
Sepeninggal dokter Aida dan suster Tiara, Azzura duduk di samping ibunya sedangkan Nanda memilih duduk di kursi samping bed pasien Bu Isma.
"Azzura, Nanda ... kenapa wajah kalian tertekuk seperti ini Nak?" tanya ibu seraya menggenggam kedua tangan gadis itu.
Baik Azzura maupun Nanda keduanya hanya bergeming. Namun air mata Azzura langsung meleleh lalu memeluk ibunya.
"Sayang kamu kenapa Nak?" tanya ibu lagi.
"Nggak apa-apa Bu. Aku hanya merasa bahagia karena ibu sudah membaik," bohong Zu.
Bukan itu yang membuatnya air matanya meleleh melainkan ia sedih dengan perlakuan dan kelakuan suaminya yang semena-mena terhadapnya.
"Semoga ibu cepat sembuh ya. Setelah ibu sembuh kita bertiga akan jalan-jalan ke puncak," kata Zu lalu menyeka air matanya.
"Tante ... andai saja tante tahu apa yang terjadi pada Azzura, aku yakin tante pasti akan meminta Azzura meninggalkan pria brengsek itu," gumam Nanda dalam hatinya dan merasa geram mengingat sosok Close.
"Nanda ... aku titip ibu sebentar. Aku ingin membeli sesuatu," kata Zu dan Nanda menjawab dengan anggukan. "Bu, aku tinggal sebentar ya," pamitnya.
Bu Isma hanya mengangguk lalu tersenyum. Setelah berpamitan, Azzura cepat-cepat meninggalkan kamar rawat ibunya dan memilih ke taman rumah sakit.
Ia memilih duduk di salah satu bangku taman di bawah pohon rindang yang terdapat di taman itu. Ia menghela nafasnya dengan kasar memandang pengunjung rumah sakit yang sedang membesuk keluarga mereka.
Ia termenung sejenak memikirkan nasibnya ke depan. Bayangan perlakuan kasar Close di hadapan Laura membuatnya benar-benar seperti tidak dihargai, belum lagi saat menatap keduanya yang hanya mengenakan handuk seperti habis berhubungan intim. Sungguh miris yang ia rasakan.
Seketika air matanya langsung mengalir deras, ia terisak dan tak bisa menahan keinginannya untuk menumpahkan air matanya.
Tanpa ia sadari dari kejauhan Yoga terus menatapnya lalu melangkah kecil menghampirinya.
Di sela-sela tangisannya, Yoga menyodorkan tisu tepat di sampingnya lalu menyebut namanya.
"Zu."
Suara yoga yang menyapanya sontak membuatnya mendongak menatap siapa gerangan yang menegurnya.
"Yoga," lirihnya lalu meraih tisu itu kemudian mengusap air matanya yang masih menetes dari mata indahnya.
Yoga mendaratkan bokongnya tepat di samping Azzura lalu menatap lekat wajah cantik wanita berhijab itu.
"Sedang apa kamu di sini?" cecar Yoga. ''Apa yang membuatmu bersedih sampai menangis seperti ini?"
"Aku baru saja membesuk ibuku," jawab Zu dengan tersengal-sengal.
"Jadi sebelum akad ..." Ucapan Yoga terputus.
"Ya, aku menyempatkan waktuku untuk mengantar ibu sampai di depan ruang operasi," sambung Zu dan kembali mengusap matanya yang kini terlihat sembab.
"Operasi apa?" tanya Yoga sedikit penasaran.
__ADS_1
"Kanker payudara," lirih Zu. "Yoga ... jujur saja aku takut kehilangan ibuku, apalagi kankernya itu sudah stadium 4. Aku nggak tahu ibuku akan bertahan berapa lama lagi. Yang jelas aku takut kehilangannya. Soalnya hanya ibuku satu-satunya yang aku miliki saat ini," lirihnya lagi dan kembali menyeka kristal bening yang mulai berjatuhan di pipinya.
"Apa pak Close tahu jika ibumu sedang sakit?" selidik Yoga dengan kening yang mengerut.
Azzura hanya menganggukkan kepalanya sambil menunduk dan terpaksa berbohong. Ia tidak ingin Yoga tahu jika Close belum pernah bertemu dengan ibunya.
Yoga hanya bergeming menatap iba wajah Azzura.
Keduanya terdiam sejenak merasakan hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa. Terasa sejuk dan menenangkan untuk sesaat. Azzura memejamkan matanya sejenak sembari menarik nafasnya dalam-dalam untuk kembali menetralkan perasaannya.
Yoga hanya menatapnya dalam diam, mengagumi sekaligus merasakan hatinya ada yang sulit di artikan.
"Yoga, maaf ... kok kamu bisa ada di rumah sakit ini?" tanya Zu.
"Kakak ku bekerja di sini," jawabnya. "Dia dokter spesialis bedah di rumah sakit ini," jelasnya dengan seulas senyum.
Azzura hanya mengangguk. Setidaknya berbicara dengan Yoga membuatnya sedikit menghilangkan beban di hatinya.
"Zu, apa boleh aku menjenguk ibumu?"
"Tentu saja boleh," jawab Zu lalu tersenyum. "Ayo aku antar. Kamar rawat ibu ada di bangsal 3."
Yoga hanya mengangguk lalu mengikuti langkah kaki Azzura. Keduanya melangkah bersama menuju kamar rawat itu.
setibanya di kamar rawat ibunya, Bu Isma kembali mengulas senyum.
"Sayang, apa ini suamimu, Nak?" tanya Bu Isma dengan sembringah.
Sedangkan Azzura dan Nanda saling berpandangan.
"Kemarilah Nak," pinta Bu Isma pada Yoga.
"Bu, dia buk ..." lagi-lagi kata-kata Zu terpotong.
"Sayang ... kamu ini kenapa? Apa kamu nggak senang jika suamimu datang membesuk ibu?" selidik Bu Isma.
Sedangkan Yoga terlihat santai, bahkan ia curiga jika Close belum menemui ibu mertuanya sejak keduanya menikah.
Azzura menatap Yoga lalu beralih ke Nanda kemudian memberi kode.
"Zu." Yoga tampak mengangguk seraya mengedipkan kedua matanya jika ia tidak masalah.
"Nak, kemarilah," pinta Bu Isma pada Yoga.
Yoga akhirnya mendekat, dan menarik kursi yang ada di dekat bed pasien lalu mendudukinya.
Tanpa segan, Yoga menggenggam tangan Bu Isma seraya menatapnya. "Ibu, apa ada yang ingin Ibu sampaikan padaku?" tanya Yoga.
__ADS_1
"Terima kasih Nak, sudah mau menerima putri ibu satu-satunya." Bu Isma meraih tangan Azzura lalu meletakkan di atas punggung tangan Yoga.
"Ibu," lirih Zu lalu menatap Yoga dengan mata yang kini berkaca-kaca. Ia merasa bersalah pada pria itu.
Namun lagi-lagi Yoga hanya mengangguk lalu mengedipkan kedua matanya memberi kode supaya Azzura tetap bersikap santai.
"Nak, mulai detik ini dan seterusnya, Ibu titip Azzura padamu, sayangilah dia, cintailah dia, dan ajarilah dia jika dia berbuat salah padamu. Jangan sekali-kali berlaku kasar apalagi main tangan padanya. Sebaiknya kamu kembalikan dia pada Ibu daripada kamu melakukan KDRT."
Ibu menjeda sejenak kalimatnya seraya menatap keduanya bergantian. Sedangkan Nanda yang berdiri di belakang Azzura dan Yoga malah menangis dan langsung keluar dari kamar rawat Bu Isma.
Bagaimana tidak, ia pun tak sanggup mendengar kalimat selanjutnya. Apalagi mengingat Azzura yang baru saja mendapat perlakuan kasar dari suaminya sendiri. Nanda duduk di kursi sambil terisak.
Sementara di dalam kamar, Bu Isma kembali melanjutkan kalimatnya.
"Nak, sejak kecil Azzura kami didik dengan baik, bahkan sedikitpun Ibu dan almarhum ayah tidak pernah menyakitinya apalagi membentaknya. Jadi Ibu mohon perlakukanlah Azzura dengan penuh kasih sayang mu," kata ibu dengan air matanya yang kini sudah meleleh.
"Ibu," lirih Zu sambil terisak.
"Ibu, aku berjanji akan menjaga titipan ibu ini, aku juga berjanji akan melindunginya, menyayanginya dan mencintainya," ucap Yoga lalu melirik Azzura yang kini sedang terisak.
"Yoga," lirihnya menatap asisten suaminya itu.
"Nak, Ibu nggak tahu berapa lama lagi Ibu akan bertahan. Setidaknya jika terjadi sesuatu pada Ibu, Ibu sudah bisa pergi dengan tenang karena ada kamu yang akan menjaga Azzura," sambung Bu Isma sembari mengelus pundak Yoga lalu tersenyum menatap Azzura.
Air mata Azzura semakin deras mengalir di pipinya. Kalimat ibunya yang terakhir membuat dadanya seperti dihantam batu.
Sesak ...
Itulah yang ia rasakan saat ini. Tak jauh berbeda dengan Yoga, ia pun tak bisa menahan air matanya mendengar kalimat terakhir Bu Isma.
Kamar itu hening sejenak yang terdengar hanyalah suara lirih tangisan Azzura. Sebelum akhirnya Bu Isma menegurnya.
"Sayang, sudah Nak, jangan menangis. Semuanya akan baik-baik saja," kata Bu Isma.
Azzura hanya mengangguk. Sedangkan Yoga ia melepas genggaman tangannya dari Bu Isma dan meminta izin untuk berbicara dengan Azzura di luar kamar.
Sesaat setelah berada di luar kamar rawat. Keduanya duduk di kursi tunggu sedangkan Nanda entah ke mana.
"Zu, maaf jika aku sudah lancang dan ibumu mengira jika aku adalah suamimu. Aku tidak bermaksud ..." Ucapannya terputus.
"Nggak apa-apa Yoga. Sebenarnya aku sedikit khawatir tadi. Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur. Maafkan ibuku ya," lirih Zu.
"Nggak apa-apa tidak masalah. Santai saja. Oh ya, kalau begitu aku ke ruang kerja kakak ku dulu ya. Jika ibumu bertanya, katakan saja aku ada urusan mendadak."
"Baik lah, terima kasih ya."
Yoga hanya tersenyum lalu mengangkat kedua jempolnya.
__ADS_1
...πΏ----------------πΏ...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya π. Like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... πβΊοΈπ