
"Close," desis Yoga lalu mengulas senyum dan terlihat santai.
"Apa benar ini kamar rawat bu Isma?" tanya Close.
"Ya, kamu benar," jawab Yoga dengan santainya.
Bu Isma menatap keduanya bergantian dan merasa keheranan. Bahkan keduanya tampak bersitegang walau nada suara Yoga terdengar santai.
"Nak Yoga, apa dia temanmu, Nak?" tanya ibu.
Yoga melirik ibu sejenak lalu kembali menatap Close.
"Iya, Bu," jawab Yoga.
Close mengetatkan rahangnya merasa geram. Bukan tanpa alasan, jika Yoga bisa sedekat itu dengan ibu mertuanya, berarti ia sudah bisa menebak jika istrinya itu pasti sering bersama dengan ex asistennya itu selama ini.
Close pun menghampiri lemari nakas, lalu meletakkan buah dan makanan yang masih dipegangnya tadi.
Setelah itu ia berdiri di samping Yoga lalu menatap wajah ibu mertuanya. Hatinya mencelos menatap wajah pucat ibu dengan kepala yang tertutup kupluk.
"Ibu, bagaimana dengan kondisi kesehatan Ibu?" tanya Close dengan perasaan bersalah. "Maaf, aku baru ada kesempatan menjenguk Ibu sekarang," lirihnya.
Ibu hanya mengulas senyum menatapnya. "Terima kasih, Nak, sudah mau menyempatkan waktu menjenguk ibu," kata ibu. "Nak Yoga, apa kalian satu kantor, Nak?"
"Tadinya iya, Bu. Tapi sekarang sudah nggak, soalnya kemarin aku baru saja resign dari kantornya," jelas Yoga. "Dia ini CEO di KL Brandon Grup sekaligus ex Boss ku, Bu," sambung Yoga dengan jujur.
Seketika, ibu mengerutkan keningnya karena merasa pernah mendengar nama perusahaan yang disebut oleh Yoga.
"Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan Anda Tuan," kata ibu.
"Jangan panggil aku, tuan, Bu. Close saja," pintanya lalu sekilas melirik Yoga.
"Nak Close, maafkan menantu ibu ini jika selama bekerja di perusahaan kamu, ada kesalahan yang dia lakukan baik di sengaja maupun tidak. Apalagi selama ibu sakit dan di rawat di sini, tak jarang menantu ibu ini, meluangkan waktunya untuk ibu. Bahkan belum sempat berbulan madu pasca menikah," jelas ibu panjang lebar.
Duaaaaarrrrrrrr ....
Bak petir menyambar di siang bolong. Betapa terkejutnya Close mendengar kata-kata ibu mertuanya barusan.
__ADS_1
Sedangkan Yoga terlihat santai dan sedikit merasa puas melihat ekspresi terkejut ex boss-nya itu.
"Apa!!! Jadi mertuaku mengira jika Yoga adalah suami Azzura?!!" Close membatin. Seketika kedua tangannya mengepal lalu mengetatkan rahangnya.
Terkejut ...
Tak terima ...
Marah ..
Ketiga kata itu cukup mewakili dirinya saat ini. Bahkan ia semakin yakin jika Azzura akan semakin menjaga jarak dengannya dan kemungkinan terbesar istrinya itu akan meninggalkannya.
Seketika ia teringat akan surat perjanjian perceraian beserta cek yang ada di laci nakasnya. Entah mengapa perasaan takut langsung menyelimuti dirinya jika Azzura akan menandatangani surat perjanjian perceraian itu.
"Nggak ... ini nggak boleh terjadi," batinnya dengan perasaan getir dan gusar lalu melirik Yoga yang ada di sampingnya lalu kembali menatap ibu.
Suasana kamar itu hening setelah ibu selesai berbicara. Close tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Lidahnya keluh namun hatinya panas dan darahnya seolah mendidih.
"Ibu, boleh aku berbicara sebentar dengan Yoga di luar," izin Close.
"Yoga, kita perlu bicara," ucapnya dengan nada dingin lalu melangkah meninggalkan kamar rawat ibu mertuanya.
"Bu, aku tinggal sebentar ya," izin Yoga dan dijawab dengan anggukan kepala ibu. Setelah itu ia pun menyusul Close keluar.
Begitu ia berada di luar kamar rawat ibu, Close langsung mencengkeram kerah kemeja Yoga lalu mendaratkan satu bogem mentah ke wajahnya.
Namun Yoga masih bersikap santai lalu tersenyum sinis seolah mengejek menatapnya.
"What the hell, Yoga?!! bentaknya dengan perasaan penuh emosi yang meluap-luap.
" Why? Ke mana saja kamu selama ini, huh? Kenapa baru sekarang kamu menjenguk ibunya Azzura? Lalu kenapa kamu marah saat ibu mengatakan aku ini menantunya?" geram Yoga memberondongnya dengan pertanyaan sekaligus menyindirnya.
"Dengarkan aku baik-baik, Close. Bukan Azzura yang memperkenalkan aku sebagai suaminya, tapi ibulah yang menyangka jika aku adalah suami Azzura," jelas Yoga. "Apa kamu mengingat hari di mana aku mengantar Azzura pulang sehabis berbelanja di swalayan? Hari di mana kamu malah asik bermesraan dengan kekasihmu di salah satu restoran saat itu? Aku menyaksikan sendiri kalian berdua di restoran itu," geram Yoga menatap tajam ex boss-nya itu.
Close bergeming sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Setelah dari restoran itu, aku langsung ke sini dan tak sengaja melihat Azzura menangis di taman seorang diri. Aku menyapa dan sempat berbincang-bincang dengannya lalu berinisiatif ingin menjenguk ibu. Sesaat setelah berada di kamar ini bersama Azzura, ibu langsung mengira jika aku suaminya," jelas Yoga lagi. "Awalnya Azzura ingin menyangkal tapi aku yang melarang karena takut jika sampai ibu kembali drop," pungkas Yoga.
__ADS_1
Yoga menarik nafasnya dalam-dalam demi meredam emosinya apalagi saat mengingat hasil visum Azzura. Lagi-lagi Yoga mengepalkan tangan.
"Dengarkan dan camkan kata-kata ku dengan baik," ucap Yoga dengan nada dingin dan tatapan menghunus tajam. "Jika sampai aku melihat ada memar lagi di tubuh Azzura, maka aku pun tak segan-segan membalasmu. Pria brengsek, bajingan dan pecundang sepertimu yang beraninya menyakiti fisik seorang wanita lemah seperti Azzura," ejeknya dengan senyum sinis.
"Apa kamu tahu? Saat pertama kali bertemu ibu di kamar ini? Ibu mengatakan padaku, jangan pernah menyakiti, berbuat kasar apalagi melakukan KDRT pada Azzura. Tapi ibu memintaku supaya menyayangi, mencintai dan memperlakukan Azzura dengan penuh kasih sayang. Karena sejak kecil, jangankan membentak sekalipun ibu dan almarhum ayah nggak pernah memukul Azzura. LEBIH BAIK KEMBALIKAN DIA PADA IBU DARIPADA KAMU MELAKUKAN KDRT," tekan Yoga dengan mata berkaca-kaca mengulangi kalimat itu.
Seketika tubuh Close merinding mendengar kalimat terakhir yoga. Sejak tadi ia tidak mampu berkata-kata atupun membalas ucapan ex asistennya itu.
"Apa kamu tahu arti dari kalimat itu?" sinis Yoga lalu mencengkeram jas Close. "Itu artinya ibu meminta CERAIKAN Azzura daripada harus menyakiti fisiknya dan menerima umpatan kata makian dari pria brengsek sepertimu. Jika sampai aku mendapati tubuh Azzura terdapat lebam atau memar lagi, maka aku yang akan membalasmu tanpa ampun," ancam Yoga lalu mendorongnya. Setelah itu ia berbalik dan akan melangkah, namun terhenti dan begitu terkejut saat mendapati sang ayah sedang menatapnya.
"Ayah," lirihnya lalu terpaku di tempat mendapati tatapan tajam dari sang ayah yang sedang berdiri menatap keduanya bergantian.
Bukan cuman Yoga yang terkejut tapi juga Close. Namun pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan di usianya yang tidak muda lagi itu, hanya bergeming dan tak mengeluarkan sepatah katapun.
Terlihat sekali wajahnya menyiratkan kemarahan namun masih bisa ia redam. Sedetik kemudian ia pun berlalu meninggalkan Close dan Yoga menuju ruangan kerja Farhan.
Seketika ingatan Close kembali berputar beberapa tahun yang lalu ketika menatap wajah pak Prasetya yang melewatinya begitu saja.
Dia ini kan, pria yang pernah aku lihat bersama Azzura beberapa tahun yang lalu saat aku masih kuliah di kampus yang sama dengan Azzura.
Close membatin sekaligus merasa geram.
"Apalagi yang kamu tunggu, silahkan tinggalkan rumah sakit ini sekarang. Jika kamu datang ke sini hanya ingin mencari keributan, bukan di sini tempatnya," tegas Yoga sekaligus mengusirnya.
Close hanya bungkam lalu merapikan jasnya kemudian kembali ke kamar rawat ibu mertuanya.
Dengan perasaan bercampur aduk ia menghampiri wanita paruh baya itu lalu menatapnya.
"Bu, maafkan aku. Aku pamit kembali ke kantor. Semoga ibu cepat sembuh. Sekali lagi maafkan aku, Bu," ucapnya dengan perasaan bersalah.
"Nggak apa-apa, Nak. Kamu nggak salah dan nggak perlu meminta maaf," kata ibu dengan seulas senyum.
Setelah itu, Close pun berlalu keluar dari kamar rawat ibu dengan langkah gontai berselimut perasaan bersalah.
...π****************π...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ
__ADS_1