Retaknya Sebuah Kaca

Retaknya Sebuah Kaca
131. Dipecat ...


__ADS_3

Subuh dini hari, saat matanya perlahan terbuka, Azzura menggeliat pelan. Memandangi sejenak wajah teduh suaminya di bawah cahaya temaram. Tangannya terangkat mengelus rahang tegas suaminya dengan lembut.


"Mas ... Mas ... ayo bangun, sudah subuh," bisik Zu.


Genta membuka mata lalu memegang jemarinya lalu mengecup singkat. "Mendekatlah sebentar, Sayang" pinta Genta.


Azzura mendekat lalu meletakkan kepalanya di dada bidang Genta kemudian mengelusnya. Genta mengecup puncak kepalanya lalu mengelus punggungnya dengan sayang.


Satu menit ...


Tiga menit ...


Lima menit ...


Keduanya tetap bergeming dengan posisi yang sama. Sebelum akhirnya Azzura mendongak lalu mengulas senyum.


"Ada apa sih, Mas," tanya Zu lalu merubah posisinya menjadi duduk.


"Nggak apa-apa, Sayang," jawab Genta lalu ikut mendudukkan dirinya. Ia menatap wajah istrinya dengan lekat. "Maafkan mas."


"Untuk ...?"


"Hari ini kita nggak jadi berangkat ke pulau B. Soalnya ada hal yang jauh lebih penting harus mas selesaikan pagi ini," jelas Genta.


Meski batalnya mereka berangkat ke pulau B, bukanlah alasan utama, namun Genta belum mau memberitahu Azzura jika hari ini ia akan mengembalikan Sus Mimi ke kota M.


"Nggak masalah, Mas," kata Zu lalu mengulas senyum. "Ya sudah, aku ke kamar mandi dulu."


"Bagaimana jika mandi bareng saja," usul Genta sekaligus menggodanya. "Biar hemat waktu."


"Yakin?!" tantang Zu lalu terkekeh kemudian memeluknya dengan gemas.


Genta berdecak namun ikut merasa gemas. "Mas hanya bercanda, Sayang. Buruan gih, biar mas yang membangunkan Ayya dan Devan."


"Hmm ... makasih ya, Mas," ucap Zu.


Sepeninggal Azzura, Genta geleng-geleng kepala lalu beranjak dari tempat tidurnya. Memilih ke kamar Devan lalu ke kamar sang putri.


Tujuannya sudah tentu untuk membangunkan kedua anaknya itu. Begitu keduanya sudah bangun Genta meminta keduanya membersihkan diri.


Sebenarnya ia ingin sekali masuk ke kamar baby F, namun ia urungkan karena malas bertemu dengan sus Mimi. Akhirnya ia kembali ke kamar utama lalu segera membersihkan dirinya.


Tiga puluh menit kemudian ...


Keluarga harmonis itu tampak sedang melaksanakan shalat subuh berjamaah dengan khusyuk hingga selesai.


Setelah selesai berdoa, Devan, Ayya dan Azzura menyalaminya bergantian.


"Kak Ayya, Abang Dev, hari ini kita nggak jadi berangkat ke pulau B, Sayang. Insyaallah ... besok. Nggak apa-apa kan, Nak?" jelas Genta.


"Iya Ayah," balas Ayya dan Devan

__ADS_1


Genta menatap Azzura. "Sayang, jika kamu ingin membawa baby F jalan-jalan hari ini, nggak apa-apa, Mas izinkan. Sekalian ajak Dev dan Ayya."


"Beneran, Mas?!" tanya Zu dengan girang. "Kalau begitu, aku minta dijemput saja sama Nanda. Aku ingin ke rumahku, habis itu ke rumah momy Lio. Boleh ya, Mas?!" izin Zu.


"Boleh dong Sayang," kata Genta sekaligus mengizinkannya.


"Khusus hari ini, aku mau bareng anak-anak saja, Mas. Aku ingin quality time bareng sahabatku dan anaknya."


"Nggak masalah Sayang. Nikmati saja kebersamaan kalian hari ini."


Tujuan utama Genta sengaja membebaskan Azzura dan anak-anaknya karena hari ini ia ingin berbicara baik-baik pada sus Mimi.


Semuanya sengaja ia lakukan karena ia tak ingin istrinya tahu jika hari ini ia akan memulangkan sus Mimi ke kota M. Sekaligus memberhentikannya sebagai baby sitter baby F.


Karena yang tahu masalah itu hanya dia dan bi Titin juga ajudannya Edi.


Sambil menunggu pagi menyapa, Azzura memilih ke kamar baby F. Saat memasuki kamar putranya itu, ia cukup terkejut saat mendapati sus mimi berpakaian dengan baju minim bahan.


Lebih tepatnya gaun tidur yang terlihat tipis menerawang. Bukan tanpa alasan Azzura terkejut. Karena ia tahu benar, kebiasaan suaminya setiap selesai shalat subuh, ia pasti ke kamar baby F hanya untuk bermain dan menggendongn putranya itu.


Azzura hanya geleng-geleng kepala menatapnya. Entah apa maksudnya, Azzura pun tak tahu. Namun tetap saja ada yang janggal dihatinya. Namun ia tak ingin ambil pusing.


"Sus Mimi, hari ini baby F biar aku saja yang mengurusnya," tegas Zu.


"Tapi kenapa, Bu?" tanyanya dengan bingung.


"Nggak apa-apa Sus. Karena hari ini kita batal ke pulau B. Mas Genta ada urusan mendadak," jawab Zu apa adanya. "Jadi hari ini kamu dan bi Titin bisa berleha-leha. Soalnya aku ingin membawa anakku jalan-jalan."


"Baik, Bu," kata Sus Mimi. Namun dalam hatinya bersorak Sorai.


😝😝✌️✌️


Setelah itu, Azzura mendorong box bayinya sambil membawa pakaian putranya menuju kamar utama.


*******


Pukul 09:15 pagi ...


Azzura sudah tampak rapi bersama anak-anak-nya. Baby F, ia taruh di dalam stroller. Sambil menunggu jemputan, sejak tadi Genta menemaninya duduk di sofa.


Tin ... tin ... tin ...


Suara klakson mobil terdengar dari luar rumah.


"Yuk, mas antar sampai di luar," ajak Genta sembari mendorong stroller baby F hingga sampai di samping mobil Nanda.


Nanda langsung menurunkan kaca mobilnya lalu tersenyum.


"Maaf ya, Bang, hari ini aku pinjam anak dan istrimu sebentar," kelakar Nanda lalu terkekeh.


"Nggak masalah, nikmatilah kebersamaan kalian. Nanti aku akan ikut menyusul," kata Genta.

__ADS_1


"Mas, aku dan anak-anak pamit ya. Jika Mas ingin menyusul, jangan lupa hubungi aku dulu," pesan Zu lalu mencium punggung tangannya kemudian memeluknya sejenak.


"Iya, Sayang," balas Genta lalu mengecup keningnya. "Kalian hati-hati ya.


Setelah Azzura masuk ke dalam mobil, tak lama berselang, Nanda kembali melajukan kendaraannya itu menuju tempat tujuan.


Begitu mobil sudah menjauh, barulah ia masuk ke dalam rumah. Edi yang sejak tadi sudah menunggunya langsung berdiri saat Genta menghampirinya di ruang tamu.


"Edi, apa kamu sudah menyiapkan semua yang aku perintahkan semalam?" cecar Genta.


"Sudah Pak," jawabnya.


"Hmm bagus. Oh ya, password pintu rumah di daerah M, sudah aku kirim ke WA-mu," jelas Genta.


"Baik, Pak!!


Tak lama kemudian, sus Mimi tampak menuruni anak tangga lalu menghampiri Genta dan Edi.


"Maaf, tadi bi Titin bilang, Bapak ingin berbicara dengan saya?" tanya sus Mimi dengan suara lembut seperti dibuat-buat.


Pikirnya Genta pasti kagum atau tertarik padanya. Namun, jangankan tertarik atau pun suka, yang ada malahan Genta merasa risih sekaligus jengkel pada gadis itu.


"Ya, duduklah," tawar Genta lalu menunjuk salah satu sofa yang kosong.


Hening sejenak ...


"Sus Mimi, aku langsung ke inti pokok pembicaraan saja," kata genta. "Maaf ... mulai hari ini besok dan seterusnya kamu resmi saya berhentikan menjadi baby sitter untuk baby F," tegasnya to the poin.


Duaarrrtrrr ...


Tak ada angin tak ada ribut, ia seolah disambar petir di siang bolong. Merasa sangat terkejut mendengar ucapan frontal dan tegas dari ayah empat anak itu.


Seolah tak percaya dengan ucapan yang barusan ia dengar dari Genta.


"Soal gaji, nggak perlu khawatir. Meski belum genap sebulan kamu bekerja untuk baby F, gajimu tetap aku bayar," kata Genta. "Tadi sudah aku transfer lewat M-bankingi beserta pesangon untukmu."


"Sebelumnya terima kasih karena sudah merawat putraku dengan baik. Bersiap-siaplah, karena sebentar lagi ajudanku yang akan mengantarmu hingga ke daerah M. Mampirlah ke rumah di daerah M untuk mengambil pakaianmu di sana," tegas Genta lagi.


Sus Mimi langsung tertunduk lesu. Ia seolah tak percaya jika ia baru saja dipecat. Baru saja ia ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan, namun niatnya itu malah langsung pupus begitu saja.


"Sial! Ternyata dia bukan pria yang mudah tergoda dengan wanita lain," umpatnya dalam hati dengan perasaan mendongkol.


Entah mengapa ia begitu iri pada Azzura. Apalagi ketika beberapa kali memergoki pasangan suami istri itu sedang bermesraan.


"Sus Mimi, kembalilah ke kamarmu lalu kemasi pakaianmu, soalnya sejam lagi pesawat yang akan kalian tumpangi akan segera take off."


Dengan patuh gadis itu hanya menurut, namun sekaligus merasa jengkel bukan kepalang. 😝😝✌️✌️


Pupus sudah harapannya ingin menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Azzura dan Genta. Keputusan tegas Genta yang telah memecatnya dengan begitu santainya, memukul telak niat busuknya untuk menjadi pelakor.


Bi Titin yang sejak tadi, berada di meja makan, kini tersenyum puas setelah melihat sendiri sus Mimi dipecat. Bahkan Genta tak menatapnya ketika berbicara padanya melainkan menundukkan pandangan matanya.

__ADS_1


"Ingatlah ... nggak semua laki-laki itu gampang tergoda pada seorang wanita, ketika ia memiliki iman yang kuat dan sikap yang tegas. Ketika hatinya sudah terlanjur setia pada pasangannya, maka akan sulit ia tergoda dengan wanita lain karena iman dan takut mengkhianati kepercayaan pasangannya," gumam bi Titin dengan senyum puas sekaligus bangga pada Genta.


...----------------...


__ADS_2