapan kamu menganggapnya istri?!" protes Laura lalu melepas pelukannya.
"Come on, Laura. Aku nggak mau membahasnya soalnya kami lagi berduka, mertuaku baru saja meninggal kemarin," jelas Close. "Oh ya, sebaiknya kamu kembali ke butik saja, soalnya aku mau pulang ke mansion. Momyku juga sedang dalam kondisi nggak sehat," jelas Close lagi lalu berlalu meninggalkannya.
Mendengar ucapan Close, lagi-lagi Laura semakin bertambah kesal. Mau tak mau ia terpaksa ikut meninggalkan ruangan itu demi mengejar Close.
Namun saat berada di luar ruangan, sosok yang di carinya sudah tidak kelihatan.
*
*
*
__ADS_1
Mansion Keluarga Kheil ...
Momy Lio baru saja selesai menyantap makan siang. Layaknya memberi perhatian pada ibunya sendiri, Azzura memberikan obat momy Lio yang sudah ia siapkan.
Setelah memastikan momy Lio meminum obatnya, ia pun duduk di sisi ranjang sambil mengelus jemari mertuanya seraya menatap lekat wanita blasteran itu.
"Momy maafkan aku ... sebelum benar-benar berpisah dengan Close, izinkan aku merawat momy hingga sembuh. Aku sudah memutuskan akan berpisah dengan Close jika kesehatan momy sudah pulih sepenuhnya."
Azzura membatin dengan mata berkaca-kaca. Selama ini mertuanya itu sudah banyak membantunya dari segi keuangan membiayai semua keperluan ibunya selama dirawat di rumah sakit.
"Mom ... istirahatlah," pinta Zu lalu meminta momy Lio kembali berbaring. Momy Lio hanya menurut lalu mengulas senyum.
Setelah memastikan Lio berbaring, Azzura terus mengelus lengan sang mertua dan sesekali tersenyum tipis menatapnya.
"Zu," panggil momy.
"Iya, Momy," jawabnya.
"Jika kamu nggak keberatan, momy ingin kamu yang mengurus dan mengelola cafe kita, Nak," pinta momy dengan suara lirih.
Azzura hanya mengangguk pelan menyetujui permintaan momy Lio. Pikirnya sekaligus membalas semua kebaikan mertuanya hingga waktu yang ia tunggu tiba.
Selama kurang lebih tiga puluh menit berada di kamar momy Lio, akhirnya ia pun beranjak meninggalkan ruangan itu sambil membawa wadah bekas makanan setelah momy Lio tertidur.
Sesaat setelah berada di luar kamar, Azzura kembali menuruni anak tangga hingga langkahnya membawanya ke arah dapur.
"Neng, kenapa nggak panggil bibi saja," tegur bibi.
"Nggak apa-apa, Bi. Lagian ini nggak berat," balas Zu sembari meletakkan wadah bekas makanan itu di wastafel. "Bi, aku sekalian pamit. Jika momy mencariku bilang saja aku sudah pulang. Besok aku akan ke sini lagi," pesan Zu dengan seulas senyum.
"Baik, Neng. Mari bibi antar sampai di depan pintu," tawar bibi.
Azzura hanya mengangguk pelan lalu melangkah pelan bersama bibi hingga sampai di depan pintu lalu menghampiri motornya kemudian mengenakan helmnya.
"Hati-hati ya, Neng," pesan bibi dan dijawab dengan anggukan kepalanya.
Setelah itu Azzura mulai meninggalkan halaman parkir. Baru saja ia keluar dari pagar rumah, mobil Close baru saja akan masuk.
"Azzura," lirih Close menatap nanar istrinya yang sudah menjauh. "Kira-kira mau ke mana dia?" gumam Close.
...****************...
Jangan lupa vote ya readers ... mumpung hari Senin. Maaf ngarep banget. Jangan lupa tinggalkan jejak βΊοΈπππ
__ADS_1