Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
97. Merajut asa menatap masa depan ...


__ADS_3

Keesokan harinya ...


Sebelum berangkat ke kota M, Genta dan Azzura terlebih dulu nyekar ke makan ayah ibunya. Setelah itu mereka lanjut ke kediaman pak Prasetya.


Azzura meminta pak Prasetya dan bunda Fahira supaya menjadi walinya saat menikah nanti. Keduanya menghabiskan waktu di rumah itu selama beberapa jam sebelum akhirnya kembali ke kediaman Azzura.


Sore harinya tepatnya jam 17:00, mereka kini sudah berada di dalam pesawat dan sebentar lagi akan lepas landas.


"Maafkan aku Yoga. Aku akan selalu mendoakanmu. Aku yakin, kamu pasti akan bertemu dengan gadis yang jauh lebih baik dariku. Aku berharap pertemanan kita tetap terjaga hingga kita sama-sama memiliki anak kelak."


Perlahan Azzura menyandarkan kepalanya di pundak Genta lalu menautkan jemarinya.


"Sayang," bisik Genta.


"Biarkan seperti ini sebentar saja," balasnya lalu mengelus kepala sang putri yang duduk di sampingnya.


Genta bergeming, namun irama jantungnya berdetak tak karuan. "Calm down, Genta. Jangan gugup hanya karena wanitamu tiba-tiba menjadi manja begini," celetuk Genta dalam hati sambil mengatur nafasnya perlahan.


Selang beberapa menit kemudian, setelah memastikan sabuk pengaman sudah terpasang dengan aman, ia pun mengelus wajah kedua anaknya.


"Sayang, apa kalian sudah siap kembali ke Kota M?" tanyanya.


"Siap, Bunda!" jawab Ayya dan Dev serentak sambil menaikkan kedua jempolnya.


"Bunda, kapan-kapan kita main lagi ya di tempat itu," pinta Ayya.


"Iya, Sayang, itupun jika ayah ada waktu luang ya," balas Zu dengan seulas senyum sesaat setelah duduk di samping Genta lalu memasang sabuk pengamannya.


Genta hanya tersenyum mendengar pembicaraan keduanya.


Tak lama berselang, pesawat yang mereka tumpangi, perlahan mulai mengudara meninggalkan bandara Kota J.


Sekaligus meninggalkan semua kenangan manis dan kenangan pahit yang pernah dirasakan Azzura. Merajut asa menatap masa depan bersama Genta pria pilihannya.


Meyakini serta memantapkan hati karena pria itu adalah jawaban dari segala doanya selama ini. Pria tulus, sabar serta mencintainya dengan segenap hatinya.


"Bismillah ... calon imamku ... Robbi hablii milladunka zaujan thoyyiban, wayakuuna shoohiban, lii fiddiini wa dunyaa wal aakhiroh."


Artinya: Ya Robb, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat.


Kembali gadis berhijab dan bermata indah itu menggenggam erat jemari calon imamnya dan putri sambungnya secara bersamaan.


.

__ADS_1


.


.


.


Satu minggu kemudian ...


Di salah satu kamar hotel, Azzura sudah tampak selesai dirias. Tak sendirian, ia ditemani oleh sahabatnya Nanda, bunda Fahira, Nella dan Aida.


Ia tampak cantik dan anggun mengenakan kebaya berwarna biru langit sesuai dengan jas yang dikenakan oleh calon imamnya.


Mereka menatap kagum akan aura kecantikannya yang terpancar dari wajah cantiknya.


"Zu." Nanda memeluk sahabatnya itu karena merasa terharu menatapnya. Jika pernikahan pertamanya cenderung buru-buru dan terpaksa, namun tidak di pernikahan keduanya.


Semuanya sudah diatur jauh-jauh hari secara mateng.


"Selamat ya, aku ikut berbahagia untukmu dan Genta. Semoga pernikahanmu ini langgeng hingga akhir hayat," ucap Nanda dengan tulus.


"Terima kasih, Nanda." Azzura menghampiri bunda Fahira lalu memeluk wanita paruh baya itu. "Bun, restuilah aku dan mas Genta. Maaf jika aku pernah membuat Yoga, paman dan bunda berharap padaku untuk menjadi bagian dari keluarga bunda," bisik Zu dengan suara bergetar.


"Sayang, kita hanya mampu berencana namun semua sudah diatur oleh Allah SWT. Doa terbaik dari kami sekeluarga selalu menyertaimu dan keluargamu kelak. Berbahagialah, Nak," balas bunda sembari mengelus punggungnya dengan sayang.


Nella dan Aida turut memberikan ucapan selamat padanya.


"Paman," ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca menatap pria tampan paruh baya itu.


"Zu, jangan menangis," pinta pak Prasetya seraya menghampirinya. "Kemarilah." Ia merentangkan kedua tangannya mengisyaratkan jika ia ingin memeluk gadis itu.


"Paman ..." sebut Zu dengan lirih lalu memeluknya. Lagi ... ia seolah sedang memeluk sang ayah.


Namun sebaliknya, pak Prasetya seolah memeluk sekaligus merasa sedang mengikhlaskan sang kekasih untuk pria lain. 🤭😂✌️


"Sudah ... cukup ... jangan menangis, ini hari bahagiamu. Berbahagialah," ucap pak Prasetya lalu mengurai dekapannya kemudian menyeka air matanya.


"Sayang, bunda dan paman punya sesuatu untukmu. Ini hadiah dari kami berdua," timpal bunda lalu memberikannya sebuah kotak yang masih terbungkus rapi.


"Terima kasih, Bunda, Paman," ucap Zu lalu merangkul keduanya merasa terharu.


Setelah Beberapa menit larut dalam haru biru, ia pun kini tampak sedang bersiap-siap menuju ballroom hotel. Tempat di mana akan dilaksanakan akad pengucapan janji suci pernikahannya.


Meninggalkan Azzura yang kini sedang menuju ballroom diapit oleh bunda Fahira dan pak Prasetya disusul oleh sahabatnya Nanda, Aida dan Nella. Genta yang sejak tadi sudah menunggunya merasa sedikit gugup.

__ADS_1


"Kok ... aku jadi deg deg-an begini ya? Padahal ini bukan yang pertama aku akan mengucap ijab qobul." Genta memegang dadanya sambil mengatur nafas demi menetralkan perasaannya.


Tak lama berselang, gadis yang sejak tadi dinantinya pun tampak sedang memasuki ballroom.


Ia tertegun sekaligus terpesona memandangi calon istrinya itu yang tampak cantik dan anggun. Di saat hati seorang Genta sedang berbunga-bunga bahagia, ada hati yang sedang terluka memandangi gadis cantik itu.


Ya, Yoga dan Close. Jika Yoga terluka karena kecewa tak bisa menggapai wanita yang ia cintai, lain halnya dengan Close.


Mantan suami dari Azzura itu, merasakan sakit luar biasa sekaligus merasakan penyesalan mendalam karena sudah menyia-nyiakannya.


"Azzura ... kenapa kita harus benar-benar berakhir seperti ini?" Close menjatuhkan air matanya memandangi Azzura yang kini sudah duduk di samping Genta.


Sedangkan Yoga, ia tetap bersikap setegar mungkin walau kini hatinya benar-benar hancur melihat wanita yang dicintainya sebentar lagi akan resmi menjadi istri pria lain.


"Yoga, apa kamu baik-baik saja?" tanya Radit dan Farhan sambil mengelus punggung dan pundaknya.


Ia hanya mengangguk pelan dengan senyum yang dipaksakan.


Beralih ke Genta dan Azzura, kini sedang berhadapan dengan pak penghulu yang akan menikahkan keduanya.


"Nak Genta Pramudya Dirgantara, apa kamu sudah siap menghalalkan Nak Azzura Zahra sebagai istrimu?" tanya pak penghulu.


"Insha Allah, saya sudah siap lahir batin, Pak," jawabnya lantang.


Setelah itu pak penghulu menjabat tangannya lalu berkata, "saudara Genta Pramudya Dirgantara, saya nikahkan dan kawinkan Azzura Zahra dari putri almarhum Muhammad Fadil kepadamu dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Azzura Zahra dengan mahar yang telah disebutkan dibayar tunai." Dengan sekali tarikan nafas Genta mengucapkan janji suci pernikahan itu dengan suara lantang dan tegas.


Begitu selesai ia mengucap ijab qobul, suara para saksi pun mulai terdengar.


"Sah."


"Sah."


"Sah."


Diiringi rasa haru yang luar biasa, Azzura meneteskan air mata bahagia sekaligus sedih. Sedih karena untuk yang kedua kalinya orang tuanya tak menyaksikan ia menikah.


Sebelum memasang cincin di jari manis istrinya Genta memegang puncak kepala istrinya seraya berdoa, "Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira maa jabaltaha alaihi, wa a'udzubika min syarriha wa syarri maa jabaltaha alaihi."


Artinya: Ya Allah, aku memohon darimu kebaikan istriku dan kebaikan dari tabiat yang kau simpankan pada dirinya. Dan aku berlindung kepadamu dari keburukan istriku, dan keburukan dari tabiat yang Kau simpankan pada dirinya.


Setelah itu Genta mengecup kening istrinya cukup lama lalu memasangkan cincin nikah di jari manisnya.

__ADS_1


"Sayang, terima kasih karena telah memilihku sebagai imammu."


...----------------...


__ADS_2