
Keduanya masih betah berada di tempat itu hingga menjelang magrib.
"Rissa, ini sudah hampir gelap. Sebaiknya kamu pulang," perintah Yoga.
Rissa hanya mengangguk pelan lalu kemudian berpamitan. "Ya sudah, aku duluan."
"Ayo ... aku antar sampai ke mobilmu?" tawar Yoga lalu berjalan bersamanya hingga langkah keduanya terhenti di samping mobil gadis itu. "Masuklah, hati-hati dijalan."
"Ya ... sekali lagi makasih ya," ucap Rissa dan dijawab dengan anggukan oleh Yoga.
Setelah memastikan kendaraan Rissa mulai menjauh meninggalkanya, Yoga menghampiri mobilnya.
"Semoga dia baik-baik saja. Meski sudah dua tahun berlalu, bayang-bayang kejadian itu pasti belum sepenuhnya hilang begitu saja," gumam Yoga sesaat setelah duduk di kursi kemudi. "Dia termasuk wanita yang kuat. Jika wanita lain, bisa dipastikan mereka akan mengakhiri hidupnya."
Yoga menghela nafas pelan sambil bersandar di sandaran kursi kemudi kemudian memejamkan matanya.
Larut dengan pikirannya sendiri sambil mengingat tatapan mata gadis blasteran itu yang terlihat sendu.
"Aku berharap para pelaku itu membusuk dipenjara. Mereka nggak pantas menghirup udara bebas," gumam yoga dengan perasaan geram.
Tak lama berselang, ponselnya bergetar. Ia pun merogoh saku celananya lalu menatap layar kontak yang memanggil.
"Syakila?!" sebutnya dengan lirih lalu menjawab panggilan dari gadis itu.
"Assalamu'alaikum, Sya. Ada apa?" tanyanya.
"Waa'laikumsalam ... Yoga, bisa tolong jemput aku nggak? Di simpang jalan xxx, mobilku mogok," pinta Sya dari seberang.
"Baiklah," kata Yoga lalu memutuskan panggilan.
Karena tak ingin terjadi sesuatu pada gadis itu, tanpa pikir panjang, ia pun segera tancap gas melajukan kendaraannya menuju tempat tujuan.
__ADS_1
Entah mengapa ia merasa parno sejak mendengar kisah memilukan dari Rissa. Apalagi Bram masih gencar mengejar Syakila setelah gadis itu memilih mengakhiri hubungan pertunangan mereka.
"Syakila harus hati-hati. Jangan sampai kejadian yang menimpa Rissa terjadi juga padanya," gumam Yoga.
Ia semakin menambah kecepatan laju mobilnya
agar segera tiba di tempat tujuannya. Sempat mengalami drama macet selama beberapa menit, akhirnya ia tiba juga di simpang jalan xxx.
"Sya!!" panggil Yoga sesaat setelah turun dari mobil lalu menghampirinya.
"Yoga," sahut Sya.
"Apa kamu sudah menghubungi petugas derek?" tanya Yoga.
"Sudah," jawab Sya.
"Ya sudah, ayo aku antar pulang," ajak Yoga dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Syakila.
Sesaat setelah masuk ke dalam mobil, Yoga mulai melajukan kendaraannya itu membelah jalan kota.
"Yoga ...?"
"Hmm ...?"
"Ada apa? Kok nggak biasanya kamu diem?" tanya Sya sekaligus membuka suara.
"Nggak apa-apa, aku hanya sedikit khawatir padamu. Sya ... jika aku boleh sarankan, sebaiknya kamu lebih hati-hati pada Bram. Soalnya dia masih saja nekat mengejarmu," tegas Yoga.
"Bukan maksudku untuk menakut-nakuti dirimu. Biasanya pria nekat sepertinya bisa saja menjadi kalap mata," pungkas Yoga.
Syakila hanya bergeming sekaligus membenarkan ucapan Yoga.
__ADS_1
Setelah mengendara kurang lebih hampir satu jam lamanya, akhirnya keduanya tiba juga di kediaman gadis itu.
"Makasih ya, Yoga," ucap Sya lalu membuka pintu mobil.
"Sama-sama, Sya. Jika kamu butuh tumpangan besok, jangan sungkan untuk menghubungiku. Aku akan menjemputmu," pesan Yoga lalu tersenyum.
"Baiklah," balasnya lalu menutup pintu mobil. Setelah memastikan mobil itu menjauh, barulah Syakila melanjutkan langkahnya menuju pintu rumah.
Sedangkan Yoga kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju apartementnya. Sebelum tiba di apartemennya, Yoga terlebih dulu singgah membeli makanan di salah satu restoran.
Sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan perjalanannya hingga sampai di parkiran apartemen.
Beberapa detik kemudian, ia kembali melanjutkan langkah kakinya menuju lift. Baru saja ia akan melangkah masuk ke elevator itu, secara bersamaan Bram juga menyusul.
Begitu pintu lift tertutup keduanya sama-sama bergeming tanpa ada yang mengeluarkan suara. Entah mengapa Yoga merasa jengah dengan pria blasteran itu.
Dan hampir di setiap hari pula mereka selalu bertemu secara tak sengaja di dalam satu lift. Keduanya larut dengan pikirannya masing-masing hingga elevator yang membawa Yoga dan Bram berhenti di lantai unit Yoga.
Tanpa banyak kata, Yoga langsung melangkah keluar.
"Menyebalkan! Kenapa juga aku sering bertemu dengan manusia purba satu itu," gerutu Yoga lalu melanjutkan langkahnya hingga ia sampai di depan pintu unitnya.
Sementara itu, Rissa yang sejak tadi sudah tiba kediamannya, kini tampak jauh lebih fresh setelah membersihkan tubuhnya sepulang dari danau buatan.
Ia yang sejak tadi sedang berdiri di atas rooftop rumahnya, tampak mendongak menatap langit yang kini sudah dipenuhi bintang-bintang.
"Entah aku harus membalas dengan cara apa kebaikan Yoga padaku. Meski momy dan daddy sudah membayarnya, namun aku juga harus memberinya sesuatu," gumam Rissa.
"Dia pria yang baik. Kata-kata nasehatnya kala itu, langsung membuat mataku seketika terbuka lebar dan mulai bangkit dari keterpurukan. Dia memang benar, dibayang-bayangi dengan masa lalu yang kelam itu sangat nggak enak."
"Terima kasih Yoga. Berkat dirimu, kini aku bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Meski perasaan takut dan was was itu masih ada. Namun berkat nasehatmu memintaku melawan perasaan takut itu, sedikit demi sedikit mulai terkikis tipis-tipis."
__ADS_1
Rissa terus larut dengan pikirannya mengenang kebaikan Yoga. Sikapnya yang sabar dan lebih banyak mengayomi dirinya sedikit banyak membuatnya mengagumi akan sosoknya.
...----------------...