Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bonchap 1


__ADS_3

Di salah satu danau buatan yang terdapat di kota A, sejak tadi Rissa masih betah berada di tempat itu. Ada senyum tipis yang terukir di wajah cantik gadis blasteran bermanik hazel itu.


Memandangi air danau yang terlihat sedikit bergelombang akibat terpaan angin yang berhembus sedang.


Merasakan kini hatinya yang mulai bisa berbaur dengan alam terbuka, mulai memberanikan diri untuk berinteraksi dengan sesama meski ketakutan itu masih ada dalam dirinya.


Keterpurukan dan rasa trauma yang ia alami selama beberapa tahun belakangan, kini perlahan mulai bisa teratasi berkat sang Psikolog yang masih setia mendampinginya hingga saat ini.


Dua tahun telah berlalu, banyak hal dan pelajaran berharga yang ia dapatkan dari Yoga. Selama mendampinginya tak sedikitpun pria itu mengeluh namun begitu sabar menghadapi dirinya yang kadangkala masih bersikap labil.


Setelah menjalani perawatan selama satu tahun di rumah sakit jiwa tempat Yoga bekerja, kini ia sudah mulai bisa beraktivitas seperti biasa.


Sempat berhenti mengajar sebagai seorang dosen muda di salah satu universitas ternama di kota A. Kini terhitung sudah hampir setahun ia kembali aktif mengajar di kampus tempat ia mengajar sebelumnya, sebagai dosen sastra bahasa Inggris.


Satu tahun yang lalu ...


Setelah Yoga kembali dari kota M, ia kembali menjalani perannya sebagai psikolog yang menangani Clarissa.


Keesokkan harinya, Yoga kembali menyambangi kamar Clarissa. Tak seperti sebelumnya, gadis itu kini sudah tampak lebih fresh dan rapi.


Tok ... tok ... tok ...


Mendengar suara ketukan pintu, perlahan Clarissa memutar badannya lalu menghampiri pintu kemudian membukanya.


"Yoga," sebutnya dengan lirih.


"Rissa," sahut Yoga dengan seulas senyum sambil membawa dua cup kopi capuccino yang masih hangat. "Ini untukmu ... kopi capuccino. Nikmatilah selagi hangat," tawarnya lalu menyodorkan cup itu pada Rissa. "Kata temanku, jika dinikmati selagi hangat pasti terasa nikmat. Tapi jika sudah dingin maka kenikmatannya akan terasa hambar."


"Terima kasih," ucap Rissa lalu meraih cup kopi itu.


Untuk sejenak keduanya sama-sama bergeming dan sama-sama mengarahkan pandangannya ke arah jendela kamar.


Sama-sama meneguk kopi hangat itu dalam diam. Sebelum akhirnya Yoga mengajaknya naik ke rooftop rumah sakit agar bisa menikmati keindahan sinar mentari pagi sekaligus bisa menghirup udara segar di luar ruangan.


"Rissa, jika kamu nggak keberatan apa kita bisa mengobrol di luar ruangan saja? Lebih tepatnya di rooftop rumah sakit," usul Yoga.


"Hmm ..." Gadis itu hanya berdehem sambil mengangguk pelan.


"Ayo ... ikutlah denganku," ajak Yoga lalu lebih dulu melangkahkan kakinya menuju pintu lalu disusul oleh Rissa.


Sesaat setelah berada di atas rooftop, gadis itu langsung menghirup udara segar, mengulas senyum, mengarahkan wajahnya menghadap sinar matahari lalu memejamkan matanya.


"Syukurlah ... dia sudah bisa tersenyum meski tipis-tipis. Setidaknya dia sudah mau berbicara meski terlihat masih takut-takut." Yoga membatin.


Beberapa menit kemudian, keduanya pun duduk bersisian di salah satu bangku yang terdapat di rooftop itu.


"Maaf, apa sekarang kamu merasa lebih baik? Dan bagaimana hari-harimu kemarin? Aku berharap kamu baik-baik saja," tutur Genta.


"Ya, aku baik-baik saja, terima kasih," timpal Rissa.


Keheningan kembali tercipta diantara keduanya. Sebelum akhirnya Yoga meliriknya lalu berkata, "Apa kamu sudah siap menjalani psikoterapi?"

__ADS_1


"Ya," jawab Rissa singkat.


"Tapi jika kamu merasa nggak nyaman, kita bisa lanjut lagi besok," kata Yoga.


"Aku sudah siap sepenuhnya. Aku nggak mau lagi terus terjebak dengan kejadian kelam itu. Aku ingin hidup normal lagi serta kembali menjalani aktifitasku seperti biasanya," tutur Rissa lalu meneguk kopinya.


"Yakin?!" tanya Yoga ingin memastikan.


"Ya," sahut Rissa dengan lirih disertai hela nafas.


"Baiklah, kita mulai psikoterapinya satu jam lagi. Apapun yang ada di benakmu ungkapkanlah semuanya. Jangan malu ataupun merasa nggak nyaman," kata Genta.


Satu jam berlalu ...


Seperti yang sudah mereka sepakati, kini Rissa sudah berada di ruangan Yoga. Keduanya duduk saling berhadapan.


"Rissa, jika kamu merasa nggak sanggup melanjutkan ceritamu nanti, nggak usah diteruskan. Kita bisa lanjut besok lagi," pesan Yoga.


Rissa menjawab hanya dengan anggukan kepala.


"Bismillah ... kita mulai sekarang. Ceritakanlah apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu, hingga membuat dirimu terpuruk sedemikian rupa?" seru Yoga.


Untuk sejenak, Rissa bergeming sambil mengatur nafasnya terlebih dulu. Ia lalu memegang dadanya yang seketika langsung sesak.


"Rissa, anggaplah yang ada di hadapanmu saat ini adalah kakak sekaligus sahabat terbaikmu," bisik Yoga.


"Yoga ..." ucapnya dengan suara bergetar. "Awalnya hidupku biasa-biasa saja seperti gadis normal lainnya. Menjalani aktivitas sebagai dosen dan tanpa canggung berbaur dengan mahasiswaku di kampus."


"Lalu ...?!" sambung Yoga sambil menatap gadis itu yang kini menundukkan pandangan wajahnya.


Keringat mulai bercucuran di wajah gadis itu dengan tubuh yang kini bergetar.


"Rissa, sepertinya kamu nggak baik-baik saja. Sebaiknya kita lanjut besok saja," saran Yoga karena ia tak ingin memaksa.


Apalagi melihat kondisinya kini. Seketika ia teringat akan Azzura dengan kondisi yang sama dialami oleh Rissa.


"Nggak ... aku ingin mengungkapkan semuanya hari ini juga. Sudah cukup aku memendamnya selama dua tahun terakhir," ucapnya.


Yoga mengangguk lalu memberinya sebotol air untuk menenangkannya sejenak. "Minumlah dulu lalu tenangkan diri dan perasaanmu sejenak."


Rissa mengambil botol air mineral itu lalu meneguknya hingga menyisakan setengah. Setelah meneguk air mineral itu, Rissa kembali melanjutkan ceritanya.


"Acara reunian kampus itu berjalan lancar dan khidmat. Tentu saja kami sangat senang berada di acara reunian itu. Setelah beberapa tahun, kami bisa bertemu lagi dengan teman-teman di satu jurusan yang sama, termasuk mantanku."


"Dan apa yang terjadi selanjutnya ... aku sama sekali nggak pernah menduganya. Setelah acara reunian itu selesai diselenggarakan, kami pun mulai membubarkan diri. Saat dalam perjalanan pulang, mobilku dicegat oleh beberapa orang."


"Aku dipaksa keluar dari kendaraanku kala itu. Aku enggan dan masih bertahan di dalam mobil. Bahkan aku mengunci otomatis pintu mobil agar nggak bisa dibuka dari luar. Setelah itu, aku tetap menginjak gas untuk memajukan mobilku tapi kembali dicegat oleh sebuah mobil yang tiba-tiba muncul di depan mobilku."


"Awalnya aku nggak mengenali mereka karena mereka menggunakan topeng. Tadinya aku coba bersikap tenang lalu mencoba menghubungi daddy. Karena panik ponselku terjatuh. Lalu aku menunduk ingin meraihnya kembali. Namun kaca mobilku dihantam dengan benda keras hingga pecah."


Rissa mulai terisak menjeda kalimatnya sambil memejamkan mata dengan tubuh bergetar disertai keringat yang kini semakin bercucuran di wajahnya.

__ADS_1


"Lalu ...?" tanya Yoga dengan kerutan tipis dikening.


"Pintu mobilku dibuka lalu salah satu dari mereka menarik paksa diriku lalu membawaku ke mobilnya. Sebisa mungkin aku melawan dan meronta meminta tolong tapi mulutku dibekap. Malam itu mereka menculikku lalu membawaku ke suatu tempat yang sama sekali aku nggak tahu."


Yoga bergeming, menarik nafas dalam-dalam demi memenuhi pasokan oksigen ke dalam paru-parunya.


"Aku disekap di satu ruangan gelap dan membuat aku seketika merasakan ketakutan yang luar biasa."


Tangis Rissa seketika langsung pecah memenuhi ruangan Yoga. Ia mengepalkan kedua tangannya seakan ingin membalas perbuatan para penculik.


"Yoga ... aku disekap di kamar gelap itu selama lima hari. Mereka pria bejat dan nggak pantas disebut manusia melainkan binatang. Mereka Merudapaksa diriku secara bergilir selama aku disekap."


"Aku terus memohon sambil menangis supaya mereka nggak melakukan perbuatan bejat itu lagi padaku. Tapi mereka seolah nggak perduli dan malah terus menggilirku bergantian."


"Hingga saat bantuan itu datang, aku sudah nggak mengingat apa pun. Yang aku tahu dari orang tuaku, aku sempat koma selama seminggu. Saat aku sadar dari koma, aku langsung histeris karena bayangan akan perbuatan bejat itu langsung terbayang dan memenuhi benakku."


"Lalu pelakunya?" Yoga seolah tersulut emosi. Kedua tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih.


Pikirnya, betapa bejatnya perbuatan pria yang membuat gadis itu trauma hingga membuatnya sakit mental.


"Pelakunya ada tiga orang. Mereka sudah ditangkap dan masih dipenjara saat ini. Setelah orang tuaku membuat laporan sehari setelah aku diculik. Aku nggak bisa membayangkan bagaimana perasaan dan khawatirnya momy dan daddy saat itu. Apalagi saat melihat kondisiku saat ditemukan begitu miris."


"Yang membuatku nggak habis pikir adalah sosok pelakunya. Dia mantan pacarku sendiri dan teman-temannya. Motifnya, karena dia masih dendam dan nggak menerima aku memutuskan hubungan kami."


"Clarissa Saraswati Imanuel ... maafkan aku jika memaksamu mengingat kembali kejadian memilukan itu," ucap Yoga dengan mata berkaca-kaca, berjongkok lalu menggenggam kedua jemari gadis blasteran itu.


Yoga seolah kehabisan kata-kata setelah mendengar semua penuturan dari gadis itu. Ia merasa bersalah. Namun di sisi lain, ia harus tahu supaya ia bisa memberi bimbingan dan solusi. Demi mengembalikan mental gadis itu kembali normal serta melupakan trauma akibat kejadian memilukan itu.


"Yoga ... hanya satu harapanku setelah mentalku pulih dan melupakan kejadian miris itu. Aku hanya ingin hidup tenang tanpa pendamping hidup kecuali bersama kedua orang tuanku. Aku ingin kembali fokus mengajar di kampus."


*********


Puk ... puk ... puk ....


Lamunan panjangnya seketika membuyar karena pundaknya ditepuk-tepuk oleh seseorang. Ia menyeka ai matanya lalu perlahan memutar badannya.


"Yoga ..." ucapnya lirih. "Sejak kapan kamu di situ?"


"Sejak tadi. Sejak kamu terlihat melamun dan sesekali menyeka air mata," jelas Yoga lalu berdiri di sampingnya. "Apa yang sedang menganggu pikiranmu saat ini? Apa kamu baik-baik saja?" cecar Yoga dengan alis yang saling bertaut.


Tak ada jawaban melainkan gadis itu hanya bergeming. Memejamkan matanya sambil menghirup udara dalam-dalam.


Yoga meliriknya, menatap dalam diam. Seketika ia kembali teringat Azzura kala itu. Tak langsung menjawab melainkan bergeming sembari memejamkan mata.


"Entahlah ... kenapa sikap gadis ini selalu mengingat kan aku pada Azzura," gumam yoga dalam hatinya.


Sedetik kemudian ia mengarahkan pandangannya ke arah air danau.


"Yoga ... terima kasih karena sudah sabar menjadi psikologku selama setahun di rumah sakit jiwa itu," ucapnya lirih lalu memandangnya.


"Itu sudah menjadi tugasku sebagai psikolog," sahutnya dengan seulas senyum lalu membalas tatapan mata gadis bermanik hazel itu.

__ADS_1


...----------------...


Tetap dukung terus ya karya ini, dengan memberi like, vote dan komen. Jika berkenan beri gift juga seikhlasnya. Biar author semakin semangat. 🥰😍😘👍🙏


__ADS_2