
Prasetya Hospital 2 ...
Tok ... tok ... tok ...
Yoga mengetuk pintu ruangan Dirut yang saat ini ditempati oleh sang bunda.
"Bun," sapanya setelah membuka pintu lalu menghampirinya.
"Yoga, kemarilah, Nak,' pinta bunda lalu berpindah duduk di sofa ruangan. "Bunda ingin membahas hal penting denganmu," sambung bunda.
Pasti tentang rumah sakit ini. Rasanya aku belum siap saja memikul tanggungjawab ini.
Dengan patuh ia menurut kemudian duduk di samping bundanya.
"Ada apa, Bun? Harusnya Bunda itu istirahat di rumah, apalagi ini hari minggu. Ini malah ke rumah sakit," protes Yoga. "Lagian ada kan, ada Radit jika bunda membutuhkan bantuan."
Bunda Fahira hanya mengulas senyum mendengar ucapan sang putra bungsu.
"Kali ini bunda nggak membutuhkan bantuan Radit tapi kamu," kata bunda.
Seketika alisnya bertaut. "Maksud Bunda?"
"Maksud bunda, kapan kamu mau duduk tenang di ruangan ini? Jangan berharap terus sama Radit," lanjut bunda.
Yoga menghela nafas lalu melirik sang bunda yang terlihat sedang memegang sebuah amplop besar.
"Yoga, bunda mau kamu berhenti bekerja di perusahan K.L Group. Sebaiknya kamu fokus bekerja di rumah sakit ini sebagai Psikolog sekaligus mengambil alih jabatan Dirut di rumah sakit ini," tegas bunda. "Untuk apa kamu kuliah jurusan itu jika kamu nggak melaksanakan tugasmu sebagai psikolog. Sia-sia kamu pelajari ilmu kejiwaan," tegas bunda lagi.
Yoga bergeming. "Aku sudah menduganya, lagi-lagi bunda membahas tentang hal ini. Haaa ... aku harus bagaimana?" batinnya.
"Yoga? Apa kamu mendengar bunda?" tanya bunda seraya menepuk pahanya.
"Iya, aku dengar," lirihnya dengan malas.
"Yoga, dengarkan bunda baik-baik. Sampai kapan kamu akan memberi tanggung jawab ini pada Radit. Sedangkan dia juga sibuk mengemban tugasnya sebagai dokter di rumah sakit ini," nasehat bunda. "Untuk apa kamu bekerja di perusahaan orang sedangkan rumah sakit ini membutuhkan seorang Dirut kompeten sepertimu. Tiga hari lagi ayah akan pulang dari tugasnya. Bunda harap kamu nggak mengecewakannya."
__ADS_1
Lagi-lagi Yoga bergeming dan tertunduk lesu.
Ya, Yoga merupakan seorang psikolog, namun ia hanya sesekali menerima pasien jika sang bunda membutuhkan jasanya.
Bunda, Farhan dan kakak pertamanya Fadiyah Daniela berprofesi sebagai dokter sedangkan ayah Prasetya merupakan seorang Laksdya di satuan TNI AL sekaligus seorang dokter.
Intinya keluarga Yoga rata-rata berprofesi sebagai dokter.
"Yoga, kamu mau kan, jadi pemimpin di rumah sakit ini, Nak?" tanya bunda penuh harap.
"Tapi Bun ..."
"Sayang, bunda yakin kamu bisa. Jangan kecewain bunda dan ayah. Lihat kedua kakakmu mereka bisa kan, jadi pemimpin," lanjut bunda.
"Baiklah," ucapnya pelan dan tampak pasrah.
Hening sejenak, hingga ekor matanya kembali terarah ke atas meja di mana sebuah amplop coklat yang dipegang bunda Fahira tergeletak di sana.
"Pasti bunda ingin meminta bantuanku lagi. Jika sudah ada amplop seperti itu, pasti ada pasien yang harus aku dampingi," desisnya dalam hati.
"Yoga, bunda butuh bantuan darimu untuk mendampingi pasien ini. Maksud bunda kamu harus memberi bimbingan konseling padanya," kata bunda membuka suara.
"Yoga, ini sangat privasi seperti sebelum-sebelumnya," kata bunda dan di jawab dengan anggukan kepalanya.
"Pasien ini berbeda dengan pasien sebelumnya. Dia sudah ibu anggap seperti putri bunda sendiri. Dia masih muda tapi setiap hari ia mendapat KDRT dari suaminya dan itu berlangsung hampir setiap malam. Bunda rasanya nggak tega saat melihat tubuhnya penuh dengan memar," jelas bunda. Tanpa terasa air matanya ikut mengalir membayangkan wajah Azzura.
"Kenapa dia nggak meninggalkan saja pria brengsek itu!!" geram Yoga dengan tangan terkepal. Apapun alasannya ia tidak membenarkan seorang pria main tangan pada wanita. "Pria seperti itu, pria pecundang," sambungnya dengan rahang mengetat.
"Bunda sudah menyarankan, Nak. Tapi dia masih bertahan karena ibunya," jelas bunda lalu menyeka air matanya.
Deg ...
Matanya seketika membulat sempurna lalu menatap lekat sang bunda. Ia tidak ingin menerka-nerka jika sosok yang kini ada di benaknya itu adalah Azzura.
"Apa yang Bunda maksud itu seorang gadis berhijab dan bermata indah?" tanya Yoga ingin memastikan.
__ADS_1
"Ya," jawab bunda menyakinkan.
"Keluhannya?" desis Yoga.
"Gelisah dan selalu merasa takut saat malam hari, itu karena ia sering mendapat pukulan saat ia pulang menjenguk ibunya. Bahkan saat menjelang sore dia sudah mulai gelisah," terang bunda. "Yoga ... untuk lebih jelasnya lagi, kamu bisa membaca keluhannya di amplop itu. Bahkan bukti visum yang sudah bunda ambil."
Deg ....
Lagi-lagi Yoga merasa semakin yakin jika pasien itu adalah Azzura.
"Ya sudah, bunda keluar dulu. Kamu bisa mempelajari dulu kasusnya," kata bunda lalu beranjak dari sofa lalu meninggalkannya di ruangan itu.
Sepeninggal bunda Fahira. Yoga menatap lekat amplop besar itu di atas meja. Dengan dada berdebar ia meraih amplop itu. Jika bisa, ia tak ingin jika pasien itu adalah Azzura.
Betapa kejamnya perlakuan Close pada Azzura jika sosok itu adalah benar gadis itu.
"Apa selama ini Azzura sering bertemu dengan bunda? Bahkan hal paling privasi pun ia mau bercerita masalah rumah tangganya pada bunda," desisnya lalu membuka amplop itu lalu mengeluarkan isinya lalu membaca biodata gadis itu.
Tadinya ia ingin menyangkal jika pasien itu adalah Azzura namun, kenyataannya memang seperti itu dan pasien itu memang benar Azzura.
"Azzura Zahra," lirihnya sambil membaca lembar pertama dan tampak biasa saja mengenai keluhannya selama ini hingga sampailah di lembaran yang keempat. Seketika ia mengetatkan rahangnya saat menatap hasil visum yang memperlihatkan beberapa bagian tubuh gadis itu terlihat membiru bahkan ada yang keungu-unguan.
"Bajingan!! Brengsek!!! Dasar pria pecundang!!" umpatnya lalu meremas lembaran itu dan langsung beranjak dari tempat duduknya.
Andai saja saat ini Close ada di hadapannya, mungkin ia sudah menghajar pria blasteran itu demi membalas perbuatannya pada Azzura.
"Jangan salahkan diriku jika Azzura sampai jatuh ke dalam pelukanku. Wanita sebaik dan selembut itu, tega kamu sakiti fisiknya hingga berdampak pada psikisnya. Pria Laknat," geramnya.
Seketika ia kembali teringat ucapan bu Isma enam bulan yang lalu. Air matanya langsung mengalir, dadanya seketika menjadi sesak.
"Jika ibumu tahu kenyataan ini, aku nggak bisa membayangkan seperti apa dirinya, dia pasti akan drop, Zu," ucapnya dengan suara bergetar. "Demi sebiji batu yang kamu kira berlian, kamu telah menyia-nyiakan batu berlian yang sesungguhnya. Pria laknat sepertimu memang cocok dengan wanita murahan itu."
Yoga menyeka air matanya membayangkan wajah sendu Azzura.
"Sejak awal aku sudah curiga jika pernikahan kalian ada yang nggak beres," lirihnya. "Besok aku akan mengundurkan diri dari perusahaan itu. Bunda benar, sebaiknya aku fokus bekerja di rumah sakit ini," lirihnya lagi.
__ADS_1
...πͺ΄****************πͺ΄...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ