
Setelah melewati drama yang cukup membuat Genta tegang, akhirnya pria itu kini berada di alam bawah sadarnya dengan posisi duduk tanpa menghiraukan apapun lagi.
Sedangkan Azzura yang baru saja tersadar baru merasakan nyeri di bagian bekas sayatan perutnya.
Matanya lalu tertuju ke arah jam dinding yang menempel dinding kamar rawat itu. "Sudah jam tiga dini hari?!"
Seketika keningnya berkerut tipis. Merasakan jemarinya sedang digenggam lalu sedikit menunduk.
"Mas," ucapnya lirih sekaligus terenyuh memandangi suaminya yang sedang terlelap dengan posisi duduk.
Perlahan Azzura melepas genggaman tangannya lalu mengelus rambutnya dengan sayang.
Merasa kepalanya seperti di elus dengan lembut, dengan spontan ia langsung mendongak. Sadar jika istrinya sedang menatapnya, Genta memegang jemari lentik itu lalu mengecup telapak tangan istrinya.
"Sayang, apa kamu butuh sesuatu?! tanyanya lalu menegakkan badannya.
"Nggak, Mas. Bagaimana dengan bayi kita? Aku belum sempat menatap dan menggendongnya," tanya Zu dengan lirih lalu tersenyum.
"Alhamdulillah, keduanya sehat namun untuk sementara waktu mereka harus berada di dalam inkubator. Insyaallah ... beberapa hari lagi mereka sudah bisa keluar dari tempat itu," bisik Genta. "Jangan banyak bergerak dulu, Sayang. Jika kamu butuh sesuatu katakan saja pada mas."
Azzura mengangguk pelan lalu kembali menanyakan keberadaan mertua dan iparnya.
"Kak Nella, kak Galuh dan mama mana, Mas?"
"Aku meminta mereka pulang saja, kasian anak-anak di rumah nggak ada yang temenin. Mungkin sebentar, mereka akan kemari," jelas Genta.
Genta beranjak dari kursi lalu duduk di samping istrinya kemudian mengelus wajahnya. Sedetik kemudian ia tersenyum lalu berbisik, "Apa kamu sudah punya nama untuk si kembar?"
"Iya, Mas. Si abang aku berikan nama Fattah Ghaffar yang berarti seorang penakluk, pemaaf serta berhati lembut. Si adik namanya Faatih Ghalib yang berarti seseorang yang bisa menaklukkan sekaligus pemenang," jelas Zu.
Mendengar nama yang diberikan oleh istrinya untuk putra kembarnya, Genta tersenyum. Sama seperti Devan, istrinya itu memberi nama sekaligus terkandung doa didalamnya.
Sedetik kemudian Genta kembali berbisik, "Jika nanti bayi kita perempuan, kamu akan memberinya nama apa?" Secara tak langsung Genta memberi kode jika ia masih ingin memiliki momongan.
Jika saja Azzura tidak sedang dalam pemulihan akibat operasi, mungkin saja saat ini ia sudah menjambak rambut suaminya karena kesal.
"Maaaas ...!!" ia lalu mencubit perut liat suaminya karena kesal.
__ADS_1
Genta terkekeh lalu kembali berbisik, "Mumpung mas masih kuat dan masih punya tenaga ekstra."
"Isshh ... Mas!! Sempat-sempatnya ya membahas masalah ranjang. Ini saja belum kering sayatannya." Azzura menunjuk perutnya. "Jika masih mau memproduksi anak, Mas harus puasa dulu minimal setahun!" tegas Zu.
"Apa?!! Setahun?! Nggak salah tuh?!" sahutnya dengan mata membulat. "Haish ... itu sama saja kamu menyiksa mas," ucapnya dengan lemas.
Azzura kembali terkekeh merasa gemas menatap wajah suaminya. Sedetik kemudian ia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Seketika ia ingin sekali melihat dan menggendong kedua putranya.
Beberapa jam berlalu tanpa terasa pagi menyapa.
Setelah melaksanakan shalat subuh, Genta terlebih dulu mengurus istrinya setelah itu ia kembali ke ruangan khusus bayi untuk melihat keadaan putranya.
Lagi-lagi senyumnya mengembang lalu menyentuh jemari mungil bayinya satu persatu.
"Putra ayah, Fattah dan Faatih," bisiknya sambil memandangi keduanya dengan perasaan terharu.
Setelah puas berada di ruangan itu, Genta kembali ke kamar rawat istrinya.
Sesaat setelah membuka pintu, ia mendapati istrinya itu sedang melamun.
"Sayang," sapanya seraya menghampirinya kemudian duduk di kursi samping bed pasien. "Ada apa? Kenapa melamun?"
"Sebentar ya, Sayang. Mas ambil kursi rodanya dulu," kata Genta.
Setelah beberapa detik menunggu, akhirnya Genta kembali dengan membawa kursi roda. Dengan sangat hati-hati, ia membantu sang istri mendudukkan dirinya.
Setelah itu, ia pun mendorong pelan kursi roda itu menuju ruangan baby Fattah dan Faatih ditempatkan.
Seketika matanya langsung berkaca-kaca sesaat setelah berada di ruangan itu. Menatap kedua putranya yang tampak tertidur lelap di dalam inkubator.
Ingin rasanya ia mendekap keduanya saat itu juga namun apalah daya ia tak bisa melakukannya melainkan hanya bisa menatap keduanya dengan penuh kasih.
Saat keduanya masih betah berada di ruangan itu, tak lama berselang mereka di sapa oleh mama dan sang ayah sekaligus kedua anak dan ponakannya.
"Bundaaa, dedeknya lucu," celetuk Devan sambil meloncat kecil karena kegirangan.
Mereka yang ada di ruangan itu langsung tersenyum mendengar ucapan Devan yang terlihat antusias.
__ADS_1
Setelah berada di ruangan itu selama beberapa menit, mereka kembali lagi ke kamar rawat Azzura untuk sarapan bersama.
Di tengah kebahagian Azzura dan Genta menyambut kehadiran bayi mereka, ada seseorang yang kini tengah berjuang untuk sembuh.
Ya, Laura sang penghasut. Saat ini ia masih terbaring lemah karena kanker serviks yang dideritanya. Harapan untuk sembuh sepertinya harus pupus karena kankernya sudah stadium akhir.
Gadis blasteran itu menangis dan hanya menunggu waktu saja. Ia sudah pasrah setelah berobat ke sana kemari namun hasilnya nihil.
Sekelumit ingatannya kembali berputar saat dengan kejamnnya ia sering menghasut Close untuk menyakiti Azzura kala itu.
Sudah empat tahun berlalu, sejak Azzura meninggalkan Kota J, ia sudah tak pernah bertemu lagi dengan wanita berhijab itu.
"Azzura ... maafkan aku ..." ucapnya lirih yang kini sedang terbaring lemah di atas bed pasien. "Aku ingin bertemu denganmu walau hanya sebentar hanya untuk meminta maaf," sambungnya disertai dengan buliran bening yang mulai menetes.
Selang beberapa menit kemudian, kedua orang tuanya masuk ke kamar rawatnya. Memandangi sang putri dengan tatapan nanar.
"mmm-mo-my ... da-da-dy ..." ucapnya terputus-putus seraya menahan sakit luar biasa di antara pangkal pahanya. "Sampaikan permintaan maafku pada Azzura ex menantu tuan Kheil dan nyonya Liodra. Pada putranya juga semua yang pernah tersakiti karena ulah dan sikapku," ucapnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Keduanya orang tuanya hanya bisa menangis mendengar permintaan terakhir sang putri. Selang beberapa detik kemudian setelah selesai berucap ia pun memejamkan matanya.
Seketika ruangan dipenuhi dengan suara tangisan kedua orangtuanya. Sambil memeluk tubuh kurus yang sudah tak bernyawa.
Namun kedua orang tuanya sudah pasrah dan sudah ikhlas daripada terus melihat sang putri menderita sakit yang tak kunjung sembuh.
"Selamat jalan, anakku. Momy ikhlas daripada harus melihatmu menderita sakit. Semoga dosa-dosa mu diampuni oleh Allah. Semoga orang-orang yang pernah tersakiti karena sikap dan ulahmu, mau memaafkan dirimu, Nak," ucap sang momy dengan suara bergetar.
Tak lama berselang team dokter yang selama ini menangani gadis itu masuk ke ruang lalu mulai melepas alat medis yang masih terpasang di tubuhnya.
"Tuan, Nyonya kami turut berduka cita. Maafkan kami," kata pak dokter dengan penuh penyesalan.
Kedua orang tua Laura hanya mengangguk pelan dan sesekali menyeka air mata.
Tanpa Azzura membalas perbuatan kejam dari ex kekasih mantan suaminya itu, namun rasa sakit yang pernah Azzura rasakan, kini terbayar lunas langsung dari Sang pencipta.
Sungguh karma itu nyata bagi orang yang pernah tersakiti. Tanpa perlu membalas namun dibayar kontan dari Sang Maha pencipta.
...----------------...
__ADS_1
Guys ... beberapa bab lagi kisah Azzura dan Genta akan tamat dan akan dilanjut dengan kisah Yoga di bab selanjutnya.
Pantengin terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak komen, terutama jempol 👍 dan vote. Terima kasih 😊🙏😘