
Hujan semakin deras bahkan kilat, petir dan guntur saling bersahutan. Jika pada umumnya kebanyakan gadis begitu ketakutan mendengar suara petir dan guntur yang menggelegar, namun itu tidak berlaku bagi Azzura.
Ia tetap terlihat tenang sambil membaca Al Qur'an sekaligus mendoakan ibunya dan ayahnya.
Close yang sejak tadi berdiri di dekat jendela hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan.
Melihat wajah polos istrinya yang tampak teduh sambil membaca Al Qur'an membuatnya ingin duduk di sampingnya dan ingin merangkulnya.
Namun saat mengingat kejadian tadi siang ketika istrinya sangat marah, nyalinya seolah menciut dan tak berani mengusik ketenangan wanita berhijab itu.
"Zu ... maafkan aku ... aku ingin kita memulai hubungan pernikahan kita dari nol lagi. Bisakah kita memperbaiki hubungan kita seperti dulu lagi? Aku nggak bisa membohongi hatiku jika sampai detik ini aku masih mencintaimu," gumam Close tanpa mengalihkan pandangannya dari istrinya.
"Emosi, amarah dan semua kekesalan yang sering merasukiku semua aku lampiaskan padamu semata-mata karena aku masih belum mendapat jawaban dari hubunganmu dan pria paruh baya itu," gumam Close lagi.
Sedetik kemudian Close kembali mengarahkan pandangannya ke arah jendela, melihat derasnya air hujan yang turun membasahi bumi.
Sejenak ia memejamkan matanya, bayangan kekerasan fisik, makian dan tuduhan yang sering ia lontarkan pada istrinya kembali memenuhi benaknya.
Penyesalan ...
Satu kata itu yang kini mewakili dan menyelimuti dirinya. Hingga tak terasa membuat sosok arogan itu meneteskan air matanya.
Ungkapan penuh emosi istrinya yang memuncak tadi siang kini membuatnya takut.
Perceraian ...
Lagi-lagi kata itu membuat sekujur tubuhnya mulai membeku. Ia takut jika Azzura benar-benar mewujudkan permintaannya kala itu.
Malam semakin larut bahkan hujan seolah enggan berhenti menyirami bumi dan semakin membuat ruangan itu menjadi dingin. Sadar jika Azzura sudah lama duduk di ruangan itu, akhirnya ia menutup Al Qur'an yang sejak tadi dibacanya.
"Close," tegur Zu yang kini sudah berdiri. "Tidurlah ini sudah larut. Besok kamu harus ke kantor," lanjut Zu.
Close berbalik lalu menatapnya dengan tatapan sendu.
"Aku siapkan dulu kamarnya. Kamu tidur di kamarku saja. Aku akan tidur di kamar ibu," kata Zu lalu meninggalkannya menuju kamarnya.
Sesaat setelah berada di kamarnya, Azzura membersihkan kasurnya lalu menyiapkan selimut di atas ranjang.
Tak lama berselang, Close menghampirinya namun Azzura melangkah mundur satu langkah ke belakang.
__ADS_1
"Tidurlah ... maaf, kamarku nggak semewah kamarmu," lirih Zu lalu akan berlalu meninggalkannya.
Namun dengan cepat Close memegang tangannya lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya sambil menangis.
"Zu ... maafkan aku," ucapnya dengan suara bergetar. "Maafkan aku karena selama ini sudah menuduhmu yang tidak-tidak. Maafkan aku karena dengan kejinya aku sudah membuat fisikmu sakit. Maafkan semua sikap dan ulahku karena sudah membuat batinmu sakit. Izinkan aku memperbaiki semuanya."
Azzura hanya bergeming dalam dekapan suaminya bahkan tak membalas pelukan pria yang pernah dekat dengannya bahkan berkali-kali menyatakan cinta padanya.
Hatinya sudah terlanjur luka bahkan bisa di ibaratkan kaca yang sudah pecah.
Azzura mendorong pelan tubuh suaminya lalu menatap lekat manik coklatnya kemudian berkata dengan suara lirih,
"Apa kamu pernah melihat retaknya sebuah kaca lalu pecah? Kaca itu memang masih bisa di satukan lagi. Tapi tetap saja sudah tidak sempurna bahkan masih terlihat goresan retaknya. Seperti itulah diriku sekarang. Aku sudah memaafkan, tapi tetap saja goresan luka itu tetap membekas di hatiku."
Mendengar ucapan lirih istrinya, Close hanya bisa tertunduk lesu dengan air mata penuh penyesalan.
"Andai saja aku bisa memperlihatkan hatiku, kamu akan melihat begitu banyak goresan luka yang membekas, bahkan nyaris semuanya," kata Zu. "Aku hanya minta setelah kita berpisah, jangan pernah memperlakukan hal yang sama pada calon pendamping hidupmu yang baru," sambung Zu.
"Zu ... beri aku kesempatan terakhir untuk memperbaiki semuanya," mohon Close.
Azzura hanya bungkam namun sedetik kemudian tanpa menjawab, ia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan suaminya di kamar itu.
Melihat sikap dingin Azzura padanya, ia seolah-olah merasa semakin terpojok.
Sedangkan Azzura yang kini sudah berada di kamar ibunya, tampak sedang duduk di sisi ranjang sambil menangis.
"Maaf ...? Sekalipun kamu memohon dan bersujud di kakiku, aku sudah nggak bisa memberimu kesempatan. Terlalu sakit, terlalu dalam luka yang telah kamu torehkan di hatiku," lirih Zu dengan tersengal-sengal.
Setelah itu Azzura menghampiri, jendela lalu duduk di dekat benda itu sambil menatap tetesan air hujan.
"Bahkan langit seolah merasakan kesedihan mendalam yang aku rasakan," lirihnya lagi lalu menyeka air matanya
*
*
*
Apartemen Yoga ...
__ADS_1
"Apa Azzura baik-baik saja?" desis Yoga mengingat sosok gadis berhijab bermata indah itu.
Ucapan dan tangisan gadis itu masih terus terbayang dan terngiang-ngiang di telinganya. Terdengar pilu dan menyakitkan.
"Azzura ... aku berjanji akan selalu melindungimu. Ibu menitipmu padaku dan itu artinya kamu akan menjadi tanggung jawabku," desisnya lagi. "Aku yakin penderitaanmu segera berakhir. Jadilah wanita yang kuat dan sabar karena kamu nggak sendiri."
Yoga masih betah berada di ruang kerjanya, sesekali ia memijat pangkal hidungnya karena merasakan kepalanya sakit.
Namun entah mengapa tiba-tiba saja ia teringat akan ayahnya. Sekelumit ingatannya kembali terbayang ketika ayahnya memeluk Azzura dengan erat.
"Astaghfirullah ... Yoga ... apa yang kamu pikirkan," bisiknya. Entah mengapa ada sedikit perasan cemburu ketika melihat ayahnya memeluk Azzura bahkan tak segan mengecup puncak kepala gadis itu.
"Sepertinya Azzura begitu dekat dengan ayah. Terlihat banget jika dia begitu nyaman ketika berada dalam dekapan ayah."
Yoga kembali larut dengan pikirannya sendiri hingga membuat matanya mulai diserang kantuk barulah ia kembali ke kamarnya.
"Close bersiaplah dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Bukan nggak mungkin jika Azzura benar-benar akan menggugat cerai," desis Yoga dengan senyum sinis lalu perlahan memejamkan matanya.
*
*
*
Subuh dini hari pukul 05.00 ...
Azzura tampak masih betah duduk di atas sejadahnya. Lagi-lagi ia tak bisa membendung air matanya.
Kenyataan pahit yang memaksanya menerima kenyataan, iaitu ditinggal untuk selamanya oleh ibu dan ayahnya, sekaligus menjadikannya anak yatim piatu.
"Ya Allah la tahzan innallaha ma'ana," lirihnya menyebut doa itu. "Close bersiaplah ... setelah momy sudah dalam keadaan sehat dan stabil, aku akan menggugatmu. Setelah itu aku akan pergi sejauh mungkin dari kota ini dan akan menjalani kehidupanku di kota yang baru," lirih Zu lalu menyeka air matanya.
"Momy, maafkan aku jika pada akhirnya aku nggak bisa membuat Close berubah. Biarlah dia menentukan jalannya sendiri begitupun denganku. Terima kasih atas segala kebaikan momy, kasih sayang yang momy berikan padaku tanpa membeda-bedakan antara anak dan menantu," sambung Zu.
π Setiap rangkaian cerita itu pasti ada penyesalan, di situlah kita bisa ambil maknanya arti sebuah kehidupan. Penyesalan itu datangnya selalu di akhir biar kita memiliki waktu yang lebih untuk belajar.π
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ
__ADS_1