
Sesaat setelah berada di luar kamar, Azzura langsung menepis tangan besar suaminya. Namun dengan cepat Close memegang pergelangan tangannya.
"Lepasin!!" geram Zu, lalu menghentak keras tangannya dari genggaman suaminya.
Namun Close seolah menulikan telinganya lalu menariknya masuk ke dalam kamarnya. Begitu keduanya berada di dalam kamar, Close langsung mengunci pintu lalu memasukkan kunci itu ke dalam saku celananya.
"Mau apa kamu?!!" geramnya dengan rahang mengetat.
"Mau apa? Apalagi jika ingin meminta hakku sebagai suamimu?" jawab Close dengan santainya lalu melepas jas yang membalut tubuhnya.
Alih-alih takut atau panik, Azzura hanya bergeming di tempat menyilangkan kedua tangannya di dada dengan tatapan sinis seolah mengejek.
"Coba saja jika kamu ingin benda pusaka mu itu nggak akan pernah bangun lagi," ancam Zu dengan begitu dongkolnya. "Lagian itu nggak akan pernah terjadi sebelum kita menikah ulang," sambung Zu dengan senyum mengejek.
Sekalipun kamu ingin menikah ulang, aku pun nggak akan pernah sudi. Pria menjijikkan.
Azzura membatin kesal. Mendengar ucapan istrinya, Close menghentikan langkahnya tepat di hadapan Azzura lalu menatap maniknya dalam-dalam.
Lagi-lagi Close ingin mencengkeram pipi mulus Azzura namun seketika tertahan saat mengingat ancaman penuh amarah dari Yoga.
"Buka pintunya, karena waktuku sudah terbuang sia-sia hanya karena meladenimu," sinis Zu tanpa rasa takut dengan membalas tatapan tajam dari suaminya.
Close bergeming namun tetap saja ia merasa sangat jengkel mendengar perkataan istrinya.
"Buka pintunya," pinta Zu lalu menghampiri pintu itu. "Daripada kamu membuang-buang waktumu hanya karena ingin menuntaskan hasratmu, sebaiknya kamu mengantarku ke rumah sakit," sindir Zu. "Setelah itu, silakan temui gundikmu. Jika perlu silakan kalian bercinta sepuasnya. Aku malah berharap kekasihmu itu kebobolan," sindir Zu lagi. "Bukankah itu akan membuatmu bahagia sekaligus mempercepat perceraian kita?" pungkas Zu.
Close hanya bergeming lalu tertunduk lesu mendengar sindiran istrinya. Sedetik kemudian ia menghampiri istrinya lalu memeluknya dari belakang. Mendengar kata cerai, entah mengapa ia tiba-tiba merasa takut jika kehilangan istrinya itu.
"Lepasin!!" geramnya lalu melepas kedua tangan suaminya. "Jangan pernah menyentuhku dengan tubuh kotormu itu. Tubuh yang sudah sering melakukan perbuatan zina," peringat Zu dengan nada dingin.
Lagi-lagi Close seolah dikuliti, hatinya mencelos mendengar penuturan istrinya, bimbang dan merasa istrinya itu semakin menjaga jarak darinya.
"Zu ... ak ..." belum sempat ia melanjutkan kalimatnya Azzura kembali menyela.
__ADS_1
"Apa kamu nggak mendengarku? Buka pintunya dan biarkan aku menjenguk ibuku," ucap Zu dengan nada dingin.
Mau tidak mau, Close terpaksa merogoh saku celananya mengeluarkan kunci lalu membuka pintu kamar.
Begitu pintu terbuka, Azzura langsung melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga tanpa menunggu Close.
Sesaat setelah berada di halaman parkir, ia langsung membuka pintu mobil lalu mendaratkan bokongnya di kursi sambil menunggu Close dengan perasaan dongkol.
Jika bukan karena momy, nggak sudi aku satu mobil dengannya.
Tak lama berselang, Close membuka pintu mobil lalu duduk di kursi kemudi. Sebelum menyalakan mesin mobil, ia melirik istrinya sekilas.
Sedangkan yang dilirik hanya bergeming seolah tak peduli. Saat kendaraan itu mulai melaju, keduanya hanya diam tanpa ada yang membuka suara.
"Kenapa kamu nggak pernah bilang jika ibu sedang sakit," tanya Close sekaligus membuka suara.
Azzura hanya bergeming dan terus memandang keluar jendela mobil dan enggan menjawab.
Lagi-lagi Azzura tetap bungkam dan enggan menjawab.
"Zu ..." Tetap sama, gadis berhijab itu tetap bungkam seribu bahasa bahkan meliriknya pun enggan.
Close mengusap wajahnya kasar lalu meraih rokoknya. Membakar lalu menyesapnya. Sontak saja ulahnya itu membuat Azzura terbatuk-batuk karena asap rokoknya.
Merasa Azzura tidak nyaman, ia segera menurunkan kaca mobil dan sedikit merasa bersalah.
Setelah kurang lebih empat puluh menit mengendara akhirnya keduanya pun tiba di rumah sakit.
Setelah Close memarkir mobilnya, Azzura ingin membuka pintu namun ia menahan sejenak lalu berkata, "Nggak perlu menemani atau menungguku," kata Zu tanpa menoleh sedikitpun. "Tenang saja, aku akan pulang ke mansion malam nanti," pungkasnya lalu membuka pintu mobil dan keluar begitu saja meninggalkan suaminya.
"Zu," lirihnya lalu menatap punggung istrinya yang sudah menjauh. Namun dengan cepat ia membuka pintu mobilnya lalu diam-diam mengekori istrinya.
Azzura terus melangkah kecil hingga ekor matanya tak sengaja tertuju ke arah pohon rindang di taman rumah sakit.
__ADS_1
Matanya langsung berkaca-kaca menatap sosok yang begitu ia rindukan karena keduanya sudah lama tak bertemu. Paman Pras begitulah ia sering memanggilnya. Pria tampan paruh baya itu tampak seperti menunggu seseorang.
"Paman Pras," lirihnya sembari mempercepat langkahnya menuju pohon rindang. Setelah langkahnya hampir mendekat ia pun menyapa dengan suara bergetar.
"Paman Pras," lirihnya.
Sontak saja pak Prasetya langsung menoleh. Merasa sangat mengenal sosok gadis berhijab bermata indah itu, ia langsung berdiri lalu menghampirinya kemudian membawanya masuk ke dalam pelukannya.
"Paman Pras," lirih Zu lagi sambil menangis menumpahkan semua air matanya dalam pelukan pria paruh baya itu. Kerinduan akan sosok ayahnya bisa ia rasakan dari dekapan erat pak Prasetya.
"Menangislah Nak, nggak apa-apa. Setidaknya itu bisa membuat perasaanmu sedikit lega," bisik pak Prasetya sembari mengelus punggungnya dengan sayang lalu mengecup puncak kepala Azzura yang tertutup hijab.
Semakin deras air matanya mengalir. Di tambah lagi ia begitu merindukan sosok ayahnya yang sudah lama meninggal.
Tanpa keduanya sadari, dari arah yang berbeda, baik Close dan Yoga sama-sama menatap keduanya.
Jika Yoga bisa memaklumi kedekatan Azzura dengan sang ayah sebaliknya dengan Close. Suami dari Azzura itu tampak begitu marah.
Lagi-lagi ia mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengetat lalu menggerakkan giginya.
"Jadi dia masih berhubungan dengan pria paruh baya itu? Apa selama ini mereka sering bertemu di rumah sakit ini? Jangan-jangan selama ini dia juga sering pulang larut karena pria itu juga? Apa selama ini semua kebutuhannya dijamin oleh pria itu?" benaknya terus bertanya-tanya dan menebak-nebak.
Seketika benaknya dipenuhi oleh bermacam-macam pertanyaan yang semakin membuat emosinya terpancing.
"Tadi kamu menolak mentah-mentah diriku dengan mengatakan tubuhku kotor karena sering melakukan zina. Lalu bagaimana dengan dirimu, apakah pria paruh baya itu lebih hebat dariku? Gadis munafik?" geramnya. "Lihat saja nanti, aku akan benar-benar mengancammu jika kamu nggak mau melayaniku sebagai suamimu," geramnya lagi dengan rahang mengetat menahan amarahnya.
Tak lama berselang ia menautkan kedua alisnya ketika Yoga menghampiri pak Prasetya dan Azzura yang masih menangis memeluk sang ayah.
"Yoga? Ada hubungan apa mereka?" desisnya bertanya-tanya.
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ
__ADS_1