Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 37 : Kesalahpahaman berujung benci ...


__ADS_3

Sesaat setelah Close duduk di kursi kemudi, ia langsung menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil lalu memejamkan matanya sambil memijat pangkal hidungnya.


"Pria paruh baya itu? Ada hubungan apa Azzura dengannya? Apakah dia Sugar Daddy Azzura? Apa mereka masih berhubungan? I'm insecure," gumamnya dengan perasaan getir.


"Lalu bagaimana dengan Yoga? Keduanya juga terlihat sangat dekat. Bahkan terlihat banget jika Yoga benar-benar tidak main-main dengan ancaman tadi," desisnya merasa gusar.


Ingatannya kembali berputar pada beberapa tahun yang lalu.


Flash back on


Close dan teman-temannya terlihat sedang mengobrol santai di kantin kampus sesaat setelah jam kuliah mereka berakhir.


Namun pandangan matanya teralih pada sosok Azzura yang terlihat sedang menunggu pesanan makanannya sambil memainkan ponselnya.


Ia pun bertanya pada temannya karena merasa penasaran dengan sosok gadis berhijab bermata indah tersebut.


"Zan, apa kamu tahu siapa gadis berhijab itu?" tanyanya lalu mengarahkan telunjuknya pada Azzura.


Mizan mengikuti arah telunjuk Close. Ia pun tersenyum lalu meninju kecil lengan temannya itu.


"Itu Azzura, anak tata boga," jelas Mizan sambil ikut menatap Azzura dari jarak yang tidak terlalu jauh dari mereka.


"Really?"


"Menurutmu?"


Close menjitak kepala temannya itu. "Cantik ya," puji Close masih menatap Azzura. "Sepertinya dia gadis yang lembut, sopan dan ramah," kata Close.


"Ke mana saja kamu selama ini?" ledek Mizan sambil terkekeh. "Apa kamu tahu, dia salah satu mahasiswi berprestasi di kampus kita. Bukan cuman itu saja, dia juga menjadi incaran mahasiswa di kampus kita. Tapi nggak ada satupun yang berhasil memenangkan hatinya alias ditolak mentah-mentah," jelas Mizan dengan hela nafas. "Aku salah satu yang ditolak olehnya," desah Mizan sambil menatap Azzura yang kini sudah duduk di meja sambil menikmati makanannya.


"Oh ya?" Close cukup terkejut. "I can't believe it, Mizan," desisnya dan merasa tertantang ingin mendekati Azzura.


"Jika kamu nggak percaya, tanya saja pada mereka-mereka ini," tunjuk Mizan pada teman-teman mereka.


Close bergeming lalu menatap Azzura dan secara tak sengaja mata keduanya bertemu ketika Azzura menoleh ke arahnya. Gadis itu tersenyum ramah padanya sembari menundukkan sedikit kepalanya.


Sontak saja senyum dan tatapan mata Azzura seolah menghipnotisnya. "Bola matanya terlihat indah, senyumnya juga terlihat tulus banget," gumamnya dalam hati.


Tik ... tik ... tik ...


Tiba-tiba saja seseorang menjentikkan jari tepat di depan wajahnya sekaligus membuyarkan tatapannya.


"Ada apa sih, Close?" tanya Sammy yang baru saja mendaratkan bokongnya di kursi tepat di sampingnya.


"Cih! Menganggu saja," dumalnya lalu menyeruput minumannya. Saat ia kembali menoleh ke arah meja Azzura, gadis itu sudah tidak berada di tempat melainkan sudah menjauh meninggalkan mereka.


"Oh ya, aku duluan ya," izin Close lalu mempercepat langkahnya mengejar Azzura.


Sesaat setelah ia berada berada di belakang Azzura, Close sengaja berdehem beberapa kali lalu mensejajari dirinya di sisi Azzura.


"Mau pulang ya?" tanya Close basa basi.


Sontak saja Azzura langsung meliriknya lalu menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Kenalin ... aku Close," ucapnya seraya mengulurkan tangannya.


"Azzura," balasnya lalu menjabat tangan Close dengan seulas senyum.


Sesaat setelah berada di parkiran, Azzura meraih helmnya lalu segera mengenakannya.


"Aku duluan ya," kata Zu setelah menyalakan mesin motornya.

__ADS_1


"Ok, hati-hati ya. Sampai ketemu besok," ucap Close dengan perasaan berbunga-bunga.


Azzura hanya mengangguk lalu mulai memacu motornya meninggalkan Close. Sepeninggalnya lagi-lagi Close tersenyum.


"Ternyata dia ramah banget," gumam Close lalu masuk ke dalam mobilnya.


...----------------...


Sejak saat itu Azzura dan Close semakin dekat dan tak jarang menghabiskan waktu bersama di kampus. Seiring berjalannya waktu, Close malah menaruh hati pada Azzura.


Sebaliknya Azzura, ia tampak biasa saja, apalagi Close merupakan mahasiswa yang digilai banyak mahasiswi di kampus itu.


Sudah beberapa kali Close mengutarakan perasaannya pada gadis itu, namun Azzura tetap menolak secara halus dengan alasan, jika ia hanya ingin fokus kuliah dulu hingga lulus.


Tentu saja penolakan Azzura membuat Close sangat kecewa. Namun ia tak patah arang demi meluluhkan hati gadis bermata indah itu.


Sebenarnya alasan utama Azzura menolak Close, karena ia merasa minder. Selain berparas tampan, pintar, Close juga merupakan calon penerus kerajaan bisnis di KL Brandon Corp milik sang daddy.


Di mana perusahaan itu bergerak di bidang perhotelan dan pariwisata. Selain itu, Azzura memang tidak memiliki perasaan apapun terhadap Close dan hanya menganggapnya sebagai kakaknya.


Tanpa terasa sudah setahun lebih, keduanya menjalin pertemanan. Tak jarang gadis-gadis di kampus itu merasa iri dengan Azzura yang bisa begitu dekat dengan Close sang idola kampus.


Seperti biasa setelah selesai mengikuti mata kuliah, Azzura dan beberapa teman kelasnya tidak langsung meninggalkan kelas melainkan tampak mengobrol santai.


"Zu, kelihatannya kamu dekat banget dengan Close?" tanya Laras teman sekelasnya.


"Nggak juga, kami hanya berteman dan nggak lebih," jawab Zu. "Lagian aku nggak kepikiran menjalin hubungan dengan siapapun termasuk Close. Yang jelasnya, aku hanya ingin fokus kuliah sampai lulus dulu. Selebihnya urusan belakangan," pungkasnya lalu mengulas senyum.


Laras hanya mengangguk namun tetap saja ia begitu iri dengan Azzura.


"Baguslah jika kamu nggak ada hubungan apapun dengan Close. Itu artinya aku punya kesempatan untuk mendekatinya," batin Laras yang memang tergila-gila pada pria blasteran itu.


"Laras, aku titip tas dan ponselku sebentar, aku ke toilet dulu," kata Zu lalu segera beranjak dari tempat duduknya meninggalkan kelasnya.


Di tempat yang berbeda, Close yang saat ini sedang berada di cafe sang momy, tampak mengirimkan pesan untuk Azzura.


✉️ : Zu ... aku menunggumu di Lio Cafe & Resto. Please, datang ya. Aku nggak menerima penolakan. Pokoknya aku menunggumu.


Setelah mengirimkan pesan singkat, Close menghela nafas sambil memikirkan gadis itu. Hari ini ia benar-benar berharap Azzura mau menerima dirinya.


"Zu, semoga kamu mau menerima diriku menjadi kekasihmu hari ini. Bahkan aku sudah berencana akan melamarmu dan akan menikahimu setelah kita lulus kuliah nanti," lirihnya penuh harap sambil menunggu gadis itu


Kembali ke kampus ...


Laras yang saat ini masih menunggu Azzura, tampak sedang memainkan ponselnya. Namun saat mendengar suara pesan notifikasi pesan yang masuk ke ponsel Azzura ia tampak penasaran.


Dengan lancangnya ia meraih benda pipih itu yang tergeletak di atas meja. Karena Azzura tidak menggunakan password, maka dengan bebasnya Laras membuka lalu membaca pesan yang barusan dikirimkan Close.


Laras langsung mengepalkan tangannya setelah membaca pesan itu. Bahkan menghapusnya agar Azzura tidak bertemu dengan Close.


"Apa sih yang membuat Close tertarik dengan Azzura?! Cantikkan juga aku dan sederajat dengannya. Lagian kenapa sih, dia masih saja mengejar Azzura walaupun sudah ditolak berkali-kali. Nyebelin!!" gerutunya dengan perasaan dongkol.


Tak lama berselang, Azzura menghampirinya sekaligus meraih tas ransel dan ponselnya tanpa tahu ada sebuah pesan penting dari Close untuknya.


"Ayo," ajak Zu.


Laras hanya mengangguk namun tetap saja ia merasa dongkol. Sungguh, Azzura sama sekali tidak mengetahui sifat iri dengki yang dimiliki Laras karenanya. Ibarat serigala berbulu domba.


Baru saja Azzura akan melangkah, ponselnya malah bergetar. Ia pun langsung menatap layar benda pipihnya.


"Paman Pras?! lirihnya kemudian langsung menjawab panggilan itu. Sedangkan Laras, terus melanjutkan langkahnya meninggalkan Azzura.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, paman Pras?" ucapnya.


"Waa'laikumsalam, Nak Azzura. Apa kamu nggak ingin bertemu dengan paman?"


Azzura langsung tersenyum lebar.


"Mau dong, sudah lama kita nggak bertemu," kata Zu.


"Paman Pras lagi di mana?" tanya Zu.


"Di taman kota dekat cafe. Tempat favorit kita," kata paman Pras lalu terkekeh.


Azzura ikut terkekeh mendengar godaan paman Pras. Sahabat ayahnya yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri.


"Baiklah paman, aku segera ke sana," kata Zu dengan sembringah. Ia pun memutuskan panggilan telepon.


"Ya Allah, senang banget bisa bertemu paman Pras. Dia pasti baru pulang tugas," lirihnya dengan mata berkaca-kaca. Ingin rasanya ia segera tiba di taman kota lalu memeluk pria paruh baya itu.


******


Setibanya di taman kota, Azzura memarkir motornya lalu mencari keberadaan paman Pras.


Senyumnya langsung mengembang setelah mengetahui keberadaannya.


Ia pun mempercepat langkahnya dengan mata berkaca-kaca, menghampiri paman Pras yang terlihat sudah merentangkan kedua tangannya, mengisyaratkan jika ia ingin memeluk gadis itu.


"Paman Pras," lirihnya lalu memeluk pria paruh baya itu sambil menangis. Seketika ia merasa seperti memeluk sang ayah yang sudah dua tahun meninggalkanya dan ibunya karena kecelakaan pesawat.


"Nggak apa-apa, Nak. Menangislah sepuas yang kamu ingin," lirih paman sambil mengelus punggungnya dengan sayang.


Tanpa keduanya sadari Close yang sejak tadi menunggu Azzura tak sengaja melihat keduanya dari kejauhan. Seketika ia mengepalkan tangannya.


Marah ...


Kecewa ...


Merasa seolah di permainkan ...


Tiga kata itulah yang kini Close rasakan. Kedua tangannya semakin terkepal kuat dengan mata yang memerah.


Close mengira jika selama ini Azzura menolaknya karena pria paruh baya itu. Ia bahkan mengira jika Azzura adalah Sugar Baby paman Pras apalagi saat melihat keduanya berpelukan seperti yang ia saksikan saat ini.


Walaupun tampak berumur, namun harus ia akui jika paman Pras masih terlihat gagah, tampan serta memiliki postur tubuh sempurna.


"Jadi ini alasanmu menolakku? Karena pria paruh baya itu? Sejak tadi aku menunggumu tapi apa yang aku dapatkan ... kamu malah memilih pria itu. Bahkan nggak membalas pesanku jika kamu nggak ingin bertemu," desisnya dengan rahang mengetat.


"Dasar gadis munafik. Ternyata selama ini aku salah menilaimu," geramnya. "Baiklah, mulai detik ini dan seterusnya, aku nggak akan pernah berharap lagi padamu. Aku membencimu Azzura. Kamu munafik. Terlihat polos nyatanya kamu simpanan Sugar Daddy.


Flash back off


Salah paham ... itulah yang terjadi bahkan sampai detik ini. Awalnya Close sangat mencintai Azzura namun karena kesalahpahaman tanpa mencari tahu terlebih dulu, akhirnya perasaan cinta itu berubah menjadi benci.


Sejak saat itu pula, ia selalu memperlakukan Azzura dengan semena-mena bahkan tak segan menghinanya.


Drtttt ... drtttt ... drtttt ...


Seketika lamunan panjangnya langsung membuyar lalu merogoh kantong celananya, kemudian menatap layar ponselnya.


"Momy?" lirihnya ...


...☘️***************☘️...

__ADS_1


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya 🙏 Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... 🙏☺️😘


__ADS_2