Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
135. Final ...


__ADS_3

Selama tiga hari berada di pulau B, Azzura dan Genta benar-benar memanfaatkan waktu mereka dengan membawa anak-anak mereka ke tempat-tempat wisata menarik di pulau B.


Termasuk memperkenalkan mereka akan seni dan budaya di pulau itu. Setelah puas menjelajah keindahan pulau B, akhirnya mereka kembali lagi ke kota M karena masa cuti Genta telah habis.


Meski hanya sebentar bisa quality time penuh dengan anak istrinya, baginya itu sudah cukup membuatnya puas.


Tak ada yang bisa membuatnya merasakan kebahagiaan melainkan bisa meluangkan waktunya bersama dengan keluarga kecilnya itu.


Waktu terus berlalu, hari berganti minggu kemudian berganti menjadi bulan. Tanpa terasa pasca berlibur dari pulau B, kini sudah lebih empat bulan berlalu.


kesibukan baru Azzura sebagai ketua di PIA menggantikan ketua yang sebelumnya membuat ia ikut disibukkan dengan berbagai kegiatan di persatuan itu.


Seperti yang terjadi hari ini, ia baru saja pulang menemani Genta menghadiri kegiatan sosialisasi di beberapa daerah.


Meski lelah, namun ia tetap semangat. "Haaah, lelahnya," keluhnya yang saat ini sedang berbaring di atas ranjang sambil memejamkan matanya.


"Sayang, maaf sudah merepotkanmu hari ini. Mau bagaimana lagi itu sudah menjadi tugasmu meski kamu nggak menginginkannya," ucap Genta lalu terkekeh.


Azzura hanya bergeming lalu merubah posisinya menjadi duduk. "Saat ayah masih hidup, ibu seperti ini juga," kata Zu lalu melepas hijabnya.


"Hmm ... apalagi ayah seorang jenderal. Jadi kamu sudah tahu seperti apa ibu waktu itu," balas Genta. "Sebaiknya kamu mandi dulu, soalnya ini sudah sore.


"Iya, Mas," sahut Zu dengan patuh.

__ADS_1


"Atau begini saja, kita mandi bareng saja. Ngomong-ngomong biar hemat waktu," saran Genta dan langsung ditolak mentah-mentah oleh Zu.


"Nggak ah! Aku tahu apa yang ada dalam benak pikirannya Mas. Pasti ...." ucapan Azzura langsung terputus saat Genta menyela cepat.


"Ayolah, Sayang ... ini bahkan sudah lewat empat bulan, masa kamu tega membuat mas puasa. Kapan Fattah Faatih mau punya dedek lagi jika kamu masih menolak," keluh Genta.


"Nanti aku pikirkan lagi," elak Zu lalu cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi.


Sepeninggal Azzura, Genta langsung tertawa menatap wajah panik sang istri barusan.


"Hahahaha ... gemes banget lihat wajah paniknya. Mana pake menawar lagi," gumam Genta lalu membaringkan dirinya di atas ranjang.


Tak lama kemudian, Genta kembali mendudukkan dirinya lalu memilih ke ruangan santai yang masih berada di lantai dua tak jauh dari ruangan kerjanya.


Ia langsung tersenyum lalu menghampiri Fattah Faatih yang sedang tertawa nyaring karena digoda oleh sang kakak.


"Abang, dedek rewel nggak?" tanya Genta lalu meraih putranya sambil memangku keduanya.


"Nggak, Yah. Dedek nggak rewel kok, dedek pintar, Yah. Benar kan kak Ayya." Devan melirik ke arah sang kakak yang hanya mengangguk pelan.


Tak lama berselang Azzura ikut bergabung dengan anak dan suaminya. Ia pun duduk di sebelah Genta lalu meraih Faatih dari pangkuan suaminya.


"Sudah?" tanya Genta dengan seulas senyum.

__ADS_1


"Iya, Mas," jawab Zu lalu memberi ASI pada baby Faatih. "Payu*daraku sakit, Mas soalnya hampir seharian nggak memberi ASI pada si kembar ini," keluh Zu.


Meski usia baby F sudah empat bulan, namun ASI Azzura masih saja banyak. Ia juga bersyukur karena bisa memberi ASI pada bayinya meski keduanya harus dibantu dengan susu formula saat Zu ada kegiatan di luar.


"Sayang, terima kasih sudah melahirkan buah cinta kita ini. Jika berkenan mas masih ingin menambah satu lagi," kata Genta seraya mengecup singkat keningnya.


"Insyaallah, Mas," jawab Zu lalu mengelus lengannya. "Maaf jika selama ini mungkin aku agak egois. Itu karena aku masih takut Mas," aku Zu.


"Kan nggak sakit, tinggal dinikmati saja kok, takut," bisik Genta menggoda lalu terkekeh.


"Hmm ... sakarepmu lah, Mas," gemas Zu.


Keduanya sama-sama tertawa sambil memandangi Devan dan Ayya yang masih betah duduk bersama merek sambil mengajak adiknya mengobrol meski belum mengerti kecuali tertawa.


Keluarga kecil itu terlihat bahagia meski harus melewati beberapa drama yang cukup menegangkan sekaligus menguras otak.


Namun karena rasa sayang, cinta, dan kepercayaan yang kuat antara Azzura dan Genta, akhirnya mereka bisa melewati semuanya.


Dan kini semua buah dari kesabaran keduanya membuahkan sebuah kebahagiaan yang hakiki.


SELESAI


...----------------...

__ADS_1


Part Genta dan Azzura selesai sampai di sini ya guys. Thanks sudah setia mengikuti kisahnya.


Kita lanjut di part 2 kisah Yoga. Jangan khawatir Genta dan Azzura bakal nongol juga di part dua.🙏,🙏🙏


__ADS_2