
Sesaat setelah tiba di rumah, Genta memilih menggendong Devan sejenak hingga bocah itu tertidur.
Genta terus menatap wajah Devan setelah membaringkannya di atas ranjang. Ia mengelus pipinya yang terlihat merona akibat demam tinggi.
"Sayang, cepat sembuh ya, Nak," bisiknya lalu mengecup kening dan pipi putranya. Setelah itu, ia menempelkan plester penurun panas di keningnya.
Rasanya berat sekaligus khawatir ingin meninggalkannya.
"Zu, jika ada apa-apa langsung hubungi aku," pesan Genta dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Azzura. "Ya sudah, aku pulang dulu."
"Iya, Mas. Maaf sudah merepotkan."
Jika berhubungan dengan kalian, aku nggak kerepotan kok.
Azzura mengantarnya hingga di depan pintu.
"Kembalilah ke kamar. Takutnya Dev terbangun," pinta Genta.
Azzura hanya mengangguk dan menurut lalu kembali menutup pintu kemudian mengunci benda itu.
Sedangkan Genta, ia langsung melajukan kendaraannya ke arah rumah orang tuanya yang hanya berjarak beberapa meter saja.
"Assalamu'alaikum," ucapnya sesaat setelah berada di depan pintu lalu membukanya.
"Waa'laikumsalam," jawab ayah yang masih terlihat sedang duduk bersantai di ruang tamu. "Genta? Nggak biasanya kamu pulang dari markas pelatihan apalagi ini sudah larut?".
"Perasaanku sejak tadi siang nggak enak, Yah."
Seketika alis sang ayah bertaut lalu meliriknya yang kini sudah duduk di sampingnya lalu melepas seragamnya.
"Maksudmu?"
"Devan demam tinggi, Yah. Sebenarnya sejak tadi aku dan Azzura cukup lama berada di tempat praktek Nella." Ia menghela nafasnya sejenak lalu kembali melanjutkan kalimatnya.
"Aku sudah nggak terlalu khawatir lagi soalnya Dev sudah agak mendingan."
Genta menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sembari memijat pangkal hidungnya. Sedangkan sang ayah hanya menepuk pahanya.
"Sebaiknya kamu masuk ke kamar dan beristirahat. Lagian ini sudah larut."
Sambil mengangguk ia pun beranjak dari sofa lalu bergegas menuju ke arah anak tangga. Sedangkan pak Prasetya memilih masuk ke kamarnya.
Malam semakin larut bahkan arah jarum jam kini sudah menunjukkan pukul satu lewat tiga puluh menit dini hari.
Azzura masih betah duduk di atas sejadahnya sambil melantunkan ayat-ayat suci dengan suara lirih. Sesekali ia melirik ke arah sang putra yang kini tampak begitu lelap dalam tidurnya.
Perasaan tenang, damai kini kembali menyelubungi segenap jiwa dan raganya setelah melaksanakan shalat tahajud di tengah keheningan malam itu.
Ia pun menutup buku kecilnya itu lalu merapikan perlengkapan shalatnya. Ia menghampiri putra semata wayangnya lalu melafazkan sebuah doa.
"Allahumma rabban nasi, adzhibil ba'sa. Isyfi. Wa Antas syafi. La syafiya illa anta syifa'an la yughadiru saqaman.”
__ADS_1
Artinya: Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit, kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri.
Setelah itu, ia ikut berbaring di samping putranya lalu memeluknya. Tak lama berselang ia ikut tertidur.
.
.
.
.
Ba'da Subuh ...
Azzura sudah terlihat sibuk di dapur ditemani bi Titin.
"Nak Zu, bagaimana dengan Ki kondisi Devan?
"Alhamdulillah ... panasnya sudah turun, Bi.
"Syukurlah." Bi Titin menatapnya lalu mengulas senyum.
"Bi, semua masakannya sudah mateng. Siang nanti jika Bibi ingin makan, tinggal panaskan saja di microwave ya. Insya Allah, aku akan pulang cepat hari ini."
Sebelum ke kamar ia menunjukkan microwave dan cara menggunakan alat itu. Selesai menjelaskan, ia kembali pamit dan menuju kamarnya.
Senyumnya langsung mengembang saat menatap putranya yang sudah membuka mata sambil menyedot susu yang sudah ia siapkan tadi di atas meja nakas.
"Enak nggak susunya," tanyanya seraya mengelus pipi gembul Devan.
Bocah itu hanya mengangguk sembari memainkan kancing piyama sang bunda.
"Abisss Bundaaaa." Sambil menggoyangkan dotnya yang telah kosong.
"Bilang apa kalau habis?"
"Al-ham-du-lil-lah." Ia mengucapkan kalimat itu dengan terputus diikuti oleh bocah berparas bule itu.
"Alhamdulillah, Masya Allah, pintar banget anak shalehnya bunda." Ia kemudian mendudukkan dirinya lalu membawa putranya duduk di pangkuannya lalu memberikan kecupan bertubi-tubi.
Seketika suara cekikikan keduanya memenuhi kamar itu. Tak hentinya Azzura menggelitik perut putranya. sebelum akhirnya ia menggendongnya kemudian masuk ke kamar mandi.
Satu jam berlalu, setelah mengurus Devan, ia menitipnya sebentar pada bi Titin lalu bersiap-siap karena sebentar lagi ia akan berangkat ke sekolah.
Setelah sudah terlihat rapi, ia meraih tas kerjanya lalu menuruni anak tangga lalu menghampiri bi Titin dan Devan.
"Sayang, bunda berangkat dulu ya. Sebentar lagi Oma akan ke sini." Ia memeluk Dev sejenak lalu memberi kecupan yang lama di puncak kepalanya.
"Assalamu'alaikum."
"Waa'laikumsalam," jawab ketiganya serentak.
__ADS_1
"Ayaaahhh," pekik Devan. Ia langsung berlari menuju ke arah Genta.
"Upps, anak ayah sudah sembuh ya? Sudah minum obat belum," tanyanya dan hanya dijawab dengan anggukan.
"Mas, Ayya mana?"
"Sudah berangkat dengan ayah tadi. Apa kamu juga sudah mau berangkat? Biar aku saja yang mengantarmu, sekalian menemani Dev jalan-jalan."
"Tapi Mas ... apa Mas nggak apel hari ini?" tanya Zu.
"Aku sudah izin untuk satu hari. Jadi besok baru aku apel ke markas. Lagian aku nggak tega melihat Dev seperti semalam," jelasnya.
Azzura melirik bi Titin sekilas lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah pria yang ada di hadapannya itu.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita berangkat sekarang," ajaknya lalu berpamitan pada bi Titin.
.
.
.
Sesampainya di TK Dirgantara, Azzura kembali memeluk putranya sejenak lalu mengecupnya.
"Mas, aku titip Dev ya. Jika dia rewel langsung hubungi aku," pesannya.
"Insya Allah, Dev nggak akan rewel, percayalah." Genta menyakinkannya lalu tersenyum.
Setelah merasa puas memeluk dan mengecup putranya, dengan berat hati akhirnya ia terpaksa turun dari mobil lalu melambaikan tangannya.
Begitu mobil sudah menjauh barulah ia melangkah masuk ke halaman sekolah dengan senyum ramah menyapa murid-muridnya.
Seperti biasa, setiap hari ia menjalani rutinitasnya di sekolah dengan mengajar sambil bermain dan bernyanyi pada anak didiknya.
Hingga menjelang siang dan waktunya anak-anak keluar bermain. Sambil memperhatikan dari jarak yang tak terlalu jauh ia terus tersenyum.
Hingga getaran ponselnya mengalihkan perhatiannya dari bocah-bocah itu.
"Nomor baru? Tapi siapa?" gumamnya. Ia memilih mengabaikan panggilan itu. Namun tak lama berselang ponselnya kembali bergetar. Terus seperti itu hingga beberapa kali namun sang empunya benda pipih tetap mengabaikan.
"Tumben-tumbennya ada yang menghubungiku. Nomor baru pula."
Sedangkan sang pelaku yang sejak tadi menghubungi nomornya, tampak sangat kecewa karena panggilannya tak berbalas.
"Dia masih nggak berubah. Masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Ini bahkan sudah yang ke sepuluh kalinya aku memanggil namun di abaikan."
Close hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar sekaligus kecewa. Ia kembali meraih selembar kertas yang berada di atas meja kerjanya.
Menatap alamat rumah, toko kue dan sekolah tempat mantan istinya itu mengajar. Seketika senyum penuh arti tersungging di bibir tipisnya.
...----------------...
__ADS_1