
Tak lama berselang, Close dan Galuh menghampiri mereka.
"Bang! Ada apa ini?!" tanya Galuh lalu mengarahkan pandangannya ke arah Johan.
Keningnya seketika bertaut saat mendapati Johan berdarah. "Apa pria ini habis dihajar sama bang Genta ya? Tapi apa yang menyebabkan bang Genta melakukannya?" batin Galuh.
Genta menggiring istrinya mendekati Close. Ia lalu mengusap punggung putranya itu yang tampak sudah tertidur dalam gendongan ex suami Azzura.
"Dia putraku," ucap Zu dengan lirih lalu menyeka air matanya.
Takut kehilangan ...
Itulah yang kini menyelubungi dirinya. Bukan tanpa alasan, sejak bayi dialah yang merawatnya hingga tumbuh seperti saat ini.
Tubuhnya gemetar saat membayangkan jika ia dipisahkan dari putranya itu.
"Close, terima kasih," ucap Genta lalu meraih putranya itu darinya.
Close yang masih tampak bingung lalu bertanya, "Genta, Zu ... sebenarnya ada apa? Kenapa Johan bisa babak belur seperti itu?" Ia merasa penasaran.
"Jika kamu ingin tahu tanya saja padanya, kesalahan apa yang sudah ia perbuat hingga membuat emosiku meledak."
Deg ...
Ucapan Genta sekaligus membuatnya tersindir. Namun ia juga penasaran ada masalah apa sebenarnya Johan dengan suami dari Azzura itu.
Seketika benaknya mulai menerka-nerka segala kemungkinan yang terjadi. "Apa Zu dan Johan pernah menikah sebelumnya? Soalnya Devan mirip banget dengan Johan? Apa Johan juga menyia-nyiakannya demi wanita lain?"
Batinnya lalu mengarahkan pandangannya pada rekan bisnisnya itu.
"Close, kami pamit," kata Genta lalu merangkul bahu istrinya membawanya menghampiri mobil.
"Tunggu mas di sini. Mas ke dalam dulu sekalian mengajak Ayya pulang," bisiknya sesaat setelah memastikan Azzura duduk di kursi mobil sambil memangku Devan.
Azzura tak menyahut melainkan terus memandangi wajah teduh putranya itu sembari mengelus kepala dan wajahnya.
Air matanya terus mengalir deras mengingat kejadian yang baru saja ia saksikan di depan matanya.
Beberapa menit sebelumnya ...
Setelah Genta tak kunjung kembali, ia menitip Devan pada Close karena putranya itu sudah tertidur.
Karena merasa curiga sekaligus penasaran, ia pun mencari keberadaan suaminya. Hingga langkah kakinya terhenti di area parkir dan mendengar keributan.
Karena merasa penasaran, ia pun menghampiri sumber suara keributan itu karena merasa sangat mengenal suara berat suaminya.
Alangkah terkejutnya ia saat mendapati suaminya tengah menghajar Johan tanpa ampun. Bak sebuah tugu, Azzura mematung ditempat menyaksikan aksi brutal suaminya itu.
Meski ia tak bisa melihat adegan kekerasan, namun rasa ingin tahunya lah yang membuatnya mengabaikan traumanya. Setelah mendengar semua pembicaraan antara suaminya dan ayah kandung dari Devan, tubuhnya semakin gemetar disertai keringat dingin.
Hingga saat suaminya memutar badan lalu mendapatinya berdiri tak jauh dari tempatnya, ia langsung menangis saat Genta menghampirinya.
******
Mungkin karena masih merasa shock mengingat kejadian tadi, Azzura semakin mendekap putranya erat sambil terisak. Seolah takut ia akan terpisah darinya.
Hingga akhirnya ia lelah dan tertidur sambil mendekap Devan dengan sisa-sisa air mata yang masih terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
Sedangkan Genta yang kini sudah berada di area bermain, tampak sedang memanggil Ayya dan ponakannya juga iparnya.
Setelah keempatnya mendekat, ia pun mengajak mereka pulang.
"Nella, sebaiknya bawa anak-anak pulang sekarang." Genta berjongkok lalu memegang lengan Novia dan Nenra. "Sayang udahan ya mainnya. Insyaallah ... besok-besok kita ke sini lagi," bujuk Genta.
"Iya, Paman, tapi beliin kami minum dulu, hauuus," rengek Nenra.
"Ayya juga, Yah."
"Baiklah, kita belum minum dulu," ajaknya.
Setelah membeli minuman, Genta mengantar Nella dan kedua anaknya ke arah mobilnya di parkir.
Ia hanya tersenyum sinis saat mendapati sang adik masih tampak mengobrol dengan Johan dan Close.
"Galuh!!" panggilnya. "Sebaiknya kamu pulang, anak-anak sudah pada kelelahan. Lagian besok kamu harus bekerja!" perintah Genta.
Menyadari raut wajah serta nada suara Genta yang terlihat dan terdengar dingin, Galuh hanya menurut patuh.
"Nella, aku tinggal ya," pamitnya dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Nella.
Genta kemudian mengajak sang Putri meninggalkan tempat itu.
"Yah, bunda dan dedek Devan ...?"
"Bunda dan dedek Devan sudah menunggu di mobil," sela Genta dengan seulas senyum.
Begitu ia membuka pintu mobil untuk putrinya, ia terenyuh memandangi istri dan putranya. Seketika matanya berkaca-kaca. "Sayang ... " batinnya lirih.
Sedangkan Ayya yang kini sudah duduk di kursi penumpang tampak menyandarkan punggungnya.
"Yaaa ... sepi ... bunda dan dedek Devan malah tidur," keluhnya.
Genta tersenyum tipis mendengar ucapan putrinya. Setelah itu ia mulai melajukan kendaraannya itu membelah jalan kota. Hingga mereka tiba di tempat tujuan.
Malam semakin larut, Johan yang saat ini sudah berada di kediamannya ditemani oleh Close tampak sedang mengompres wajahnya dengan es batu.
Pukulan bertubi-tubi yang dilayangkan oleh Genta seolah tak memberinya kesempatan untuk bernafas.
Umpatan disertai makian juga ancaman dengan penuh amarah oleh Genta barusan, membuat otaknya semakin buntu.
"Akkhhh ... ssssstttt ... shi*t!!!" ia meringis sambil mengumpat.
Sedangkan Close yang duduk di hadapannya terus menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Johan, sebenarnya ada masalah apa di antara kamu dan suami Azzura. Tampaknya dia begitu marah padamu hingga membuatmu seperti ini," selidik Close.
Johan membisu, menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa sambil mendongak menatap langit-langit ruang tamu.
"Apakah Devan ..."
"Dia putraku, Close," sambungnya cepat.
"Apa itu artinya kamu dan Azzura ..."
Lagi-lagi kalimatnya terpotong karena Johan menyela dengan cepat.
__ADS_1
"Nggak ... bukan Azzura tapi Nina. Sahabat Genta yang telah ia anggap seperti adiknya." Air matanya pun menetes.
Sepenggal kalimat Genta barusan kembali terngiang di telinganya.
"Aku memang pria nggak berguna dan nggak bertanggungjawab. Aku salah ... aku menyesal!
Ia pun menceritakan semua kisah tentangnya dan mendiang istrinya. Tak ada satupun yang ia tutupi dari Close.
Setelah mendengar penjelasan dari Johan, Close membisu seribu bahasa membatu bak patung. Ia merasa dirinya sama brengseknya dengan Johan.
Lagi-lagi penyesalan selalu datangnya terlambat disaat semuanya telah terjadi. Tanpa berpikir seperti apa dampak dan karmanya yang akan di dapat di kemudian hari.
Seperti yang sedang dialami oleh Johan. Di saat ia ingin mendekat dan mengakui statusnya sebagai seorang ayah dari Devan, kenyataan pahit lah yang sedang menantinya.
Sejak pulang dari mall, Azzura tak banyak bicara. Wajahnya pucat dan sesekali meringis karena merasakan kram diperut.
Keringat dingin yang sejak tadi bercucuran di wajahnya membuat Genta sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.
"Ini pasti karena dia melihat aku menghajar Johan tadi. Astaghfirullah ... Genta kenapa kamu bisa seceroboh ini?!" batin Genta merasa bersalah.
Tangannya terkepal mengingat Johan. "Pria brengsek itu ...?!!"
"Sayang ..." panggil Genta lalu duduk di sisinya yang saat ini sedang memandangi putranya. "Maafkan mas jika sudah membuat dirimu shock atas kejadian tadi."
Tak menjawab, perlahan ia memutar badannya lalu memeluk Genta sambil menangis. "Aku takut dipisahkan dari putraku, Mas. Aku bisa gila jika sampai dia diambil oleh ayah kandungnya."
"Sayang ... itu nggak akan pernah terjadi, percayalah pada mas," bisik Genta. "Tenangkan hati dan pikiranmu, mas nggak mau psikismu kembali terganggu hanya karena hal ini."
"Nggak bisa, Mas. Bagaimana aku bisa tenang sedangkan Devan saat ini terancam, Mas. Bagaimana jika ia diculik lalu dibawa pergi jauh oleh ayahnya. Aku bisa gila, Mas!!" Azzura mulai histeris.
Seketika Genta langsung panik karena istrinya mulai histeris.
"Sayang ... jangan seperti ini. Mas mohon tenanglah." Dengan sabar Genta terus mengelus punggungnya.
Tak lama berselang, Azzura merintih lalu memegang perutnya karena merasakan sakit dan mules luar biasa diperut.
"Akkhh ... Mas!! Perutku sakit ... ssssstttt ... aaww!! Mas sakit banget!!"
Genta semakin panik mendengar keluhan istrinya. Tanpa pikir panjang ia segera bergegas ke kamarnya lalu mengambil ponselnya.
Ia langsung menghubungi sang mama sesaat setelah kembali ke kamar Devan. Sebelumnya Nora sudah menjelaskan jika seorang bumil tidak boleh stress dan banyak pikiran karena itu bisa berdampak pada janinnya.
Resikonya akan menyebabkan ibu hamil akan melahirkan bayi prematur sebelum waktunya tiba.
Hanya di deringan pertama, bu Nadirah langsung menjawab panggilan darinya
"Genta, ada apa, Nak?"
"Mah, bisa kemari nggak? Azzura mengeluh sakit perut! Aku khawatir," balasnya dengan cemas sambil menatap wajah pucat Azzura.
"Ya sudah, mama ke sana sekarang!"
Panggilan langsung terputus.
"Maaaass ..." panggil Zu dengan suara lirih sambil memegang perutnya menempelkan kening di dada Genta. "Sakit banget," keluhnya lagi sambil menangis.
Sambil menunggu sang mama, Genta sudah mulai harap-harap cemas memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.
__ADS_1