Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bonchap 21


__ADS_3

Keesokan harinya ...


Hari yang telah ditunggu-tunggu oleh Yoga dan Rissa pun tiba. Tampak binar bahagia menghiasi wajah tampannya. Senyumnya pun terus mengembang.


Sejak tadi ia didampingi oleh keluarga besarnya, ayah, bunda, kakaknya Farhan dan Daffa. Di barisan belakang tampak keluarga Genta, Radit Nanda, Syakila, Close beserta orang tuanya.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya sang calon mempelai memasuki ballroom hotel didampingi olah ayah dan ibu Rissa.


Rissa yang terlihat anggun dengan kebaya putih tampak terus mengukir senyum bahagia. Melangkah kecil diapit oleh kedua orang tuanya.


Yoga berdiri dari tempat duduknya dengan dada yang berdebar kencang disertai rasa gugup akan menyambut sang mempelai wanitanya.


"MasyaAllah, cantiknya ... aku sampai pangling," gumam Yoga sembari mengelus dadanya yang kini berdebar tak karuan.


Hingga Rissa benar-benar sudah mendekat, ia langsung mengulurkan tangannya menyambut jari jemari lentik mempelainya itu dengan perasaan terharu.


Bahkan matanya kini berkaca-kaca. menatap kagum seolah tak percaya. Gadis yang awalnya hanya menjadi pasiennya kini akan menjadi istrinya dalam hitungan menit.


"Rissa," ucapnya lirih lalu membantunya duduk di kursi yang ada di sebelahnya.


Sebelum acara akad itu dimulai, keduanya terlebih dulu mendengar kata-kata nasehat dan wejangan dari imam.


Dilanjut dengan doa bersama untuk kedua calon mempelai yang sebentar lagi akan mengharungi biduk rumah tangga. Sebentar lagi keduanya akan sah menjadi pasangan suami istri.

__ADS_1


Setelah doa bersama selesai, pak Imanuel sebagai wali dari Rissa menatap lekat wajah putrinya dengan mata berkaca-kaca lalu ke calon menantunya.


"Yoga, sebentar lagi daddy dan momy akan menitip putri semata wayang kami padamu. Sejak kecil kami mendidik, mengajarinya, mencintai serta menyayanginya dengan penuh kasih sayang."


"Sebagaimana kami sangat menyayangi dan mencintai putri kami, cintai dan sayangi dia seperti itu. Didiklah dia menjadi istrimu yang baik, taat dan patuh padamu. Jangan berbuat kasar atau menyakiti hatinya apalagi jika harus main tangan."


"Jangan sekali-kali lakukan itu padanya, Nak. Lebih baik kamu mengembalikan putri kami baik-baik daripada harus menyakiti hati dan fisiknya," pungkas pak Imanuel sembari menyeka air matanya.


Sedih bercampur haru karena akan melepas putrinya menjadi milik pria pilihannya. Pak Imanuel mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan calon mantu sekaligus calon suami putrinya.


Pak Imanuel menarik nafas dalam-dalam lalu berkata dengan lantang, "Saudara Arham Yoga Prasetya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Clarissa Saraswati Imanuel dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Clarissa Saraswati Imanuel dengan mahar yang telah disebutkan dibayar tunai!!"


Begitu selesai ia mengucap ijab qobul, suara para saksi pun mulai terdengar.


"Sah."


"Sah."


"Sah."


"Alhamdulillah," ucap Yoga lalu disambut serta di Aamiinkan oleh para tamu undangan yang hadir.

__ADS_1


Perasaan Yoga langsung plong sekaligus merasa beban berat yang dipikulnya langsung menjadi ringan.


Keduanya pun saling bergantian memasangkan cincin sebagai simbol pernikahan keduanya. Lagi-lagi perasaan bahagia seketika menyelimuti Yoga dan Rissa.


Ia pun mengecup lama kening sang istri dengan perasaan bahagia sekaligus terharu. Pun begitu dengan Rissa ia mencium punggung tangan suaminya.


"Yoga, aku seperti sedang bermimpi dan sama sekali nggak menyangka jika kita benar-benar akan sampai di titik ini," bisik Rissa dengan suara bergetar sekaligus merasa terharu dan bahagia.


Gadis itu menghampiri kedua orang tuanya lalu memeluknya dengan erat sambil menangis.


"Sayang, berbahagialah, Nak. Momy dan daddy akan selalu berdoa yang terbaik buat kalian. Yoga pria yang baik maka jangan kecewakan dia, Nak," ucap bu Erli lalu mengusap air mata di pipi putrinya.


Sebelum benar-benar naik ke pelaminan, satu persatu teman-teman Yoga memberi selamat lalu memeluknya. Pun begitu dengan Rissa.


"Yoga Rissa, selamat ya," ucap Syakila dengan seulas senyum meski hatinya kini masih diselimuti dengan perasaan hampa.


Meski ia tak berjodoh dengan Yoga, ia turut berbahagia, memberikan senyum termanis sekaligus pasrah.


Sedangkan Close yang masih berada di tempat duduknya kembali mengulas senyum memandangi Yoga dan Rissa yang tampak sangat bahagia.


"Semoga pernikahan kalian langgeng, Yoga Rissa," gumamnya lalu berdiri kemudian menghampiri pasangan pengantin itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2