
Sesaat setelah tiba di rumah sakit, tuan kheil, momy Lio dan Gisel bergegas ke ruang khusus tempat memandikan jenazah.
Ketiganya hanya menunggu di depan pintu. Momy Lio tak hentinya menangis memikirkan menantunya itu.
"Momy," tegur Gisel sembari merangkul momy Lio untuk menenangkannya. Momy Lio hanya mengangguk namun tetap saja ia tak bisa menahan air matanya.
Sedangkan tuan Kheil, ia tampak lebih tegar. Benaknya tetap memikirkan nasib pernikahan Azzura dan Close yang bisa diibaratkan sedang berada di ujung tanduk.
Sesungguhnya hati kecilnya masih merasakan shock akibat ulah dan perbuatan keji sang putra.
"Close, daddy nggak pernah mengajarimu berbuat kasar apalagi sampai melakukan kekerasan fisik pada wanita. Yang lebih membuat daddy shock, kamu sudah menyakiti batin istrimu. Bisa-bisanya kamu sering membawa perempuan itu tidur di rumahmu bahkan sering melakukan hubungan terlarang, tanpa memperdulikan perasaan Azzura. Benar-benar keterlaluan kamu!!" gumam tuan Kheil dengan begitu geramnya.
Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, akhirnya Azzura dan team medis keluar dari ruang khusus itu.
Bahkan kini ibu Azzura sudah dibaluti kain kafan. Hanya tinggal di bawa ke rumahnya untuk di shalatkan.
Dengan wajah datar dan lesu, Azzura menghampiri kedua mertua dan iparnya.
"Momy," lirihnya sekaligus merasa khawatir akan kondisi kesehatan momy Lio yang belum sepenuhnya pulih. "Kenapa Momy kemari? Momy masih belum pulih," bisiknya sambil memeluknya.
"Sayang, dalam keadaan seperti ini, kamu masih saja mengkhawatirkan momy. Lihatlah dirimu?" kata momy dengan suara tercekat. "Momy justru khawatir akan dirimu."
"Gisel, tolong tuntun momy," pinta Zu. "Daddy, sebaiknya daddy langsung ke rumahku saja. Di sana sudah ada Yoga dan paman Pras," perintah Zu yang kini tampak lebih tegar.
Namun tetap saja wajahnya menyiratkan kesedihan mendalam.
"Kemarilah, Nak," pinta daddy. Azzura hanya menurut. Tuan Kheil kembali memeluknya sambil mengelus punggungnya. "Maafkan, daddy dan momy, Nak," ucap daddy nyaris berbisik.
Dalam dekapan mertuanya Azzura hanya mempu mengangguk. Sebutir kristal bening jatuh dari ujung matanya.
"Apapun keputusan yang akan kamu ambil, daddy akan tetap menerima dengan lapang dada. Tapi daddy minta jangan sekarang, karena momy lagi tidak dalam kondisi stabil. Momy memiliki riwayat penyakit jantung," bisik daddy.
Azzura kembali mengangguk lalu melonggarkan dekapannya. "Ya sudah, Daddy duluan saja ke rumah. Tunggu aku di sana, aku akan menyusul dengan mobil ambulance," kata Zu lalu mengusap matanya.
Setelah itu, tuan Kheil mengajak istri dan anaknya kembali ke parkiran untuk menuju ke rumah duka. Sesaat setelah berada di parkiran mereka berpapasan dengan Close yang baru saja akan memasuki rumah sakit.
"Daddy, Momy, Gisel," tegurnya.
"Mertuamu sudah selesai di mandikan dan sudah dikafankan, sebentar lagi akan dibawa ke rumah duka," jelas daddy to the poin dengan nada dingin.
"Close, sebaiknya kamu temani istrimu," timpal momy.
"Baiklah."
"Azzura masih berada di kamar rawat ibunya sedang berkemas," sambung daddy tanpa menoleh sedikitpun. Ia masih merasakan kekecewaan atas sikap putra sulungnya itu.
Close hanya mengangguk lalu mempercepat langkahnya menuju bangsal tiga. Sedangkan tuan Kheil kembali melanjutkan langkahnya ke arah parkiran.
Sesaat setelah berada di ambang pintu, Close langsung membuka pintu. Sadar jika seseorang sedang membuka pintu kamar, Azzura menoleh sekilas.
Saat tahu itu adalah suaminya, ia kembali melanjutkan aktifitasnya mengemasi barang-barangnya.
"Azzura," tegurnya. "Biar aku bantu," lanjutnya menawari bantuan. Azzura hanya mengangguk karena ia merasa saat ini bukan saatnya ia harus bersilat lidah dengan suaminya.
Close pun mulai membantunya mengemasi barang-barang peninggalan ibu yang masih berada di kamar itu.
Setelah mengemasi barang-barang di kamar itu, dan merasa sudah tidak ada yang tertinggal, Azzura meminta suaminya lebih dulu meninggalkannya.
__ADS_1
"Close, sebaiknya kamu duluan saja. Tolong bawa semua barang-barang ini ke rumahku. Aku ingin sendiri sebentar saja," pinta Zu dengan wajah dan nada datar.
"Tapi ..."
"Aku mohon," desis Zu.
"Baiklah," sahut Close.
"Aku akan menyusul dengan mobil ambulance," timpal Zu.
Close hanya mengangguk pasrah namun dengan berat hati meninggalkan ruangan itu. Setelah itu, Azzura mengirim pesan singkat kepada sahabatnya Nanda.
βοΈ : Nanda, ibu sudah pergi meninggalkan kita. Ke rumahlah dan tunggu aku di sana.
Sepeninggal Close, Azzura duduk di atas bed pasien yang sudah enam bulan terakhir di tempati oleh ibu. Air matanya kembali luruh dengan begitu derasnya sambil mengelus tempat tidur itu.
"Ibu," lirihnya sambil terisak. "Maafkan aku karena masih belum bisa membuat ibu bahagia. Maafkan aku sudah banyak berbohong tentang pernikahanku. Maafkan aku karena belum sempat membawa ibu ke puncak," lirihnya dengan sesenggukan, menatap nanar bed yang kini telah kosong.
Tak lama berselang, Aida dan Farhan menyapanya.
"Zu ... ayo ... ambulance-nya sudah siap," kata Aida.
"Zu ... yang kuat, sabar, tegar serta ikhlaskan kepergian ibu," sambung Farhan.
"Insya Allah, Kak. Terima kasih karena kalian selau hadir menguatkan aku," balas Zu lalu beranjak dari tempat duduknya.
Ia menghampiri Aida dan Farhan lalu merangkul keduanya.
"Zu ... ingatlah ... Allah tidak menjanjikan langit selalu biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar. Tapi ketahuilah, bahwa Dia selalu memberi pelangi di setiap badai, tawa di setiap air mata, dan jawaban dari setiap doa," kata Aida sekaligus menguatkannya.
"Iya, Kak," lirihnya.
Azzura hanya mengangguk lalu memeluk lengan Aida dan mengikuti langkah Farhan menuju mobil ambulance yang sudah menunggu mereka.
Sesaat setelah berada di dalam mobil jenazah, Azzura memeluk tubuh ibunya yang kini terbalut kain kafan. Ia tampak lebih tegar sambil terus menatap wajah ibunya.
Farhan dan Aida yang duduk di sampingnya terus menggenggam erat jemari Azzura untuk menguatkan gadis itu sekaligus mengisyaratkan jika ia tak sendiri.
Setelah kurang lebih satu jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba juga di rumah duka.
"Ibu ... kita sudah sampai," desis Zu.
Pak Prasetya, Yoga, Close dan tuan Kheil menghampiri mobil ambulance itu.
"Biar, saya dan tuan Kheil saja yang menggotong jenazah bu Isma masuk ke dalam rumah," kata pak Prasetya.
Setelah itu kedua pria paruh baya itu sama-sama mengangkat tubuh bu Isma masuk ke dalam rumah untuk di shalatkan.
Sesaat setelah berada di dalam rumah, Nanda, bunda Fahira, Gisel dan momy Lio menghampirinya.
"Bunda, Nanda," lirihnya lalu memeluk keduanya.
"Yang sabar ya, Nak," bisik bunda.
"Zu ... aku turut berduka," timpal Nanda sambil menangis.
Azzura hanya mampu mengangguk dan menangis. Setelah itu mereka pun duduk bersama.
__ADS_1
Sedangkan Close sejak tadi ia terus memperhatikan istrinya diantara wanita yang mengelilinginya.
Hatinya mencelos sekaligus terenyuh, selama enam bulan terakhir, ketika ia sering memukul istrinya itu, sedikitpun ia tak pernah melihat air matanya jatuh walau hanya setetes.
Namun hari ini, ia baru melihat sisi rapuhnya istrinya itu. Bukan pukulan atau kata makiannya yang membuatnya menangis melainkan kepergian ibunya untuk selamanya.
"Maafkan aku ... aku berharap masih ada kesempatan untukku untuk memperbaiki semua kesalahanku padamu."
Tak lama berselang, Close ikut maju ke shaf paling depan untuk ikut menyolatkan jenazah mertuanya.
Begitu suara imam berhenti dan meminta jenazah di pindahkan ke keranda jenazah, tangisan Azzura semakin terdengar pilu.
Dengan langkah gontai ia mengikuti keranda itu yang akan di bawa ke tanah pemakaman menggunakan mobil ambulance.
Tak tega melihat Azzura terus menangis. Paman Pras mendekapnya dengan erat lalu berbisik,
"Nak Azzura, jangan menganggap kamu hanya sendiri, ada paman, bunda, mertuamu, sahabatmu, putra paman dan Aida." Pak Prasetya tak kuasa menahan air matanya.
"Ayah ..." sebut Zu dengan sesenggukan dalam dekapan sahabat ayahnya itu.
"Iya, ini ayah. Paman juga ayahmu, sejak dulu kamu sudah menganggap paman sebagai ayah. Jika kamu nyaman memanggil dengan sebutan itu, paman nggak keberatan," bisiknya lagi sambil mengelus punggung gadis itu.
"Sudah jangan seperti ini, kita harus segera mengantar ibumu ke tempat terakhir bersama almarhum ayahmu."
Lagi-lagi dari jarak yang tidak terlalu jauh, Close menatap keduanya dengan perasaan cemburu. Namun ia segera menepis perasaan itu karena harus ikut mengantar.
*********
Di tempat pemakaman ...
Close, pak Prasetya, tuan Kheil, Yoga dan Farhan ikut turun ke liang lahat untuk meletakkan jenazah bu Isma dan almarhum ayah Azzura.
Begitu selesai, pak Prasetya meminta mereka kembali ke atas dan ia sendiri yang akan mengumandangkan azan untuk terakhir kalinya untuk bu Isma.
Dengan suara bergetar, suara azan mulai dikumandangkan hingga selesai dan dilanjutkan dengan diturunkan tanah ke liang lahat hingga selesai dan di tancapkan batu nisan bertuliskan nama ibu dan ayah Azzura.
Beberapa menit berlalu setelah didoakan, satu persatu pelayat mulai meninggalkan tanah pemakaman itu. Namun tidak bagi Azzura.
Ia memeluk batu nisan orang tuanya sambil menangis pilu. Walaupun sudah diajak pulang oleh paman Pras, ia enggan dan meminta supaya mereka meninggalkannya saja.
Azzura terus menangis memeluk nisan itu sambil mengelusnya. "Ya Allah ... separuh jiwaku seolah pergi," isaknya dengan tersengal-sengal.
Hari semakin menunjukkan tanda-tanda gelap bahkan langit seolah ikut merasa kesedihan gadis berjilbab itu. Mendung disertai angin yang mulai berhembus pelan.
Tak lama berselang hujan mulai turun dan ikut membasahi tubuhnya. Ia masih betah memeluk batu nisan itu sambil menangis.
Dari jarak yang tak terlalu jauh, Close yang sejak tadi memilih tidak ikut pulang terus berdiri memperhatikan istrinya yang sejak tadi menangis.
Ia pun melangkah pelan lalu menegurnya.
"Azzura, kamu bisa sakit jika terus berhujan-hujanan begini," kata Close. "Ayo kita pulang," ajaknya.
Azzura mendongak menatapnya, satu kata untuk suaminya itu adalah BENCI. Namun ia tak mau berdebat saat ini dan memilih berdiri dan mengiyakan ajakan suaminya itu.
Dalam keadaan basah, keduanya sama-sama duduk di dalam mobil tanpa ada satupun yang membuka suara, hingga keduanya tiba di rumah.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ