
Keesokkan harinya, setiap pagi aktifitas utama Azzura adalah menunggu bis untuk berangkat ke sekolah tempatnya mengajar.
Sambil menunggu, sudut bibirnya mengulas senyum membayangkan anak-anak didiknya yang begitu menggemaskan di matanya.
"Masya Allah ... sebelumnya aku nggak pernah terpikir akan menjadi seorang guru. Apalagi guru TK yang notabene harus sabar menghadapi anak-anak lucu itu," gumamnya. "Setidaknya berinteraksi dengan mereka rasa sakit dan trauma ini sedikit berkurang."
Tin ... tin ... tin ....
Suara klakson bis seketika membuyarkan lamunannya. Ia pun segera beranjak lalu menaiki bis itu untuk mengantarnya ke TK Dirgantara.
Kurang lebih dua puluh menit dalam perjalanan, akhirnya ia tiba juga di TK itu. Begitu ia turun dari bis dan mulai melangkah memasuki halaman sekolah, anak-anak didiknya langsung berlarian kecil menyambutnya dengan riang.
Satu kebahagian yang ia rasakan setiap hari ketika ia tiba di sekolah ia selalu disambut dengan bocah-bocah lucu itu
Ia pun berjongkok sembari merentangkan kedua tangannya menyambut bocah-bocah cilik itu dengan senyum bahagia seraya memeluk mereka satu persatu.
Tak lama berselang dari arah belakang Ayya memanggilnya.
"Bundaaa," pekiknya seraya berlari kecil.
"Pelan-pelan sayang, nanti kamu jatuh," kata Zu lalu menghampirinya.
Ayya hanya tersenyum lalu menggenggam tangannya. Setelah itu, Azzura menatap sang ayah dengan seulas senyum ramah.
"Maaf, jika putriku terlalu berlebihan," kata Genta.
"Nggak apa-apa, Mas. Lagian aku sudah terbiasa. Bukan cuma kehadiran Ayya saja tapi juga anak-anak yang bersekolah di sini," balas Zu sembari mengelus kepala Ayya.
"Ya sudah, aku dan Ayya masuk ke kelas dulu ya. Soalnya sebentar lagi masukkan," pamit Zu lalu mengajak Ayya ke ruangan kelasnya.
Genta hanya mengangguk sembari memperhatikan punggung keduanya yang kini mulai menjauh.
Setelah itu, Genta ikut melanjutkan langkahnya ke ruangan khusus sekolah yang tak lain adalah ruangan ketua yayasan Dirgantara miliknya.
Sesaat setelah masuk ke ruangannya itu, ia pun mendudukkan dirinya di kursi kerja lalu mencari map berkas yang berisi biodata Azzura.
Setelah mendapat apa yang dicarinya, ia pun membaca dengan seksama berkas gadis itu. Lagi-lagi senyumnya terbit di wajahnya.
"Ternyata dia anak tata boga," desis Genta lalu tersenyum merasa lucu. "Tapi kenapa dia mau menjadi guru di TK ini? Padahal dia bisa saja menjadi manager di salah satu hotel, restoran atau cafe."
Genta bertanya-tanya sendiri sekaligus merasa lucu.
"Haaahh ... usianya juga masih muda, 26 tahun sedangkan aku sudah 38 tahun," desisnya lagi sambil geleng-geleng kepala. "Genta ... apa yang sedang kamu pikirkan."
Ia memukul kepalanya lalu terkekeh.
.
.
.
__ADS_1
Rumah sakit Arinata ...
Tampak tuan Kheil, momy Lio dan Gisel sedang berada di kamar rawat khusus Close.
Momy Lio menghampiri putranya itu yang masih tertidur pulas. Perlahan tangannya terangkat seraya mengelus kepalanya dengan sayang lalu mengecup keningnya.
Dengan wajah sendu, momy Lio terus menatap wajah Close. Sedangkan tuan Kheil dan Gisel berdiri di sampingnya.
"Close," lirih momy Lio memanggilnya.
Merasa seperti ada seseorang yang memanggil namanya, perlahan Close membuka matanya. Ia pun menatap momy, daddy dan adiknya. Namun ketika ia tak mendapati Azzura berada di ruangan itu, ia langsung menanyakan sosok gadis itu.
"Momy, di mana Azzura? Kenapa kalian nggak mengajaknya ke sini?"
Close perlahan mendudukkan dirinya lalu memegang tangan sang momy yang hanya diam dan tak menjawab pertanyaan darinya.
"Mom ... please ... tell me something!" desaknya lalu mengalihkan tatapannya pada daddy dan Gisel. "Kenapa kalian diam saja?! Kenapa kalian nggak membawa Azzura! Kenapa?!" pekiknya lalu menarik rambutnya.
Tak lama berselang, Daffa masuk ke ruangan itu lalu menyapa mereka.
"Tuan, Nyonya, Nona. Ada apa?" tanya Daffa lalu mengarahkan pandangannya ke arah Close yang sedang tertunduk sambil menarik rambutnya.
"Tuan, Nyonya, nggak apa-apa. Kalian keluarlah biarkan saya yang menanganinya," pinta Daffa.
Tuan Kheil, momy Lio dan Gisel mengangguk lalu meninggalkan kamar itu. Sepeninggal mereka, Daffa menghampiri Close lalu memegang bahunya.
"Close ..." tegurnya dengan nada intonasi pelan. "Namamu Close kan?" tanya Daffa dengan seulas senyum.
"Apa kita bisa berteman? Kita bisa saling share sebelum aku meninggalkan kota ini. Soalnya aku akan pindah tugas ke kota M," kata Daffa sembari merangkul bahunya.
Untuk sejenak Close hanya bergeming dan terpekur mendengar kata-kata Daffa. Sedetik kemudian ia meliriknya.
"Ayo, kita mengobrol di rooftop, mumpung ini masih pagi dan udaranya masih segar," tawar Daffa.
Lagi-lagi Close hanya bergeming dengan tatapan mata yang kosong.
"I'ts okay, jika kamu belum mau sharing apapun. Tapi pikirkan lagi, apa kamu ingin seperti ini terus? Lalu bagaimana caranya kamu menemukan Azzura jika kondisimu masih seperti ini?" cecar Daffa.
Close tertunduk sambil memainkan jemarinya.
Karena tidak ingin memaksa pasiennya, Daffa kembali meninggalkan kamar itu. Ia tahu Close masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri.
Sepeninggal Daffa, Close kembali memeluk kakinya sambil menggoyang-goyangkan badannya.
Sedangkan Daffa yang kini berada di luar kamar, tampak sedang berbicara dengan tuan Kheil, momy Lio dan Gisel
"Tuan, Nyonya, Nona, untuk sementara biarkan Close seperti itu dulu. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja selama saya mendampinginya," jelas Daffa.
.
.
__ADS_1
.
TK Dirgantara, pukul 11.00 pagi ...
Saatnya anak-anak di TK itu pulang. Dengan telaten Azzura dan beberapa guru lainnya sedang mengawasi siswa siswi yang sedang menunggu jemputan masing-masing.
Sedang asyik-asyiknya mengawasi anak didiknya, lagi-lagi tangannya digenggam tiba-tiba oleh Ayya.
"Bunda ... kita pulang sama ayah ya," pinta bocah cantik itu sembari menggoyangkan genggaman tangannya dan Azzura. "Kita ke cafe oma saja," sambungnya sambil menatapnya penuh harap.
Azzura terkekeh lalu berjongkok. "Maaf ya, Sayang, bukannya bunda menolak, tapi hari ini bunda sudah janji mau ke toko kue tante Nina," kata Zu.
"Kalau begitu kita bareng saja ke sana," sahut Genta yang tiba-tiba saja muncul.
Azzura dan Ayya langsung menoleh menatapnya.
"Apa nggak apa-apa, Mas?" tanya Zu dan dijawab dengan gelengan kepala Genta.
"Bunda ... mau ya," melas Ayya.
"Baiklah," sahut Zu. "Sebentar ya, bunda ambil tas dulu di dalam kelas," pintanya.
"Zura, kami tunggu di mobil ya," pesan Genta lalu mengajak sang putri menghampiri mobilnya.
Selang beberapa menit sebelum menghampiri mobil Genta, Azzura terlebih dulu berpamitan pada teman-temannya. Setelah itu ia pun menghampiri mobil Genta.
Saat ia membuka pintu belakang mobil, Ayya melarangnya dan ingin ia duduk didepan. Karena tak ingin membuat gadis cilik itu kecewa ia hanya menurut.
"Sini, biar bunda pangku ya," bisik Azzura sembari terkekeh.
Setelah itu, Genta mulai melajukan kendaraannya itu menuju toko kue Nina. Di sepanjang perjalanan sesekali Genta melirik keduanya yang asik saja mengobrol dan tertawa cekikikan.
Ada senyum tipis menghiasi wajah Genta, saat melihat keduanya begitu dekat. Bahkan Azzura terlihat sabar meladeni pertanyaan dari sang putri.
Setelah melewati drama macet, akhirnya mereka tiba juga di Nina Cookies.
"Sayang ... kita sudah sampai," bisik Zu lalu mengelus rambut Ayya. "Mas, ayo," ajak Zu lalu membuka pintu mobil.
Dengan patuh Genta menurut. Sedangkan ia sendiri memegang jemari Ayya menuju pintu toko.
Sesaat setelah ketiganya berada di dalam toko itu, Nina langsung tersenyum menyambut mereka.
"Waaah .... Genta ..." ledek Nina mengambang seraya mengangkat kedua jempolnya.
"Apa sih?" sahutnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sedangkan Azzura tampak dibuat bingung dengan keduanya.
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ
__ADS_1