
Lima bulan kemudian ...
Tanpa terasa sudah lima bulan Azzura dan Genta menjalani biduk rumah tangga. Pasca menikah, keduanya memilih tinggal di daerah M.
Azzura memilih resign dari Yayasan milik sang suami demi totalitas menjadi ibu rumah tangga. Hari-harinya ia habiskan dengan mengurus anak dan suaminya.
Namun sesekali ia juga memantau perkembangan toko kue mendiang Nina. Semua aset dan harta Nina, Azzura alihkan ke atas putranya.
Semua ia lakukan karena itu adalah hak Devan sebagai putra kandung dari Nina.
Di tengah kebahagiannya menjadi seorang istri sekaligus ibu, ada kesedihan dan kekecewaan yang ia rasakan karena sampai detik ini ia tak kunjung hamil.
Namun Genta tetap memberinya semangat dan selalu menghiburnya. Apalagi Azzura sering menyalahkan dirinya sendiri.
*****
Ketika sedang asik memandangi air kolam dari kursi santai, tiba-tiba saja Azzura teringat akan ucapan ex suaminya yang menuduhnya mandul.
Ingatannya kembali berputar saat dengan kejinya Close mendorongnya dengan keras lalu perutnya membentur ujung meja. Merasa belum puas ex suaminya itu menginjak perutnya tanpa belas kasih kala itu.
Seketika Azzura langsung terisak sembari membekap mulutnya demi meredam suara tangisannya.
Sedangkan Genta yang sedang berada di ruang kerjanya masih tampak sibuk dengan pekerjaannya.
Setelah menyelesaikan laporannya, ia pun keluar dari ruang kerjanya lalu ke kamar anak-anaknya sebentar.
Ia lanjut menuju kamarnya lalu membuka pintu kamar. Alisnya langsung bertaut saat tak mendapati keberadaan istrinya di kamar.
"Kok, nggak ada? Ke mana dia?" gumamnya lalu melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.
Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ia kembali memergoki istrinya itu sedang menangis sambil terisak.
Suatu pemandangan yang selalu membuatnya iba. Ia pun perlahan mendekatinya lalu duduk berjongkok di depannya.
"Sayang." Genta menghapus lelehan air mata istrinya lalu ikut duduk di kursi itu. Membawanya masuk ke dalam pelukannya kemudian mengelus kepalanya.
"Mas, maafkan aku," ucapnya lirih dengan tersengal.
Untuk yang kesekian kalinya ucapan kata maaf itu kembali terdengar di telinga Genta. Ia mengecup puncak kepala istrinya seraya berbisik, "Kamu nggak pernah salah, Sayang. Jadi jangan meminta maaf."
Azzura bergeming sambil mengelus dada liat suaminya lalu semakin membenamkan wajahnya di ceruk lehernya.
Genta tahu apa yang sedang istrinya pikirkan dan yang ia tangisi.
"Sayang ... kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga nggak selalu dari keturunan. Tapi jika kita menginginkannya, percayalah kita akan segera mendapatkannya dengan terus berdoa dan berusaha," bisik Genta sekaligus memberinya semangat. "Pasrahkan semuanya pada Allah, Dia pasti akan memberi kita keturunan saat Dia sudah mempercayakan kita."
Azzura tetap bergeming dalam pelukannya. Merasakan hangatnya pelukan penuh kasih dari suaminya itu. Sungguh ia merasa menjadi wanita paling beruntung memiliki suami pengertian sepertinya.
"Kita masih bisa mencoba, lagian mas masih kuat kok," kelakarnya lalu terkekeh. "Yuk, di sini dingin lagian ini sudah larut."
__ADS_1
"Mas."
"Hmm."
"Aku pengen makan nasi goreng."
"Baiklah, mas akan membelikannya."
Azzura menggelengkan kepalanya. "Aku nggak mau yang dibeli. Maunya nasi goreng buatan Mas sendiri," rengeknya.
"Boleh, tapi jika nggak enak nggak boleh protes," balas Genta lalu terkekeh.
"Nggak masalah, Mas, yang penting itu nasi goreng buatan Mas."
"Ya sudah, ayo kita masuk," ajaknya.
Azzura halnya mengangguk sembari memeluk lengan suaminya kemudian menuju dapur.
"Sayang, nasi gorengnya mau pake apa? Sosis, telor atau pentolan?"
"Terserah Mas saja," sahutnya sambil menemani suaminya itu di dapur.
Ia hanya menjadi penonton, karena merasa mengantuk akhirnya ia memilih ke ruang santai lalu membaringkan tubuhnya di sofa.
Dua puluh menit kemudian ...
"Sayang, bangun. Nasi gorengnya sudah jadi," bisiknya sembari mengelus pipinya.
"Sudah jadi ya, Mas?" Azzura perlahan merubah posisinya menjadi duduk. Ia hanya melihat nasi goreng itu sekilas di atas meja sofa.
"Mau disuapin nggak," tanya Genta.
Azzura menggeleng lalu menjawab, "Aku sudah kenyang, Mas."
Genta mengerutkan keningnya sekaligus bingung dengan sikap tak biasa istrinya.
"Kenyang bagaimana? Mencicipinya saja belum bagaimana mau kenyang?" protesnya. Ia pun menyendok nasi goreng buatannya sesendok lalu ingin menyuapi Azzura namun istrinya menolak.
"Nggak, Mas. Buat Mas saja." Setelah itu, ia pamit lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Ck, aku sudah capek-capek buatkan, malah nggak di makan, aneh," gerutu Genta lalu kembali ke dapur kemudian menyimpan nasi goreng itu.
Sesaat setelah berada di dalam kamar, ia kembali geleng-geleng kepala saat mendapati istrinya itu sudah tertidur.
Perlahan ia mengelus pipinya lalu mendaratkan kecupan di keningnya.
"Maaaas," bisiknya karena merasa terusik. Ia lalu meminta Genta berbaring di sampingnya.
Dengan patuh Genta menurut lalu membawanya masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Tumben dia nggak protes?" gumam Genta dalam hatinya lalu tersenyum.
.
.
.
Pagi harinya, seperti biasa rutinitas awalnya pasti mengurus anak-anak lebih dulu baru suaminya.
Saat sedang membantu Genta mengancingkan baju dinasnya, suaminya itu perlahan menangkup wajahnya.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja? Kamu nggak lagi sakit kan?" tanyanya dengan cemas karena wajah Azzura tampak lesu dan pucat.
"Nggak, Mas, aku baik-baik saja. Hanya saja kepalaku sedikit pusing," akunya lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya seraya mendongak.
Cup ...
Satu kecupan mendarat di keningnya. Ia langsung mengulas senyum lalu membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya sambil menghirup dalam-dalam aroma parfumnya.
Lagi ... Genta merasa aneh dengan sikap tak biasa istrinya yang cenderung bersikap manja padanya.
Setelah merasa puas barulah Azzura melepas dekapannya.
"Mas, kenapa sih, baju dinas kalian tuh ketat banget dibadan? Nggak sesak apa?" protesnya.
Genta terkekeh mendengar ocehannya lalu menjawab, "Bukan ketat tapi harus menjaga pola makan biar badannya tetap terjaga dan bajunya otomatis tetap muat."
"Oh." Ia hanya ber oh ria. "Ya sudah, ayo kita turun. Anak-anak pasti sudah menunggu."
Sesaat setelah berada di lantai satu, Ayya dan Devan langsung protes karena menunggu lama.
"Maaf ya, Sayang," ucap Zu lalu merangkul keduanya. "Yuk ... sarapan dulu, setelah itu berangkat ke sekolah bareng ayah. Siangnya gantian bunda yang jemput bareng dedek Devan."
"Iya, Bunda."
Selesai sarapan, Azzura mengantar keduanya hingga ke depan pintu.
"Sayang, ayah dan kak Ayya berangkat dulu ya. Devan bareng bunda dan bibi saja," kata Genta lalu mengecupnya kemudian menurunkannya dari gendongannya."
"Hati-hati ya, Mas, Sayang," ucap Zu lalu mencium punggung tangan suaminya kemudian mengecup puncak kepala sang putri.
Azzura berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan sang putra lalu melambaikan tangan.
Sepeninggal suami dan putrinya, ia pun mengajak Devan kembali ke ruang tamu.
"Ssssttt ... kepalaku kok sakit banget ya? Mana mual lagi?" ucapnya lirih sesaat setelah mendaratkan bokongnya di sofa sambil memijat keningnya.
...----------------...
__ADS_1