
Sesaat setelah memarkir mobilnya, di parkiran rumah sakit, Genta melirik ke samping.
"Ternyata dia tertidur."
Ia terus memandangi wajah sendu gadis itu yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya. Merasa tak tega membangunkannya, Genta memilih menyandarkan punggungnya.
"Sepertinya dia shock banget."
Genta menatap lurus ke depan lalu membayangkan kejadian tadi. Ia langsung memegang dadanya yang tiba-tiba saja berdebar.
Satu jam sebelum kejadian ...
Setelah puas bermain dengan sang putra diruang santai bersama bi Titin dan mamanya, ia memilih duduk sejenak sambil memperhatikan bocah menggemaskan itu.
Tak lama berselang ponselnya bergetar. Dengan cepat ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.
"Azzura." Ia langsung menjawab panggilan itu.
"Assalamu'alaikum ... Zu, apa kamu masih di sekolahan?"
"Waa'laikumsalam, Mas. Iya masih di sekolah. Nggak usah jemput ya, Mas soalnya aku ingin ke toko kue dulu. oh ya, apa Dev rewel selama bersama Mas tadi?"
"Alhamdulillah ... nggak kok, ini dia lagi main sama mama dan bi Titin. Ya sudah kamu hati-hati ya."
Iya, Mas, Assalamu'alaikum."
"Ya, Waa'laikumsalam." Setelah itu, Genta memutuskan panggilan.
"Ck, sebaiknya aku menjemputnya saja. Perasaanku kok nggak enak begini ya?" gumamnya.
Ia melirik jam tangannya lalu beranjak dari sofa kemudian menghampiri putranya yang sedang bermain.
"Sayang, ayah jemput bunda dulu ya. Dev di sini saja sama Oma dan bi Titin. Ayah nggak lama, boleh kan?" bujuknya seraya mengelus kepala bocah itu.
Devan hanya mengangguk sambil memainkan mobilannya.
"Mah, Bi, aku jemput Azzura dulu ya," pamitnya.
"Iya, hati-hati di jalan." pesan mama.
********
Sesaat setelah tiba di depan pintu gerbang sekolah, Genta menghentikan mobilnya.
Alisnya langsung bertaut saat mendapati sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan Azzura. Tak lama berselang seorang pria turun dari mobil itu lalu menghampiri gadis itu.
"Siapa pria itu?" desisnya sambil memperhatikan keduanya yang tampak sedang mengobrol.
Saat tangan Azzura digenggam paksa kemudian ditarik, ia langsung membuka pintu mobil. Ia semakin khawatir saat gadis itu berontak dan memekik minta dilepaskan.
Ia pun menghampiri keduanya lalu meminta Close melepaskan Azzura dengan perasaan geram.
*******
"Ssssttt ... kepalaku," ringis Zu.
Seketika lamunannya membuyar lalu melirik gadis itu yang sedang memegang kepalanya.
"Zu," tegurnya merasa khawatir.
"Mas, kepalaku sakit banget," lirihnya disertai linangan air matanya.
Kejadian barusan cukup membuatnya shock. Sekelumit ingatannya akan KDRT itu kembali memenuhi benaknya.
__ADS_1
Kepalanya semakin terasa nyeri saat mengingat kepalanya yang sering dibenturkan ke tembok.
"Aakhh," rintihnya lalu menempelkan kepala ke dashboard mobil.
Merasa jika Azzura tak baik-baik saja, Genta turun dari mobil lalu membukanya pintu mobil.
"Zu, apa kamu baik-baik saja." Genta berjongkok di depan pintu mobil itu sambil menatapnya cemas.
Tanpa ia duga, gadis itu kembali memeluknya dengan erat sambil terisak dengan tubuh gemetaran.
"Mas ... apakah ada obat yang bisa membuat ingatan seseorang hilang? Jika ada, katakan kepadaku di mana aku bisa mendapatkannya? Aku ingin membeli obat itu untuk menghilangkan ingatanku agar nggak mengingat apapun lagi."
mendengar ucapan gadis berhijab itu, seketika membuat hati Genta tercubit sekaligus tak kuasa menahan air matanya mendengar kalimat barusan.
Sakit ...
Itulah yang ia rasakan saat ini. Bukan sakit karena kecewa tapi sakit karena mendapati gadis itu sedang berperang melawan sakit mentalnya.
Belum sempat ia menjawab, tangan yang tadinya begitu kuat mendekapnya perlahan jatuh.
"Astaghfirullah ... Zu ... Azzura," bisiknya sembari menahan tubuh gadis itu.
.
.
.
Garena Cafe ...
Tampak Close dan asistennya sedang berada di ruang VIP. Berharap jika Azzura berada di tempat itu seperti kemarin.
"Tuan." Fatur tampak ragu ingin menjelaskan sesuatu.
"Ada apa? Sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan. Katakan saja," sahutnya lalu menyesap rokoknya.
"What?!!" Close langsung terkejut lalu menegakkan badannya.
"Selain pemilik dari yayasan sekolah elit itu, sebenarnya beliau juga seorang perwira di satuan TNI Angkatan Udara sebagai pilot sekaligus instruktur. Cafe ini juga merupakan milik mama beliau," jelas Fatur panjang lebar.
"Lagi ...? Kenapa harus berhubungan dan terkait dengan satuan itu lagi?!!" batin Close sekaligus terkejut. "Pantasan saja aku seolah melihat sosok ayahnya Yoga. Ternyata profesinya sama."
Keheningan kembali tercipta di antar keduanya. Hingga pintu diketuk lalu dibuka oleh seseorang. Close langsung menoleh.
Ternyata seorang waiters yang mengantar pesanan mereka. Tadinya ia berharap jika itu Azzura namun tak sesuai harapannya.
"Bagaimana caranya agar aku bisa berbicara dan membujuknya?" gumam Close dalam hati dan tampak memikirkan sesuatu.
Sedangkan Fatur hanya menatapnya heran sekaligus bingung.
Tak lama berselang getaran ponsel seketika memecah keheningan ruangan itu. Dengan cepat Close meraih ponselnya yang terletak di atas meja.
"Daddy?!" lirihnya lalu menjawab panggilan itu.
"Ya, Dad?"
"Apa kamu masih di kota M? Bagaimana dengan masalah kantor, apa kamu sudah menyelesaikan masalah di sana?"
"Iya, dad. Semuanya sudah beres." Ia pun menjelaskan pokok permasalahannya dan memberitahu jika ia merombak kembali semua peraturan kantor.
"Bagus, kapan kamu kembali?"
Mendengar pertanyaan itu, seketika ia terdiam namun sedetik kemudian ia langsung mendapat ide.
__ADS_1
"Aku akan mengabari dady nanti," ucapan dengan gamblang.
"Baiklah."
Setelah itu dady Kheil memutuskan panggilan. Sementara, Close tampak tersenyum setelah sambungan itu terputus.
Entah apa yang ada dipikirannya.
.
.
.
Kini Azzura sudah berada di salah satu kamar rawat. Gadis itu masih tampak memejamkan matanya di atas bed pasien.
Sedangkan Genta sedari tadi terus memandangi wajah sendunya. Tak lama berselang Nella dan Galuh menyapanya.
"Bang!"
Genta langsung mengarahkan pandangannya ke arah keduanya.
"Nella, Galuh," sebutnya.
"Bang, aku sudah menghubungi psikolog yang akan menangani Azzura. Aku nggak menyangka jika Azzura ternyata memiliki trauma psikis. Soalnya selama ini dia terlihat baik-baik saja," kata Galuh.
"Iya, Bang. Kasian banget," timpal Nella. "Seandainya saja Yoga bekerja di sini, dia bisa menjadi psikolog untuk Azzura," sambungnya lagi.
"Benar juga ya?" sahut Galuh.
Seketika kening Genta mengerut tipis.
"Maksudmu ... Yoga adikmu?" tanya Genta dan Nella menjawab dengan mengangguk kepala.
"Tapi nggak apa-apa, Bang. Psikolog yang akan menangani Azzura adalah psikolog terbaik di kota ini. Lagian Abang sangat mengenalnya," kata Nella lagi.
"Hmm ..." Genta mengangguk lalu kembali menatap Azzura.
"Kenapa gadis selembut ini bisa-bisanya disakiti hingga berdampak pada psikisnya. Rasanya aku ingin menghajar mantan suaminya itu," gumamnya dalam hati lalu mengepalkan kedua tangannya menahan emosi.
Ruangan itu kembali hening, ketiganya sama-sama memandangi Azzura yang masih betah memejamkan matanya.
Tak lama kemudian, ponsel Genta bergetar. Dengan cepat ia merogoh kantong celananya.
Saat menatap layar ponsel, ia langsung melirik jam tangannya.
"Astaghfirullah," ucapnya lalu menjawab panggilan dari sang mama.
"Ya, Assalamu'alaikum ... Mah, maaf aku telat pulangnya soalnya lagi di rumah sakit."
"Waa'laikumsalam, Nak. Apa kamu sakit? Cepatlah pulang, Nak. Sejak tadi Devan mencari kalian."
"Iya, Mah, sebentar lagi," jawab Genta dan memilih enggan memberitahu mamanya tentang keadaan Azzura.
"Lalu mana Devan, Mah aku ingin bicara sebentar."
"Masih tidur, Nak. Usahakan kalian pulang sekarang. Takutnya Devan menangis mencari keberadaan kalian."
"Iya, Mah. Ya sudah aku tutup telfonnya."
Begitu panggilan berakhir, Genta menghela nafas.
"Wah Bang, sepertinya Abang sangat khawatir?! Makanya cepat-cepat ..."
__ADS_1
"Ck ....apaan sih kamu. Sempat-sempatnya mikirin hal lain," sela Genta lalu meninju lengan sang adik karena kesal.
Galuh langsung terkekeh menatap wajah kesal sang kakak.