
"Dugaan Anda benar, Bu dokter. Aku mengalami KDRT. Bahkan tanpa segan suamiku memukulku di depan kekasihnya. Yang paling menyakitkan dia menuduhku hamil di luar nikah dan akan membunuh janin itu. Walaupun aku nggak mencintainya tapi tetap saja batin ini sakit karena dia dan kekasihnya tak segan-segan melakukan hubungan intim di rumah kami sendiri," ungkap Zu.
Mendengar ungkapan Azzura, seketika membuat dokter Fahira terhenyak kaget, geram dan ada perasaan marah. Tangannya seketika terkepal.
"Astaghfirullahaladzim." Dokter Fahira menatap Azzura dengan mata berkaca-kaca. "Jika aku berada di posisimu, Nak, aku tidak akan kuat," lirih dokter Fahira.
Azzura meraih kedua tangan dokter Fahira lalu menatapnya lekat. "Cukuplah hanya kita berdua yang tahu. Biarlah ini menjadi rahasia kita berdua, Bu," ucapnya dengan memelas.
Tanpa menjawab, dokter Fahira hanya mengangguk dengan hela nafas. Sedetik kemudian ia pun bersuara, "Baiklah ini akan menjadi rahasia kita berdua."
"Terima kasih, Bu dokter," ucapnya lalu melepas kedua tangan dokter Fahira.
"Sama-sama, Nak. Nggak apa-apa kan, jika aku memanggilmu, Nak? Anggap saja anak perempuaanku bertambah satu lagi," kata dokter Fahira.
"Nggak apa-apa Bu, justru aku senang. Sekali lagi terima kasih," ucap Zu.
Beberapa menit kemudian dokter Fahira, meresepkan beberapa obat untuk Azzura, setelah gadis malang itu mengeluarkan semua isi hatinya.
Setelah menerima secarik kertas kecil itu, Azzura kembali berpamitan dan tak lupa kembali mengucapkan terima kasih.
Azzura kembali melangkah meninggalkan ruangan itu. Seperti hari-hari kemarin tatapan matanya kembali kosong saat melangkah dan terlihat melamun.
Dari arah yang berlawanan Farhan kembali menggelengkan kepalanya mendapati Azzura yang lagi-lagi berjalan sambil melamun.
"Si gadis bermata indah dan seorang pelamun," desisnya dengan senyum lalu menghitung langkah Azzura yang sebentar lagi akan menabraknya.
"Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima ..."
Bruukk ....
Di hitungan yang ke-lima Azzura benar-benar menabraknya. Gadis itu terpaku sejenak lalu sedikit mendongak.
"Kak Farhan," desisnya lalu mundur satu langkah ke belakang. "Maaf," ucapnya pelan.
Farhan terkekeh mendengarnya. "Sebenarnya apa sih yang kamu pikirkan? Bisa-bisanya berjalan sambil melamun," selidik Farhan menatap bola mata indah gadis itu.
"Nggak ada," lirihnya dengan kepala menggeleng. "Oh ya, sedang apa kak Farhan di sini?" tanyanya.
"Aku mau mengantar berkas penting ini saja," jelasnya seraya menunjukkan sebuah file penting. "Oh ya, kita pulang bareng saja," tawar Farhan. "Mau ke rumah sakit kan?"
"Iya, boleh deh, Kak. Kebetulan aku nggak bawa motor. Mumpung dapat tumpangan gratis," candanya. "Tapi, tungguin bentar ya, soalnya aku ingin menebus obat dulu," pinta Zu.
"Hmm ... nggak masalah," kata Farhan lalu mempercepat langkahnya ke ruangan yang di tuju.
Sedangkan Azzura, ia mengarahkan langkah kakinya ke arah apotik.
Setibanya Farhan di depan pintu ruangan yang dituju, ia mengetuk lalu membukanya.
"Bunda, apa Bunda masih sibuk?" tanya Farhan seraya menghampiri sang bunda.
"Nggak, Nak. Bunda baru saja mau ke kantin," kata sang bunda yang tak lain adalah dokter Fahira. "Ada apa Nak?" tanya bunda.
"Nggak apa-apa, Bun. Aku ingin memberikan file penting ini pada Bunda." Farhan meletakkan file itu di atas meja kerja sang bunda. "Oh ya, Bun, aku sekalian pamit soalnya buru-buru," kata Farhan.
"Ya sudah, hati-hati di jalan," pesan sang bunda.
"Iya Bunda." Farhan menghampiri pintu lalu segera meninggalkan ruangan bundanya. Ia mempercepat langkahnya ke apotik untuk menemui Azzura yang masih terlihat mengantri.
__ADS_1
Dengan langkah pelan ia menghampiri Azzura yang terlihat sedang duduk mengantri, namun terlihat melamun. Bahkan saat ia duduk di samping gadis itu, ia tak menyadari.
"Zu," tegurnya. Namun Azzura tak menjawab. "Zu ..." Farhan kembali menegurnya di sertai dengan sebuah tepukan di lengan gadis itu.
Seketika ia menoleh lalu pandangan mata keduanya bertemu. Sontak saja tatapan mata Azzura membuat jantungnya tiba-tiba terpompa lebih cepat. Namun di sisi lain ia dapat melihat kesedihan di bola mata indah gadis itu.
''Zu, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.
"Iya Kak," jawabnya lalu menunduk dan mengalihkan pandangannya.
"Benar? Tapi tatapan matamu menyiratkan jika kamu tidak baik-baik saja," selidik Farhan.
Azzura bergeming tak menjawab. Tak lama kemudian namanya dipanggil. "Sebentar, aku ambil obatnya dulu," kata Zu.
Setelah mengambil obatnya, Azzura mengajak Farhan meninggalkan rumah sakit itu.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat, sesekali Azzura melempar candaan, semua ia lakukan supaya Farhan tidak curiga jika ia sedang tidak baik-baik saja.
Selang satu jam kemudian, mereka tiba juga di rumah sakit itu.
"Kak, terima kasih ya," ucap Zu sambil melangkah bersama menuju kamar rawat ibunya.
''Sama-sama, Zu. Oh ya, maafkan Yoga ya. Gara-gara dia, ibumu sampai mengira jika adikku itu suamimu," kata Farhan.
Azzura terkekeh. "Nggak apa-apa, Kak," ucapnya bersamaan dengan langkahnya yang telah terhenti tepat di depan kamar rawat ibunya.
"Aku masuk dulu ya," izinnya.
"Bareng saja, aku juga ingin melihat kondisi ibumu."
Azzura hanya mengangguk lalu membuka pintu dan menyapa suster Tiara dan dokter Aida yang kebetulan baru saja memeriksa Bu Isma.
"Nggak juga," jawab dokter Aida lalu mengulas senyum. "Oh ya, karena Zu sudah datang, aku ajak suster Tiara sebentar untuk memeriksa pasien yang lain," izinnya.
"Iya, nggak apa-apa, Dok," sahut Zu lalu duduk di sisi ranjang Bu Isma. Sedangkan dokter Aida dan suster Tiara meninggalkan kamar itu.
Farhan ikut mendekat dan menatap iba Bu Isma.
"Bu, bagaimana dengan kondisi kesehatan Ibu sekarang," tanya Farhan.
"Seperti yang kamu lihat, Nak," jawab bu Isma dengan suara lirih.
Farhan hanya mengangguk lalu melirik Azzura sejenak. "Zu, aku ke ruanganku dulu ya. Jika kamu butuh sesuatu jangan sungkan ngomong sama aku," pesan Farhan. Setelah itu, ia meninggalkan kamar rawat bu Isma.
Sepeninggal Farhan, Azzura menatap lekat wajah ibunya sambil menggenggam tangannya.
"Sayang, kamu kenapa, Nak?" tanya ibu.
"Nggak apa-apa," jawab Zu lalu merebahkan kepalanya di sisi ranjang.
Entah mengapa, bu Isma merasa iba melihat putri semata wayangnya itu. Perlahan tangannya terangkat mengelus kepalanya dengan sayang.
Elusan sang ibu, membuat Azzura merasa nyaman sehingga perlahan membuatnya memejamkan matanya dan malah tertidur.
Tak lama berselang, pintu kembali dibuka, terlihat Nanda dan di susul oleh Yoga memasuki kamar rawat itu.
"Nak Nanda, Yoga," lirih bu Isma lalu mengulas senyum.
__ADS_1
"Bu, aku bawakan makanan," kata Yoga dan melirik Azzura sekilas kemudian meletakkan paper bag berisi box makanan di meja sofa.
"Zu," bisik Nanda seraya menggoyangkan bahunya.
Merasa seperti ada yang memanggil dan menyentuhnya, Azzura langsung membuka matanya.
"Nanda," lirihnya.
"Aku sama Yoga," kata Nanda lalu mengarahkan dagunya ke arah Yoga yang berada di belakangnya.
"Zu ... bisa kita bicara sebentar?" kata Nanda.
"Hmm." Ia melirik ibunya lalu meminta izin, ingin ke rooftop, sekalian meminta Yoga menemani ibunya sebentar.
Sesaat setelah berada di rooftop.
"Zu, apa kamu baik-baik saja?"
"Hmm ..."
"Beneran?"
"Hmm .."
Nanda mengernyit karena tidak biasanya Azzura hanya menjawab seperti itu bahkan tatapan matanya terlihat kosong.
"Zu!! Lihat aku dan tatap mataku!" sentak Nanda seraya mengarahkan tubuh sahabatnya itu menghadapnya.
"Zu, apa pria bajingan itu melakukan sesuatu padamu lagi?" tanya Nanda menebak-nebak.
Azzura menunduk dan air matanya ikut jatuh.
"Katakan, Zu!" desak Nanda.
Azzura langsung memeluknya dan kembali terisak mengingat kejadian semalam. Ia kembali menceritakan apa yang di alaminya semalam. Termasuk alasannya tidak masuk kerja dan memilih beristirahat sebentar lalu memeriksakan kondisi rahimnya akibat diinjak dan terkena benturan meja.
Mendengar semua curahan hati sahabatnya itu, Nanda semakin erat mendekapnya. Darahnya langsung mendidih, marah dan serasa ingin membalas perbuatan keji suami sahabatnya itu.
"Azzura yang malang, sampai kapan kamu akan bertahan jika kamu terus mendapatkan KDRT seperti itu?" lirih Nanda. "Aku serasa ingin membunuh pria bajingan itu saja," geramnya.
Keduanya tak menyadari jika Yoga sedang memperhatikan keduanya dari kejauhan. Alisnya saling bertaut.
"Azzura, ini yang kedua kalinya aku memergokimu menangis seperti itu. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Yoga bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Asik memperhatikan kedua sahabat itu, Yoga tersentak kaget ketika bahunya ditepuk.
"Ada apa?" tanya Farhan dan ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang sama.
"Nggak apa-apa Kak. Entahlah aku merasa iba saja melihat Azzura," lirihnya. "Ini kedua kalinya aku melihat ia menangis terisak."
"Sebelumnya?"
"Minggu kemarin," aku Yoga.
"Hmm ..." Farhan hanya mengangguk. "Tadi aku bertemu dengannya di rumah sakit bunda. Sepertinya dia baru saja memeriksakan kesehatannya tapi nggak tahu di poli mana?" jelas Farhan.
...πΏπΌ----------------πΌπΏ...
__ADS_1
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π. Bantu like, vote dan komen, setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ