Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bonchap 16


__ADS_3

Keesokan harinya ...


Saat Close mengerjab, sinar matahari sudah memancarkan cahayanya menyinari alam semesta. Sehingga cahayanya menembus masuk ke sela-sela tirai kamar.


Perlahan ia merubah posisi menjadi duduk lalu merenggangkan otot-otot badannya yang terasa pegal.


"Aku harus bertemu dengan Yoga. Aku ingin berkonsultasi padanya," gumamnya lalu mengarahkan ekor matanya ke meja nakas.


Tepat di mana ia meletakkan sebotol obat penenang yang terus ia minum sampai detik ini.


Tanpa obat itu, Close tak bisa tidur nyenyak karena merasakan gelisah. Dampaknya, kini ia malah ketergantungan pads obat itu.


Selang beberapa jam berlalu ...


Arah pandangan matanya langsung tertuju ke pintu kamar yang diketuk. Tanpa pikir panjang ia menghampiri pintu lalu membukanya.


"Mom, Daddy, Gisel," sebutnya satu persatu.


Gisel langsung menerobos masuk lalu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang sang kakak.


"Haaah ... nyamannya," gumam Gisel.


Momy Lio dan daddy Kheil hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan putri bungsunya itu.


"Mom, Dad, apa kita akan kembali ke kota J hari ini?" tanya Close ingin memastikan.


"Iya, Nak," jawab momy Lio lalu duduk di sisi ranjang.


Alis momy Lio seketika bertaut saat akan meletakkan tas tangannya di atas meja nakas. Ia pun meraih botol obat berisi pil dari atas nakas itu.


"Close," panggil momy Lio sambil memegang botol obat itu.


Close perlahan berbalik lalu memandangi sang momy. "Ya, ada apa, Mom?"


Momy Lio memperlihatkan botol obat itu padanya. Mata Close langsung membulat lalu mengusap tengkuknya saat momy Lio menghampirinya.


"Ah sh*it! Aku lupa menyimpannya tadi."


"Apa ini, Nak? Apa kamu sedang sakit?" cecar momy Lio merasa khawatir.


Sedangkan daddy Kheil langsung menghampiri momy Lio lalu meraih botol obat itu dari tangan istrinya.


Ia menatap lekat botol obat itu karena merasa tak asing dengan jenis pilnya. Daddy Kheil kembali menatap Close dengan tatapan menyelidik.


"Close." Daddy Kheil menunjukkan obat itu di depan wajah putranya. "Apa kamu masih meminum obat ini? Bukankah kamu sudah berhenti meminumnya pasca sembuh?" cecar daddy Kheil.


Close menundukkan pandangan wajahnya, sedetik kemudian ia langsung memeluk daddy Kheil dengan erat lalu menangis.


"Awalnya iya, Dad. Tapi pasca Azzura sudah menikah, aku kembali meminumnya. Setiap malam aku selalu merasa gelisah. Rasa bersalahku padanya selalu membayangiku, Dad," aku Close.


"Aku bahkan nggak punya kesempatan untuk menebus semua kesalahanku pada Azzura hingga ia memilih menikah dengan Genta. Aku harus bagaimana Dad, Mom? Aku masih belum bisa melupakan dirinya. Aku masih terjebak dengan perasaan bersalahku padanya."


"Close," ucap lirih daddy Kheil dan momy Lio.


"Sepertinya aku harus berkonsultasi lagi dengan Psikolog," sambung Close.


Momy Lio dan daddy Kheil sama sekali tak menyangka jika kesehatan jiwa sang putra masih belum pulih sepenuhnya.


"Maafkan momy, Close. Harusnya momy nggak meninggalkanmu saat dalam keadaan terpuruk waktu itu," sesal momy sambil menangis.


"Bukan salah momy tapi salahku," sahut Close. "Sudahlah, sebaiknya kalian siap-siap. Aku akan menyusul kemudian."


"Tapi, Nak?!" protes momy Lio.


"Nggak apa-apa, Mom. Aku tahu Momy pasti mengkhawatirkan diriku. Percayalah Mom, aku baik-baik saja," kata Close menyakinkan momy dan daddy-nya.

__ADS_1


.


.


.


.


Beda nasib Yoga dan Close. Jika Close masih terjebak dengan perasaan bersalah pada Azzura sebaliknya dengan Yoga yang kini merasakan kebahagiaan.


Sejak tadi sudut bibir pria yang berprofesi sebagai psikolog itu terus terukir di wajah tampannya.


Hatinya begitu berbunga-bunga membayangkan wajah cantik calon istrinya.


"Haah ... rasanya aku sudah nggak sabar ingin mengantar undanganku langsung pada Azzura dan bang Genta di kota M," gumamnya.


Tak lama berselang, ponselnya bergetar. Dengan gerakan cepat, ia langsung meraih benda pipih itu di atas meja kerjanya.


"Close," sebutnya lalu menggeser tombol hijau.


"Ya, Assalamu'alaikum, Close," jawab Yoga lalu beranjak dari kursi kerjanya.


"Waa'laikumsalam, Ga. Aku ingin bertemu denganmu," kata Close to the poin.


"Boleh, kamu langsung ke sini saja tepatnya di rumah sakit jiwa jalan xxx," seru Yoga.


"Baiklah, sekitar satu jam lagi aku ke sana setelah mengantar mom, dad dan Gisel ke bandara.


"Nggak usah buru-buru, aku tetap menunggu sampai kamu datang," kata Yoga sambil terkekeh.


"Baiklah," sahut Yoga lalu memutuskan panggilan telepon.


.


.


.


Setelah mengantar kedua orang tuanya dan sang adik, Close langsung melajukan kendaraannya menuju rumah sakit tempat Yoga bekerja.


Kini ia sudah berada di ruangan kerja Yoga. Keduanya sedang duduk saling berhadapan dengan meja yang menjadi pembatas.


"Close," tegur Yoga karena sejak tadi, Close hanya diam dengan pandangan kosong.


Karena Close tak merespon, Yoga memilih berdiri lalu menghampirinya kemudian menepuk pundaknya sedikit keras.


Dan benar saja, tepukan itu membuat Close terkejut lalu spontan mendongak menatap Yoga.


"Ada apa? Sepertinya kamu nggak baik-baik saja. Aku seperti melihatmu enam tahun yang lalu saat ini," aku Yoga dengan alis yang saling bertaut.


Hening ...


Tak ada jawaban dari Close, ia kembali menundukkan pandangan wajahnya ke bawah. Dadanya terasa sesak, mulai bergemuruh hingga memaksa matanya menjatuhkan air mata.


"Selama ini aku memang terlihat baik-baik saja. Tapi hanya dari luarnya saja. Siapa yang peduli dengan isi hati dan perasaanku yang sebenarnya? Selama ini aku sengaja mencari kesibukan, melanglang buana ke sana ke sini hanya untuk menghibur diri. Mencoba lepas dari bayang-bayang penyesalan dan kesalahanku pada Azzura. Tapi aku belum berhasil keluar dari zona itu," aku Close dengan suara bergetar.


Ungkapan Close barusan, sontak membuat Yoga terkejut. Ia tak menyangka jika ex suami Azzura itu masih dibayang-bayangi masa lalunya.


"Close, kenapa kamu nggak langsung mengatakan yang sejujurnya saat itu padaku. Jika aku tahu kondisi kejiwaan mu saat itu belum sepenuhnya pulih, aku nggak akan meninggalkan kota J," kata Yoga seraya memegang pundaknya.


"Sejak Azzura menikah lagi, di situ aku mulai merasa jiwaku kembali berontak. Karena aku sama sekali nggak diberi kesempatan untuk menebus semua kesalahanku padanya."


"Setiap malam aku merasa gelisah bahkan ingin memejamkan mataku saja aku nggak bisa. Setiap kali mataku akan terpejam bayang-bayang kekerasan fisik itu selalu saja muncul tiba-tiba."


"Bagaimana caranya agar aku bisa lepas dari bayang-bayang itu, Yoga? Jujur saja saat ini aku sudah ketergantungan obat," akunya.

__ADS_1


Yoga menepuk pundaknya lalu menarik kursi yang ada di samping Close. Ia pun duduk saling berhadapan.


"Close ...Banyak cara yang bisa dilakukan untuk lepas dari bayang-bayang itu," kata Yoga sambil memandangi wajah pria blasteran itu.


"Salah satunya dengan menenangkan hati dan pikiran, seperti melakukan meditasi hingga mengunjungi tempat-tempat yang sepi."


"Ikhlas menerima kesalahan, dan belajar dari setiap kesalahan itu sendiri. Karena itu yang akan menjadikanmu kuat dalam menjalani kehidupan."


"Ketenangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari adalah kunci utama. Tanpa ketenangan, seseorang tidak bisa mengerjakan segala sesuatu dengan baik. Dan yang terakhir dekatkan dirimu pada Allah SWT," pungkas Yoga lalu menepuk pundaknya.


Perlahan Yoga menyeka air matanya sambil mengangguk dalam diam. Ia menelaah, menyimak serta meresapi setiap kalimat yang di ucapkan oleh Yoga barusan.


Kalimat terakhir Yoga seketika membuat dirinya sadar. Selama ini, ia tak pernah meletakkan keningnya di atas sejadah bahkan tak pernah menadahkan tangannya meminta kepada sang Maha Pencipta alam semesta.


Setelah kurang lebih dua jam berkonsultasi dengan Yoga, Close kini merasa jauh lebih baik dan tampak jauh lebih tenang.


Saat masih mengobrol di ruangan itu, ponselnya bergetar. Ia pun menunda sejenak obrolannya dengan Yoga lalu merogoh saku celananya.


"Zu," gumamnya sesaat setelah menatap layar ponselnya dengan panggilan video.


Tanpa pikir panjang ia langsung menjawab panggilan video itu dengan sembringah.


Dari layar ponselnya, ia dapat melihat jelas ex istrinya itu sedang melambaikan tangannya di dekat Fattah Faatih.


"Assalamu'alaikum ..." ucap Zu.


"Waa'laikumsalam ... Zu," balas Close sembari menatap lekat wajah Azzura dan kedua anaknya dari layar ponselnya.


"Close, apa kamu lagi di kantor? Tapi kok background-nya seperti di ruangan praktek," tebak Zu.


Close terkekeh lalu mengarahkan kamera ponselnya ke arah Yoga.


"Zu, kapan kalian akan main ke kota A?" tanya Yoga. "Ayah bunda juga lagi di kota ini loh? Kangen pengen ngumpul lagi."


"Kebetulan sekali, apa ada acara khusus?" tanya Zu.


"Rahasia negara," jawab Yoga dengan ambigu lalu terkekeh.


Setelah itu, Close kembali mengarahkan kamera ponselnya ke arahnya.


"Close, apa kamu baik-baik saja," tanya Zu. "Jujur saja semalam aku tiba-tiba gelisah mengingatmu. Khawatir jika terjadi sesuatu."


Mendengar ucapan Azzura dari seberang layar ponsel, Close bergeming sekaligus merasa terharu menatap wajahnya lekat.


"Bahkan dia masih mengkhawatirkan diriku."


"Close? Kok bengong?" tegur Zu.


"Ya, aku baik-baik saja," jawab Close. "Zu, apa kamu nggak ingin main-main ke kota A? Aku kangen pengen ngumpul bareng lagi," aku Close dengan wajah sendu.


"Ini kan hari Jumat, gimana jika besok saja," usul Zu."


"Beneran, Zu?!!" pekik Yoga lalu beranjak dari kursi kemudian berdiri di belakang Close.


"Apa kamu serius," timpal Close.


"Ya," jawab Zu lalu tersenyum.


Obrolan mereka terus berlanjut lewat layar benda pipih itu. Meski hanya bisa mengobrol lewat panggilan video, namun rasa rindu Close dan Yoga bisa terbayarkan.


Setelah puas mengobrol lewat VC, akhirnya Azzura memutuskan panggilan.


Yoga dan Close sama-sama mengulas senyum setelah puas mengobrol dengan ibu empat anak itu.


"Yoga, rasanya aku sudah nggak sabar menanti hari esok," aku Close dengan senyum sembringah.

__ADS_1


"Hmm ... aku juga," timpal Yoga.


...----------------...


__ADS_2