
"Sayang ... kamu kenapa gelisah begini," desis Zu sambil menggendong Devan.
Bocah itu terus memeluknya dengan erat dan tampak gelisah bahkan sesekali merengek mencari Genta. Sedangkan bi Titin terlihat khawatir.
Dengan sabar Azzura terus mengelus punggung putranya membujuk dan sesekali menepuk bokongnya.
Tumben Dev gelisah begini. Mana terus mencari Mas Genta lagi? Nggak seperti biasanya dia seperti ini.
Beberapa menit kemudian, bocah tampan itu kembali tertidur dalam gendongannya. Karena sejak tadi bi Titin sudah menunggu, akhirnya ia mengajak bi Titin ke rumah baru mereka di temani dengan bu Nadirah.
********
Kini mereka sudah berada di rumah minimalis berlantai dua itu. Sambil menggendong Devan yang sedang tertidur, ia meneliti seluruh isi ruangan yang tampak sudah lengkap dengan perabotan.
Entah itu baru atau memang benda itu sudah lama berada di rumah itu.
"Nak, mulai sekarang tinggal lah di sini. Mama akan sering ke sini menemani bi Titin dan Devan jika kamu pergi mengajar," kata bu Nadirah.
"Iya, Mah," balas Zu.
Tak lama berselang, Ayya menuruni anak tangga seraya berlari kecil menghampirinya. Sesaat setelah berada di dekat Azzura, ia langsung memeluk gadis itu.
"Bundaaa ... Ayya boleh kan sering-sering menginap di sini," tuturnya.
"Boleh sayang, ini juga rumah kamu," kata Zu dengan seulas senyum.
Setelah itu mereka ke ruang tamu untuk sekedar mengobrol santai.
.
.
.
.
Apartemen Close ...
Beberapa jam berlalu sejak pertemuan tak terduga di cafe itu. Ia tampak termenung dan sesekali menyesap rokoknya.
Ting tong ... ting tong ...
Suara bel pintu seketika membuyarkan lamunannya. Ia pun segera beranjak lalu menghampiri pintu lalu membukanya.
"Tuan," sapa Fatur.
"Masuklah," kata Close lalu kembali ke tempat duduknya.
"Tuan, ini data informasi tentang gadis itu." Fatur meletakkan amplop besar itu di atas meja.
"Makasih ya, Fatur," ucapnya seraya meraih amplop itu.
__ADS_1
Fatur hanya mengangguk lalu kembali meminta izin untuk meninggalkan unit itu. Sepeninggal Fatur, Close meraih amplop itu dari atas meja.
Ia pun tampak mulai mengeluarkan isi amplop lalu membaca beberapa isi kertas berupa informasi tentang mantan istrinya itu.
Ia hanya manggut-manggut lalu mengulas senyum.
"Jadi sekarang kamu beralih profesi menjadi guru TK ya? Tadinya aku mengira jika kamu bekerja di cafe itu," desisnya.
Ia terdiam sejenak mengingat dan tampak berpikir. "Kenapa harus TK? Padahal dia bisa saja menjadi dosen, atau manager?"
Seketika ia kembali teringat saat ia dengan kejinya menginjak perut Azzura dan ingin membunuh bayi yang ada di dalam rahimnya jika gadis itu hamil. Bahkan setelah itu mengejeknya mandul.
"Azzura ... maafkan aku," lirihnya disertai air matanya yang tiba-tiba saja menetes mengingat perbuatan dan ucapan kejinya saat itu.
"Bagaimana caranya supaya aku bisa meluluhkan hatimu yang kini membatu? Aku ingin memulai hubungan kita dari nol lagi tanpa ada rasa benci dan dendam."
Sementara itu, jauh dari kota M, Tampak Yoga sedang beristirahat sambil berbaring di kamar.
Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih satu jam lewat tiga puluh menit lamanya, akhirnya ia tiba juga di kota A.
Tempat yang baru dan akan mengemban tugasnya sebagai psikolog di rumah sakit milik sepupunya.
"Rasa rindu ini terasa begitu berat. Azzura ... apakah kita nggak akan pernah bertemu lagi? Bibir ini selalu mengatakan aku sudah melupakan tapi hatiku berkata sebaliknya," lirihnya lalu perlahan memejamkan matanya.
Selang beberapa menit kemudian, Daffa yang baru saja pulang, langsung mencari keberadaan adik sepupunya itu.
"Ke mana dia?" gumam Daffa sambil melangkah menuju ke salah satu kamar yang masih berada di lantai satu rumahnya.
"Semoga kamu betah tinggal di kota ini, Yoga," desis Daffa lalu kembali menutup pintu kemudian menuju ruang santai.
"Cinta memang sangat membingungkan," gumam Daffa. "Sudah tiga tahun berlalu sejak pertemuan terakhir kita di cafemu. Kiya ... Faz? bagaimana kabar kalian sekarang?" gumamnya lagi.
.
.
.
Malam harinya ba'da isya ...
"Bi, ayo kita bawa Dev ke praktek kak Nella. Aku khawatir Bi. Sejak tadi saing, Dev terus gelisah mencari mas Genta." Tampak kekhawatiran di raut wajah Azzura.
"Baiklah, bibi ke kamar dulu," izin bi Titin.
Sambil menunggu Azzura mengelus kepala putra semata wayangnya itu lalu menggendongnya. Rasa khawatir yang ia rasakan, seketika membuatnya menangis.
"Bundaaa ... ayah ... ayah bunda ..." lirih suara Devan terus mencari keberadaan Genta.
"Sayang, ayah kan lagi tugas. Tempatnya jauh dari di sini," bisik Zu dengan suara tercekat.
Panas banget badannya. Sepertinya Dev demam tinggi. Padahal tadi pagi sebelum mas Genta meninggalkan kami dia baik-baik saja. Mas Genta? Apa terjadi sesuatu padanya? Astaghfirullah ... kok perasaanku semakin gelisah begini sih?!
__ADS_1
Tok ... tok ... tok ...
"Assalamu'alaikum."
Terdengar seseorang mengetuk pintu disertai dengan ucapan salam.
Seketika lamunan Azzura membuyar dan merasa sangat mengenal suara itu.
"Nak Zu, biar bibi saja yang membuka pintu," tawar bi Titin lalu segera menuruni tangga menuju lantai satu.
Tok ... tok ... tok ...
"Assalamu'alaikum."
"Waa'laikumsalam," jawab bi Titin sambil mempercepat langkahnya menuju pintu lalu memutar kunci. "Nak Genta," sebut bibi Titin.
"Apa kalian baik-baik saja, Bi? Azzura, Dev, mana Bi?" Ia langsung mencecar bi Titin.
Belum sempat bi Titin menjawab, suara Azzura seketika membuat keduanya langsung mengarahkan pandangannya ke arahnya.
"Mas Genta? Bukannya Mas ..."
"Masih berada di markas pelatihan?" sambung Genta dengan cepat lalu menghampirinya. "Sejak siang tadi perasaanku nggak enak memikirkan kalian," jelasnya.
Alisnya seketika bertaut menatapnya yang sedang menggendong Devan lengkap dengan tasnya.
"Zu ... kalian mau ke mana?"
"Aku dan bi Titin barusan ingin ke tempat praktek kak Nella," jawab Zu dengan mata berkaca-kaca lalu mengelus punggung putranya.
"Apa Dev sakit?"
Azzura hanya mengangguk lalu menyeka air matanya.
"Ya sudah, ayo aku sekalian antar ke sana," ajaknya dan ikut merasa khawatir. "Bi ... bibi di sini saja ya."
"Baiklah. Kalian hati-hati ya, Nak," sahut bi Titin.
Sepertinya Nak Genta baru saja tiba. Bahkan pakaian dinasnya belum diganti. Padahal jarak dari markasnya tugas lumayan memakan waktu untuk sampai ke sini.
"Kenapa kamu nggak bilang, jika Dev sakit tadi siang?" cecar Genta sesaat setelah keduanya berada di dalam mobil.
Azzura hanya menunduk sambil menatap wajah putranya yang sedang tertidur dalam dekapannya.
"Zu," tegur Genta lagi.
"Maaf ... aku hanya nggak ingin menganggu tugas Mas Genta," akunya masih sambil tertunduk.
Genta menghela nafasnya lalu meliriknya dan Devan. Setelah itu, tak ada lagi percakapan diantara keduanya hingga akhirnya mereka tiba di tempat praktek spesialis anak sekaligus iparnya.
...----------------...
__ADS_1