Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 7 : Surat perjanjian ...


__ADS_3

Azzura tampak sedang merapikan pakaiannya ke dalam koper kecil. Pikirnya untuk apa membawa semua pakaiannya, toh dia juga akan sering-sering mampir ke rumah itu.


Setelah merasa cukup, ia pun kembali ke lantai dasar, memperhatikan seluruh sudut ruangan rumahnya. Ia mengulas senyum ketika matanya terarah ke pigura foto keluarganya.


"Ayah," lirihnya. "Aku akan setangguh dan sekuat ayah, dan tetap bersikap lembut dan patuh seperti ibu. Bukan aku tidak ingin melawan dan membalas kata-kata dan perbuatan suamiku, tapi aku harus patuh dan menurut meskipun suamiku nggak akan menghargainya," tuturnya lalu menyeka air matanya yang mulai mengalir tanpa bisa dicegah.


Dengan langkah gontai ia mendorong kopernya menuju motornya. Setelah mengunci pintu rumah ia pun meninggalkan tempat itu menuju alamat rumah baru mereka.


Sebelum benar-benar tiba di kediamannya dan Close, ia terlebih dulu mampir di salah satu danau buatan untuk menenangkan pikirannya sejenak.


"Ya Allah ... belum sehari menikah, aku sudah mendapat kekerasan fisik, bahkan jidatku masih terasa sakit akibat benturan tadi," lirih Zu seraya mengusap jidatnya yang terasa perih.


"Zu ..." Seseorang menyapanya. Ia pun menoleh ke arah sumber suara.


"Yoga ..." lirihnya.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Yoga lalu duduk di sisinya.


"Hanya ingin melihat danau, kebetulan alamat yang aku tuju lewat sini, jadi aku singgah sebentar," jelasnya dengan seulas senyum.


"Biar aku saja yang mengantarmu," tawar Yoga.


"Terima kasih, Yoga. Tapi aku bawa motor," ucap Zu. "Oh ya, apa kamu nggak ngantor? Nggak takut apa sama boss mu itu?" kelakarnya lalu tertawa.


Yoga ikut tertawa. "Ngantor, tadi baru habis bertemu klien atas perintah pak boss. Kebetulan lewat sini dan nggak sengaja melihatmu, jadi aku sekalian mampir."


"Gitu ya, nggak bohong kan? Takutnya gaji kamu bakalan di potong. Jika sudah begitu kamu nggak bisa traktir aku dong," kata Zu.


"Nggak masalah ... jika gajiku di potong pun, aku masih bisa mentraktirmu tapi hanya es seharga tiga ribuan," sahutnya.


Keduanya langsung tertawa lepas. Kesedihan yang ada di hati Azzura seketika menghilang dengan candaan Yoga.


Mereka tidak menyadari jika sejak tadi Close memperhatikan keduanya dari balik kaca mobilnya.


Ada perasaan yang sulit ia artikan ketika melihat kedekatan istri dan asistennya itu. Ia mencengkram kuat setir mobilnya, rahangnya mengetat dan tatapannya menghunus tajam ke arah Azzura dan Yoga.


Dengan emosi yang meluap-luap ia kembali melajukan kendaraannya menuju rumahnya. Sedangkan Azzura dan Yoga masih berada di bangku yang sama.


Sepuluh menit kemudian, setelah merasa perasaannya sudah membaik, Azzura pun kembali berpamitan.


"Yoga, aku lanjut pulang ya. Kembali lah ke kantor. Kapan-kapan kita bisa bertemu lagi," kata Azzura dengan seulas senyum.


"Baik lah, hati-hati ya, Zu," ucap Yoga. Namun entah mengapa ia sangat mengkhawatirkan wanita berhijab itu.


Azzura hanya mengangguk lalu meninggalkan Yoga yang masih berdiri menatapnya.


"Entah mengapa aku sangat mengkhawatirkannya. Semoga kamu baik-baik saja Zu," gumamnya sesaat setelah Azzura meninggalkannya.

__ADS_1


.


.


.


Setibanya di rumah ....


Setelah memarkir motornya di samping mobil Close, Azzura kembali mendorong kopernya menuju pintu rumah.


"Assalamu'alaikum," ucapnya lalu mengetuk pintu karena handle pintu itu menggunakan smart lock dan Azzura tidak tahu passwordnya.


Azzura mengusap tengkuknya dan berdiri di tempat, setelah pintu itu terbuka. Ia seolah tak bisa melanjutkan langkahnya ketika Close berdiri di hadapannya dan memberikan tatapan menghunus tajam padanya.


"Dari mana saja kamu, hah!!! Harusnya kamu itu sampai duluan di rumah ini sebelum aku tiba!" kata Close dengan nada satu oktaf lebih tinggi.


Bahkan tangannya mencengkeram kuat lengan Azzura sehingga lagi-lagi ia meringis.


"Walaupun aku sampai lebih dulu, aku juga nggak bisa masuk, soalnya aku nggak tahu password pintunya," jawab Zu sambil meringis.


Lagi-lagi Close tak berkutik, ia pun melepas cengkeramannya lalu menarik tangan Azzura dengan kasar menuju kamar yang akan ia tempati.


Dengan terseok-seok ia mengikuti langkah Close. Alih-alih mendapat kamar yang bagus, ia diberikan kamar yang jauh daripada layak. Bahkan lebih tepatnya seperti gudang.


"Mulai hari ini dan seterusnya, kamu akan tidur di sini. Jangan pernah masuk ke kamarku atau pun kamar yang ada di rumah ini, kecuali ..."


"Kecuali apa?" tanya Azzura.


"Kecuali kamu sudah lelah dan menyerah, maka tanda tangani lah surat perjanjian perceraian ini dan kita resmi bercerai. Tulis lah nominal uang yang kamu inginkan di cek kosong ini setelah itu ... enyah lah dari rumahku dan gunakan uang itu untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Karena aku akan menikahi Laura dan tinggal bersamanya di sini."


Bugh ...


Dadanya seperti dihantam batu.


Singgg ....


Hatinya seperti di disayat-sayat belati tajam.


Nyess ...


Luka yang tak tampak dan tak berdarah itu seperti di sirami air garam.


Sesak ...


Sakit ...


Perih ...

__ADS_1


Semuanya menjadi satu, itu lah yang di rasakan Azzura saat ini. Ingin rasanya ia menangis namun sebisa mungkin ia menahan kristal bening di pelupuk matanya itu.


Ia tersenyum sinis merasa miris, lalu menatap manik coklat suaminya sambil mengangguk dalam diamnya.


Sedetik kemudian ia pun membuka suara, "Hanya itu? Apa masih ada yang lain?" cecarnya. "Jika sudah tidak ada yang ingin kamu sampaikan lagi, silakan keluar dari kamarku. Takutnya kamu akan alergi berada di kamar sempit dan pengap ini," sindirnya dan secara tak langsung mengusir suaminya dari kamar itu.


Untuk yang kesekian kalinya, Close kembali tak berkutik dengan ucapan dari istrinya itu. Dengan perasaan geram ia pun meninggalkan Azzura dan memilih ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Sepeninggal Close, Azzura langsung mengunci pintu kamarnya lalu menumpahkan semua air matanya yang sejak tadi di tahannya. Ia terisak sambil membekap mulutnya.


Malang sungguh nasibnya. Namun demi ibunya apapun akan ia lakukan bahkan rela menderita hanya untuk melihat ibunya sembuh dan kembali sehat seperti dulu lagi.


Ia terus terisak lalu membaringkan tubuhnya di lantai kamar kosong itu hingga ia merasa lelah lalu tertidur.


Sedangkan Close yang berada di kamarnya tampak sedang menyesap rokoknya lalu menatap surat perjanjian itu beserta cek kosong.


"Aku ingin secepatnya cek ini terisi dan surat perjanjian ini segera di tanda tangani olehnya," gumamnya lalu menyimpan kertas dan cek itu di dalam laci nakas.


Ketika akan mendorong laci nakas, ia tak sengaja menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Dengan perasaan dongkol ia melepas cincin itu lalu ikut menaruhnya di dalam laci.


"Untuk apa aku memakai cincin itu, lagian aku nggak akan menganggapnya istriku melainkan orang asing," ucapnya dengan seringai sinis.


Ia pun memilih meninggalkan kamar itu, berlalu meninggalkan rumah dan memilih ke kantornya.


.


.


.


Kantor Close ....


Yoga terlihat sibuk menyelesaikan pekerjaannya dan sesekali mengecek laptopnya demi memastikan tidak terjadi kesalahan pada file berkas yang sedang ia periksa.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia pun bersandar sejenak di kursi kerjanya sambil memijat pangkal hidungnya.


Pikirannya langsung melayang memikirkan Azzura.


Khawatir ...


Satu kata itu yang sedang mewakili dan menyelimuti dirinya.


"Dari tatapan matanya, terlihat banget jika ia tertekan bahkan menyimpan kesedihan mendalam. Ia bisa menutupi kesedihannya itu dengan senyumnya. Namun tetap saja mata tidak bisa berbohong," desis Yoga.


...🌿----------------🌿...


Jangan lupa like, vote dan coment ya. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author Terima kasih ... πŸ™β˜ΊοΈπŸ˜˜πŸ₯° ....

__ADS_1


__ADS_2