Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
Bonchap 10


__ADS_3

Sambil menunggu jemputan, Rissa memilih mengobrol santai dengan beberapa teman sesama dosen.


Hingga getaran ponselnya memaksanya menghentikan obrolannya sejenak lalu merogoh tasnya.


Saat menatap kontak yang memanggil, ia pun meminta izin sekaligus berpamitan pada teman-teman yang seprofesi dengannya itu.


Setelah sedikit menjauh, ia pun menjawab panggilan dari Yoga.


"Ya hallo ..."


"Kamu di mana? Aku sudah di depan pintu gerbang kampus," tanya Yoga.


"Tungguin saja di situ, bentar lagi aku sampai," kata Rissa sambil menuruni anak tangga.


"Baiklah," balas Yoga lalu memutuskan panggilan telepon.


Begitu panggilan terputus, Rissa semakin mempercepat langkahnya menuju pintu gerbang kampus lalu melambaikan tangannya ke arah Yoga.


Senyum pria itu langsung mengembang menatapnya dari kejauhan.


"Please jangan perlihatkan senyum itu padaku," gumam Rissa. "Senyum yang bisa membuat setiap wanita meleleh. Bikin salting saja."


"Maaf ... sudah membuatmu menunggu," ucap Rissa sembari menatap layar ponselnya. "Sudah jam empat sore."


"Nggak apa-apa, lagian aku belum lama kok," sahut Yoga lalu membukakannya pintu mobil.


Sesaat setelah keduanya duduk di dalam mobil, Yoga meliriknya sejenak lalu berkata, "Mau nggak jika kita ke salah satu pantai terdekat. Sekalian menikmati sunset."


"Boleh deh, lagian sudah lama aku nggak melihat sunset sejak aku mengurung diri," balas Rissa dengan seulas senyum.


"Kalau begitu, aku izin dulu pada orang tuamu, soalnya kita bakal pulang malam," cetus Yoga.


Rissa hanya mengangguk pelan sekaligus menyetujui. Sebelum melajukan kendaraannya, Yoga terlebih dulu menghubungi orang tua Rissa untuk meminta izin jika ia dan Rissa akan pulang sedikit telat.


Setelah mendapat persetujuan dari orang tua Rissa, barulah Yoga mulai melajukan kendaraannya itu menuju tempat tujuan.


.


.


.


Setibanya di tempat tujuan, Yoga mengajak Rissa menuju tempat yang dimaksud. Keduanya sama-sama melangkah ke arah hamparan pasir putih yang terbentang di sepanjang pantai.


"I'ts so beautiful," gumam Rissa sesaat setelah sampai di pantai itu.

__ADS_1


Memejamkan mata sembari menghirup udara dalam-dalam. Merasakan angin yang berhembus menerpa sekujur tubuhnya hingga membuat rambut panjangnya melambai-lambai.


Sejenak keduanya tetap mematung di tempat sembari mendengar suara khas deru ombak disertai suara angin.


Yoga melirik Rissa yang masih betah memejamkan kedua matanya. Cahaya senja yang menyinari wajah cantik gadis blasteran itu seolah menghipnotisnya.


"Do you love the view?" bisik Yoga dengan senyum tipis.


"Yes," balas Rissa lalu membuka matanya. "Aku berencana akan berlibur ke Maladewa setelah liburan nanti."


"Maksudmu Maladewa pulau Maldives ...? Wow ... setahuku pulau itu termasuk salah satu pulau terindah di dunia dan salah satu tempat favorit untuk honeymoon," jelas Yoga.


"Hmm." Sambil mengangguk Rissa menoleh menatap wajah Yoga yang sejak tadi menatapnya.


Seketika mata keduanya saling bertemu saling terpaku hingga Rissa cepat-cepat menunduk seolah tak kuat menatap wajah tampan pria yang saat sedang berdiri di sampingnya.


"Astaga kenapa aku jadi deg deg-an begini ya?" batinnya seraya memegang dadanya.


"Ada apa?" tanya Yoga dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya.


"Nggak apa-apa," bisik Rissa lalu perlahan mendudukkan dirinya di atas pasir sambil mengarahkan pandangannya ke ufuk barat.


Sedetik kemudian Yoga ikut duduk di sampingnya. Keheningan kembali tercipta. Sebelum akhirnya Yoga kembali membuka suara.


"Rissa ...?"


"Maaf jika pertanyaanku ini membuatmu tersinggung," kata Yoga.


Dengan alis yang saling bertaut, Rissa melirik Yoga. "Apa yang ingin kamu tanyakan? Tanyakan saja."


"Apa kamu nggak tertarik lagi ingin menjalin hubungan serius dengan seseorang? Atau memiliki keluarga? Maksudku menikah?" tanya Yoga to the poin namun dengan nada pelan.


Rissa bergeming mendengar pertanyaan dari Yoga lalu tersenyum tipis merasa miris. Ia pun menghela nafas pelan.


"Menurut mu?" tanyanya balik dengan lirih.


"Jika ada seseorang yang benar-benar tulus mencintaimu tanpa memandang masa lalumu yang kelam, apa kamu akan menerimanya? Bukan hanya mencintai tapi benar-benar serius ingin menikahimu, apa kamu akan menerimanya?" cecar Yoga dengan wajah serius.


Lagi-lagi Rissa bergeming lalu perlahan menatapnya dengan mata berkaca-kaca, kemudian tersenyum dengan terpaksa.


"Yoga ..." ucapnya lirih. "Nggak ada pria yang akan tulus mencintai ku setelah tahu masa laluku yang kelam. Apalagi jika dia tahu aku pernah digilir," sambung Rissa.


Air matanya mulai menetes dari kelopak mata indahnya. "Bukan cuman itu, jika pria itu tahu aku juga pernah sakit mental, dia pasti akan menolak bahkan mungkin akan menjauhiku," tutur Rissa lagi.


"Lebih baik aku tetap single seumur hidup. Aku takut pria itu akan mengungkit masa laluku jika terjadi konflik dalam hubungan kami nantinya. Dan itu sangat menyakitkan," pungkas Rissa sembari menyeka air matanya.

__ADS_1


"Rissa ..." desis Yoga lalu perlahan menggenggam jemari lentik gadis itu.


"Bagaimana jika pria yang tulus mencintaimu dan ingin menikahimu itu adalah pria yang saat ini sedang menggenggam tanganmu?" tanya Yoga sungguh-sungguh.


Mendengan ucapan frontal yang terucap dari bibir sang Psikolog, Rissa langsung mendongak menatapnya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tak percaya.


"Apa aku nggak salah dengar?" bisik Rissa masih tak percaya.


"Nggak, aku sungguh-sungguh," sahut Yoga masih menggenggam jemarinya.


"Apa benar kamu mencintaiku dengan tulus? Atau hanya karena hanya bersimpati padaku?" selidik Rissa dengan mata berkaca-kaca.


Sejenak Yoga bergeming menatap manik hazel gadis itu dalam-dalam dengan wajah serius.


"Tataplah mataku dalam-dalam ... apa ada kebohongan di dalamnya? Aku serius dengan ucapanku," ucap Yoga.


"Lalu bagaimana dengan dokter Syakila? Bukankah kalian menjalin hubungan serius?" Rissa balik bertanya.


Yoga menghela nafas mendengar pertanyaan dari gadis itu yang seolah masih belum yakin dengan ungkapan isi hatinya.


"Rissa ... aku dan Syakila memang menjalin hubungan tapi hanya sebatas teman. Jujur saja aku memang pernah menyukainya. Tapi sikapnya yang cenderung selalu menjaga jarak dan menghindar, membuatku mengurungkan niat untuk menyatakan perasaanku padanya."


"Hingga kamu hadir dalam kehidupanku. Menjadi pasienku sekaligus teman."


Yoga menjeda ucapannya sejenak sembari menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembusnya perlahan.


"Rissa ... awalnya aku memang hanya merasa simpati padamu. Namun seiring berjalannya waktu karena kita selalu bersama, tanpa sadar cinta itu mulai tumbuh di hatiku. Dua tahun sudah kita menjalin pertemanan. Sudah cukup lama aku memendam perasaan ini padamu."


"Yoga ..." ucap Rissa dengan lirih sambil menunduk.


"Aku pernah merasakan kekecewaan yang mendalam dan aku nggak mau itu terulang lagi. Hari ini aku memberanikan diriku untuk menyatakan perasaanku padamu setelah lama aku memendamnya," pungkas Yoga.


"Tapi aku sudah ternoda, korban pelecehan dan pernah sakit mental. Apa kamu nggak jijik dan malu mencintai gadis sepertiku?" tanya Rissa sambil menangis.


"Nggak ... aku menerimamu apa adanya. Bukan karena kasian ataupun simpati. Tapi aku benar-benar mencintaimu dengan tulus dan ingin menjadikanmu sebagai istriku. Maukah kamu menerima diriku?" tanya Yoga dengan penuh harap.


Tak ada jawaban dari Rissa melainkan hanya suara tangisan yang terdengar dari gadis itu sambil tertunduk. Melihat Rissa seperti itu, Yoga sedikit mendekat lalu memeluknya.


"Clarissa Saraswati Imanuel ... sekelam, sehitam dan sepahit apa pun masa lalumu, aku nggak peduli. Semuanya terjadi bukan karena inginmu melainkan itu hanya suatu kecelakaan. Aku menerima dirimu apa adanya dengan keadaan dirimu saat ini. Jangan pernah merasa jika kamu nggak pantas dicintai atau dinikahi olehku," bisik Yoga sembari mengelus rambut panjang Rissa.


Lagi ... tak ada jawaban dari Rissa melainkan tangisannya semakin menjadi. Ia tak menyangka namun sekaligus sangat terharu mendengar semua ungkapan tulus dari Yoga.


Ia sama sekali tak menyangka jika pria yang sedang memeluknya saat ini benar-benar mencintainya.


"Ya Tuhan ... aku seperti bermimpi saja," batin Rissa dengan sesenggukan dalam dekapan sang Psikolog.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2