
Azzura terus larut dalam kesedihannya, saat ini yang ia butuhkan adalah kekuatan. Membayangkan segala kemungkinan yang akan terjadi pada ibunya, membuatnya kembali terisak dalam dekapan mertuanya.
"Maafkan daddy dan momy. Kami terlalu egois karena seakan memaksamu menerima pernikahan ini. Jika daddy tahu akhirnya akan seperti ini, lebih baik daddy dan momy nggak menikahkan kalian," tutur tuan Kheil dengan suara bergetar.
Sedangkan pak Prasetya yang sejak tadi masih berada di ruangan itu terpaksa mengangkat kakinya meninggalkan tempat itu dengan perasaan marah.
Ia memilih kembali ke ruang kerja Farhan demi meredam emosinya setelah tahu kenyataan yang sebenarnya tentang Azzura.
Ingin rasanya ia menghajar Close detik itu juga jika sang putra dan pegawainya tidak berada di tempat. Ditambah lagi kehadiran tuan Kheil yang membuatnya terpaksa menahan amarahnya.
"Fadil ... pria macam apa yang sudah dinikahi putrimu? Teganya dia menyiksa putri semata wayangmu itu," geram pak Prasetya sambil mengepalkan kedua tangannya.
Sementara di ruangan ICU, Farhan dan Yoga meminta ketiga perawat yang masih berada di ruangan itu meninggalkan mereka.
Di sela-sela tangisnya, tiba-tiba Azzura teringat akan momy Lio yang sedang sakit.
"Dad ... momy ..." lirihnya mengingat momy Lio yang sedang sakit di mansion. "Momy di mansion juga sedang sakit," lirihnya lagi. Air matanya semakin mengalir deras.
"Ya Allah ... berilah kesembuhan pada kedua wanita kesayanganku," doa Zu dalam hatinya.
Setelah itu penglihatan mulai gelap, pusing dan merasa sesak. Lagi-lagi ia pingsan dalam dekapan sang mertua.
"Zu! Nak!" panggil daddy. "Close bantu daddy, Azzura pingsan," perintahnya.
Close langsung menggendong istrinya.
"Close, bawa ke ruangan kak Farhan saja," cetus Yoga. "Ruangannya nggak jauh dari sini. Ayo ... ikut aku," ajak yoga dengan perasaan cemas.
Close hanya menurut lalu mengikuti langkah Yoga menuju ruang kerja Farhan.
Sesaat setelah berada di ambang pintu, Yoga langsung membuka benda persegi panjang itu lalu meminta Close membaringkan Azzura di atas sofa ruangan.
Lagi-lagi ia membatin bertanya-tanya saat mendapati pak Prasetya berada di ruangan itu.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya pria ini? Sepertinya dia cukup dekat dengan Azzura dan mertuaku. Apa dia dan Azzura benar-benar menjalin hubungan serius?"
"Biarkan Azzura di situ ... dan kamu." Pak Prasetya menatap Close dengan tatapan tak bersahabat. "Tinggalkan ruangan ini," pinta pak Prasetya dengan nada dingin.
Seolah tak ingin kalah, Close berdiri lalu berhadapan dengan pak Prasetya seolah menantang pria paruh baya itu.
"Aku suaminya dan aku berhak ke atas dirinya," kata Close dengan perasaan geram bercampur cemburu.
Pak Prasetya tersenyum sinis menatapnya.
"Suami? Apa aku nggak salah dengar?" balas pak Prasetya sambil menepuk-nepuk dada Close seolah mengejek.
"Apa Azzura pernah menganggapmu suaminya, hmm?" sinis pak Prasetya. "Harusnya kamu perlu belajar banyak untuk menjadi suami yang baik, bertanggung jawab, punya etika yang baik dan yang terakhir seorang suami harus punya wibawa dan disegani. Tegas namun tidak harus bersikap kasar atau sampai menindas wanita lemah," pungkas pak Prasetya.
"Apa kamu tahu? Disebut apa pria yang beraninya pada wanita lemah?" sindir pak Prasetya. "BANCI," ejek pak Prasetya.
"Kamu!!!" marah Close lalu mengarahkan kepalan tinjunya ke arah pak Prasetya namun dengan cepat pak Prasetya menangkap tangannya lalu memelintirnya.
"Aarrghhh!!!" pekik Close menahan sakit.
"Sial!!! Ternyata dia cukup tangkas. Siapa sebenarnya dia?" umpat Close sambil memegang tangannya akibat dipelintir oleh pak Prasetya.
"Tinggalkan ruangan ini sebelum aku berbuat yang lebih kasar daripada sekedar memelintir tanganmu," usir pak Prasetya sekaligus mengancamnya.
"Close, sebaiknya tinggalkan ruangan ini," pinta Yoga lalu membuka pintu.
Tanpa banyak bicara, ia pun meninggalkan tempat itu dengan perasaan dongkol.
Sementara di ruang ICU, tuan Kheil menghampiri bed pasien di mana bu Isma sedang terbaring dengan banyaknya alat medis yang terpasang di tubuhnya.
Ia menangis, menyesal sekaligus tidak tahu harus berbuat apa. "Bu Isma ..." lirihnya dengan suara tercekat. "Maafkan aku dan istriku. Karena kami berdua, putri semata wayangmu harus menanggung derita karena ulah putra kami," ucap tuan Kheil sambil menangis menatapnya. "Aku merasa gagal mendidik putraku. Aku berjanji nggak akan menghalangi keinginan Azzura jika dia memutuskan bercerai dari putraku. Aku rasa itulah keputusan yang tepat," pungkas tuan Kheil.
Farhan menghampiri pria paruh baya itu lalu merangkul bahunya. Tuan Kheil hanya bisa menunduk sekaligus merasa malu dengan kejadian yang baru saja mereka lewati.
__ADS_1
"Dokter Farhan, tolong lakukan yang terbaik untuk besan saya," lirihnya.
"Tuan ... sebisa mungkin saya dan team medis akan mengupayakan yang terbaik buat bu Isma. Namun jika terjadi sesuatu padanya, kami juga nggak bisa berbuat apa-apa karena sebagai dokter, kami hanya sebagai perantara. Hidup mati seseorang sudah ditentukan oleh garis takdir yang di tentukan oleh Allah SWT," tutur Farhan dengan perasaan sedih.
Sambil mengangguk, tuan Kheil kembali menatap bu Isma lalu ke Farhan. "Dokter Farhan, saya pamit. Tolong kabari saya jika bu Isma sudah sadar," pesannya.
"Baik, Tuan," balas Farhan. "Mari ... biar saya antar," ajak Farhan dan dijawab dengan anggukan kepala tuan Kheil.
*****
Sesaat setelah mengantar tuan Kheil sampai di parkiran, Farhan tampak menguatkan pria paruh baya itu.
"Tuan, hati-hati di jalan. Mengenai kejadian tadi nggak usah terlalu dipikirkan dulu. Yang kita butuhkan saat ini adalah doa untuk bu Isma," kata Farhan.
"Terima kasih, dokter Farhan," balas tuan Kheil. Setelah itu ia pun mulai meninggalkan rumah sakit dan memilih langsung pulang ke rumahnya.
Sepeninggal tuan Kheil, Farhan kembali melanjutkan langkahnya untuk segera menemui ayah dan adiknya serta Azzura di ruangannya.
Ketika langkahnya berada di loby rumah sakit, ia berpapasan dengan Close. Seolah tidak ingin ambil pusing, ia hanya melewati pria blasteran itu tanpa menyapa.
Close yang merasa terpojok, seolah merasa frustasi. Dengan langkah gontai ia terus melangkah menuju ke arah mobilnya diparkir.
"Ibu ... Azzura ... maafkan aku. Apakah pintu maaf benar-benar sudah tertutup untukku? Apakah sudah nggak ada kesempatan terakhir untukku memperbaiki rumah tangga kita?" desisnya bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Seketika ia teringat akan surat perjanjian perceraian dan juga cek kosong di laci meja nakasnya.
"Aku harus menyembunyikan surat itu secepatnya, supaya Azzura nggak menemukannya," desisnya lagi lalu segera meninggalkan halaman parkir rumah sakit itu.
Kini yang ada di benak Close adalah kebimbangan akan keputusan Azzura. Ia benar-benar takut jika Azzura memilih berpisah darinya.
π Hati manusia itu bisa serapuh cermin. Sekali ia hancur lebur, memperbaikinya, menyusunnya kembali agar sama persis seperti sebelumnya nyaris impossible.π (Tere Liye)
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ