Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 48 : Nggak ada yang abadi ...


__ADS_3

Satu jam kemudian, Azzura mulai merapikan alat shalatnya lalu menuju dapur. Walaupun tak yakin jika Close akan mencicipi masakannya, ia tetap membuat sarapan dan kopi untuk suaminya itu.


"Nggak ada salahnya aku membuatkannya sarapan. Di cicipi atau nggak terserah dia saja," gumam Zu.


Ia pun tampak mulai mengolah bahan masakannya lalu mulai memasak hingga mateng.


Setelah kurang lebih tiga puluh menit berkutat di dapur, akhirnya masakan sederhananya mateng juga. Ia pun menata dengan rapi lalu meletakkan kopi di atas meja makan sekaligus.


Merasa sudah cukup, Azzura kembali ke kamar ibunya lalu memesan ojol. Begitu selesai memesan ojol, ia meraih secarik kertas kemudian menulis sebuah pesan untuk suaminya.


Sebelum berangkat ke kantor, sarapanlah jika kamu berkenan. Tapi jika kamu nggak mau, tolong jangan di hambur seperti waktu itu. Biarkan saja di atas meja.


Azzura kembali ke dapur, lalu menempelkan kertas itu di depan pintu kulkas. Setelah itu, ia pun meninggalkan rumah tanpa membawa apapun kecuali beberapa lembar uang.


Tujuannya adalah ke sebuah danau buatan untuk menenangkan pikirannya. Ia terus melangkah pelan menuju pinggir jalan menunggu ojol pesanannya.


Sambil menunggu, ia tampak melamun. Sesekali ia menyeka air matanya yang tiba-tiba saja jatuh.


"Ibu ... ayah ..." lirihnya mengenang kedua sosok yang begitu ia sayangi itu. "Entah seperti apa kehidupan yang akan aku jalani nanti setelah pergi dari kota ini," lirihnya lagi.


Tin ... tin ... tin ...


Suara klakson motor menyadarkan ia dari lamunannya.


"Dengan Mbak Azzura Zahra?" tanya bang ojol.


"Iya, Bang," balas Zu. "Bang, tolong antar saya ke jalan xxx ya," pintanya.


"Siap, Mbak," kata bang ojol. Setelah itu ia pun memberikan Azzura helm. Setelah memastikan Azzura sudah naik ke atas motor, barulah bang ojol melanjutkan perjalanan ke tempat yang dituju.


**********


Pukul 07.00 pagi ...


Close tampak menggeliat, perlahan ia membuka matanya lalu meraih ponselnya.


"What?! Sudah jam tujuh?" desisnya lalu mendudukkan dirinya. Selang beberapa detik kemudian, ia pun beranjak dari tempat tidur lalu membuka tirai jendela.

__ADS_1


"Azzura?" lirihnya mengingat istrinya itu. Ia pun melanjutkan langkahnya ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Begitu selesai, ia kembali ke kamar dan turun ke lantai satu, berharap bisa melihat istrinya.


Keningnya seketika mengerut saat mendapati makanan yang sudah tertata rapi di atas meja beserta secangkir kopi.


Ia pun melangkah menghampiri meja makan lalu ingin membuka kulkas, namun terhenti sejenak saat mendapati secarik kertas tertempel di benda itu.


Close meraih kertas itu lalu membacanya.


"Zu," lirihnya.


Sekelumit ingatannya kembali berputar enam bulan yang lalu, saat dengan teganya ia menyiram kopi buatan istrinya kemudian menghambur semua makanan yang sudah di siapkan istrinya untuknya.


"Maafkan aku," lirihnya lagi lalu mencari sosok gadis berhijab itu ke semua sudut ruangan hingga ke kamar almarhum mertuanya. "Ke mana dia," desis Close.


Hingga ekor matanya tertuju ke arah ponsel istrinya yang tergeletak di atas meja nakas.


"Bahkan ponselnya dibiarkan tertinggal. Apa dia ke makam ibu dan ayah?" Close menerka-nerka.


"Ternyata masakannya enak," gumam Close lalu menyeruput kopinya. Lagi-lagi ia memuji masakan dan kopi buatan istrinya. "Nggak salah, karena dia memang kuliah di jurusan itu. Jika dia berkenan aku ingin membuka cafe untuk dikelola olehnya," gumam Close lagi.


Beberapa menit kemudian ia pun tampak bersiap untuk pulang ke rumah untuk mengganti pakaiannya.


Sesaat setelah berada di dalam mobil, Close mulai menyalakan mesin mobilnya lalu meninggalkan kediaman istrinya.


Ketika dalam perjalanan pulang, ia tampak berpikir dan masih saja diliputi rasa penasaran tentang sosok pak Prasetya.


Lagi-lagi ia menghubungi seseorang untuk mencari tahu tentang sosok pak Prasetya, sekaligus mengirim foto pria tampan paruh baya itu ke orang kepercayaannya.


Entah mengapa ia merasa jika pak Prasetya seperti memiliki perasaan yang sulit ia artikan pada istrinya itu.


"Apa yang aku pikirkan? Lalu bagaimana dengan Yoga? Dia dan Azzura juga tampak begitu dekat. Tapi tetap saja aku lebih cemburu jika Azzura bersama pria paruh baya itu," ucapnya dengan perasaan getir.


Selang empat puluh menit kemudian, ia pun tiba di kediamannya. Ia terperangah saat mendapati mobil sang kekasih terparkir di halaman rumahnya.


"Apa Laura menginap? Untungnya semalam ponsel, aku matikan," desisnya lalu menghampiri pintu rumah kemudian menekan password.

__ADS_1


Sesaat setelah berada di kamarnya, Close menghela nafasnya dengan kasar lalu berlalu ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.


Selang beberapa menit kemudian, ia pun sudah tampak rapi dan tampak buru-buru meninggalkan kamar tanpa memperdulikan Laura yang masih tertidur nyenyak.


"Beda banget dengan Azzura," gumamnya tanpa sadar kembali membandingkan istrinya dengan sang kekasih. "Tapi ke mana dia? Pagi-pagi sudah menghilang," gumamnya lagi.


Setelah itu, ia kembali mengendarai mobilnya menuju kantor.


*******


Azzura yang kini berada di salah satu danau buatan, tampak duduk di salah satu bangku yang terdapat di tempat itu.


Sejak tadi pula pandangannya terus mengarah ke arah air danau yang tampak tenang.


Sekelumit ingatannya kembali terbayang masa-masa kebersamaannya dengan kedua orang tuanya.


"Aku kangen masa-masa itu," lirihnya lalu menyeka air matanya. "Ke mana kaki ini akan melangkah, ke mana diri ini akan ku bawa. Ke mana aku akan mengabdikan diriku? Meninggalkan semua kenangan pahit di kota ini. Ya Allah ... apakah ada secercah sinar dan harapan untukku?" desisnya bertanya-tanya sendiri.


Karena sudah cukup lama ia berada di danau itu, akhirnya ia pun beranjak lalu melangkah kecil meninggalkan tempat itu.


Tujuan selanjutnya adalah ke pusara ibunya. Sambil menunggu angkot tujuan, lagi-lagi Azzura termenung karena mengingat perlakuan kasar suaminya padanya, memaki, memukul, menuduh bahkan yang paling membuatnya benar-benar sakit karena ucapan Close yang menuduhnya mandul.


Seketika ia langsung memegang perut ratanya lalu mengelus. Selang beberapa menit kemudian angkot yang ditunggunya pun berhenti tepat di depannya.


"Bang, ke TPU di jalan xxx ya," pintanya sesaat setelah duduk di dalam angkot itu


"Siap, Neng," sahut bang sopir.


Setelah kurang lebih lima dua puluh menit, akhirnya Azzura tiba juga di tempat tujuannya.


Dengan langkah pelan ia terus melangkahkan kakinya menuju pusara ibu dan ayahnya yang masih terlihat basah.


Setelah berada tepat di depan pusara itu, ia duduk berkulit lalu memeluk batu nisan pusara.


"Ibu ... ayah ..." lirihnya sambil terisak. "Nggak ada yang abadi, bahkan cinta sejati pun hanya bersifat sementara," lirihnya lagi dengan perasaan hampa.


...***************...

__ADS_1


__ADS_2