Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 38 : Sepertinya ini waktu yang tepat ...


__ADS_3

"Momy?" lirihnya. " Ini bahkan baru jam sembilan lewat. Tumben momy menelfon di jam segini," gumamnya lalu menggeser tombol hijau.


"Hallo ... Momy?"


"Close, apa kamu sudah berangkat ke kantor, Nak?" tanya momy.


"Belum Mom, aku masih di rumah sakit dan baru saja akan menuju kantor," jelas Close. "Ada apa, Momy?''


"Close, kebetulan kamu belum ke kantor, momy minta tolong singgah belikan momy buah," lirih momy dari seberang telepon.


"Apa Momy lagi nggak enak badan?" tebaknya. Karena ia tahu benar jika sang momy ingin makan buah, itu artinya momy Lio sedang tidak enak badan.


"Iya, Nak," jawab momy.


"Ya sudah, aku akan langsung ke mansion setelah membeli buah," kata Close lalu mengakhiri panggilan.


Setelah itu, ia mulai melajukan kendaraannya itu meninggalkan rumah sakit.


Sementara itu, di ruangan kerja Farhan, pak Prasetya tampak berdiri menghadap kaca dengan kedua tangan yang dimasukkan ke kedua saku celananya.


Pria yang tampak sangat berwibawa itu tampak merenung sekaligus merasa geram mendengar semua perdebatan di antara putra bungsunya dengan Close.


Clek ...


Seketika lamunannya membuyar lalu membalikkan badannya kemudian mengarahkan pandangannya ke depan.


"Yoga," sebutnya dengan suara tegas khas perwira.


"Ayah," sapanya lalu menghampiri ayahnya.


"Kemarilah, Nak," pintanya seraya merentangkan kedua tangannya ingin memeluk putra bungsunya itu.


Yoga langsung mendekat lalu memeluk sang ayah dengan begitu erat, sekaligus melepas kerinduannya yang sudah berbulan-bulan tak bertemu.


Setelah itu ia melepas dekapannya lalu menyeka air matanya seraya menatap ayah.


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa semarah itu pada boss mu sendiri? Bahkan nggak segan-segan mengancamnya?" Ayah langsung memberondongnya dengan pertanyaan.


Untuk sejenak Yoga bergeming sambil mengatur nafasnya.


"Yoga, tadi kamu sempat menyebut nama Azzura dan nama itu nggak asing bagi ayah," sambung ayah menatapnya lekat.


Yoga menganggukkan kepalanya sambil mengepalkan kedua tangannya, merasa geram mengingat Close.


"Bisa jelaskan pada ayah?" pinta ayah seraya memegang kedua tangan putranya yang terkepal untuk menenangkannya.


Baru saja Yoga ingin menjelaskan semuanya pada ayah, pintu ruangan itu terdengar dibuka oleh seseorang.


Clek ...


Dari balik pintu, terlihat Farhan sedang tersenyum menatap ayah dan adiknya lalu melangkah menghampiri keduanya.


"Ayah, Yoga," sapanya lalu memeluk sang ayah.


Ayah hanya mengulas senyum seraya menepuk-nepuk punggungnya. Hatinya seketika menghangat setelah bertemu lagi dengan kedua putranya itu.


"Kapan ayah tiba? Kenapa nggak mengabari kami? Apa bunda sudah tahu jika ayah pulang tugas" cecar Farhan setelah melepas dekapannya dari sang ayah.

__ADS_1


"Iya, sebelum kemari, ayah dari rumah sakit bunda tadi. Setelah itu ayah langsung ke sini," jelas ayah dengan seulas senyum seraya merangkul kedua putranya itu. "Bagaimana dengan pekerjaan mu? Apa ada hambatan selama menangani pasien?" tanya ayah.


"Ya begitulah, Yah. Jadi spesialis bedah memang membutuhkan kesabaran ekstra. Apalagi jika harus menangani pasien yang benar-benar kritis. Aku merasa gagal, jika nggak bisa menyelamatkan nyawa pasien di meja operasi," jelas Farhan dengan hela nafas.


"Nggak apa-apa, Nak. Itu biasa terjadi. Kita bukanlah Tuhan melainkan hanya manusia biasa. Profesi dokter hanya perantara. Sebisa mungkin kita melakukan yang terbaik dengan daya upaya, namun semua yang berkehendak hanya Allah SWT," kata ayah sekaligus menyemangati Farhan sambil menepuk pundaknya. "Apapun itu, ayah bangga memiliki putra seperti kalian berdua," sambungnya dan kembali merangkul keduanya.


Ayah kembali melirik Yoga. "Yoga sepertinya kita perlu bicara secara empat mata," kata ayah.


"Woahhh ... Yah. Ada apa gerangan? Hanya Yoga saja? Kok aku nggak di ajak," sahut Farhan dengan senyum jahilnya.


"It's a matter of feelings, Farhan," kata ayah dengan seulas senyum.


"Baiklah ... yang tua lebih berpengalaman," ledek Farhan lalu terkekeh menatap ayah dan adiknya.


"Kamu ini," desis ayah lalu menyentil jidatnya. "Sebaiknya kamu mulai serius memikirkan hubunganmu dengan Aida. Ayah berharap kamu segera melamarnya," peringat ayah.


"Hmm ... tapi aku be ..." Ucapannya langsung dipotong oleh ayahnya.


"Belum siap, serius dan belum kepikiran? Begitu kan yang ingin kamu katakan," kesal ayah.


Farhan hanya terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya.


Sedangkan Yoga dan ayah memilih duduk di sofa ruangan itu.


*


*


*


*


Setelah singgah membeli buah di salah satu supermarket, Close kembali melanjutkan perjalanannya ke mansion utama.


Setelah memarkir mobilnya, alisnya bertaut saat mendapati motor istrinya dan mobil dokter Aida terparkir saling bersisian.


"Jadi itu sebabnya dokter Aida tampak buru-buru karena akan kemari?" gumamnya. "Apa Azzura sejak tadi sudah ada di sini?" gumamnya lagi.


Sedetik kemudian seringai penuh arti terbit di bibirnya. Ia pun melanjutkan langkahnya menghampiri pintu lalu masuk ke dalam rumah.


"Bi, tolong bawa buah ini ke dapur. Sekalian cuci lalu potong-potong ya, Bi. Jika sudah selesai, tolong antar ke kamar Momy," pinta Close.


"Baik, Nak Close," kata bibi lalu meraih kantong berisi buah itu dari Close.


Setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya menapaki anak tangga. Dari arah berlawanan Azzura baru saja akan turun.


Close menatapnya penuh arti, sedangkan Azzura tampak tak memperdulikan tatapan suaminya dan kembali melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.


Kenapa lidahku keluh, padahal aku ingin menegurnya.


Close membatin lalu berbalik menatap ke bawah. Melihat Azzura yang tampak sedang tersenyum ke arah bibi dan meraih kantong buah dari ART momynya.


"Bisakah senyum tulus itu kamu perlihatkan lagi padaku? Sejak aku mulai berubah, senyum itu juga sudah tidak pernah terlihat lagi untukku," gumamnya lalu membuka pintu kamar sang momy. "Momy, dokter Aida," sapanya lalu menghampiri momy yang sedang berbaring.


Momy dan dokter Aida langsung mengarahkan pandangannya ke arah Close.


"Dok, bagaimana kondisi kesehatan momy?" tanya merasa khawatir.

__ADS_1


"Momymu, sudah nggak apa-apa. Beliau demam tinggi. Selain karena faktor kecapean, di tambah lagi sekarang memang musim pancaroba. Tapi nggak usah khawatir, aku sudah memberikan suntikkan dan beberapa resep obat," jelas dokter Aida.


"Syukurlah," ucap Close dengan hela nafas lega.


"Baiklah, kalau begitu aku sekalian pamit. Jangan lupa beli tebus obatnya di apotik terdekat," kata dokter Aida sembari menyerahkan secarik kertas pada Close.


"Baiklah," sahut Close lalu mengantar dokter Aida sampai di depan pintu utama. Setelah memastikan mobilnya sudah menjauh dari mansion, ia pun kembali menapaki anak tangga menuju kamar momy.


"Momy," lirihnya lalu duduk di samping momy lalu mengecup keningnya dan menggenggam tangannya.


"Close, momy nggak apa-apa, Nak. Jangan khawatir begitu," kata momy dengan suara lirih. "Syukurlah Azzura cepat kemari lalu menghubungi dokter Aida," sambung momy lagi.


"Kamu beruntung memiliki istri sepertinya, Nak. Itulah mengapa momy sangat yakin menjadikannya sebagai menantu momy."


Close hanya bergeming mendengar ucapan momy. Lagi-lagi perasaan bersalah menghinggapi sanubarinya.


Tak berselang lama, pintu dibuka. Tampak Azzura sedang membawa nampan berisi bubur dan potongan buah.


"Momy, makan dulu ya. Biar aku suapin," tawar Zu dengan seulas senyum. Seakan tak ingin melewatkan kesempatan Close tetap duduk di samping momy. Sedangkan Azzura duduk di sisi ranjang sambil memegang mangkok.


"Ayo Mom, makan buburnya, biar Momy punya tenaga lagi dan cepat pulih," bujuk Zu lalu tersenyum menatap wajah pucat mertuanya.


Dengan patuh, momy menurut dan merasa sangat terharu dengan perhatian kecil dari sang menantu. Setelah selesai menyuapi momy dan memberinya air minum, Azzura memberi potongan buah sebagai pencuci mulut.


Semua bentuk perhatian yang diberikan Azzura pada momy, tak luput dari perhatian Close.


Selang beberapa menit kemudian mereka bertiga tampak masih berada di kamar itu.


"Close, tadi sebelum kemari kamu bilang, lagi di rumah sakit. Apa kamu habis menjenguk mertuamu, Nak," tanya momy.


"Iya, Mom," jawabnya seraya menatap Azzura.


Mendengar jawaban dari suaminya, seketika membuat Azzura khawatir dan cemas.


"Apa?!! Dia tahu dari mana jika ibu sedang dirawat? Ya Allah ... bagaimana jika dia mengancam akan menghentikan semua biaya perawatan ibu?" batin Zu. "Azzura tenanglah lagian yang membiayai semua perawatan ibu di rumah sakit itu adalah momy," batinnya lagi mencoba menenangkan dirinya.


"Aku sempat mengobrol sebentar dengan ibu, kondisi kesehatannya juga baik-baik saja. Hanya saja ibu masih terlihat pucat," sambung Close tanpa mengalihkan tatapan matanya pada istrinya.


"Syukurlah," sahut ibu lalu meraih jemari lentik Azzura. "Sayang, malam ini momy ingin kalian menginaplah barang semalam saja," pinta momy.


"Bagus mom, sepertinya ini waktu yang tepat. Malam ini kamu nggak akan bisa kemana-mana," gumam Close dalam hatinya.


Azzura mengarahkan pandangannya ke arah Close dengan tatapan benci lalu beralih lagi ke momy.


"Baiklah, Mom. Tapi izinkan aku menjenguk ibu," izinnya.


"Iya Sayang, biar Close yang mengantarmu," sahut momy.


Azzura hanya mengangguk namun dalam hatinya ia menolak.


"Ya sudah, nggak apa-apa kan, aku tinggal momy sebentar?" tanya Zu.


"Nggak apa-apa, Nak. Lagian ada bibi. Mungkin sebentar lagi Gisel akan pulang."


Azzura hanya mengangguk. Saat ia berdiri Close juga ikut berdiri lalu sengaja merangkul pinggangnya.


Sebenarnya ia ingin marah dan ingin menepis tangan suaminya, namun ia tidak mungkin melakukannya karena mereka masih berada di kamar momy Lio.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya πŸ™ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜


__ADS_2