
Genta terus menenangkan Azzura. Sambil menunggu kedatangan sang mama, sesekali ia mengecup keningnya serta mengelus punggungnya serta membisikkan kata-kata semangat.
Nyeessss ...
"Maaaas ... seperti ada yang mengalir," keluhnya sembari mencengkeram kuat pundak Genta menahan sakit di perut yang semakin terasa mules.
"Akkkhh ... Mass!!" rintihnya.
"Sayang ... Genta?" tegur sang mama sesaat setelah berada di kamar itu ditemani ayah.
"Mah! Perutku! Ssssttt ..."
Melihat keadaan Azzura yang tidak baik-baik saja, di tambah lagi saat melihat air ketubannya sudah pecah, bu Nadirah langsung memerintahkan Genta untuk segera membawa Azzura ke rumah sakit.
"Genta, padahal ini belum waktunya istrimu melahirkan," kata sang mama sesaat setelah mereka kini berada di dalam mobil.
"Mah!" Azzura memejamkan mata menahan sakit disertai keringat yang terus bercucuran di wajahnya.
"Sayang, yang sabar ya. Bertahanlah sebentar, kita akan segera ke rumah sakit," bisik bu Nadirah sambil menyeka keringat di wajah menantunya itu.
Di sepanjang perjalanan, Genta merasa sangat bersalah sekaligus sangat cemas mendengar istrinya terus meringis serta merintih.
Karena jalanan cukup senggang mereka tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di rumah sakit.
"Sayang ... bertahanlah. Kamu harus kuat demi bayi kita," kata Genta sambil menggenggam tangan istrinya mengikuti brankar pasien itu di dorong menuju ke ruangan UGD.
Genta meneteskan air mata, takut jika istri dan anak yang ada di dalam kandungan Azzura sampai kenapa-napa.
"Mah?!" Genta memeluk Bu Nadirah sambil menangis.
"Genta, tenanglah, Nak," bisik bu Nadirah sembari mengelus punggung tegap putranya.
"Aku nggak bisa tenang jika keadaan Azzura seperti itu! Aku takut, Mah!"
Sedetik kemudian ia kembali menghampiri Azzura lalu mengecup lama keningnya kemudian mengelus lembut perutnya. "Maafkan mas, Sayang," bisiknya dengan suara bergetar.
"Jangan merasa bersalah begitu, Mas," balas Zu seraya mengelus rahangnya.
Tak lama berselang dokter kandungan menyapa mereka.
"Mas Genta, Ibu," sapa dokter kandungan itu yang tak lain adalah teman Nella.
"Dokter Lyla," sahut Genta dan bu Nadirah.
__ADS_1
"Maaf, aku telat soalnya baru selesai menangani pasien," katanya lalu mengulas senyum menatap Azzura. "Maaf, aku periksa dulu," izinnya lalu dibantu oleh dua beberapa perawat.
Dokter Lyla, melirik jam di pergelangan tangannya. "Sudah jam sebelas lewat lima belas menit malam?" gumamnya lalu menatap Genta dan Azzura bergantian.
"Mas Genta. Sepertinya kami harus mengambil tindakan segera. Maksudku, istrimu harus segera dioperasi caesar. Mengingat air ketubannya sudah pecah, kami khawatir janinnya akan keracunan air ketuban. Di tambah lagi usia kandungannya yang belum cukup empat puluh Minggu," jelas Lyla.
"Nggak masalah, Lyla, yang penting istri dan anakku baik-baik saja," kata Genta sambil menggenggam jemari istrinya.
"Baiklah," balas Lyla lalu mengajak perawat untuk segera bersiap-siap menuju ruangan operasi.
Sepeninggal dokter Lyla, tak lama berselang Galuh dan Nella memasuki ruangan itu dengan raut wajah cemas.
"Bang, Mah, Azzura," sapa Galuh dan Nella bergantian.
"Bang, ini ... aku bawain kain dan perlengkapan bayi," kata Nella seraya menyerahkan paper bag itu pada Genta.
"Terima kasih, anak-anak sama siapa?" tanya mama.
"Kami titip sama ayah tadi sebelum lanjut ke sini," jawab Nella lalu menghampiri bed pasien.
Sedangkan Galuh menatap penuh selidik pada sang kakak lalu berbisik, "Bang, jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kejadian tadi."
Genta menghela nafasnya dengan kasar sambil mengangguk pelan. "Sudahlah ... sekarang bukan waktunya membahas hal nggak penting itu. Yang aku pikirkan saat ini adalah, semoga operasi Caesar Azzura berjalan lancar."
Tiga puluh menit kemudian ...
Tak henti-hentinya ia berdoa dalam hati supaya operasi caesar istrinya berjalan lancar. Tangannya terus mengelus kepala istrinya dan sesekali mengecup keningnya.
Membisikkan kalimat doa di telinganya lalu meniup ubun-ubunnya.
Semua perlakuan dan perhatian kecil itu sungguh membuat Azzura benar-benar terharu sambil meneteskan air mata.
Dalam hatinya melafazkan sebuah doa. "Hanna waladat maryama, wa maryama waladat lisaa, ukhruj ayyuhal mauluudu biqudrotil malikil ma’buudi."
Artinya: Hana telah melahirkan Maryam, sedangkan Maryam sudah melahirkan Isa. Maka, keluarlah hai anaku dengan sebab kekuasaan Allah yang disembah.
"Sayang, sebentar lagi kita akan bertemu putra twins kita. Meski mereka terlahir prematur nggak masalah yang penting kalian bertiga selamat dan sehat," bisik Genta dengan suara bergetar.
Selang beberapa menit kemudian, dokter Lyla turut memberinya semangat. Sebelum akhirnya ia menyuntikan obat bius pada Azzura lalu memulai operasi caesar itu.
Satu jam kemudian ...
Suara tangisan bayi terdengar melengking memenuhi ruangan operasi itu. Senyum Genta seketika menghiasi wajah bahagianya sambil memandangi wajah istrinya yang masih setia dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Alhamdulillah ... Sayang, apa kamu mendengarnya? Suara putra kita," bisik Genta dengan terharu.
Sedetik kemudian dokter Lyla dan seorang perawat pembantu membantu menyerahkan bayi mungil itu pada Genta dan yang satunya lagi digendong oleh dokter Lyla.
Genta tersenyum sekaligus meneteskan air mata terharu. Karena keduanya baru saja menyambut kelahiran putra kembar mereka meski terlahir prematur.
"Terima kasih, Sayang karena sudah melahirkan buah cinta kita," bisik Genta lalu membenamkan bibirnya yang lama dan dalam di kening istri tercinta.
Setelah itu, ia pun mulai mengazani kedua putranya secara bergantian, sebelum akhirnya ia kembali menyerahkannya pada perawat karena harus di masukkan ke dalam inkubator.
Sedangkan bu Nadirah, Galuh dan Nella terlihat masih setia menunggu di depan pintu ruangan operasi.
Begitu dokter Lyla keluar dari ruang operasi, ia langsung menyapa Nella, Galuh dan Bu Nadirah.
"Dokter Galuh, Nella, ibu, Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, bayinya juga sehat. Sebentar lagi istrinya mas Genta akan kami pindahkan ke kamar VIP seperti permintaannya. Bayinya akan kami tempatkan di ruangan khusus karena harus berada dalam inkubator," jelas dokter Lyla.
"Alhamdulillah ... syukurlah," ucap ketiganya dengan perasaan lega.
Tiga puluh menit kemudian ...
Kini Azzura sudah berada di kamar VIP ditemani oleh suami, mertua dan kedua iparnya.
Meski belum sadar karena masih dalam pengaruh obat bius, suaminya tetap setia berada di sampingnya.
Jemarinya tak terus bertaut dengan sang istri. Karena merasa tak tega dengan sang mama, ia meminta Galuh mengantarnya pulang.
"Mah, sebaiknya Mama pulang istirahat," pintanya. Ia lalu menatap Galuh dan Nella. "Kalian berdua juga pulanglah bareng Mama."
"Tapi, Nak ..."
"Nggak apa-apa, Mah," selanya cepat. "Besok pagi saja lagi Mama kemari bareng cucu-cucu Mama."
"Baiklah," balas mama lalu mengelus kepala menantunya kemudian mengajak Galuh dan Nella meninggalkan kamar rawat itu.
"Bang, kami pulang dulu," pamit Galuh lalu mendekatinya. "Selamat ya, Bang atas kelahiran putra kembarnya. Aku juga mau," bisik Galuh.
Genta terkekeh lalu meninju lengan adiknya karena gemas. "Sempat-sempatnya ngomong begitu. Kalau mau langsung cus sana," saran Genta sekaligus mengusirnya.
Sepeninggal mereka, Genta kembali memandangi wajah teduh Azzura. Senyumnya kembali mengembang membayangkan wajah putra kembar mereka.
"Sekali lagi terima kasih, Sayang. Akhirnya kamu benar-benar menjadi ibu yang sesungguhnya," bisik Genta.
Setelah itu, ia merebahkan kepalanya di sisi bed pasien istrinya sambil menggenggam jemarinya. Mungkin karena sudah mengantuk akhirnya ia tertidur dengan posisi duduk.
__ADS_1
...----------------...