Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
126. Aku mohon beri aku kesempatan ...


__ADS_3

Sudah seminggu lamanya Azzura dan Genta harus bolak balik mengikuti agenda sidang tuntutan hak asuh anak di pengadilan agama kota M.


Meski sidang berjalan alot karena Johan sengaja mempersulit keduanya, namun Genta dan Azzura sama sekali tak gentar.


Keduanya tetap sabar mengikuti sidang itu dengan tertib dan tetap tenang. Semuanya karena demi mempertahankan Devan tetap berada dalam pengasuhan mereka.


Keduanya seolah tak rela jika Devan jatuh dalam pengasuhan Johan meski pria blasteran itu adalah ayah biologisnya.


Meski secara garis besar Johan lebih berhak atas hak asuh itu, namun Genta dan Azzura masih tetap berusaha mempertahankan argumen mereka.


Tak lupa keduanya melampirkan semua bukti-bukti. Meskipun Johan berstatus ayah biologis Devan, namun ia tak pernah melakukan perannya sebagai ayah.


Jelas saja begitu, karena selama mendiang istrinya itu hamil, melahirkan hingga menghembuskan nafas terakhir, pria itu sama sekali tak pernah melakukan kewajiban serta perannya sebagai seorang suami sekaligus ayah.


Genta dan Azzura sempat merasa geram di awal-awal sidang. Karena Johan merasa di atas angin.


Namun setelah membeberkan bukti-bukti ditambah lagi dengan kehadiran bi Titin yang telah mengungkap semua kebenarannya, seketika Johan langsung merasa ketar ketir.


Setelah melewati sidang itu dengan penuh drama dan alot selama satu Minggu lamanya, kini sidang terakhir sekaligus sidang penentuan akan kembali di bacakan di ruang sidang itu.


*******


Sejak tadi Azzura masih betah berdiri di depan kaca ruang ganti sambil menatap pantulan dirinya dari benda itu.


Ia menarik nafasnya dalam-dalam sambil memejamkan matanya demi menetralkan perasaannya yang kini sedikit getir.


"Sayang ... tenangkan dirimu. Yakinlah jika Devan akan tetap bersama kita," bisik Genta yang saat ini sedang berdiri di belakangnya sambil memeluknya.


"Sebagai seorang ibu, aku sangat khawatir, Mas. Sejak ia bayi hingga sebesar sekarang, jelas saja aku takut kehilangannya. Apalagi jika Devan berada di tangan ayah kandungnya itu," pungkas Zu.


Perlahan ia berbalik lalu memeluk Genta dengan erat.


"Aku sudah siap mendengar keputusan hakim ketua yang akan memutuskan hasil akhir sidang hari ini, Mas," bisik Zu.


Genta hanya mengangguk pelan sembari mengelus punggung istrinya. "Ayo kita berangkat sekarang," bisik Genta.


Sebelum meninggalkan rumah, Azzura dan Genta terlebih dulu ke kamar baby F. Setelah itu, pasangan suami istri itu pun meninggalkan rumah.


Sedangkan baby F, ia tinggalkan bersama baby sitter-nya. Sementara Devan dan Ayya terpaksa ditinggal di daerah M karena harus sekolah.


Kedua bocah itu tak sendiri melainkan bersama bi Titin, sang Oma dan tak lupa Genta membentengi kedua anaknya itu dengan ajudannya yang selalu siap siaga.


.


.


.


.


Pengadilan Agama Kota M ...

__ADS_1


Setibanya di halaman parkir pengadilan agama, Genta dan Azzura tak langsung keluar dari mobil melainkan saling menguatkan.


Setelah beberapa detik kemudian, keduanya pun keluar dari kendaraan roda empat itu.


"Ayo, Sayang," ajak Genta seraya menautkan jemarinya dengan sang istri.


Baru saja keduanya akan melanjutkan langkahnya memasuki gedung pengadilan, mobil Johan baru saja berhenti tepat di samping mobilnya.


Seakan enggan berdebat dengan pria blasteran itu, Genta kembali mengajak Azzura segera meninggalkan tempat itu.


Bukan tanpa alasan, Genta bisa saja hilang kendali jika berhadapan dengan ayah biologis Devan itu. Demi menghindari hal-hal yang tak bisa dihindarkan ia memilih melanjutkan langkahnya hingga berada di dalam ruangan sidang.


Sementara Johan dan sang asisten masih tampak berada di parkiran.


"Romi, ayo kita masuk. Pengacara kita pasti sudah berada di dalam," ajak Johan.


"Baik, Tuan," sahut Romi lalu menyusul Johan ke dalam gedung pengadilan.


Sesaat setelah berada di dalam satu ruangan, keduanya duduk di tempat terpisah yang telah disediakan.


Jika Genta dan Azzura terlihat santai dan biasa-biasa saja, beda halnya dengan Johan yang terlihat gelisah dan gugup.


Setelah hampir tiga puluh menit menunggu, akhirnya hakim ketua dan hakim anggota terlihat sudah memasuki ruangan pengadilan lalu duduk di tempat masing-masing.


Pun begitu dengan masing-masing pengacara pembela dan jaksa penuntut umum. Mereka pun duduk di tempat masing-masing dengan tertib.


Sekaligus akan mendengarkan putusan sidang, hasil akhir yang sebentar lagi akan dibacakan oleh hakim ketua.


"Setelah melewati beberapa sidang sebelumnya, kini kita akan sama-sama mendengar hasil keputusan akhir."


"Baik penggugat maupun tergugat, setelah mendengar hasil putusan sidang, diharapkan bisa saling berlapang dada dan menerima keputusan dari kami."


"Bismillahirrahmanirrahim ... berdasarkan Putusan Mahkamah Agung RI No. 102 K/Sip/1973 tanggal 24 April 1975 menyatakan, Berdasarkan yurisprudensi mengenai perwalian anak, patokannya ialah bahwa ibu yang diutamakan, khususnya bagi anak-anak yang masih kecil, karena kepentingan anak yang menjadi kriterium, kecuali kalau terbukti bahwa ibu tersebut tidak wajar untuk memelihara anaknya," jelas hakim ketua.


"Setelah mempertimbangkan secara seksama berdasarkan hasil dan bukti dari para saksi, kami memutuskan hak asuh dari anak yang bernama Devanka Mumtaz Darmawangsa jatuh pada ibunya Azzura Zahra," tegas hakim ketua dengan suara lantang lalu mengetuk palu sebagai tanda sah.


Tok ... tok ... tok ...


Ketukan sebanyak tiga kali dari hakim ketua seketika membuat Johan memekik protes.


"Nggak!! Ini nggak mungkin hakim ketua. Dia bukan ibu kandungnya!!" pekik Johan lalu menunjuk Azzura dan Genta dengan begitu kesalnya.


"Tenang ...! Tenang ...! Saudara Johan. Harap tenang dan tertib," kata hakim.


"Bagaimana aku bisa tenang jika keputusan ini terasa nggak adil bagiku. Aku ayah kandungnya, darah dagingnya! Sedangkan dia hanya ibu asuh bahkan tak memiliki hubungan darah pada putraku!!" pekik Johan lagi sekaligus memprotes.


Mendengar ungkapan protes dari Johan, seketika Genta mengetatkan rahangnya lalu mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ingin rasanya ia menghajar Johan detik itu juga jika tak berada di ruang sidang.


Sedetik kemudian Azzura berdiri lalu menatapnya dari jarak yang agak berjauhan dari pria blasteran itu.


"Aku memang bukan ibu kandung Devan, bukan juga darah dagingnya bahkan di tubuhnya nggak mengalir darahku melainkan darahmu," kata Zu dengan nada dingin tanpa mengalihkan pandangannya pada Johan.

__ADS_1


"Apa kamu sudah sadar? Apa kamu sudah terbangun dari mimpimu? Apa kamu masih waras?" cecar Zu masih dengan nada dingin.


Johan bungkam mendengar serentetan pertanyaan yang terlontar dari wanita berhijab itu.


"Jika iya, terimalah kenyataannya. I'ts real and not a dreams," lanjut Zu.


"Apa kamu sudah memenuhi kewajiban serta peranmu sebagai seorang suami sekaligus ayah saat itu? Jika iya, katakan padaku kapan dan di mana? Apa kamu pernah memberi nafkah pada mendiang istrimu dan putramu? Jika iya, katakan kapan, bulan berapa dan pada tanggal berapa serta tunjukkan bukti itu padaku sekarang?" sambung Zu lagi.


Johan tertunduk. Lagi-lagi pertanyaan dari Azzura membuatnya tak berkutik sekaligus mematung di tempat.


"Kenapa kamu diam?!" tanya Zu lagi. "Kamu nggak bisa menjawab kan?"


Azzura mengepalkan kedua tangannya merasa geram. Ia lalu menghampiri Johan lalu mencengkram jasnya dengan tatapan menghunus.


"Dengarkan aku baik-baik Pak Johan Claire yang terhormat!! Meski aku bukan ibu kandung dari putramu, namun ikatan batin antara aku dan putramu sangat kuat. Karena sejak lahir dia sudah terbiasa mendengar suaraku, sentuhan penuh kasih dariku meski dia nggak pernah merasakan semua itu darimu. Meski kamu ayah kandungnya," tegas Zu lalu mendorongnya dengan perasaan kesal.


"Hanya karena tergoda dengan wanita lain, kamu rela meninggalkan Nina. Asik berzina tanpa memikirkan perasaannya. Bahkan sepeserpun kamu nggak pernah memberinya nafkah. Sebagai seorang CEO dengan penghasilan milyaran, harusnya kamu malu pada Nina dan putramu."


Johan semakin menundukkan pandangannya mendengar ucapan bernada dingin yang terus terlontar dari Azzura.


"Aku ingin bertanya padamu? Kenapa kamu menikahi Nina lalu menghamilinya jika pada akhirnya kamu akan meninggalkannya?! Kenapa?!!" pekik Zu yang kini sudah tak bisa menahan emosinya.


"Ayo jawab!!! Kenapa!!! Kenapa, hah?!!! hardik Zu lalu kembali mencengkram jas Johan sambil mengguncang tubuh besar pria itu


"Pria brengsek!! Bajingan!! Pecundang!! Tahunya hanya bisa berbuat tapi nggak mau bertanggung jawab!" Azzura semakin emosi sambil terus memukul dada Johan tanpa henti.


Pria itu hanya bergeming, mematung, membiarkan Azzura memukulnya sepuas yang ia inginkan karena ia pantas mendapatkannya.


Sedangkan Genta yang sejak tadi membiarkan istrinya mencecar Johan, segera menghampirinya karena kondisi istrinya yang tak terkontrol membuatnya khawatir.


Begitu Genta mendekat, Johan langsung berlutut lalu memegang kedua kaki Genta sambil menangis.


"Genta ... maafkan aku, tolong jangan jauhkan aku dari putraku," mohon Johan sambil terisak.


"Aku mohon beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku pada Nina dan Devan. Aku mohon jangan membuatnya membenciku."


Genta menarik nafas dalam-dalam demi memenuhi pasokan oksigen ke dalam paru-paru. Sejenak ia tetap bergeming, mencoba meredam amarah yang kini masih memuncak.


"Harusnya kamu menebus kesalahanmu itu empat tahun yang lalu. Saat mata Nina masih terbuka, saat ia terbaring lemah di bed pasien, saat aku dan Azzura masih berharap kamu datang menjenguknya dan Devan di rumah sakit," ucap Genta dengan suar tercekat.


"Namun sampai di akhir ia menghembuskan nafas terakhir dan menutup matanya untuk selamanya, kamu sama sekali nggak menampakkan batang hidungmu," sambung Genta lalu menyeka air matanya.


"Sejak saat itu pula, aku membencimu dan nggak akan pernah memberimu kesempatan untuk bertemu dengan putramu. Lalu sekarang ... saat semuanya terlambat baru kamu menyesalinya."


"Kita lihat saja nanti ... aku nggak akan melarang atau mencegahmu untuk menemuinya, mengajaknya bermain serta mengambil hatinya. Namun satu hal yang harus kamu ingat ..."


Genta kembali menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembus perlahan.


"Devan hanya tahu aku ayahnya. Ibunya ada dua. Saat ia tumbuh dewasa, rasa penasarannya pasti akan mendorongnya untuk bertanya? Jika ibunya ada dua pasti dia akan menanyakan sosok ayah satunya. Dan jika itu terjadi maka .... nggak akan menutup kemungkinan dia akan mengetahui kebenarannya," tutur Genta lalu mundur teratur kemudian merangkul bahu istrinya.


"Saat itu terjadi otomatis Devan akan sangat membencimu karena telah menyia-nyiakan dirinya dan ibunya. Apakah kamu sudah siap memberi jawaban yang tepat? Aku nggak akan mencampuri masalah kalian. Tapi kamulah yang harus berusaha meyakinkan Devan agar dia bisa menerima dirimu serta memaafkanmu," pungkas Genta lalu mengajak istrinya meninggalkan ruang sidang itu.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2