Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bab 4 : Menjadi istri sah ...


__ADS_3

Setelah selesai ijab qobul, Close dan Azzura kini berada di pelaminan. Menerima ucapan selamat dan doa dari para tamu undangan.


Azzura tetap tersenyum ramah menyalami satu persatu tamu undangan yang memberinya selamat dan ucapan doa. Sesekali Close meliriknya dengan tatapan yang sulit di artikan ketika melihat senyum tulusnya kepada tamu undangan.


Hatinya seketika menghangat dan sangat ingin merengkuh tubuh gadis berhijab dan bermata indah itu.


"Aku sangat merindukan senyum tulus mu itu, Zu."


Namun senyum tulus itu langsung memudar saat matanya bersitatap dengan Close. Di tengah meriahnya pesta itu, tetap saja benak Quin terus di liputi rasa khawatir dan gundah memikirkan ibunya yang kini sedang berada di ruang operasi.


Melihatnya yang terlihat gelisah, Close ingin merangkul pinggang rampingnya untuk sekedar menenangkannya namun secepat kilat Azzura menepis tangan itu dan sedikit menjaga jarak.


Tak pelak buntut dari penolakannya seketika membuat Close langsung emosi. Namun ia tutupi dengan sikap cool-nya.


Sial!! Berani-beraninya dia menepis tanganku!


Saat sesi foto bersama dengan keluarga besar, ia terpaksa tersenyum semanis mungkin demi menutupi kegelisahannya memikirkan ibunya.


Setelah selesai berfoto-foto, Momy Liodra mengajaknya duduk di salah satu meja lalu mengambilkannya makanan.


"Sayang, makan dulu Nak. Momy perhatikan sejak tadi kamu terlihat khawatir dan wajahmu terlihat pucat. Momy khawatir kamu kenapa-kenapa."


"Mom, aku baik-baik saja. Hanya saja, aku mengkhawatirkan ibu. Apa pesta ini masih lama Mom?" tanya Zu.


"Nggak Sayang, sebentar lagi sudah mau selesai," jawab Momy.


"Mom, izinkan aku ke rumah sakit ya, setelah acara pesta ini selesai," mohon Zu.


"Iya Sayang. Semoga operasi ibumu berjalan lancar. Momy akan membesuk besok saja," kata Momy.


"Nggak apa-apa, Mom dan terima kasih." Zu bernafas lega dan bisa sedikit tersenyum.


Sedangkan Close yang berada di meja lain sesekali melirik Momy dan istrinya. Bahkan matanya seolah tak ingin lepas sedetik pun. Benaknya bertanya-tanya apa yang sedang mereka bahas.


Sekarang kamu sudah menjadi istri sahku. Kamu nggak akan bisa berkutik dan aku bebas memperlakukanmu dengan caraku sendiri.


"Close, selamat ya. Aku nggak menyangka jika kamu dan Azzura berjodoh padahal kamu sangat membencinya," kata Mizan.


"Aku juga nggak menyangka," timpal Sammy.


"Kalian pikir aku menyukainya hah!!" sentaknya, sebaliknya hatinya mengatakan hal yang berbeda. "Ini semua gara-gara momy yang memaksaku untuk menikah dengannya. Kalian tahu kan, jika aku hanya mencintai Laura dan bukan perempuan kampungan itu!!" jelasnya dengan perasaan jengkel.


Baik Mizan dan Sammy, keduanya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan teman sekaligus kolega bisnisnya itu.


Sedangkan Laura yang duduk di sampingnya ikut merasa jengkel. Bukan tanpa alasan karena Momy dan Dady bahkan Gisel terlihat sangat menyayangi Azzura.


"Sayang, nggak usah di lihat biarkan saja. Sepertinya dia licik juga. Pintar banget ngambil hati Momy, Dady dan Gisel. Padahal Gisel susah banget dekat dengan siapapun," tutur Close pada Laura.


"Sayang, aku mau kamu yang mengantarku pulang nanti," rengek Laura.


"Baik lah," kata Close.


"Oh ya, Close, Laura. Aku dan Sammy pamit," kata Mizan lalu berdiri kemudian menjabat tangan Close. "Apapun itu, selamat buatmu, Bro."

__ADS_1


Close hanya mengangguk dan balas menjabat tangan temannya itu. Setelahnya Mizan dan Sammy menghampiri Azzura yang terlihat sedang mengobrol dengan teman-teman kerjanya.


"Zu," tegur Mizan dan Sammy.


"Ah ... Sam, Zan ..." Zu balik menegur dengan seulas senyum.


"Selamat ya, Zu," ucap Sammy dan Mizan bergantian.


"Terima kasih ya sudah mau menyempatkan waktu kalian menghadiri pernikahanku dan Close," ucapnya.


"Sama-sama Zu. Kami sekalian pamit."


Zu hanya mengangguk dan kembali ke tempat duduknya.


Beberapa jam berlalu tepatnya jam 13:00 akhirnya pesta itu kelar juga. Pestanya hanya berlangsung pagi hingga siang. Dengan langkah pelan, Azzura segera menghampiri lift dan menekan angka 5. Baru saja pintu lift akan tertutup, ia terkejut saat tangan seseorang menahan pintu besi itu.


Close.


Azzura menghela nafas dan terlihat cuek. Mau protes pun percuma. Ujung-ujungnya pasti ia akan menerima kata-kata yang tidak enak di dengar.


Keduanya sama-sama bungkam di dalam lift itu. Namun tetap saja Close terus menatapnya dan ingin sekali memeluk Azzura.


Tingg ...


Pintu lift terbuka sekaligus menyadarkan Close dan langsung cepat-cepat mengarahkan pandangannya ke depan. Setelah itu, keduanya sama-sama menuju ke satu kamar yang sama.


Sesaat setelah berada di kamar itu, Azzura langsung menyambar tas dan paper bag-nya, karena buru-buru, kakinya tersandung dan hampir terjatuh namun dengan sigap Close menangkapnya lalu memeluknya dengan erat.


Sadar jika ia sedang dalam rengkuhan Close, ia mendorong pelan dada suaminya. Sedangkan Close ia merasa dadanya kembali berdetak kencang.


Close langsung melepasnya. Begitu Close melepasnya, ia pun memungut tas dan paper bag-nya lalu menuju kamar mandi kemudian mengunci pintu rapat-rapat.


Ia pun segera melepas kebayanya beserta aksesoris lainnya, lalu segera membersihkan sisa-sisa make yang masih menempel di wajahnya.


Setelah merasa sudah benar-benar bersih, ia pun segera mengenakan pakaiannya lalu memakai jilbabnya.


Ketika ia ingin memeriksa ponselnya, pintu kamar mandi digedor-gedor oleh Close.


Dorrrrr ... dorrr ... dorrrr ...


Dorrr ... dorrr ... dorrr ...


"Dasar nggak punya akhlak," gerutunya lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.


Ia pun buru-buru memungut pakaian pengantinnya lalu menuju pintu dan membukanya.


"Lama banget sih?! Barusan lihat kamar mandi mewah ya? Sampai segitunya betah di dalam? Dasar kampungan!!!" hina Close dengan tatapan tak bersahabat.


Azzura hanya diam dan memilih berjalan ke arah sofa dan kembali melipat kebaya pengantin dan meletakkan semua aksesoris di atas kebaya itu.


"Mudah-mudahan, operasi ibu berjalan lancar," gumamnya. Ia pun menuju balkon kamar dan kembali menghubungi Nanda. Hanya di deringan pertama panggilannya langsung tersambung.


"Hallo, Nanda. Bagaimana dengan operasinya? Apa berjalan lancar?" tanyanya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, berjalan lancar Zu, sekarang ibu sudah di pindahkan ke kamar rawat VIP di bangsal 3 no 5," jawab Nanda.


"Syukurlah, sebentar lagi aku ke sana. Maaf aku nggak sempat menjawab panggilan darimu."


"Nggak apa-apa Zu. Ya sudah, aku tunggu kamu ya," jawab Nanda lalu memutuskan panggilan telepon.


Zu tidak menyadari, sejak tadi Close sedang memperhatikannya dan bertanya-tanya, istrinya itu sedang berbicara dengan siapa.


Seketika ia merasa darahnya mendidih dan merasa sedikit cemburu.


Baru saja Zu berbalik, ia sangat terkejut saat Close memberi tatapan tajam padanya. Tanpa aba-aba suaminya itu langsung mencengkeram pipinya.


"Habis bicara dengan siapa kamu, huh!!" bentaknya.


"Close ... lepasin," lirihnya.


"Jawab!!! Kamu habis hubungi siapa?!!" bentaknya lagi. "Apa dengan seorang pria?!" tuduhnya.


"Teman kerjaku, Nanda," aku-nya.


"Awas saja jika kamu bohong!" geramnya lalu melepas cengkeramannya dari pipi Zu kemudian merampas ponselnya dan memeriksa panggilan keluar.


Setelah memeriksa daftar panggilan keluar, ia tersenyum tipis dan kembali menatap Azzura, lalu menyerahkan benda pipih tersebut kepadanya. Ia berbalik ingin kembali ke kamar, namun langkahnya tertahan saat Azzura mengutarakan niatnya.


"Close ... aku ingin meminta izin pulang ke rumah ku sebentar. Apa boleh?" tanya Zu.


"Terserah!" ucapnya tanpa menoleh sedikitpun.


Azzura bergeming dan hanya tersenyum miris.


"Baiklah, aku pamit," ucap Zu lalu meraih tas dan paper bag-nya di atas meja kemudian meninggalkan kamar presidential suite itu.


Sesaat setelah berada di loby hotel, ia meminta Yoga untuk mengantarnya kembali ke rumah sakit.


"Yoga ... tolong antar aku ke rumah sakit ya," pintanya.


"Baik No ..."


"Zu atau Zura saja," potong Zu lalu mengulas senyum.


"Ah iya, Zu," sambung Yoga lalu mengangguk.


Ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit, Azzura hanya diam dan sesekali menatap ke jendela mobil.


Dalam keheningan, Yoga membuka suara. "Zu, selamat ya atas pernikahanmu dan Pak Close," ucap Yoga.


"Iya. Terima kasih ya, Yoga. Doakan aku dan Close. Semoga rumah tangga kami ke depannya baik-baik saja," timpalnya dengan seulas senyum.


"Aamiin ..." sambung Yoga lalu meliriknya sekilas.


Entah mengapa ia merasa iba saat menatap wajah istri boss-nya itu. Walaupun ia tersenyum dan terlihat baik-baik saja namun tetap saja sorot mata dan wajahnya menyimpan segurat kesedihan mendalam.


...🌿----------------🌿...

__ADS_1


Mohon dukungannya ya, readers terkasih dengan meninggalkan coment, rate, vote, like, gift jika berkenan dan favoritkan.


Maaf author memaksa. Tanpa dukungan dari readers terkasih, siapalah author recehan seperti aku. Happy reading 🙏😊🥰😘 .. Terima kasih


__ADS_2