
Tiga puluh menit setelah pesawat yang ditumpangi Azzura lepas landas, gadis itu terus termenung melihat keluar jendela pesawat.
Hingga jemarinya di sentuh oleh seseorang. Sontak saja sentuhan itu membuatnya kaget lalu spontan menoleh. Ia mengulas senyum saat tahu siapa yang mengelus jemarinya.
Seorang bocah perempuan yang sedang duduk di samping kursinya. Azzura menggenggam jemari mungilnya lalu mengelus kepalanya dengan sayang.
"Boleh tante tahu siapa namanya?" tanya Zu dengan suara lembut.
"Zayyana Amara, Tante," jawab bocah perempuan itu dengan malu-malu.
Azzura kembali mengulas senyum merasa gemas dengan bocah itu. "Nama kamu bagus banget. Tante panggil Ayya saja ya," cetus Zu lalu di jawab dengan anggukan kepala bocah itu.
Keduanya terus mengobrol layaknya seorang teman. Bahkan sesekali terdengar suara Ayya cekikikan karena Azzura membuat lelucon.
Walaupun hatinya masih dirundung sedih, namun Azzura merasa sedikit terhibur dan melupakan sejenak kesedihannya dengan kehadiran Ayya yang tanpa sengaja telah memancingnya mengobrol dan saling bercanda.
Dari samping kursi yang bersebelahan dengan tempat duduk keduanya, sang nenek dan ayah Ayya hanya bisa tersenyum menatap keakraban keduanya.
*
*
*
Mansion Keluarga Kheil ...
Close yang sejak semalam menginap di mansion, tampak sesekali meringis merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Bahkan wajahnya terlihat lebam.
Demi menghindari pertanyaan dari momy dan daddy-nya, ia enggan menampakkan dirinya. Bahkan semalam ketika ia pulang di mansion itu ia langsung ke kamarnya.
Setelah keluar dari kamarnya ia langsung kepikiran istrinya. Dengan perasaan getir ia mempercepat langkahnya menuju halaman parkir mansion.
Tujuannya kini adalah langsung ke rumah istrinya. Setelah meninggalkan mansion ia menatap sekilas arloji di pergelangan tangannya.
"Ini bahkan sudah hampir jam enam sore. Berarti aku tidur cukup lama. Syukurnya momy dan daddy belum pulang," lirihnya.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah Azzura, tiba-tiba saja perasaannya langsung tidak enak dan merasakan getir.
Setibanya ia di kediaman istrinya, Close menghela nafas ketika mendapati motor Azzura terparkir di samping mobilnya.
__ADS_1
Ia pun segera turun dari mobilnya lalu mempercepat langkahnya menuju pintu rumah. Ia pun mengetuk pintu lalu memutar handle pintu.
Karena tak ada jawaban, Close semakin kencang mengetuk pintu, namun tetap saja tak ada jawaban bahkan pintunya tak ada yang membuka.
"Zu ... Azzura!! Please buka pintunya," panggilnya sambil terus mengetuk pintu itu.
Tak lama berselang, tetangga Azzura menegurnya.
"Mas, Azzura nggak ada di rumah itu," kata tetangganya.
Close menoleh ke samping dengan keheranan.
"Tapi motornya ada, Mbak," sahut Close.
"Iya, tapi Azzura sepertinya pulang kampung. Soalnya tadi aku melihatnya membawa koper," jelas wanita itu lagi.
"Pulang kampung?" gumam Close dan tampak berpikir. "Kalau boleh tahu kampungnya di mana?"
"Kalau nggak salah di daerah B, Mas. Lebih tepatnya kampung ibunya," jelas wanita itu lagi.
Close hanya mengangguk dan berterima kasih. Setelah itu ia berpamitan lalu kembali ke dalam mobilnya.
Close mengusap wajahnya kasar dan kembali harus merasakan kecewa karena ponsel istrinya tidak aktif. Mau tidak mau ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju kediamannya.
Setibanya ia di kediamannya hari mulai gelap, ia langsung menghampiri pintu lalu menekan password pintu.
Sesaat setelah berada di dalam rumah, ia menghela nafasnya dengan kasar karena saat melihat pecahan guci bunga masih berserakan di lantai ubin.
Dengan hati-hati ia melangkah lalu menekan saklar lampu untuk menerangi ruangan itu hingga ia sampai di kamarnya.
Lagi-lagi ia begitu kesal dan sedikit merasa geram, ketika mendapati tempat tidurnya masih berantakan tanpa dirapikan oleh Laura.
Karena merasa pikirannya masih berkecamuk, ia langsung menuju balkon kamar. Mengeluarkan rokoknya, membakar lalu menyesapnya dalam-dalam.
"Apa dia sudah memberitahu, momy dan daddy jika dia pulang kampung?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Setelah menghabiskan sebatang rokok, Close kembali ke kamar dan ingin melanjutkan langkahnya menuju lantai dasar. Namun ekor matanya tak sengaja tertuju ke meja nakasnya.
Seketika langkahnya terhenti dan terpaku di tempat. Jantungnya terpompa dua kali lebih cepat saat menatap lembaran yang begitu ia hapal.
__ADS_1
Ia menghampiri meja nakas itu dan semakin membuatnya ketar ketir ketika mendapati cincin kawin Azzura tergeletak di atas kertas itu beserta kunci mobil dan sebuah surat yang terlipat dengan rapi.
Dengan tangan bergetar dan mata yang berkaca-kaca ia meraih surat perjanjian perceraian itu lalu meneliti dengan seksama hingga sampailah di sisi kanan tempat di mana Azzura membubuhkan tanda tangannya.
"Azzura ...." lirihnya sambil menangis, meremas surat perjanjian perceraian itu lalu meraih cincin kawin Azzura dan menggenggamnya erat.
Ia langsung terduduk di sisi ranjang sambil terisak penuh penyesalan. Ia kembali teringat ucapanya enam bulan yang lalu ketika dengan percaya dirinya, ia menunjukkan surat perjanjian perceraian itu pada Azzura.
"Kecuali kamu sudah lelah dan menyerah, maka tanda tangani lah surat perjanjian perceraian ini dan kita resmi bercerai. Tulis lah nominal uang yang kamu inginkan di cek kosong ini setelah itu ... enyah lah dari rumahku dan gunakan uang itu untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Karena aku akan menikahi Laura dan tinggal bersamanya di sini."
Mengingat ucapannya itu, tangisannya semakin pecah dan merasakan penyesalan dan rasa bersalah yang semakin mendalam.
Bahkan serentetan kekerasan yang sering ia lakukan pada gadis itu kini memenuhi benaknya. Ia mendongak lalu meraih cek dan kunci mobil yang sama sekali tak pernah Azzura operasikan.
menatap cek yang tak Azzura isi bahkan masih terlihat kosong. Alisnya bertaut saat menatap sepucuk surat yang tersisa. Ia kembali meletakkan cincin dan kunci mobil di atas meja nakas lalu meraih surat itu.
Tangannya semakin bergetar dan tangisannya semakin menjadi ketika perlahan membuka surat itu kemudian membaca isinya.
Dear Close ...
Jika kamu membaca surat ini, itu artinya aku sudah tidak berada di sini bahkan sudah meninggalkan kota ini sejauh mungkin.
Terima kasih karena pernah singgah di hatiku dan pernah mencintaiku walau hanya sesaat. Sayangnya ketika kita dipersatukan dalam ikatan pernikahan, kita malah menjadi dua orang yang asing.
Aku sudah memaafkan semua kesalahan dan perbuatanmu meski itu meninggalkan trauma mendalam.
Harapanku hanya satu, jadilah pria yang baik dan tata kembali dirimu menjadi lebih berguna. Maafkanlah semua kesalahanku jika aku pernah meninggalkan luka di hatimu.
Kita dua insan yang bertemu tanpa sengaja dan berpisah tanpa berpamitan. Biarlah kenangan kita berada diantara ada dan tiada bahkan cerita kitapun bagaikan diary yang usang dengan lembaran yang telah kusut.
Mari kita tutup selamanya dengan diiringi senyum.
*Azzura Zahra*
Close hanya mampu menangis meratapi penyesalan mendalam setelah membaca surat itu.
"Azzura, aku mohon kembalilah," ucapnya diiringi isakkan pilu dan air mata yang seolah tak bisa berhenti mengalir.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ