
"Rissa," tegur sang momy seraya merangkul bahunya. "Bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini di kampus, Nak?"
"Semuanya berjalan lancar, Mom. Senang rasanya bisa kembali mengajar di kampus. Bisa langsung berinteraksi dengan mahasiswa dengan segala gelagat absurb mereka." Rissa terkekeh kala mengingat mahasiswanya menggoda sekaligus menggombalnya.
"Syukurlah, Nak, momy ikut senang mendengarnya," kata momy Erli.
"Momy, jika tiba waktunya libur, aku ingin kita berlibur ke Maldives."
"Boleh, Sayang. Lagian sudah lama kita nggak berlibur bersama pasca kejadian kelam yang menimpa dirimu," balas momy.
Wanita paruh baya itu seketika merasakan dadanya sesak saat mengingat ketika mendapati putri semata wayangnya itu dalam keadaan tak sadarkan diri dan terlihat begitu miris.
Momy Erli langsung memeluk putrinya itu lalu menangis. Merasa iba bahkan bayangan itu masih saja membekas di ingatannya.
"Maafkan momy dan daddy karena terlambat menyelamatkan dirimu, Nak," bisik momy dengan suara tercekat. "Betapa khawatir dan cemasnya kami saat itu setelah semalaman kamu nggak pulang."
"Mom, sudahlah ... andai saja aku nggak pergi ke reunian itu. Kejadian memilukan itu pasti nggak akan terjadi padaku. Semuanya telah terjadi," balas Rissa dengan mata berkaca-kaca.
"Mom, yang terpenting sekarang, aku sudah mulai melupakan kejadian itu. Aku ingin memastikan ketiga pelaku itu tetap mendekam dipenjara, karena sampai kapan pun aku nggak bisa memaafkan perbuatan bejat mereka padaku," pungkas Rissa.
"Ayo kita turun, di sini semakin dingin," ajak momy dan dijawab dengan anggukan oleh Rissa.
Sesaat setelah berada di lantai dua, Rissa memilih masuk ke kamarnya. Sedangkan momy Erli melanjutkan langkahnya ke lantai satu.
"Besok sepulang dari kampus, aku akan menyambangi Yoga di rumah sakit. Kira-kira jika aku mengajaknya makan bareng, mau nggak dia ya?" gumam Rissa sambil menatap langit-langit kamarnya.
.
.
.
.
Beberapa jam berlalu ...
Setelah membersihkan diri lalu melanjutkan makan malam, Yoga kini berada di ruang kerjanya di temani dengan secangkir kopi.
Ia tersenyum saat menatap layar ponselnya.
"Gemes banget sih dengan kedua bocah ini?" gumamnya sambil mengelus foto Fattah Faatih. Sudah lama benget aku nggak bertemu dengan mereka sejak terakhir keduanya di aqiqah."
"Pengen juga punya kek si kembar ini," gumam Yoga sambil terkekeh merasa lucu sendiri. "Haaahh bagaimana bisa punya kek si kembar, pacar saja nggak punya apalagi istri. Hadeeeh ... Yoga ... Yoga miris banget sih, nasibmu."
Setelah asik dengan pikirannya sendiri, ia memilih meneguk kopinya sedikit demi sedikit. Karena merasa bosan berada di ruang kerjanya ia kembali ke kamarnya lalu merebahkan dirinya di atas ranjang.
"Bosan banget. Bagusnya ngapain ya?" gumamnya lagi lalu kembali mendudukkan dirinya.
Mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding. "Jam delapan? Sebaiknya aku mengajak Arash saja keluar cari angin."
__ADS_1
Ia pun meraih ponselnya di atas lemari nakas lalu menghubungi temannya itu. Tak menunggu waktu yang lama, panggilan darinya pun di jawab.
"Hallo, ada apa, Ga?"
"Keluar yuk, soalnya aku suntuk di apartemen, nggak ada teman. Cari angin sekalian cuci mata," ajak Yoga.
"Hehehehe ... makanya kalau nggak mau suntuk cari pasangan, Bro. Jangan menjomblo terus," ledek sang teman dari seberang telepon sambil terkekeh.
"Ck ... mau apa nggak?" decaknya sekaligus kesal.
"Ya sudah, kamu ke sini saja. Kebetulan aku lagi berada di caferia bareng teman-teman." kata Arash.
"Hmm ... baiklah, aku ke sana sekarang."
Yoga memutuskan panggilan telepon lalu segera mengganti pakaiannya. Selang beberapa menit kemudian, ia pun meninggalkan unitnya.
.
.
.
.
Caferia kota A ...
Baru saja ia keluar dari mobilnya, ponselnya tiba-tiba saja bergetar. Ia pun mengurungkan niatnya untuk melanjutkan langkahnya menuju pintu cafe.
Seketika alisnya langsung bertaut sekaligus khawatir saat menatap layar kontak yang memanggil.
"Assalamu'alaikum ... Rissa, apa kamu baik-baik saja?"
"Waa'laikumsalam ..." jawabnya lalu terkekeh karena Yoga langsung mencecarnya. "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir begitu."
"Bagaimana aku nggak khawatir, soalnya kamu menelfon tiba-tiba. Khawatir jika kamu kenapa-napa," cemas Yoga.
Sejenak Rissa membisu mendengar ucapan dari Yoga lewat benda pipinya.
"Terima kasih karena sudah mencemaskan diriku," balas Rissa dengan lirih sekaligus terharu.
"Ada apa dan kamu lagi di mana?" cecar Yoga.
"Nggak apa-apa. Aku lagi dirumah. Oh ya, besok aku ingin menyambangi mu di rumah sakit. Jika kamu berkenaan aku ingin mengajakmu makan siang," kata Rissa.
"Beneran?! Apa itu artinya kamu ingin mentraktirku? Dalam rangka apa?" balas Yoga lalu terkekeh.
"Nggak dalam rangka apa-apa, hanya pengen saja," timpal Rissa.
"Bagaimana jika sekarang saja. Kebetulan aku lagi di luar, tepatnya di caferia," usul Yoga. "Tapi jika kamu nggak mau, nggak apa-apa juga."
__ADS_1
"Besok saja ya," tawar Rissa.
"Siap, bu dosen! Beneran ya ... aku tungguin loh besok?" kelakar Yoga. "Ya sudah, aku tutup dulu ya telfonnya."
"Ya," sahut Rissa.
Setelah memutuskan panggilan telfon, Yoga kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu Cafe.
Begitu ia berada di dalam cafe, Yoga langsung menghampiri Arash dan teman-temannya.
"Guys, waah kelihatannya seru banget. Bahas apa sih?" tanyanya sesaat setelah mendaratkan bokongnya di kursi.
"Mau tahu apa mau tahu banget? kepo loe," ledek Arash lalu terkekeh.
"Halaah ... palingan lagi gosipin salah satu perawat yang lagi jadi incarannya di rumah sakit," sindir Yoga lalu terbahak.
"Ck ... biarin," decak Arash. "Oh ya, Ga, gimana dengan pasien yang kamu tangani hari itu?"
"Alhamdulillah ... dia sudah membaik. Sekarang dia juga sudah aktif mengajar di kampus A," jelas Yoga.
Arash mengangguk pelan. "Sepertinya kalian cukup dekat? Apa ini yang dinamakan terjebak cinta sang pasien?" kelakar Arash sambil menaik turunkan alisnya.
Yoga langsung menoyor kepala teman yang seprofesi dengannya itu.
"Kamu kali ... jangan aneh-aneh deh?!" balas Yoga sambil geleng-geleng kepala.
"By the way ... pasienmu itu, lumayan lama juga ya menjadi penghuni di rumah sakit tempat kita bekerja?"
"Hmm ..." Yoga mengangguk pelan.
Obrolan mereka terus berlanjut sambil menikmati alunan musik dan lagu yang dinyanyikan oleh penyayi cafe.
Sebelum akhirnya mereka membubarkan diri setelah selama beberapa jam nongkrong di cafe itu.
.
.
.
Keesokan harinya ...
Seperti biasa, sebelum berangkat ke rumah sakit, Yoga menyiapkan segala keperluannya secara mandiri.
Kecuali masalah bersih-bersih, ia memilih membayar jasa pembantu panggilan untuk membersihkan apartementnya.
Setelah merasa sudah cukup rapi, ia pun segera meninggalkan unitnya menuju lift. Sesaat setelah pintu lift terbuka, ia langsung memutar bola matanya dengan malas.
Lagi dan lagi, ia harus bertemu dengan Bram dan berada di dalam satu lift yang sama. Seperti hari-hari sebelumnya, keduanya hanya diam seribu bahasa.
__ADS_1
...----------------...