Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
92. Berada di posisi serba salah ...


__ADS_3

Bandara Kota J ...


Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih satu jam, akhirnya Pak Prasetya dan Yoga tiba juga di Kota J.


Pun begitu di waktu yang bersamaan Genta, Ayya, Nella dan kedua anaknya kini berada di satu bandara yang sama.


Setelah menunggu beberapa hari yang baginya terasa bertahun tak bertemu dengan calon istri dan putranya itu, akhirnya ia bisa bernafas lega setelah mendapat izin dari atasannya.


"Nella, ayo ... supirku sudah menunggu kita di depan," ajaknya sembari mendorong koper mereka ke arah mobil yang telah menunggunya.


Saat keduanya hampir mendekati mobil, suara seseorang seketika menghentikan langkah kakinya mereka.


"Bang Genta, Kak Nella?!"


Mereka langsung berbalik. "Yoga, Paman?!" sahut Genta.


"Ayah, Yoga," kata Nella.


"Kakek! Paman!" pekik Novia dan Ganenra sambil berlari kecil menghampiri keduanya dengan girang.


Pak Prasetya tersenyum sembringah lalu memeluk kedua cucunya itu.


"Genta, Nella, Ayya? Baru tiba juga, Nak?" tanya pak Prasetya seraya mengelus kepala Ayya.


Keduanya hanya mengangguk sembari mengulas senyum.


"Bang, aku semobil dengan ayah saja. Abang dan Ayya langsung pulang saja. Tapi ntar sore jangan lupa main ke rumah," pesan Nella.


"Baiklah. Paman, Yoga, kalau begitu aku dan Ayya duluan ya," pamitnya.


"Baiklah, hati-hati. Sampai jumpa ntar sore ya, Bang," balas Yoga.


Genta mengangkat jempolnya. Setelah itu ia pun menghampiri supirnya yang sejak tadi menunggunya.


"Edi, langsung ke rumah ya. Aku dan Ayya pengen istirahat dulu," perintahnya.


"Siap, Pak!"


"Ayah, kenapa nggak langsung ke rumah bunda?" rengek Ayya dengan wajah cemberut.


"Sayang, nanti saja sekitar jam tiga sore ya. Boleh ya, ayah istirahat satu jam saja," bujuknya sembari mengelus kepala putrinya.


"Iya, Ayah," ucapnya menurut patuh.


.


.


.


Di dapur, Azzura dan Nanda terlihat sedang memasak sambil mengobrol. Saking lamanya keduanya tak bertemu, Nanda memilih menginap di rumah sahabatnya itu.


Terhitung sejak ia berada di kota J, sudah lima hari ia menginap sekaligus menghabiskan waktu berjalan-jalan dengan sahabat terbaiknya itu.


"Zu, apa kamu akan tinggal di sini lagi?"

__ADS_1


"Nggak, hari Minggu aku akan kembali lagi ke kota M. Soalnya aku mengajar di sana," jelasnya.


Nanda mengerutkan keningnya. "Nggak salah tuh?"


Azzura terkekeh seraya mengelus perut sahabatnya. Ia menggelengkan kepalanya.


"Nggak lah, justru aku senang banget jadi guru. Justru aku sangat menikmati peranku itu. Soalnya setiap hari aku bertemu dengan bocah-bocah mengemaskan."


"Jangan bilang kamu menjadi guru TK," tebak Nanda dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Azzura.


Keduanya kini sama-sama tertawa lucu sembari memandangi Dita dan Devan.


"Karena makanannya sudah mateng, yuk kita gabung dengan anak-anak," cetus Zu.


.


.


.


.


"Kak, langsung ke rumah Azzura ya," pinta Yoga pada Farhan.


Mendengar nama Azzura, seketika Nella langsung melirik sang adik. "Azzura?" batinnya bertanya-tanya.


"Wah ... sepertinya kamu sudah nggak sabaran ingin bertemu dengannya," ledek Farhan sambil terkekeh.


Lagi ... Nella langsung mengerutkan keningnya. Namun ia masih membisu.


"Ayah, Kak Nella, nggak apa-apa ya, kita mampir ke rumah Azzura dulu. Setelah itu kita langsung pulang," cetus Farhan sambil fokus menyetir.


"Hmm, nanti kakak juga bakal tahu kok," timpal Yoga dengan senyum sembringah.


Sedangkan sang ayah hanya manggut-manggut setuju.


Satu jam berlalu sejak dari bandara, akhirnya mobil yang dikendarai Farhan tiba juga di halaman parkir rumah Azzura.


"Mama, kok paman berhenti disini? Kenapa nggak langsung ke rumah kakek?" protes Novia.


"Nggak apa-apa, Sayang. Sebentar saja," sahut sang kakek. "Yuk kita turun."


Mereka pun turun dari mobil lalu menghampiri pintu utama. Seketika jantung Yoga langsung berdebar kencang.


"Setelah tiga tahun, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi, Zu. Rasanya aku seperti bermimpi saja," gumamnya dalam hati sembari memegang dadanya.


Menarik nafasnya dalam-dalam demi menetralkan degup jantungnya yang berdetak tak beraturan.


Sedangkan Nella ia hanya menatap bingung adik bungsunya itu.


"Assalamu'alaikum ..." ucap mereka bergantian lalu menekan bel pintu.


"Siapa ya?" tanya Zu sambil menatap Nanda.


"Sepertinya, Kak Farhan," jawab Nanda.

__ADS_1


"Biar aku saja yang membukanya," cetus Zu lalu beranjak dari ruang santai menuju pintu lalu membukanya.


"Waa'laikumsalam ..." Sejenak ia terpaku di tempat memandangi Nella, Yoga dan pak Prasetya. Dua pria yang begitu ia rindukan.


Namun membuyar saat suara Novia dan Ganenra memekik memanggilnya.


"Bundaaaa!!"


Azzura langsung berjongkok lalu menyambut kedua bocah itu masuk ke dalam pelukannya. Sedangkan Yoga, Farhan dan sang ayah mengerutkan kening.


"Kak, kapan tiba? Kenapa nggak mengabari jika kakak akan ke kota J?" cecar Zu lalu melepas Novia dan Nenra.


"Barusan," jawabnya. "Kebetulan tadi di bandara nggak sengaja bertemu ayah dan Yoga."


"Jadi kak Nella ini, ternyata putri pertama paman Pras dan bunda Fahira?"


"Paman, Yoga," sebutnya dengan lirih seraya memandangi keduanya dengan mata berkaca-kaca. "Ayo masuk lah dulu."


Sesaat setelah berada di ruang santai, Yoga terus menatapnya. Lalu beralih ke Devan yang terlihat sangat akrab dengan kedua ponakannya bahkan dengan sang kakak.


"Kalian pengen minum apa? Teh atau kopi?" tawar Zu dengan seulas senyum.


"Masih sama seperti dulu," sahut Yoga.


"Kopi pastinya," balasnya sambil terkekeh lalu mengarahkan pandangannya ke arah pak Prasetya.


"Sama seperti Yoga, Zu," timpalnya.


"Baiklah, kalau begitu kopi saja ya," putus Zu.


Sesaat setelah berada di dapur ia pun merebus air. Tak lama berselang, Nella menyusul lalu menegurnya karena merasa penasaran.


"Zu ... apa aku boleh bertanya?"


"Mau tanya apa Kak?"


"Apa kalian bertiga memang saling mengenal?" selidiknya.


"Iya Kak. Ngomong-ngomong aku baru tahu jika kak Nella ternyata putri paman Pras dan bunda Fahira," akunya.


Ia pun kembali menjelaskan hubungan yang sebenarnya antara dirinya, Yoga, pak Prasetya dan Farhan.


Tak ada satupun yang ia tutupi, semuanya ia ceritakan secara intens. Seketika Nella langsung tertunduk sekaligus merasa lemas.


Ia langsung memijat keningnya, menarik nafas dalam-dalam demi menetralkan perasaannya. Ia mengarahkan pandangannya ke arah Yoga.


Dari penuturan Azzura, ia sudah bisa menebak jika Yoga dan Azzura memiliki hubungan spesial meskipun sang adik belum pernah mengutarakan perasaannya pada gadis itu.


"Bagaimana jika Yoga tahu jika sebentar lagi Azzura akan menikah. Astaghfirullah ... jika aku tahu Yoga dan Azzura bisa sedekat itu sejak awal, aku pasti mempertemukan keduanya."


"Kak, apa kakak baik-baik saja?" cecar Zu sembari memegang pundaknya.


Nella bergeming. Entah ia harus menjawab apa. Yang jelas, saat ini ia merasa berada di posisi serba salah.


"Entahlah Zu, aku merasa nggak baik-baik saja saat ini. Bagaimana jika Genta dan Yoga tahu jika kamu adalah wanita yang sama mereka cintai. Yoga pasti akan terpukul jika tahu kenyataan, kamu dan Genta akan menikah sebentar lagi."

__ADS_1


Nella memejamkan mata lalu kembali menarik nafasnya. "Yoga ... maafkan kakak."


...----------------...


__ADS_2