Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 82: Menagih janji ...?


__ADS_3

Dua minggu berlalu sejak kejadian itu, Azzura mulai rutin berkonsultasi dengan psikolog yang telah direkomendasikan oleh Genta.


Walaupun tak bisa menemani Azzura karena tugas yang menuntut Genta, namun pria itu tetap mengikuti perkembangan mental gadis itu.


Kini tampak pria itu sedang berada di ruangan kerja Fahmi Khairil sang psikolog sekaligus temannya.


"PTSD." Sembari memberikan sebuah map berisi laporan analisis kondisi kejiwaannya dan mental gadis itu.


Seketika alis Genta bertaut lalu meraih map yang baru saja Fahmi letakkan di atas meja kerjanya.


"PTSD? Maksudmu?"


Fahmi mengangguk. "Ya. PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stres pascatrauma merupakan gangguan mental yang muncul setelah penderitanya teringat kembali akan kejadian traumatis itu. Salah satunya, ya itu, kekerasan fisik dan verbal yang dialami Azzura," jelas Fahmi.


"Selain itu, penderita PTSD juga sering kali teringat akan peristiwa yang membuatnya trauma. Bahkan, penderita merasa seakan mengulang kembali kejadian tersebut."


"Ingatan terhadap peristiwa traumatis itu juga sering kali hadir dalam mimpi buruk sehingga membuat penderita tertekan secara emosional."


"Lalu apa solusi selanjutnya? Maksudku, cara untuk menghilangkan trauma yang dialami Azzura?" tanya Genta.


"Mengingat kasus yang dialami Azzura tergolong Trauma Kronis, aku memilih psikoterapi dan memberinya obat."


"Genta, salah satu faktor yang sangat mempengaruhi gadis itu terlihat kuat adalah putranya dan putrimu," jelas Fahmi.


Ia menghela nafasnya sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Genta, jujur saja, aku salut dengan gadis itu. Apa kamu bisa bayangkan selama tiga tahun dia melawan rasa traumanya meski nggak sepenuhnya bisa hilang begitu saja? Jika orang lain yang berada di posisinya, orang itu mungkin saja mengalami depresi berat bahkan bisa gila," sambung Fahmi.


"Apa sebelumnya dia belum pernah berkonsultasi dengan seorang psikolog selain dirimu?"


"Pernah. Pak Arham Yoga Prasetya, namun tak berlangsung lama karena dia memutuskan pindah ke kota ini," pungkasnya.


Mendengar nama Yoga, seketika Genta langsung mendongak.


"Maksudmu ... Yoga adiknya Nella?"


"Ya. Dia juga seorang Psikolog Akademik."


Setelah itu, hening sejenak.


"Sepertinya kamu sangat peduli pada gadis itu? Ada apa? Apa kamu menyukainya?" cecar Fahmi lalu terkekeh sekaligus memecah keheningan.


"Menurutmu?" Ia kembali meletakkan map itu diatas meja.


"Ayolah ... jika kamu serius padanya, tunggu apa lagi ... langsung lamar saja," usul Fahmi sekaligus menggodanya.


Genta hanya bergeming namun ada senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Merasa sudah cukup lama berada di ruangan itu, ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sudah hampir jam empat sore," gumamnya lalu beranjak dari tempat duduknya. "Fahmi, aku pamit ke mushalla dulu sekaligus pamit pulang. Terima kasih ya."


"Baiklah," kata Fahmi.


******


Setelah selesai melaksanakan shalat ashar, Genta akhirnya meninggalkan rumah sakit itu. Tujuannya saat ini adalah langsung ke rumah Azzura.


Kurang lebih satu jam ia mengendara, akhirnya ia sampai juga di rumah gadis itu.


Azzura yang saat ini sedang berada di ruang tamu bersama Ayya, Devan dan bi Titin tampak sedang bermain dengan kedua bocah itu.


"Assalamu'alaikum," ucapnya.


Mendengar suara berat khasnya yang begitu mereka kenal, seketika Ayya dan Devan berhenti bermain.


"Waa'laikumsalam ... ayaaaah!" pekik keduanya seraya berlari menghampirinya.

__ADS_1


Tak ada hal yang membuatnya bahagia melainkan kedatangannya selalu disambut dengan kedua malaikat kecilnya plus senyum tulus dari gadis pujaannya.


"Pelan-pelan, Sayang nanti kalian jatuh," katanya yang kini sudah berjongkok sembari memeluk keduanya.


"Mas, baru tiba?"


"Sebenarnya sejak tadi, tapi aku mampir sebentar di rumah sakit."


Seketika kening Azzura mengerut dan tampak khawatir.


"Apa Mas sakit?" tanyanya.


Genta hanya menggelengkan kepalanya lalu mengulas senyum sambil menggendong putranya.


Ia melanjutkan langkahnya menuju ruang santai.


Setelah duduk di sofa ia kembali melepas Devan.


"Sayang, besok ayah ingin mengajak kalian ke suatu tempat."


"Yeeeeeaaaaah," pekik Ayya dan Devan sembari meloncat-loncat kegirangan.


Tingkah keduanya tentu saja membuat Genta dan Azzura tertawa.


"Memangnya, Mas mau ajak mereka ke mana? Kok cuman mereka berdua. Aku nggak di ajak nih? Culas banget," kelakarnya.


"Ajak dong, masa bundanya nggak di ajak," sahutnya dengan senyum penuh arti. "Besok kan minggu, jadi kita perginya ramai-ramai," lanjutnya.


"Sepertinya mau piknik."


"Kurang lebih begitulah," balas Genta secara ambigu.


"Ada apa sih, dengan Mas Genta? Seperti main tebak-tebakan saja," batin Zu sambil geleng-geleng kepala.


.


.


.


Pagi harinya, ia sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Devan dan Ayya. Begitu semuanya sudah rapi membawa tas itu lalu meletakkan di atas sofa.


"Sayang, nggak apa-apa ya, bunda menyusul. Kalian duluan saja dengan Oma dan kakek. Kak Ganenra dan kak Novia juga ikut kok," kata Zu.


"Iya, Bunda," jawab kedua bocah itu.


Tak lama berselang, bu Nadirah menghampirinya dengan senyum sembringah.


"Apa kalian sudah siap?"


"Siap Oma!"


Setelah itu bu Nadirah menatap Azzura seraya mengelus lengannya. Seketika hatinya tiba-tiba saja merasa sedih.


"Mah," lirihnya lalu menunduk. "Maaf, jika aku nggak sesempurna wanita lain."


Bu Nadirah langsung memeluknya. Setelah mengetahui kenyataan tentang kondisi kejiwaan gadis itu, bu Nadirah tak henti-hentinya memberi support.


"Nggak apa-apa, Sayang. Teruslah berjuang agar trauma itu segera terhapus dari ingatanmu. Ingatlah ... kami selalu bersamamu," bisik bu Nadirah lalu melepas pelukannya.


"Terima kasih, Mah."


"Omaaaa, ayooo ..." Suara Devan sekaligus memutus perasaan sedih keduanya.


"Zu, mama duluan ya. Kami akan menunggu kalian di sana," pamit bu Nadirah lalu mengajak Ayya dan Devan menuju mobil bersama bi Titin.

__ADS_1


Sepeninggal mereka seketika rumah itu langsung menjadi sepi. Ia pun kembali ke kamarnya lalu bersiap-siap karena akan ke toko kue.


"Maaf ... harus menyusul belakangan. Mau bagaimana lagi. Pesanan kue ulangtahun pelanggan harus selesai sebelum siang," desisnya.


.


.


.


Setibanya di toko kue, ia meminta salah satu karyawannya membantunya di dapur untuk mempercepat waktu.


Demi menghilangkan rasa jenuh, keduanya terlihat mengobrol santai sambil mengolah bahan-bahan kue. Tak jarang suara tawa keduanya terdengar.


Setelah kurang lebih satu jam berperang dengan bahan-bahan kue, akhirnya kue ultah pesanan pelanggan itu selesai juga.


"Mira, kuenya kamu taruh dulu di etalase dulu ya. Nanti jika pemesanannya datang, langsung taro di box," pesannya.


"Siap, Mbak."


Menjelang siang, saat ia tengah duduk di meja kasir, Genta menghampirinya lalu menyapanya.


"Zu."


Gadis itu langsung mendongak lalu mengulas senyum.


"Apa urusannya sudah beres?"


"Hmm ... ayo kita berangkat sekarang," ajaknya.


"Baiklah."


Setelah keduanya berpamitan, Genta dan Azzura meninggalkan toko kue. Sesaat setelah duduk di kursi mobil, ia melirik Genta sekilas.


"Sebenarnya tempat pikniknya di mana sih, Mas? Apa jauh?" tanyanya.


"Nanti juga kamu akan tahu," jawabnya.


Lagi-lagi dengan jawaban yang ambigu menurut Azzura tentunya. Karena sejak kemaren sore Genta sama sekali belum memberitahunya lokasi pikniknya.


"Baiklah, Pak Genta Pramudya Dirgantara," jawabnya lalu terkekeh.


Tumben-tumbennya dia menyebut nama lengkapku.


Setelah setengah perjalanan, ia kembali melirik pria itu dengan wajah yang dipenuhi tanda tanya. Hingga kendaraan itu berhenti di salah satu parkiran yang menurutnya sangat asing bagi.


"Yuk," ajak Genta dengan seulas senyum.


Tanpa banyak bicara, ia hanya menurut. "Ini kan lapangan khusus helikopter?" batinnya seraya melirik pria yang sedang berjalan bersisian dengannya.


Dan benar saja, tak lama berselang dari arah yang berlawanan keduanya langsung disambut oleh kedua pria itu.


"Pak, helikopternya sudah siap," ucap pria itu dengan suara lantang khas TNI.


Genta hanya mengangguk lalu melirik gadis yang saat ini berdiri di sampingnya.


"Ayo," ajaknya lagi dengan seulas senyum.


"Mas." Ia memegang lengan pria itu dengan alis yang saling bertaut.


"Aku tahu, apa yang sedang kamu pikirkan. Tapi sekarang aku nggak ingin dengar kata protes. Aku ingin menagih sebuah janji."


Lagi ... ucapan gamblang pria itu semakin membuatnya kebingungan.


"Menagih janji ...?"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2