Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
132. Beda level ...


__ADS_3

Setelah memastikan sus Mimi ke kamar baby F, bi Titin langsung menghampiri Genta dan Edi. Begitu ia mendaratkan bokongnya di samping Genta, bi Titin langsung terkekeh lalu mengarahkan pandangannya ke arah Edi.


"Ada apa sih, Bi?!" protes Edi setelah mendapat tatapan penuh arti dari bi Titin.


"Nak Edi, apa kamu sudah memiliki pacar?" cecar bi Titin tiba-tiba.


Genta langsung melirik wanita paruh baya itu dengan alis yang saling bertaut.


"Memangnya kenapa, Bi?!" tanya Genta keheranan lalu tersenyum tipis. "Gini nih, kalau kelamaan menjanda," ledek Genta lalu terbahak.


"Huushh ... meski bibi sudah lama menjanda, nggak mungkin lah bibi mau sama nak Edi," protes bi Titin lalu mencubit lengan Genta.


"Lalu ...?" Genta sedikit penasaran.


"Bagaimana jika Nak Edi mencoba menjalin hubungan dengan sus Mimi," saran bi Titin.


Edi memutar bola matanya dengan malas sambil geleng-geleng kepala.


"Sepertinya bi Titin ketinggalan info deh. Aku sudah memiliki tunangan, Bi. Insyaallah ... jika nggak ada halangan bulan depan kami akan menikah," jelas Edi lalu terkekeh.


"Bibi mengira jika kamu masih single, jadi nggak apa-apa tuh saling kenal dengan gadis itu," timpal bi Titin. Ia lalu melirik Genta. "Baguslah Nak Genta akan mengembalikan ulat keket itu ke habitat asalnya."


Mendengar bi Titin menjuluki sus Mimi dengan julukan ulat keket, Genta dan Edi langsung tertawa.


Sedangkan sus Mimi yang kini masih berada di dalam kamar, tampak sedang menyusun pakaiannya ke dalam tas.


"Sialan!! Padahal aku sengaja memakai gaun tidur itu untuk memancingnya saat masuk ke kamar ini tadi. Tapi dia malah nggak muncul! Yang muncul malah istrinya! Menyebalkan!"


Sus Mimi menggerutu kesal sambil merapikan pakaian dan tasnya yang kini sudah rapi. Setelah itu ia pun meninggalkan kamar baby F lalu melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.


Sesaat setelah berada di lantai satu, ia pun memanggil Genta, Edi dan bi Titin.


"Pak, Bi Titin, saya sudah siap."


"Hmm." Genta hanya berdehem tanpa melihatnya. "Edi ... kalian berangkatlah sekarang. Pastikan kamu mengantarnya hingga ia benar-benar berada di yayasan penyalur jasa baby sitter," perintah Genta.


"Baik, Pak!" kata Edi dengan suara lantang sambil menunduk takjim. "Sus, mari ..." Ia mempersilakan sus Mimi melanjutkan langkahnya.


Sebelum gadis itu melanjutkan langkahnya, bi Titin menghampirinya lalu menjabat tangannya sebagai tanda perpisahan.


Sedetik kemudian ia membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu. "Makanya jadi perempuan itu jangan kegatelan. Sampai-sampai majikan sendiri mau digodain. Kamu pikir nak Genta tertarik dengan gadis sepertimu? Sebaiknya kamu berkaca dulu. Kamu dan nak Azzura beda level."


Wajah sus Mimi langsung memerah. Malu sekaligus kesal tak terima mendengar sindiran pedas dari bi Titin.


"Sus ... ayo, nanti kita terlambat," desak Edi.


"Sana pergi! Lain kali jika ingin menjadi pelakor mikir-mikir dulu lalu lihat-lihat orangnya. Karena nggak semua laki-laki bisa langsung tergoda pada seorang wanita," pungkas bi Titin lalu berlalu meninggalkanya dengan perasaan puas.


Sus Mimi melirik Genta sejenak yang terlihat santai sambil meneguk kopinya. "Sial! Bahkan menatapku saja dia enggan," gerutunya dalam hati lalu melanjutkan langkahnya menyusul Edi yang kini sudah berada di dalam mobil.


Sedangkan Genta yang masih betah duduk di sofa ruang tamu langsung mengulas senyum merasa lega.


"Alhamdulillah ... akhirnya masalah ini kelar juga," gumam Genta. "Maafkan mas, Sayang. Hampir saja keluarga kita dibuat berantakan gara-gara gadis itu. Mas bisa gila jika sampai kamu meninggalkan mas dengan membawa anak-anak kita."


.


.

__ADS_1


.


.


"Nanda, sebaiknya kita ke rumah momy Lio dulu," pinta Zu.


"Baiklah. Jangan bilang kamu kangen sama Close."


"Cih! Siapa juga yang kangen padanya," decih Zu.


Nanda terkekeh mendengar decihan sahabatnya itu. "Aku hanya bercanda, Zu. Ngomong-ngomong mobilmu di depan rumah mau diapain, Zu? Sudah empat tahun mobil itu menjadi pajangan. Apa sebaiknya di jual saja?"


"Mau dijual gimana? Kuncinya sudah aku kembalikan pada Close," timpal Zu.


"Siapa bilang? Kuncinya ada kok sama aku."


"Kok bisa?" Alis Zu bertaut dengan tatapan bingung.


"Hmm, Close sendiri yang memberinya padaku saat ke rumahmu. Saat itu, pas aku dan Radit lagi di rumahmu," jelas Nanda.


"Kalau begitu, mobilnya buat kamu saja. Hitung-hitung hadiah dariku," balas Zu lalu terkekeh.


"Beneran, Zu!"


"Hmm ... jika kamu ingin menjualnya juga nggak apa-apa. Duitnya bisa kamu jadikan uang muka untuk beli mobil yang baru," saran Zu.


"Zu apa kamu serius? Nggak bercanda kan?!"


"Beneran, lagian untuk apa juga mobil itu untukku. Orang aku nggak tinggal di sini. Sayang jika nggak kepake. Pokoknya terserah kamu pengen apakan mobilnya," pungkas Zu.


**********


Setelah membaringkan kedua putranya ke dalam stroller, ia pun mengajak Nanda dan anak-anak menuju pintu utama.


"Assalamu'alaikum ..." ucap Zu lalu memencet bel pintu beberapa kali.


Tak lama berselang seseorang menjawabnya dari dalam rumah kemudian membuka pintu.


"Waa'laikumsalam."


"Non Azzura," sapa ART momy Lio dengan seulas senyum. "Ayo masuk, Non," ajaknya.


"Terima kasih, Bi," ucap Zu lalu mengajak Nanda dan anak-anaknya masuk ke dalam rumah sambil mendorong stroller baby F.


Gisel yang baru saja menuruni anak tangga, lalu memekik memanggilnya. "Zu?!! Astaga ... kenapa nggak menelfon dulu sebelum ke sini?"


Azzura terkekeh. "Nggak sempat soalnya mendadak. Apa momy sedang di rumah?"


"Ada, keknya masih di kamar," jelasnya lalu berjongkok kemudian mencubit pipi baby F bergantian. "Iiih ... gemes banget," ucapnya.


Gisel memandangi Ayya, Devan dan Dita lalu menghampiri ketiganya. "Masih ingat aunty nggak?" tanya Gisel pada Ayya dan Devan.


Keduanya hanya menggeleng lalu mendongak menatap sang bunda dengan wajah bingung.


"Sayang, ini aunty Gisel, adiknya paman Close," terang Zu lalu meminta keduanya menyalami Gisel. Keduanya hanya menurut patuh.


Setelah itu Gisel mengajak mereka duduk di ruang tamu. Tak lama berselang, momy Lio pun tampak keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Saat mendapati Azzura, Nanda dan anak-anaknya berada di ruang tamu, ia langsung cepat-cepat menghampirinya.


"Sayang," sapa momy lalu duduk di sampingnya. Ia menarik pelan stroller itu lalu tersenyum lebar. "Kenapa kamu nggak mengabari momy jika kamu sudah melahirkan, Nak?"


Ia meraih Fattah dari dalam stroller lalu mengecupnya bertubi-tubi. Merasa terharu sekaligus bahagia. Matanya langsung berkaca-kaca saat menatap bayi tampan dalam gendongannya itu.


"Selamat ya, Nak. Momy turut berbahagia. Andai saja Close ..." Ucapannya terhenti karen Azzura langsung menyela.


"Momy ... jangan diingat-ingat lagi ucapan Close saat itu. Biarkanlah berlalu. Pernikahan kami hanya bisa bertahan segitu saja. Insyaallah ... Close pasti akan menemukan jodoh pengganti yang jauh lebih baik dariku."


Mendengar ucapan ex menantunya itu, Momy Lio semakin terharu lalu mengecup keningnya. Sungguh ia sangat menyayangi Azzura meski kini wanita berhijab itu sudah bukan menantunya lagi.


"Nak, kebetulan sekali kamu datang. Momy punya berita duka untukmu. Semoga kamu mau memaafkannya."


Azzura mengerutkan keningnya. "Berita duka, Mom?" tanyanya dan dijawab dengan anggukan kepala oleh momy.


"Ya, beberapa minggu yang lalu, Laura ... mantan pacarnya Close meninggal dunia karena kanker serviks. Orang tuanya sempat mendatangi momy lalu menyampaikan permohonan maafnya untuk momy dan untukmu," pungkas momy.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Roji'un."


Azzura cukup terkejut mendengarnya pun begitu dengan Nanda. Keduanya sama sekali tak menyangka jika gadis blasteran itu akan meninggal di usia muda.


Sungguh ajal itu tak memandang usia, fisik, muda ataupun tua, sehat maupun sakit. Jika sudah tiba waktunya, tak ada satupun yang bisa mencegah kematian itu datang dengan tiba-tiba.


"Laura," ucap Zu dengan lirih mengenang gadis blasteran itu. "Aku sudah memaafkannya jauh-jauh hari, Mom. Semoga dia diterima dengan baik di sisi Allah SWT. Aamiin ... Allahumma Aamiin," ucap Zu.


Obrolan mereka terus berlanjut, kehadiran Azzura bersama anak-anaknya membuat momy Lio dan Gisel sangat terhibur. Saking senangnya, momy Lio terus menggendong baby F berganti-gantian.


Cukup lama Azzura dan Nanda berada di rumah momy Lio, sebelum akhirnya mereka kembali berpamitan lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah lama Azzura.


Setibanya di rumah itu, Nanda langsung menemui baby Dion yang saat ini sedang bersama pengasuhnya.


"Sus, apa baby Dion rewel?"


"Nggak, Bu," jawab wanita paruh baya itu.


Azzura langsung teringat sus Mimi. Sedetik kemudian ia terkekeh mengingat gadis itu lalu memandangi baby sitter baby Dion.


"Sayang, kalian main di ruang santai saja, ya. Bunda ke kamar dulu," izin Zu lalu menggendong baby Faatih dan baby Fattah digendong oleh Nanda.


Keduanya menuju kamar Azzura lalu membaringkan bayi menggemaskan itu di atas ranjang.


Setelah itu keduanya duduk di sisi ranjang sambil memindai ruangan itu.


"Nanda ... ada bagusnya jika kalian tempati saja rumahku ini. Hitung-hitung kamu dan Radit bisa ngumpulin duit untuk membeli rumah baru," saran Zu.


Nanda meliriknya. Saran dari sahabatnya itu ada benarnya juga menurutnya.


"Apa nggak apa-apa, Zu?" tanya Nanda.


"Nggak apa-apa, Nan. Lagian jika kamu tinggal di sini otomatis rumah ini juga pasti terawat. Aku akan sangat senang jika kalian tinggal di sini. Lagian Dev dan Ayya nyaman bermain di sini bareng Dita," kata Zu.


"Pokoknya terserah kamu saja pengen ngapain di rumah ini. Tinggal sepuas yang kalian inginkan hingga bisa membeli rumah baru," sambung Zu lalu terkekeh.


Nanda langsung memeluknya merasa terharu. "Terima kasih, Zu. Kamu benar-benar sahabat sejati. Nggak ada duanya sahabat seperti dirimu. Mudah-mudahan anak-anak kita juga bisa bersahabat seperti kita," ucap Nanda dengan mata berkaca-kaca.


"Sama-sama, Nan. Kamu bukan cuma sahabatku melainkan sudah ku anggap seperti saudara sendiri. Susah senang, sedih semuanya pernah kita rasakan bersama," balas Zu sembari mengelus punggung sahabatnya itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2