Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bonchap 4


__ADS_3

Sesaat setelah duduk di kursi kemudi, ia lebih dulu menghubungi Syakila. Hanya sekedar ingin menawari tumpangan.


Setelah menunggu beberapa detik, akhirnya penggilan darinya dijawab oleh Syakila yang baru saja akan memesan ojek online.


"Assalamu'alaikum, Ga ... tumben nelfon pagi-pagi begini?" tanya Sya.


"Waa'laikumsalam ... mau dijemput nggak?" tawar Yoga to the poin.


"Apa boleh?" tanya Sya lagi.


"Boleh dong, jika kamu nggak keberatan. Kebetulan aku baru saja ingin berangkat kerja. Kalau mau, aku jemput sekarang," tawar Yoga lagi.


"Ya sudah, aku tungguin deh," kata Sya. Setelah itu ia pun memutuskan panggilan telfon.


"Lumayanlah dapat tumpangan gratis," gumam Sya lalu terkekeh.


.


.


.


Tin ... tin ... tin ...


Suara klakson mobil menyapa gendang telinga Syakila yang sejak tadi menunggu. Ia pun segera bergegas menuju pintu ke arah sumber suara.


"Maaf, lama ya?" ucap Yoga sesaat setelah Syakila masuk ke dalam mobil.


"Nggak apa-apa, lumayanlah. Lagian di jam segini memang lagi padat-padatnya kan di jalan," balas Sya.


"Hmm ..."


Yoga kembali melajukan kendaraannya menuju rumah sakit kota A tempat Syakila bekerja.Di sepanjang perjalanan tak banyak yang mereka obrolkan hanya masalah pekerjaan.


Namun sesekali Yoga menggoda gadis itu hingga sukses membuat kedua pipi Syakila merona. Entahlah ia merasa nyaman saja jika bersama dengan pria yang berprofesi sebagai psikolog itu.


Pria yang selalu membuatnya tersenyum dan bisa membuatnya baper dengan ucapan dan kata-kata yang suka menggodanya. Meski ia hanya becanda.


"Ada apa sih?! Kok lihatnya seperti itu? Jangan bilang kamu lagi terpesona dengan wajah tampanku yaaa ... hahahaha ..." kata Yoga dengan narsisnya.


"Ishhh ... siapa juga yang terpesona denganmu, nggak kali ..." elak Sya lalu mengalihkan pandangannya ke depan.


"Sya ... Sya ... ada apa denganmu? Kenapa kamu menatapnya seperti itu. Sampai ketahuan pula sama sang empunya wajah," batin Sya mengata-ngatai dirinya sendiri.


"Hayooo ... ngaku nggak ...? Ntar jatuh cinta padaku, apa kamu mau bertanggungjawab?" goda Yoga lagi hingga membuat semburat merah di pipi Syakila.


Mendengar ucapan pria tampan itu, ingin rasanya Syakila membenamkan wajahnya ke dasar bumi terdalam karena malu.


"Tenang saja, jika kamu jatuh cinta padaku jangan dipendam ungkapkan saja karena cinta bertepuk sebelah tangan itu nggak enak," sambung Yoga semakin narsis sambil tertawa terbahak.


"Hadeeeh kapan sih, nyampenya? Aku merasa waktu langsung berjalan dengan lambat," gumam Sya dalam hatinya.


Tak berselang lama, akhirnya kendaraan yang dikendarai oleh Yoga memasuki halaman parkir rumah sakit.


"Makasih ya, Yoga," ucap Sya sambil melepas seat belt-nya. Aku masuk dulu."


"Sama-sama, selamat bekerja ya. Ucapanku tadi jangan ditanggapi serius, aku hanya bercanda," kata Yoga sambil tersenyum lebar hingga lesung pipinya terbentuk jelas di pipi kirinya.


"Biasanya ucapan adalah doa. Jika aku benar-benar jatuh cinta, apa kamu akan menerimaku? Tapi ya sudahlah lupakan," balas Sya lalu keluar dari mobil.


Lagi-lagi Yoga terkekeh lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghela nafas. Sedetik kemudian ia pun kembali melanjukan mobilnya menuju rumah sakit tempatnya bekerja.


Sedangkan Syakila melanjutkan langkahnya menuju lobby rumah sakit. Baru saja beberapa langkah seseorang memanggilnya.


"Syakila!!"


Merasa sangat mengenal suara itu ia pun berbalik.


"El!!" sahutnya seraya menghampiri wanita cantik itu. "Sendiri saja?"


"Ya, aku ada urusan dengan Mike dan ini sedikit urgent," jawab El.


"Ya sudah, kita bareng saja," cetusnya.


Keduanya kembali melanjutkan langkahnya menuju lobby rumah sakit.


.


.

__ADS_1


.


Setibanya di rumah sakit, Yoga kembali melanjutkan aktivitasnya seperti biasa.


Setelah kurang lebih setengah jam berada di ruangannya ia memutuskan ke ruangan kerja Daffa.


"Kak?" sapanya.


"Yoga," sahut Daffa lalu mengulas senyum. "Apa ada masalah?"


"Nggak ... semuanya baik-baik saja. Aku hanya suntuk di ruanganku, jadi aku ke sini saja," balas Yoga lalu duduk di kursi.


Daffa terkekeh menatapnya. "oh ya, Ga, jika berkenan Minggu depan tepatnya hari Senin, datanglah ke rumah."


"Untuk?" Alisnya langsung bertaut.


"Acara aqiqah adiknya Zana," jelas Daffa.


"Kapan kak Kiya melahirkan?" tanya Yoga.


"Tiga hari yang lalu. Aku dan Kiya dikaruniai bayi cewek lagi."


"Alhamdulillah ... selamat ya kak?" ucap Yoga."


"Terima kasih, Yoga. By the way ... kamu kapan menyusul? Ingat umur, Ga," peringat Daffa.


Yoga menggedikkan bahunya seolah cuek dengan pertanyaan dari sepupunya itu.


"Kapan-kapan bila sudah ketemu yang cocok," timpal yoga.


"Lalu, bagaimana dengan hubunganmu dan Syakila? Bukannya kalian ..."


"Kami hanya berteman," sela Yoga cepat lalu terkekeh mengingat gadis itu.


"Bukan cuman Syakila tapi juga pasienmu hari itu?" selidik Daffa.


Yoga bergeming ... entah mengapa jika mengingat Rissa, hatinya tiba-tiba saja terenyuh. Seperti ada yang beda. Namun entahlah ... perasaan macam apa yang ia miliki pada kedua gadis yang kini dekat dengannya itu.


Tik ... tik ... tik ...


Daffa menjentikkan jari tepat di depan wajah Yoga.


Lagi ... Yoga hanya bergeming sambil mengusap tengkuknya seolah tak bisa menjawab.


"Tuh kan ... bingung sendiri," sambung Daffa lalu terkekeh.


Sementara di lain tempat, Rissa baru saja tiba di kampus. Ia pun melanjutkan langkahnya menuju kelas untuk memulai pelajarannya.


"Selamat pagi semua," ucapnya dengan ramah pada mahasiswanya yang sejak tadi sudah menunggunya kehadirannya.


"Pagi juga, Bu," jawab mahasiswanya serentak.


"Bisa kita mulai mata kuliahnya pagi ini? Saya minta tugas yang saya kasih seminggu yang lalu nanti dikumpul ya," tegas Rissa. "Saya rasa waktu yang saya kasih selama seminggu sudah cukup bagi kalian."


"Baik Bu," jawab mahasiswanya lagi.


"Baiklah, mari kita mulai membahas materi mata kuliah sekarang," kata Rissa.


Ia pun mulai membahas materi mata kuliah sastra bahasa Inggris. Sesekali ia mengajukan pertanyaan pada mahasiswanya secara random.


Setelah kurang lebih satu jam memberi penjelasan, akhirnya ia pun meninggalkan kelas itu lalu menuju ruang kerjanya.


"Sesaat setelah mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya ia pun membuka laptopnya lalu memeriksa beberapa laporan.


Tak lama berselang, pintu ruangannya diketuk.


"Maaf Bu, saya ingin mengantarkan ini." Salah satu mahasiswanya membawa tugas mereka yang telah dikumpulkan.


"Hmm ... letakkan saja di situ," perintah Rissa sambil menunjuk tempat di depan persis laptopnya.


"Baik, Bu."


Setelah meletakkan tugas kuliah itu, mahasiswa itu pun kembali berpamitan lalu meninggalkan ruangan sang dosen.


Sepeninggal mahasiswanya tadi, Rissa mulai memeriksa tugas-tugas itu, sesekali ia menghela nafas karena sedikit kecewa dengan hasil tugas yang kurang memuaskan baginya.


"Anak-anak ini niat nggak sih, kuliahnya?!" gerutunya. "Sepertinya mereka harus revisi lagi tugas ini. Padahal aku kasih jangka waktu seminggu. Heran deh!"


Beberapa jam berlalu tepatnya pukul 12:15 siang ...

__ADS_1


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Rissa mulai meninggalkan kampus, lalu mampir ke salah satu restoran untuk membeli makanan.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pesanan makan siangnya pun diantar.


"Mbak, ini pesanannya," kata pelayan restoran sambil meletakkan paper bag makanan itu di atas meja.


"Makasih ya," ucap Rissa kemudian mengambil paper bag itu lalu meninggalkan restoran.


.


.


.


Setibanya di rumah sakit jiwa itu, Rissa menatap nanar bangunan itu. Tempat di mana ia menghabiskan waktunya selama setahun untuk memulihkan gangguan mentalnya.


Ia pun melanjutkan langkahnya hingga sampai di depan pintu ruangan kerja Yoga lalu mengetuknya.


"Rissa?" sebut Yoga lalu beranjak dari kursi kerjanya.


"Maaf, aku nggak menelfonmu sebelum ke sini. Apa kamu masih sibuk?" tanyanya.


"Nggak, hanya memeriksa beberapa data pasien," jawab yoga dengan seulas senyum.


"Aku bawa makan siang. Makan yuk," ajaknya lalu meletakkan paper bag itu di atas meja sofa.


"Makasih ya, Rissa," ucap Yoga lalu duduk di single sofa.


"Sama-sama."


Rissa mengeluarkan box makanan dari dalam paper bag lalu menatapnya di atas meja. Sedangkan Yoga hanya menatapnya dalam diam.


"Yuk makan," tawar Rissa setelah selesai menata makanan itu.


"Ah iya," sahut Yoga.


Keduanya pun mulai menyantap makanan itu dengan lahap hingga selesai.


"Kapan-kapan aku juga akan mentraktirmu makan di luar. Itupun jika kamu nggak keberatan," kata Yoga.


"Nggak masalah, yang penting nggak ada yang marah sama kamu," balas Rissa lalu meneguk air mineralnya.


"Nggak ada yang bakal marah. Maklum aku jones," kelakar Yoga.


"Jones? Apaan tuh? tanya Rissa dengan bingung.


"Ppppffff .... hahahaha ... hari gini nggak tahu jones, parah?" Yoga tak bisa menahan tawanya menatap wajah bingung gadis bermanik hazel itu. "Jones itu artinya jomblo ngenes ... ngerti?"


"Mending jones, Ga, daripada salah pilih pasangan. Adanya bikin sakit hati," sarkas Rissa.


Yoga mengangguk sekaligus membenarkan ucapan Rissa.


Obrolan keduanya terus berlanjut. Tak henti-hentinya Rissa tertawa karena Yoga terus menggodanya dan sesekali membuat lelucon.


Melihat gadis itu tertawa lepas, Yoga ikut merasa senang. Sadar jika Rissa sudah terlalu lama berada di ruangan kerja Yoga, akhirnya ia berpamitan karena merasa tak enak.


"Yoga, aku pamit ya."


"Ya sudah, ayo aku antar sampai ke parkiran," tawar Yoga dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Rissa.


Ketika keduanya melanjutkan langkahnya, mereka berpapasan dengan Syakila.


Seketika Syakila menautkan keningnya menatap Yoga dan Rissa. Hatinya mulai bertanya-tanya ada hubungan apa Yoga dengan pasiennya itu.


Entah mengapa ada yang sulit ia artikan dengan perasaannya saat menatap keduanya begitu dekat.


"Sya?" tegur Yoga. "Mau ke ruangan kak Daffa ya?" tanya Yoga dengan santainya.


"Iya, sekalian membawakan makan siang dari kak Kiya," bohongnya. Padahal makanan yang dibawanya untuk Yoga.


"Haaah ... sayang sekali, aku kirain untukku?" kelakar Yoga lalu melirik Rissa yang kini membulatkan matanya.


"Jika kamu mau, nggak apa-apa buat kamu saja," kata Sya.


"Nggak, aku hanya bercanda, Sya. Aku sudah makan bareng Rissa barusan. Ya sudah, kamu cepetan gih bawa makanannya ke ruang kerja kak Daffa. Ntar dia KO lagi gegara kelaparan," kelakar Yoga lagi sambil terkekeh.


Tanpa tahu perasaan apa yang sedang dirasakan oleh Syakila saat ini.


"Ya sudah, aku antar Rissa dulu ke parkiran," izin Yoga lalu mengajak Rissa melanjutkan langkahnya menuju parkiran mobil.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2