
Dua minggu berlalu ...
Dua minggu pasca meninggalnya sang ibu tercinta, Azzura sudah mulai bisa beradaptasi dengan keadaan dan sedikit demi sedikit mulai melupakan kesedihannya.
Demi memenuhi janjinya pada sang mertua, selama dua minggu terakhir pula, dia lah yang mengelola cafe dan resto hingga momy Lio kembali sehat dan pulih.
Sedangkan Close, ia masih terus berusaha meluluhkan hati istrinya, namun Azzura tidak terlalu menanggapinya dan tetap bersikap dingin pada suaminya itu.
Hubungan pertemanan antara dirinya dan Yoga masih tetap terjalin baik. Azzura masih tetap menganggap Yoga sebagai kakaknya.
Sedangkan pak Prasetya, setelah mengetahui isi hati sebenarnya sang putra bungsu, ia lebih memilih menepis semua perasaan yang sulit ia artikan pada Azzura.
Kantor Pengadilan Agama Kota J, pukul 09.30 ...
Bertepatan dengan hari ini, diam-diam Azzura sudah memasukkan gugatan cerainya ke pengadilan agama tanpa ada satupun yang tahu.
Setelah memastikan kesehatan momy Lio sudah dalam kondisi sehat dan stabil, ia turut merasa senang dan lega. Setidaknya ia sudah bisa berbicara secara baik-baik pada mama mertuanya itu.
Begitu selesai memasukkan gugatan cerainya, kini ia sudah berada di luar kantor itu lalu melangkah pelan menghampiri motornya.
Jauh dalam sudut hatinya ia merasa senang sekaligus sedih. Sedih karena memikirkan momy Lio dan daddy Kheil. Senang karena ia bisa berpisah secara baik-baik dengan suaminya, meskipun belum tentu Close menginginkan perceraian.
Setelah duduk di atas motornya lalu mengenakan helmnya, ia pun mulai memacu roda duanya itu menuju danau buatan. Walaupun Close sudah membelikannya sebuah mobil, namun Azzura tak pernah ingin menggunakannya dan hanya membiarkan kendaraan itu terparkir di halaman rumahnya.
Bahkan kuncinya hanya ia letakkan begitu saja di atas meja. Kerasnya hatinya karena merasakan luka yang begitu dalam, membuat hatinya dan perasaan seorang Azzura seolah sudah mati rasa pada pria blasteran itu.
Sesaat setelah tiba di tempat tujuan, ia pun duduk di salah satu bangku lalu menatap air danau yang begitu terlihat tenang.
"Masya Allah ..." sebutnya lalu menarik nafasnya dalam-dalam kemudian memejamkan matanya sejenak.
"Zu."
Seseorang menyapanya lalu memegang pundaknya. Azzura perlahan membuka mata lalu menoleh ke belakang.
"Yoga," lirihnya.
Yoga mengulas senyum lalu mengitari bangku itu kemudian ikut duduk di sampingnya dan mengarahkan pandangannya ke arah danau.
"Sedang apa kamu di sini? Apa kamu nggak bekerja hari ini?" tanya Yoga.
"Ya, aku sudah izin sama momy," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari danau itu.
__ADS_1
Yoga meliriknya, menatap lekat gadis itu yang kini tampak lebih tenang. Namun entah mengapa Yoga merasakan jika Azzura menyembunyikan sesuatu.
Ketika Azzura mengarahkan pandangannya ke Yoga, mata keduanya langsung bertemu. Seketika membuat Azzura sedikit tertunduk.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu ingin mentraktirku dengan es seharga dua ribuan?" tanya Zu dengan nada bercanda demi mencairkan suasana.
Yoga langsung tertawa mendengar ucapan Azzura. Yang tadinya ia dalam mode serius, akhirnya ia tak bisa menahan tawanya.
Keduanya langsung tertawa merasa lucu, sekaligus mengenang pertemuan keduanya enam bulan yang lalu namun di tempat yang berbeda.
"Zu ... Zu ... kamu bisa saja sih?" ucapnya merasa gemas pada gadis itu.
"Oh ya, apa ayah Pras sudah kembali bertugas?" tanya Zu.
"Nggak, soalnya ayah tinggal menunggu hari saja akan pensiun. Saat ini dia lagi di luar kota bersama bunda," jelas Yoga.
Azzura hanya mengangguk lalu mengulas senyum. Keduanya kembali bergeming dan mengarahkan pandangannya ke satu arah yang sama sebelum akhirnya Yoga kembali membuka suara.
"Zu, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Yoga.
Azzura memejamkan matanya sejenak lalu menghela nafasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan sang psikolog.
"Aku hanya ingin hidup tenang, bekerja dan menghidupi diriku tanpa perlu ada yang aku pikirkan," jawab Zu.
"Aku melihat Close sedikit mulai berubah. Apakah ada kesempatan untuknya?" selidik Yoga dengan perasaan getir.
Azzura menunduk lalu menggelengkan kepalanya.
"Hanya wanita bodoh, yang akan memberi kesempatan pada pria yang dengan teganya menyakiti fisik, batin dan psikisnya. Sekalipun ia bersujud di kakiku, kesempatan itu sudah tertutup untuknya," lirih Zu dengan suara lirih dan mata yang berkaca-kaca.
Yoga bergeming. Dari untaian kata-kata Azzura, ia sudah bisa menafsirkan jika gadis bermata indah itu sepertinya sudah tidak ingin memperbaiki pernikahannya dengan suaminya.
Tanpa keduanya sadari, sejak tadi seseorang sedang merekam keduanya lalu mengirim video itu kepada Close dengan senyum sinis.
Sementara itu, Close yang sedang berada di ruang rapat, seketika mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya yang terlihat berkedip-kedip.
Namun ia hanya mengabaikan untuk sementara karena jika menyangkut dengan pekerjaan ia selalu bersikap profesional.
Satu jam berlalu, akhirnya rapat itu berakhir juga. Setelah membereskan berkasnya, ia meminta sang asisten membawa ke ruang kerjanya.
"Indra, kamu duluan saja. Aku masih ingin di sini," cetusnya.
__ADS_1
"Baik, Tuan," jawab Indra lalu meninggalkan ruang rapat itu.
Sepeninggal Indra, Close meraih ponselnya lalu membuka isi pesan Video yang dikirimkan padanya.
Rahangnya langsung mengetat sesaat setelah menonton video itu.
"Yoga!! Apa nggak ada wanita lain yang ingin ia dekati selain istriku?!!" geramnya. "Setelah ayahnya kini Yoga," geramnya lagi lalu mengepalkan kedua tangannya.
Setelah itu ia langsung menghubungi nomor Azzura dengan perasaan geram dan cemburu. Seperti hari kemarin, setiap kali ia menghubungi istrinya itu, Azzura pasti tidak langsung menjawab dan hanya membiarkannya saja.
"Azzura!!!" kesalnya lalu kembali menghubungi istrinya. Hingga di panggilan yang ke sepuluh barulah Azzura menjawab.
"Ya ... Assalamu'alaikum," ucap Zu dengan malas lalu memutar bola matanya.
Bukannya menjawab salam Azzura, Close langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
"Kamu lagi di mana? Kenapa baru menjawab panggilan dariku? Apa kamu sedang bersama seseorang?" kesalnya.
Azzura menghela nafas lalu sedikit menjauhkan benda pipih itu dari dekat telinganya karena suara bentakkan Close seolah memekakkan telingnya.
"Apa aku perlu melapor padamu jika aku sedang di mana, dengan siapa?" Zu balik bertanya.
"Ya, karena kamu istriku dan sudah menjadi tanggung jawabku," tegas Close dengan perasaan dongkol.
Azzura tersenyum sinis lalu membatin, " Sebentar lagi aku bukan istrimu melainkan akan menjadi mantan istri. Bahkan akan meninggalkan kota ini."
"Aku ingin kamu ke kantor sekarang!" perintah Close.
"Nggak bisa, aku ada urusan lain," tolak Zu lalu memutuskan panggilan, secara sepihak kemudian mengalihkannya ke mode pesawat.
"Halo ... halo ... Zu!!! Azzura!!!" panggilnya dengan begitu kesalnya, setelah sambungannya terputus.
Lagi-lagi Close semakin bertambah kesal dengan ulah istrinya itu. Entah ia harus bersikap bagaimana lagi pada Azzura. Namun tetap saja istrinya itu seperti sudah tidak memperdulikannya lagi dan tetap bersikap dingin padanya.
"Azzura," lirihnya sambil tertunduk.
Ia semakin merasakan kegetiran, gundah sekaligus hampa. Namun ulahnya jugalah yang membuat istrinya itu bersikap dingin padanya.
Andai saja dari awal pernikahan ia tidak menyakiti hati, batin, fisik dan psikis Azzura, mungkin ceritanya akan berbeda. Mungkin saja Azzura masih bisa memberinya kesempatan.
๐นAkan ada waktu ketika orang yang sabar menjadi muak, orang yang peduli menjadi masa bodoh, orang yang setia menjadi angkat kaki. Itu adalah ketika sifat sabar, peduli, dan setianya tidak dihargai.๐น
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya ๐ Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... ๐โบ๏ธ๐