
Dua bulan berlalu ...
Setelah selesai mengajar di kampus, Rissa memilih langsung ke rumah sakit tempat sang suami bekerja.
Sesaat setelah tiba di tempat itu, ia langsung menuju ke ruangan praktek bunda Fahira. Ia pun mengetuk pintu lalu membukanya.
"Bun," sapanya dengan suara lirih. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Sontak saja sikap tak biasa menantunya itu membuat bunda mengerutkan alis. Ia lalu menghampirinya lalu duduk di bawah kakinya.
"Sayang ... sepertinya kamu kurang enak badan ya? Wajahmu juga pucat."
Bunda Fahira menatap lekat menantunya itu lalu tersenyum tipis mengartikan sesuatu. Sebagai seorang dokter kandungan ia bisa menebak, mungkin saja menantunya itu sedang berbadan dua.
"Kepalaku pusing, Bun. Sudah sebulan terakhir seperti itu. Kadang mual saat mencium bau goreng-gorengan," aku Rissa sembari memijat pelan keningnya.
Tanpa banyak kata, bunda Fahira beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil tespek di laci meja kerja.
"Sayang ... kemarilah, Nak," pinta bunda dengan seulas senyum.
Rissa perlahan merubah posisinya lalu berdiri kemudian menghampiri mertuanya. "Ada apa, Bun?"
"Nih, coba tes dulu. Ini hanya perkiraan bunda saja. Sepertinya kamu sedang hamil. Tapi untuk membuktikan hasilnya, coba tes dulu," saran bunda lalu memberikannya alat tespek itu.
Mendengar kata hamil, Rissa tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Ia pun meraih alat tespek itu dari mertuanya lalu masuk ke kamar mandi.
.
.
.
.
Sementara di bandara kota J, sejak tadi Close tampak sedang menunggu seseorang. Senyumnya pun seakan tak akan sirna. Merasakan kebahagiaan luar biasa.
Sepulang umroh, ia memilih menjalin hubungan serius dengan Syakila. Ia tak langsung menyatakan perasaannya pada gadis itu, melainkan ia mengatakan langsung kepada kedua orang tua Syakila.
Setelah menyatakan keseriusannya pada kedua orang tua Syakila, barulah Close menyatakan perasaannya yang sejujurnya pada gadis itu.
Close juga memilih menjalin kerjasama dengan perusahaan pak Airlangga karena keduanya sama-sama berbisnis di bidang yang sama.
Hubungan keduanya pun terbilang semakin dekat. Bahkan Close tak malu menceritakan masa lalunya pada orang tua dari Clarissa.
Meski ada sedikit keraguan dari pak Airlangga untuk menerima Close sebagai calon suami Syakila, namun Close tetap berusaha menyakinkan jika dia sudah berubah.
Terhitung sejak pulang dari tanah suci Mekkah, sudah sebulan lebih Close dan Syakila menjalin hubungan secara LDR (long distance relationship).
Karena Syakila bekerja di rumah sakit kota A sedangkan Close adalah CEO di K.L Group di Kota J.
Dari kejauhan tampak Syakila melambaikan tangannya ke arah Close sambil mendorong kopernya.
Close hanya mengulas senyum seraya membalas lambaian tangannya pada kekasihnya itu.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu," kata Sya sesaat setelah ia berada di dekat Close.
"Nggak apa-apa, demi kamu aku rela menunggu," balas Close sambil tersenyum. Ia pun mengajak Syakila menuju ke arah mobilnya di parkir.
Sesaat setelah keduanya duduk di dalam mobil, Close meliriknya sekilas sambil tersenyum.
"Ada apa sih? Kok senyum-senyum?" tanya Sya sambil memasang seat belt-nya.
Close hanya menggelengkan kepalanya lalu menyalakan mesin mobilnya kemudian mulai meninggalkan halaman parkir bandara.
"Sya ..."
"Hmm ..." Sya meliriknya dengan alis bertaut.
"Bisa nggak ... nanti setelah kita menikah kamu kerja di kota ini saja," kata Close to the poin.
Bukannya menjawab Syakila langsung tergelak mendengar ucapan Close. "Yang benar saja. Sejak kapan kamu melamarku?"
"Nanti juga kamu bakal tahu. Aku serius, Sya. Aku nggak mau menunda-nunda lagi. Aku ingin membawa hubungan kita menuju jenjang yang lebih serius. Aku ingin menikahi mu," tutur Close sungguh sungguh.
"Close, jika bersangkutan dengan masalah itu, aku serahkan semuanya pada papa dan mama. Jika mereka setuju aku akan menerima," balas Sya.
Close menghela nafas lalu meliriknya sekilas. Sadar jika masa lalunya sangat kejam pada Azzura, ia mulai pesimis.
Setelah itu sudah tak ada lagi pembicaraan diantara keduanya. Close kembali fokus melajukan kendaraannya menuju kediaman pak Airlangga.
.
.
.
.
__ADS_1
Kembali ke bunda Fahira dan Rissa.
"Bun ..." Rissa menghampiri bunda Fahira dengan perasaan terharu lalu memeluknya dengan erat. "Aku positif, Bun. Dua garis merah."
"Alhamdulillah, Nak," ucap bunda Fahira lalu mengelus punggungnya. "Selamat ya, Nak. Itu artinya cucu bunda dan ayah akan bertambah."
Setelah itu, bunda Fahira mengajaknya duduk saling berhadapan di depan meja kerjanya.
"Sayang, kapan terakhir kamu kedatangan tamu bulananmu?" tanya bunda.
"Seingatku sebulan yang lalu, Bun. Biasanya telat tiga hari. Tapi bulan ini aku sudah telat seminggu," jelas Rissa.
Bunda Fahira hanya mengangguk pelan lalu tersenyum menatapnya. Ia pun menanyakan apa saja keluhan dari menantunya itu.
Setelah itu, ia pun meresepkan beberapa vitamin dan susu hamil untuknya. Setelah kurang lebih tiga puluh menit berada di ruangan praktek sang mertua, Rissa akhirnya berpamitan karena akan ke ruang kerja suaminya.
Baru saja Rissa keluar dari ruangan praktek mertuanya, seseorang menegurnya lalu dengan cepat menghampirinya.
"Honey ...?!"
"Sayang ..." sambil menoleh lalu tersenyum pada Yoga. "Aku baru saja akan ke ruang kerjamu. Ada yang ingin aku sampaikan."
Kening yoga langsung mengerut tipis seraya merangkul pinggang ramping istrinya. Keduanya sama-sama melangkah kecil menuju ruang kerjanya.
"Sayang, aku punya kabar bahagia untukmu," bisik Rissa sesaat setelah keduanya berada di dalam ruang kerja ia itu.
"Apa ...?"
Rissa mengeluarkan tespek dari dalam tasnya lalu memberikan pada Yoga.
"Tespek ...?!" kata Yoga dengan kerutan tipis di kening. Ia pun memperhatikan dengan seksama alat itu. Sedetik kemudian ia kembali menatap lekat wajah istrinya. "Kamu hamil? Beneran, Honey?"
Rissa hanya mengangguk pelan lalu memeluknya sekaligus merasa terharu.
"Alhamdulillah ..." ucap Yoga kemudian mendaratkan kecupan di kening sang istri. "Daddy dan momy pasti senang mendengar kabar ini."
.
.
.
.
Setibanya di kediaman pak Airlangga, alis Syakila langsung berkerut tipis sekaligus merasa bengong menatap mobil yang sedang terparkir di halaman rumah.
Bukannya menjawab, Close menghela nafas sembari menaikkan kedua alisnya dengan senyum tipis.
"Nanti juga kamu bakal tahu," ucapnya dengan ambigu sekaligus membuat Syakila semakin penasaran.
"Assalamu'alaikum ..." ucap keduanya sesaat setelah berada di ambang pintu utama.
"Waa'laikumsalam ..." jawab mereka yang ada di dalam rumah.
Jika Syakila kaget dengan kehadiran orang tua Close, sebaliknya dengan Close. Ia cukup terkejut dengan keberadaan sang asisten yaitu Indra.
"Ngapain Indra di sini? Bukannya tadi dia aku tugaskan untuk menghandle urusan kantor?" batin Close dengan tatapan penuh menyelidik.
Sedangkan Indra hanya terlihat santai mendapatkan tatapan penuh selidik dari boss-nya itu.
"Kila, Close ... kalian sudah datang, Nak? Ayo kemarilah," pinta bu Suhada.
Keduanya hanya menurut. Close langsung duduk di samping momy dan daddy-nya. Sedangkan Syakila duduk bersama papa, mama dan kakaknya.
Hening sejenak ...
"Maaf ... sebenarnya ini ada apa ya?" tanya Sya sekaligus memecah keheningan yang tercipta.
Close hanya menundukkan pandangan wajahnya, menatap lantai ubin dengan perasaan cemas. Takut jika lamarannya di tolak oleh pak Airlangga dan bu Suhada.
Tahu jika putranya itu sedang gelisah, daddy Kheil merangkul bahunya seolah menguatkan putranya.
Satu jam sebelumnya momy Lio dan daddy Kheil kembali menjelaskan masa lalu Close. Keduanya meyakinkan jika Close memang benar-benar sudah berubah. Bahkan hubungannya dengan ex istrinya masih terjalin baik.
Keduanya juga langsung menghubungi Azzura untuk berbicara pada pak Airlangga dan bu Suhada. Setelah berbicara dengan Azzura, pak Airlangga dan bu Suhada pun bisa mengerti.
"Nak Syakila, tujuan kami datang kemari karena kami ingin melamarnya untuk putra kami Close," jelas daddy Kheil. "Semoga niat baik putra kami bisa disambut baik oleh Nak Syakila."
Syakila tak langsung menjawab melainkan menoleh ke arah papa, mama dan kakaknya.
"Om, Tante, jika bersangkutan dengan masalah itu, aku pasrahkan pada mama, papa dan kakak. Aku nggak mau salah pilih lagi. Soalnya aku juga pernah gagal karena menerima pria pilihanku sendiri, meski saat itu mama papa dan kakak menentangku," kata Sya.
"What?! Jadi Indra ... kakaknya Syakila? Pantasan saja hari itu dia menolak menjadi asistenku. Astaga Close ... kamu dalam masalah besar sekarang," batin Close sekaligus terkejut jika Indra adalah kakak Syakila.
Tahu jika putri bungsunya seolah memasrahkan semua keputusan padanya, pak Airlangga dan bu Suhada mengulas senyum.
"Pak, Bu, sebagai orang tua, kami menerima itikad baik kalian untuk melamar putri kami. Semua keputusan ada di tangan Syakila," kata pak Airlangga.
__ADS_1
"Kila, bagaimana, Nak? Apa kamu akan menerima lamaran dari Close?" tanya Bu Suhada.
Syakila hanya mengangguk pelan dengan lalu melirik kakaknya kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke arah calon suami dan calon mertuanya.
"Alhamdulillah ..." ucap momy, daddy dan Close.
Acara lamaran yang terbilang mendadak itu berlanjut hingga selesai. Tak ada kata yang bisa terucap dari Close melainkan merasakan bahagia sekaligus bersyukur.
Setelah menentukan hari dan tanggal pernikahan yang akan digelar tiga minggu lagi, Close dan kedua orang tuanya akhirnya berpamitan.
"Pak!" panggil Indra lalu menyusul calon iparnya itu.
"Jangan panggil pak lagi, panggil Close saja," bisik Close lalu merangkulnya. "Kenapa kamu nggak bilang jika Syakila itu adik kamu. Ternyata diam-diam kamu penerus di Airlangga Grup. Kamu ini."
"Bagaimana aku ingin bilang, aku saja barusan tahu dari papa jika ada yang akan melamar adikku. Setelah tahu orang tuamu yang datang aku kaget juga," jelas Indra. "Jadi gimana ini? Boleh kan jadi Mak comblangku untuk Gisel."
"Ck.ck.ck ... usaha sendiri dong," tolak Close lalu terkekeh. Setelah itu ia melepas rangkulannya lalu menatap Syakila yang sedang mengantar momy daddy-nya. "Aku samperin Sya dulu."
Close menghampiri Syakila lalu tersenyum. "Sya, aku pamit ya. Oh ya, jangan lupa hubungi aku jika kamu akan kembali ke Kota A beberapa hari lagi."
"Insyaallah, dua hari lagi. Aku ingin minta dimutasi ke kota J saja. Jadi setelah kita menikah, aku bisa langsung kerja di salah satu rumah sakit di kota ini," jelas Sya.
.
.
.
.
Jodoh itu bukan hanya karena cinta, lebih dari itu, kita akan menghabiskan sisa waktu bersamanya. Maka bersabar adalah kuncinya. Percayalah, Allah SWT tidak pernah kecewakan hamba-Nya. (by Ayum Daigo)
Ya .. Jodoh dapat menjadi penyemangat dan inspirasi dalam menanti pasangan hidup. Seperti yang diketahui, jodoh merupakan bagian dari takdir.
Manusia hanya dapat berusaha dan berdoa agar diberikan jodoh yang terbaik oleh Allah SWT. Sebab, jodoh adalah hal yang misterius dan hanya Allah SWT yang mengetahuinya.
Setelah menanti tiga minggu lamanya, akhirnya hari yang dinantikan oleh Close dan Syakila akhirnya tiba juga.
Acara akad dan resepsi yang akan dilangsungkan di hotel itu digelar secara terbuka karena mereka mengundang rekan-rekan bisnis dan sahabatnya. Dan jangan lupakan Azzura yang terus menyemangati keduanya.
Sambil menunggu kehadiran Syakila, Genta Azzura, Yoga Rissa, Farhan Aida, Jimmy dan Indra berada di barisan bagiku yang sama.
"Alhamdulillah ya, Mas, akhirnya Close dan Syakila benar-benar sampai di titik ini. Ternyata ada hikmahnya setelah ia melaksanakan ibadah umroh. Aku ikut bahagia," kata Zu dengan seulas senyum.
"Hmm ... semoga SAMAWA ya, Sayang," timpal Genta.
Selang beberapa menit kemudian, Syakila yang dia apit oleh pak Airlangga dan bu Suhada tampak memasuki ballroom hotel.
Begitu Syakila mendekat, Close langsung menyambutnya seraya mengulurkan tangannya. Senyumnya pun terus terlukis di wajah tampannya.
Untuk yang kedua kalinya ia akan mengucap ijab qobul untuk menghalalkan sang kekasih menjadi istrinya.
Seperti, Genta dan Yoga yang pernah berada di posisinya saat ini, sebelum ijab qobul tentu saja dimulai dengan ceramah agama, kata-kata motivasi serta dilanjut dengan doa.
Sebelum akhirnya pak Airlangga menjabat tangan sang calon menantu lalu berkata dengan lantang, "Saudara Close Navarro Kheil, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Syakila Andini dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Syakila Andini dengan mahar yang telah disebutkan dibayar tunai!!"
Dengan sekali tarikan nafas Close mengucapkan janji suci pernikahan itu dengan suara lantang dan tegas.
Begitu selesai ia mengucap ijab qobul, suara para saksi pun mulai terdengar.
"Sah."
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah ..." ucapnya sekaligus merasa lega.
Ia pun mengecup kening istrinya dengan perasaan terharu sekaligus bahagia lalu memasangkan cincin di jari manis Syakila.
Setelah selesai dengan ijab qobul, satu persatu teman sekaligus ex rivalnya menghampirinya lalu memberi ucapan selamat.
"Close, Sya ... selamat ya, semoga SAMAWA. Kami ikut berbahagia untuk kalian berdua," ucap Azzura mewakili teman-temannya.
Setelah memberi selamat mereka kembali mengabadikan momen itu dengan berfoto ria.
Sungguh persahabatan mereka membuat mereka memiliki orang terdekat selain keluarga, yang akan selalu ada dalam suka maupun duka.
Setelah beberapa waktu berseteru, kini mereka berada di lingkaran persahabatan yang membuat kehidupan mereka semakin bermakna.
Bahkan, ketika mereka berada saling berjauhan, terpisah satu sama lain, akan ada momen yang bakal membuat mereka bertemu kembali.
\_ TAMAT\_
Assalamu'alaikum reader terkasih 😘😘😘 terima kasih sebanyak-banyaknya atas dukungan kalian selama ini.
__ADS_1
Sampai bertemu lagi di karya selanjutnya. Salam hangat penuh cinta dari kota Kaltara. 😘🥰❤️