
Sore harinya di Rumah Sakit Arinata ...
Yoga tampak menyusuri bangsal rumah sakit jiwa itu, hingga langkahnya terhenti di depan pintu ruangan Daffa yang tak lain adalah sepupunya.
Setelah mengetuk pintu, ia pun membuka benda itu lalu menyapa Daffa.
"Kak Daffa?! Apa kakak sedang sibuk?"
Yoga menghampirinya lalu duduk di hadapan meja kerjanya sambil menatap sepupunya itu yang terlihat sedang membaca.
"Nggak juga, aku hanya mempelajari kasus putra tuan Kheil, Close. Bukankah dia itu boss-mu?!" sahut Daffa lalu meletakkan lembaran kertas itu di meja kerjanya.
Yoga cukup terkejut mendengar ungkapan Daffa barusan. Ia tak langsung menjawab melainkan balik bertanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Dia bukan boss ku lagi, soalnya aku sudah resign dari kantornya. Sekarang aku fokus bekerja di rumah sakit bunda," jelasnya.
Daffa mengangguk lalu menceritakan semua permasalahan yang menyebabkan Close harus dirawat di rumah sakit jiwa itu.
"What?!!!" Lagi-lagi Yoga sangat terkejut. Sedetik kemudian ia tersenyum sinis seolah merasa puas. Hingga membuat sang sepupu mengernyit heran.
"Why?" tanya Daffa.
"Aku rasa itu karma kontan yang harus dibayar olehnya. Bahkan jika perlu biarkan saja dia selamanya gila," celetuk Yoga dengan perasaan geram lalu tersenyum sinis.
"Astaghfirullah ... Yoga, istighfar kamu. Sejahat-jahatnya dan seburuk-buruknya seseorang, pasti ada sisi baiknya. Pun sebaliknya," peringat Daffa dengan hela nafas.
"Jangan membenci tapi doakan dia supaya menjadi pribadi yang jauh lebih baik serta mau memperbaiki semua kesalahannya," lanjut Daffa menasehatinya.
"Tapi dia sudah benar-benar keterlaluan, Kak," ucap lirih Yoga. Air matanya tiba-tiba saja lolos karena teringat Azzura.
Daffa menghela nafas mengerti dengan perasaan adik sepupunya itu. Karena seminggu yang lalu ia sudah menceritakan semuanya tentang Azzura.
"Yoga, tugas kita sebagai psikolog adalah mengembalikan rasa percaya diri dan menyembuhkan orang-orang seperti Close."
"Apa pun itu maafkanlah dirinya, Insya Allah dan yakinlah Close pasti akan berubah," pungkas Daffa.
Mendengar nasehat dari kakak sepupunya itu, Yoga hanya mengangguk. Setelah itu, Daffa mengajaknya ke ruangan khusus di mana Close berada saat ini.
Lebih tepatnya, kamar yang baru saja ditinggalkan Kiya sang sahabat setelah menjalani perawatan di rumah sakit itu karena depresi berat.
Sesaat setelah masuk ke kamar rawat itu, Yoga sangat terkejut mendapati kondisi Close yang sangat berantakan, semberautan dan tak terurus.
Pria yang selama ini ia kenal sangat menjaga penampilannya dan selalu terlihat rapi, kini berubah seratus delapan puluh derajat.
__ADS_1
"Close," panggilnya lalu menghampiri ex boss-nya itu.
Rasa iba seketika menyelimuti dirinya. Nalurinya sebagai psikolog seolah terpanggil ingin menyembuhkan ex suami Azzura itu.
Panggilan dari Yoga, seolah tak Close hiraukan, bahkan tatapan matanya kosong. Yang terdengar hanya kalimat 'MAAFKAN AKU AZZURA. BERI AKU KESEMPATAN. AKU AKAN MENJADI PRIA YANG BAIK UNTUKMU.' Terus seperti itu sambil memeluk kakinya.
"Close," panggil Yoga lagi seraya menepuk bahunya. Namun lagi-lagi Close tetap bergeming bahkan seolah menulikan telinganya. Sontak saja Yoga merasa kasihan. Apalagi kalimat itu terus diulang-ulang.
Di sisi lain Yoga merasa kasian. Namun saat mengingat perbuatan kejinya pada Azzura, ia sangat marah, benci dan ingin membuatnya semakin terpuruk. Tapi tak mungkin ia lakukan.
Karena tak sanggup melihat kondisi Close yang sangat jauh berbeda saat ini, Yoga berbalik menatap Daffa dengan mata berkaca-kaca.
"Kak ... lakukan yang terbaik, sembuhkan dia," bisiknya sambil memegang pundak Daffa dengan suara tercekat.
Ia tak menyangka jika keputusan Azzura meninggalkan kota ini sekaligus memilih berpisah dari Close, berdampak hingga membuat kejiwaan ex suaminya itu terpuruk hingga mengalami depresi.
Yoga mempercepat langkahnya menuju rooftop yang memang tak jauh dari kamar rawat itu. Sesaat setelah berada di tempat itu, ia langsung duduk di salah satu bangku.
Seketika ia menangis sejadi-jadinya sambil membayangkan wajah Azzura dan almarhum bu Isma.
"Azzura," lirihnya menyebut nama gadis itu dengan tersengal. "Sebenarnya kamu ada di mana?"
"Apa kamu tahu aku sangat merindukan dirimu?Jika saat ini kamu melihat kondisi pria brengsek itu, kamu pasti akan terkejut."
Sedetik kemudian Yoga memejamkan matanya menengadahkan wajahnya ke atas, menarik nafasnya dalam-dalam menenangkan perasaanya yang sedang kacau.
"Ya Allah, aku mohon pertemukanlah aku dengan Azzura. Aku mencintai gadis itu dan benar-benar ingin menjadikannya kekasih halalku dunia akhirat," ucapnya dengan lirih lalu perlahan membuka matanya.
Azzura yang sedang sibuk memeriksa tugas anak didiknya, tiba-tiba menghentikan aktifitasnya sejenak karena merasakan dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak.
Ia pun langsung beranjak dari tempat duduknya lalu menuju dapur untuk meneguk air. Sesaat setelah meneguk air, ia pun kembali ke kamar lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Yoga," sebutnya saat jemarinya menyentuh kalung pemberian pria itu yang kini masih melingkar di leher jenjangnya. "Apa dia baik-baik saja? Kenapa aku tiba-tiba merindukannya?"
Tok ... tok ... tok ...
Terdengar pintu rumahnya di ketuk.
"Assalamu'alaikum," ucap seseorang.
"Waa'laikumsalam ... " jawabnya. "Siapa ya?" Azzura lalu meraih bergonya kemudian mengenakannya. Setelah itu ia melangkah keluar lalu membuka pintu.
"Nina?! Ayo masuk," ajaknya dengan seulas senyum. "Harusnya kamu tuh sudah waktunya istirahat. Ini malah masih kerja. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada si dedek," omelnya sambil menggandeng lengan wanita hamil itu menuju kamarnya.
__ADS_1
Nina yang merupakan tetangga Azzura sekaligus owner sebuah toko kue adalah seorang janda. Setelah menikah dan hamil, ia malah di tinggalkan oleh suaminya hanya karena kepincut wanita lain.
Kehadiran Azzura sedikit membuatnya tenang karena merasa ada tempat untuknya berbagi dan berkeluh kesah.
Nina hanya terkekeh mendengar omelan dari Azzura sambil mengelus perut buncitnya.
"Lagian jika aku hanya diam di rumah bosan, Zu," kata Nina.
"Ya sudah, kalau begitu sepulang mengajar, aku langsung mampir saja ke toko kuemu sekaligus bantu-bantu kamu di sana," tawar Zu.
"Tapi Zu ..."
"Nggak ada tapi-tapi. Biarkan aku membantumu," tegas Zu.
Nina menatapnya lalu menggenggam jemarinya.
Hening sejenak ....
"Zu ..." lirihnya memecah keheningan di kamar itu.
"Ada apa? Kenapa wajahmu tiba-tiba menjadi sendu begitu?" tanya Zu.
"Nggak apa-apa. Zu. Zu ... jika terjadi sesuatu padaku saat melahirkan nanti, aku titip bayiku padamu ya? Jangan biarkan siapapun mengambilnya termasuk pria brengsek itu dan keluarganya. Aku nggak rela," pesan Nina dengan suara tercekat.
"Kamu ngomong apa sih?! Nggak akan terjadi apa-apa padamu. Percayalah semuanya akan baik-baik saja termasuk si dedek ini," kata Zu seraya mengelus perut Nina.
Jauh dalam sudut hatinya merasa sangat iba pada Nina. Kisah kegagalan rumah tangganya hampir sama dengannya.
Seketika ia kembali terbayang akan kekerasan fisik yang sering Close lakukan padanya.
"Pokoknya kamu harus kuat, kita sama-sama wanita dengan kisah yang hampir sama. Jangan lemah meski itu menyakitkan. Ayo kita membesarkan dan mendidik si dedek bersama walaupun tanpa ayah," ucap lirih Zu lalu memeluk Nina.
"Kita akan menjadi ibu sekaligus ayah baginya," sambung Zu dengan maksud menguatkan Nina agar tidak berputus asa.
Rasanya itu tidak mungkin, Zu. Karena aku nggak bisa bertahan karena penyakitku. Aku yakin jika kamu adalah ibu sambung yang tepat untuk anakku.
Nina bergumam pilu dalam hatinya. Ada secercah harapan dan seberkas sinar untuknya karena kehadiran Azzura.
Ia merasa jika l Azzura adalah wanita yang tepat untuk menjadi ibu dari calon bayinya yang saat ini masih dalam kandungannya.
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ
Mumpung hari Senin, jangan lupa berikan votenya ya readers π βοΈπ... ngarep banget ... π
__ADS_1
Yang sudah sudi tinggalkan coment, author ucapkan big thanks. Coment dari kalian bikin author ngakak sekaligus tambah semangat. Pasti pada gregetan ya sama Close. Bukan cuman kalian, author juga ..ππ βοΈ